
Carra membanting tubuhnya ke sofa, Juan nampak masih pulas dengan tidurnya sehingga Carra tidak mau mengganggu suaminya itu
Tapi ia masih amat heran dengan Jenny, bahkan juga sedikit risih dengan ancaman wanita gila itu
"Aku harus bagaimana?" Lirih Carra sambil menggigit kuku tangannya
Ia takut Jenny akan nekad menghancurkan rumah tangganya dengan Juan nanti. Bagaimanapun, wanita itu tidak bisa di remehkan begitu saja
"Sayang?" Juan yang sudah membuka matanya dan melihat Carra yang sedang duduk di sofa lantas memanggilnya
"Ah, iya"
Carra segera bangkit dan menghampiri suaminya yang masih berbaring diatas tempat tidur mereka
"Kau menghkawatirkan apa?" Tanyanya, lalu mengubah posisinya, bersandar pada kepala ranjang dengan tangan yang menggenggam tangan Carra
"Tidak ada" Carra menyahut dengan tersenyum
"Kau sudah tidak apa apa?" Tanyanya lagi, lalu mengelus dengan lembut perut Carra yang masih rata
Dan lagi, Carra menggeleng.
Sedangkan Juan hanya menatapnya dengan hati hati, seperti ada yang tidak beres dengan ekspresi istrinya
"Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dari ku sayang?" Tanya Juan, kini tangannya beralih membelai sisi wajah Carra. Carra segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Juan
Tau tau Juan malah mendekapnya dengan rasa sayang, bangun dari tidurnya tiba tiba saja ia amat merindukan istrinya
"Temani aku makan, ya" Pintanya. Carra hanya mengangguk dengan tersenyum. Lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan Juan untuk keluar dari kamar menuju meja makan
-
Carra menemani Juan yang sedang menikmati makan siangnya. Sedangkan fikirannya melayang entah kemana, ia ingin bercerita pada Juan tentang Jenny yang hari ini datang bertamu
Tapi juga enggan berdebat dengan suaminya itu jika saja Juan marah padanya karena membiarkan Jenny masuk ke mansion mereka
"Ada yang mengganggu fikiranmu Carra?" Tanya Juan yang sedari tadi memperhatikan wajah istrinya yang nampak memikirkan sesuatu itu
"Tidak ada Juan, aku hanya tidak enak badan" Dusta Carra, berusaha membuat suaminya itu agar tidak curiga. Meski sedari tadi sikapnya memang mencurigakan
"Biar kita ke rumah sakit" Ajak Juan dengan cepat
"Tidak perlu. Aku tidak apa apa, aku akan kembali ke kamar"
"Kau tidak apa apa jika makan sendiri?"
Juan terdiam, kemudian mengangguk. Setelah mengusap puncak kepala suaminya sambil tersenyum, Carra segera beranjak untuk kembali ke kamarnya. Meninggalkan Juan yang masih menghabiskan sisa makannya
"Sayangnya aku tidak yakin dengan kau Carra" Lirihnya, kemudian beranjak dari meja makan dan pergi menuju ruang kerjanya
-
Seorang wanita dengan rambut bergelombangnya yang dicat berwarna biru tua, membanting tubuhnya disofa apartmentnya yang mewah
Dia bahkan sepanjang perjalanan tadi terus menerus mengeluarkan sumpah serapahnya pada Carra. Ia benci dengan wanita itu yang menantangnya
"Apa apaan?"
"Sebelumnya aku tidak pernah kalah dalam beradu argumen!" Rutuknya dengan wajah yang merah padam
Kemudian ia menopang dagunya, memikirkan sesuatu yang mengganggu fikirannya, dalam seperkian detik, seringai licik itu muncul tiba tiba saja dalam wajah cantiknya
-
"Sial!" Rutuk Juan setelah ia mengecek cctv dimansion siang ini, ia kecolongan dan membiarkan Jenny menemui Carramell
Tak lama, pintu ruangannya diketuk dari luar
"Masuk!"
Pintu tetbuka, dan munculah dua orang Bodyguard yang tak lain adalah penjaga gerbang utama siang ini. Wajah mereka nampak pucat pasi, mereka tau apa yang akan terjadi setelah ini
Inilah konskuensi melanggar perintah dari Bosnya
"Kalian tau apa kesalahan kalian?" Pertanyaan telak Juan. Sedangkan kedua orang itu hanya menunduk tanpa mau menatap sang majikan
"Aku bertanya pada kalian!" Sahut Juan dengan penuh penekanan
"Tau, Tuan. Kami melakukan kesalahan" Sahut salah satu dari mereka
Juan tersenyum dengan seringai liciknya
"Bagus jika kalian tau" Sahutnya, kemudian beranjak dari kursi putarnya dan melangkah pada kedua Bodyguardnya
Dan,
Plak!
