
"Kau bisa menyetir sedikit lebih cepat?" Araga nampak tidak sabar ketika mereka sedang berada di perjalanan menuju mansion Zhucarlos
"Ini sudah cepat Bos. Sabarlah, aku tau alamat mansion nona Syan!" Erick menyahut santai
"Aku juga tau!"
Araga memilih untuk mengalah. Skretaris sekaligus sahabatnya itu memang selalu memiliki kalimat untuk menyahutinya
Begitu sampai dipelataran mansion keluarga Zhucarlos, Araga segera turun dari mobilnya setelah sempat mendapat pemeriksaan digerbang utama, karena mungkin ini pertama kalinya ia berkunjung ke mari
Baiklah, tapi nanti. Aku akan menjadi bagian dari keluarga ini. Begitu batin Araga Sampai kemudian ia sampai di teras mansion dan berpapasan dengan putra tunggal Juan dan Carra. Darendra
Pemuda itu memberikan tatapan tidak suka padanya, membuat Araga heran dan bertanya pada sang Skretaris setelah Daren berlalu darisana
"Hey, apa aku memiliki salah padanya?"
"Aku bahkan hanya pernah bertemu dengannya sekali dalam acara perayaan kemenangan tander Om Juan saat itu, setelahnya kami belum pernah bertemu lagi. Apa yang membuatnya marah padaku?" Sahut panjang lebar Araga
"Tidaka tau. Mungkin ia hanya tidak suka padamu karena kau bersama dengan nona Syan tadi"
"Ohh, dia cemburu?"
"Semacam rasa cemburu seorang adik pada kakaknya"
Araga hanya mengangguk samar, sampai kemudian ia disambut heran oleh 3 wanita yang berada di ruang utama mansion keluarga Zhucarlos
"Araga?" Carra setengah heran melihat kehadiran laki laki yang tak lain adalah calon menantunya sendiri
Tidak hanya Carra saja, bahkan Syan juga heran. Sementara Dinara hanya nampak terpanah pada 2 laki laki yang baru saja datang dengan pakaian formal mereka di mansion
"Tante Carra, maaf. Aku mengembalika tas Syan. Ini tertinggal di ruang kesehatan kampus" Sahutnya sambil menyerahkan tas mungil itu pada Carra, Carra menerimanya dengan tersenyum
"Ohh iya terimakasih Araga. Silahkan duduk"
Araga mengangguk, lalu ia duduk di single sofa, sementara Erick berdiri dibelakangnya
Syan tidak perlu heran sang Momy mengenal Araga, karena dia adalah rekan kerja Dady nya. Carra sudah pasti sering bertemu dengan Araga jika sedang ada acara pertemuan para kolega
Tak lama, Pak Abas datang dengan beberapa minuman kemudian meletakannya di meja kaca dihadapan orang orang yang berada di ruang utama
"Pak Abas, bagaimana Dokter Arin?" Tanya Carra sebelum Pak Abas pamit pergi
"Dia sedang berada dalam perjalanan, nyonya" Sahutnya, menunduk dan kemudian berlalu darisana
Sementara ruang utama tiba tiba saja hening, Dinara berkasak kusuk pada Syan bertanya tentang siapa dua laki laki yang berada bersama dengan mereka
Syan tak menaanggapi, ia mengibas ngibaskan tangannya saja mengacuhkan pertanyaan pertanyaan gadis itu
"Oh iya Tante, maaf. Karena Syan terjatuh saat menabrakku, dia terburu buru tadi" Sahut Araga, memecah keheningan
"Buru buru?"
Araga mengangguk, membuat Carra menatap putrinya, meminta jawaban
"Aku lupa mengerjakan tugas dan ada insiden kecil tadi pagi sehingga aku terlambat Mom" Syan, anak yang patuh itu cepat menyahut sebelum Carra bertanya
Carra mengangguk anggukan kepalanya, sampai tak lama dari itu Dokter Arin muncul dengan raut khawatir
"Syan, ada apa denganmu. Apa terluka parah?"
Syan memutar bolamatanya dengan jengah. Drama lagi. Batinnya
"Tidak perlu secemas itu Dok aku tidak apa apaa. Hanya saja, kau pun tau. Orang orang didini selalu saja berlebihan"
Dokter Arin yang memang tau keluarga Zhucarlos sejak lama itu hanya tersenyum, lalu melihat luka merah yang berada dikaki Syan sesuai yang ditunjukan oleh Carra
"Ini tidak apa apa. Masih terasa sakit?" Tanya Dokter Arin
"Hanya sedikit, hanya sakit jika dipakai berjalan"
"Baiklah, kau hanya perlu beristirahat 24 jam setelah meminum obat ini" Sahutnya sambil memberikan satu botol kecil obat pereda nyeri pada Syan
"Dan ini salep, nanti oleskan di bagian kakimu yang sakit"
Syan hanya mengangguk angguk mengerti, begitu juga Carra dan Dinara. Setelah mengobrol singkat, Dokter Arin pamit pulang, Carra mengantarkannya sampai ke teras depan. Meninggalkan Syan dengan Dinara bersama dua laki laki tampan itu
Setelah Carra berlalu, suasana di ruang utama menjadi canggung, terutama bagi Syan karena Araga yang harus datang ke mansionnya. Padahal mereka hanyalah dua orang asing yang baru saja mengenal
"Ohh yah. Kenapa kau datang?" Gadis itu akhirnya bertanya pada Araga
"Aku mengantarkan tas mu"
"Bukan. Maksudku, kau bisa menyimpannya saja di koprasi kampus, biar aku mengambilnya besok"
"Aku bisa mengantarkannya"
"Aku tidak ingin merepotkanmu"
"Aku ingin mengantarkannya secara langsung padamu. Bagaimana?"
