My Best Match

My Best Match
Ujian Cinta



*


*


Begitu puas dengan celotehannya. Juan pun bersiap untuk mandi, membersihkan diri dan juga menjernihkan isi kepalanya. Besok pagi setelah Carra bangun, ia akan meminta maaf padanya


Begitu selesai mandi dan mengenakan piama berwarna hitamnya, lantas Juan berbaring di samping Carra yang tidur terlentang


Ia memperhatikan wajah Carra dalam jarak yang begitu dekat


"Mengapa kau begitu manis Carra?" Lirih Juan dengan tangan yang menyapu lembut permukaan bibir sang istri


Kembali fikiran Juan di hantui kejadian satu jam yang lalu saat di club bersama Abram. Juan tidak henti hentinya mengutuki dirinya sendiri yang sudah dengan kejam menyakiti Carra dengan ucapan pedasnya


"Aku menyesal"


"Aku mencintaimu Carra" Sahut Juan dengan lirih, lagi lagi ia mencium kening Carra dan tidur dengan menggenggam tangan istrinya


Matanya terpejam diiringi denting jarum jam yang terus berputar.


*


*


Di tempat berbeda, Abram masih duduk santai di balkon apartement Alex. Sepulang dari club tadi, ia memang lebih memilih untuk pulang ke apartement saudara sepupunya itu


Besok pagi, ia baru akan pulang ke mansion


Menikmati segelas wine dengan tatapan mata yang damai memandang ke arah kolam renang di lantai bawah


Tak lama, tepukan di bahu memaksanya untuk mengalihkan pandangan. Kemudian tatapannya berpusat dimata bulat berwarna abu abu milik Alex


"Kau belum tidur?" Tanyanya, kemudian meneguk minuman kaleng dingin yang dibawanya dari dalam


"Aku tidak mengantuk" Abram menyahut acuh, kemudian kembali menatap pada kedamaian yang tadi di dapatkannya sebelum Alex datang


"Bagaimana Juan?" Tanya Alex lagi


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Alex tiba tiba saja membuat dada Abram ngilu. Ngilu membayangkan Juan yang sekarang sedang tidur dengan Carra. Ahhh Abram tidak ingin jadi egois, sungguh dirinya menolak berontak. Tapi seakan hatinya mendesak agar ia memberontak saja


Abram tidak ingin jadi pengacau!


"Abram," Panggil Alex saat Abram tak kunjung menjawab segala pertanyaannya


"Alex diamlah, kepalaku mau pecah rasanya" Sahut Abram sambil memegang kapalanya dengan satu tangan, tangan yang lainnya masih menggenggam gelas wine


"Abram, apa aku perlu memanggilkan dokter?" Tanya Alex dengan wajah khawatir


Abram menoleh sinis padanya, membuat Alex mengerti jika bukan itu yang dimaksud Abrama


"Tsk, kau tidak ada bedanya dengan Juan" Sahut Alex dengan suara pelan


"Istirahatlah, ini sudah larut. Aku juga akan segera tidur" Sahutnya kemudian, lalu pergi setelah menepuk bahu Abram


Sepertinya pergi meninggalkan sang saudara jauh lebih baik dari pada menjadi pelampiasam amarahnya nanti. Alex yakin, jika Abram sedang dalam suasana hati yang buruk. Maka dia lebih memilih pergi daripada menetap dan di terkam nanti


Lagi, Abram meneguk segelas wine nya hingga tandas, entahlah sudah berapa botol minuman beralkohol yang masuk kedalam perutnya selama tiga jam terakhir. Tapi itu seakan belum mampu menenangkan hati dan fikirannya


Entahlah ada apa dengan hatinya. Padahal sungguh, ia sudah mengikhlaskan Carra untuk Juan. Tapi hatinya seolah menolak kenyataan itu


Abram hanya memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali meraih botol wine di meja yang dibelakanginya.