Plak!
"Apa kalian tidak becus mencegah wanita itu masuk?"
"Apa kalian sengaja membiarkan istriku berbicara dengan dia?"
"Apa kalian sudah bosan hidup?" Tanya Juan lagi, kali ini nada bicaranya begitu penuh penekanan
"Kalian bosan hidup?" Tanyanya lagi dengan berteriak
"Maaf, Tuan"
"Juan cukup!" Bersamaan dengan pintu yang terbuka dan suara dari seorang wanita, tiga laki laki diruangan itu menoleh pada sumber suara
"Carra" Lirih Juan
Carra perlahan melangkah pada Juan yang berdiri dihadapan dua Bodyguardnya
"Aku yang mengizinkan Jenny masuk" Sahutnya
"Jangan salahkan mereka" Sahut Carra, lalu berdiri dihadapan Juan, menjadi tameng untuk menghalangi Bodyguard itu
"Kalian boleh keluar" Sambung Carra
Baru kedua Bodyguard itu hendak beranjak, suara Juan menginterupsi langkah mereka
"Aku majikan kalian" Sahutnya dengan senyum miring. Dua Bodyguard itu terdiam, memandang Carra dengan Juan secara bergantian dengan perasaan bimbang setengah mati
"Aku istri majikan kalian. Kalian keluar!" Perintah Carra tanpa bisa dibantah, dan entah mengapa para Bodyguard itu malah lebih menurut pada Carra dan beranjak dari ruang kerja Juan
Sedangkan Juan hanya tersenyum miring dengan tatapan mata lekat pada Carra. Istrinya itu memang pantas menjadi Nyonya Zhucarlos
"Apa?" Tanya Carra dengan tampang kesal
Lalu Juan beralih malah memeluk wanita itu
"Maafkan aku" Sahutnya
Carra hanya diam, tapi tangannya terangkat untuk membalas pelukan suaminya
"Tidak seharusnya aku membiarkan dia menemuimu" Sahutnya yang semakin mengeratkan pelukannya pada Carra
Mengingat kisah kelamnya dimasa lalu dengan Jenny membuat Juan cukup merasa bersalah pada sang istri
"Tidak seharusnya aku bertemu dengan Jenny dimasa lalu" Sambungnya
Carra memejamkan matanya beberapa detik, mengusir rasa sesal yang tiba tiba saja menghantuinya, padahal tidak ada yang harus ia sesali. Bagaimanapun, takdir sudah berjalan demikian sesuai dengan tugasnya
"Sudah terjadi Juan, sangat percuma meski kau sesali" Sahut Carra, lalu melepaskan pelukannya dan menatap Juan dengan senyuman
"Sudah bagus begitu, biarkan!" Tambahnya lagi
"Kau tidak seharusnya mengajak dia masuk Carra"
"Apa yang dikatakannya padamu, ku mohon jangan percaya apapun yang dikatakannya Carra" Pintanya dengan wajah meyakinkan
"Tidak ada yang dia katakan"
"Kau tidak bisa berbohong padaku Carra, katakan saja" Pinta Juan
Ia hafal ekspresi Carra, dan tau bagaimana seorang Jenny menjalankan aksinya
Carra diam, kemudian melangkah dan duduk pada sofa di ruangan itu, Juan mengikuti dan juga duduk di sampingnya
"Dia hanya bilang, kalian pernah tidur bersama" Sahut Carra dengan senyum nanar tanpa mau menatap Juan
"Aku tidak perduli, tapi dia bilang jika dia tidak akan membiarkan kita bahagia" Sambungnya, kali ini matanya mengarah pada Juan
"Dia ingin merebut kau dariku Juan, dia menginginkan kau" Sahutnya lagi
Juan menggeleng, menolak keras keinginan Jenny yang tidak masuk akal baginya
"Pengacau!" Umpat Juan
"Carra. Seberapa keraspun dia berusaha, dia tidak akan pernah bisa!" Juan menyahut
Ia menggapai tangan Carra yang jatuh bebas di atas sofa
"Dia tidak akan pernah bisa memisahkan kita" Sambungnya dengan tatapan amat meyakinkan
"Aku juga berharap demikian"
"Jangan pernah meninggalkan ku Juan" Carra menyahut, lalu Juan menariknya kedalam dekapannya
Memejamkan matanya dalam seperkian waktu, meyakinkan Carra jika dirinya tidak akan pernah pergi kemana mana