Syan diam, sementara Araga tersenyum dengan tampannya, dan sialnya orang yang dibelakangnya juga tersenyum. Membuat Syan keki rasanya
"Ohh yah. Kita belum berkenalan. Aku Dinara, saudara Kak Syan" Dinara memperkenalkan dirinya setelah beberapa saat
"Araga"
"Kau ..," Dinara beralih pada laki laki dibelakang Araga yang hanya terdiam
Dinara mengangguk anggukan kepalanya dengan senyuman
Tak lama, Carra kembali setelah mengantarkan Dokter Arin keluar
"Syan. Dengar apa yang dikatakan Dokter Arin, istirahatlah dan jangan macam macam"
Sahutnya yang kemudian duduk disampimg Syan
"Yes, Mom"
"Tunggu apalagi. Pergi ke kamarmu!"
Syam terperangah. Menoleh ke arah tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Bukankah tadi dia sudah bilang jika kakinya sakit untuk dipakai berjalan. Mengapa Carra seolah tidak perduli?
Membiarkannya menaiki tangga dengan kaki terpincang pincang? Oh teganya ......
Carra hanya acuh tak acuh saja. Dia ada misi yang harus dijalankan
Araga yang melihat Syan lantas beranjak
"Biar aku mengantarkanmu ke kamar" Sahutnya yang kemudian hendak meraih tubuh Syan, tapi gadis itu dengan cepat menghentikannya
"Tidak tidak. Aku akan kesana sendiri"
Araga mendekat, perlahan meraih tubuh gadis itu. Dan anehnya, Syan hanya pasrah
"Kau tidak bisa kesana sendiri, bukankah saat dikampus tadi aku juga menggendongmu!"
Syan seakan terhipnotis mendengar kalimat Araga, bagaimanapun apa yang dikatakannya memanglah begitu
Araga mengangkat tubuh Syan dengan mudahnya ala bridal style, ke arah tangga. Carra hanya menoleh dan kemudian tersenyum saja, sementara Erick yang mengetahui sesuatu disini hanya tersenyum juga, tinggal Dinara yang heran dan takjub sambil menatap Araga yang hati hati menaiki satu demi satu anak tangga
"Diam atau kita akan terjatuh Syan" Sahut pelan Araga saat Syan meminta paksa untuk diturunkan
"Bukankah kau bilang kakimu sakit?"
Syan nemalingkan wajah meski tangannya melingkar di leher laki laki tampan yang sedang menggendongnya ini
Sementara Araga hanya tersenyum miring saja melihatnya
"Kau tidak perlu melakukan ini Araga. Kita baru mengenal 2 hari yang lalu, kau tidak perlu sampai datang ke mansionku dan mengantarkanku ke kamar"
"Memangnya kenapa. Nanti ini akan menjadi kamarku"
Syan terperangah tak percaya
"Tidak waras!"
"Baiklah. Lalu dimana kamar kita?" Tanya Araga saat ia sudah berdiri di depan tiga pintu kamar
"Jangan bermain main dengan kata katamu!"
Araga menggeleng pasrah
"Baiklah. Dimana kamarmu?"
"Kau tebak dimana kamarku!" Sahut cuek Syan
Araga tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Syan, dan Syan tidak ada celah untuk mundur
"Jika tebakanku benar, maka kau harus mengizinkanku untuk tidur di kamarmu!"
Syan menggeleng dengan raut wajah terkejut
"Kau gila. Turunkan aku disini dan jangan macam macam!"
Araga setengah tertawa, kemudian mendoromg pintu tengah. Membuat Syan heran karena laki laki itu mengetahui letak kamarnya
"Araga kau...," Syan mulai berontak
"Tenanglah Syan. Aku tidak sungguh sungguh mengatakannya tadi, aku laki laki yang baik. Tenanglah" Sahutnya dengan jenaka
Sementara Syan hanya diam mematung, sampai kemudian Araga menidurkannya di atas tempat tidur dengan perlahan
Mata keduanya bertemu, membuat sesuatu berdesir di dada Syan. Sementara Araga menyipitkan matanya
"Kau benar benar akan mengizinkanku tidur disini?"
Syan mengernyit tidak mengerti sampai mata Araga mengerling ke arah tangannya. Syan refleks melepaskan tangannya yang melingkar di leher laki laki tampan itu, kemudian dengan cepat Syan memalingkan wajahnya dengan perasaan malu pada Araga
Araga hanya tertawa. kemudian mengacak rambut Syan dan beranjak. Tapi sebelum benar benar pergi dia sempat berkat
"Aku akan menginap disini, kapan kapan saja!" Sahutnya dengan raut wajah tampan yang menyebalkan dimata Syan
Sementara Syan hanya menggigit bibir bawahnya sambil meremas sprei tempat tidur
Ia berdecak dan kalut. Bagaimana mungkin ada seorang pria asing yang masuk ke kamarnya?!
Ohh yah. Dan Daren
Kemana anak itu pergi? Ia pergi dalam keadaan yang sedang marah! Memusingkan!
TBC