Lalu melegutnya


Kemudian melegutnya lagi, begitu seterusnya


*


*


Carra mengerjap ngerjapkan matanya begitu bangun di pagi hari. Ia sedikit menggeliat dan mendapati Juan yang tidur di sampingnya, dengan tangan kekar yang menindih perut Carra


Carra meraih ponselnya yang berada di samping bantal Juan. Pukul 06.45 a.m


Carra kembali menaruh kepalanya di bantalnya, kemudian memijit pelan pelipisnya. Mengumpulkan sisa sisa nyawanya


Lalu perlahan ia melepaskan tangan Juan yang masih setia melingkar di perutnya. Amat perlahan karena tidak mau mengganggu tidur pulas Juan, dia pasti pulang larut tadi malam


Tapi tiba tiba saja, Juan malah semakin memeluknya. Menarik Carra semakin mendekat padanya. Tapi mata laki laki itu masih terpejam


Dia sedang mengigau? Pikir Carra


Kini, wajah Carra dan Juan menjadi amat dekat. Bahkan Carra mampu merasakan deru nafas dari hidung Juan menerpa permukaan kulit wajahnya.


Carra terkesiap menatap wajah tampan suaminya, tapi ada yang membuatnya cemas. Bekas luka yang membiru di ujung bibir Juan, baru Carra akan memegang ujung bibir Juan. Tapi tiba tiba saja mata laki laki itu terbuka


Carra mengurungkan niatnya yang ingin memeriksa luka di ujung bibir Juan


"Good morning" Sahut Juan dengan suara serak khas bangun tidurnya


Carra hanya mengerjapkan matanya, heran dengan sikap Juan yang tiba tiba saja berubah manis padanya. Bukankah kemarin kemarin di menghindari Carra?


Disaat mana Carra masih berusaha mengumpulkan kesadaran penuhannya, tiba tiba saja Juan sudah menyerangnya. ******* sekilas bibir Carra


Carra terkesiap, ia hanya berusaha menetralkan kesadarannya agar tidak terlihat seperti orang bodoh


"Morning kiss" Sahut Juan setelahnya, Carra tak menyahut. Juan hanya tersenyum dengan santainya, kemudian ia malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Carra. Seolah enggan beranjak dari tempat tidur. Ahh tidak! Lebih tepatnya, ia enggan berada jauh dengan sang istri


Carra yang heran dengan sikap sang suami, lantas hanya membiarkannya saja. Membiarkan Juan kembali memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya tepat menerpa kulit leher Carra, sampai membuat Carra berigidik merasakannya


Sialnya, entah mengapa kata kata yang sudah Juan siapkan tadi malam untuk meminta maaf pada Carra, sekarang malah lenyap seketika. Sehingga Juan tidak ada pilihan lain selain kembali menahan Carra di tempat tidur


Bahkan mungkin sejak semalam tangan Juan tidak lepas memeluk Carra


"Carra?" Panggil Juan yang masih berada di posisinya


"Hmm"


"Apa kau sudah lapar?" Tanya Juan


Dalam hati ia mengumpat, padahal tadinya ia ingin meminta maaf pada Carra, atas kesalahpahaman yang terjadi dengannya. Tapi tiba tiba saja yang keluar dari mulutnya malah kata kata tidak berguna


"Tidak" Sahut Carra


Juan diam diam tersenyum, senang. Itu artinya beberapa waktu kedepan, ia masih akan diposisi ini dengan Carra


"Aku hanya ingin segera mandi" Sambung Carra yang membuat harapan Juan seketika membuyar mendengar jawabannya


Perlahan Juan melepaskan pelukannya dan menjauhkan diri dari Carra


Carra segera duduk, menetralkan kinerja jantungnya yang berpacu lebih cepat. Sedangkan Juan, ia kembali memejamkan matanya dengan tubuh terlentang. Satu tangannya ia simpan di atas kepala


Carra bergegas, mengambil handuk dan cepat ke kamar mandi. Meninggalkan Juan yang kesal dengan sikap acuh Carra, bahkan ia tidak menanyakan keadaannya sedikitpun setelah melihat luka di ujung bibir Juan


"Carra"