My Best Match

My Best Match
Berbeda



-


Juan membanting tubuhnya di sofa, bersandar pada badan sofa dan kemudian memejamkan matanya. Ia masih kesal dengan Jenny yang sudah menantangnya, tapi juga tidak bisa berbuat apa apa pada wanita itu karena alasan yang cukup masuk akal baginya


Ia berhutang nyawa pada Jenny.


Kemudian Juan mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan sesuatu yang lembab dan basah mendarat di hidungnya


"Sayang" Panggilnya saat mendapati Carra yang berada di sampingnya dengan rambutnya yang masih sedikit basah, dan wanita itu masih mengenakan jubah mandinya


Tadi wanita itu memang mencium hidung Juan saat laki laki itu terpejam


"Kau lelah?" Tanya Carra, tapi kemudian ia malah beranjak setelah menggoda Juan


Juan menggeleng tidak percaya, lalu menarik tangan Carra sampai wanita itu jatuh menindih tubuhnya


"Juan, kau lupa aku sedang hamil?" Gerutu Carra yang tidak terima dengan perlakuan Juan


Juan tersenyum


"Tentu saja aku tidak lupa sayang" Sahutnya, tangannya menyusuri wajah Carra, kemudian berhenti di leher. Tak butuh waktu lama untuk Juan meninggalkan jejak merah disana


Wangi tubuh Carra yang harum khas dirinya membuat Juan mabuk kepayang dan menginginkan istrinya


"Juan, stoop" Pinta Carra sambil cekikikan saat Juan memainkan lidahnya di leher Carra


"Aku bilang stop!" Protes Carra dengan tatapan membunuh pada Juana


Bukannya takut, justru hal itu malah membuat Juan semakin bernafsu pada Carra. Ia mengubah posisinya menjadi di atas, menindih tubuh Carra dengan hati hati. Tetap bertumpu pada berat badannya sendiri


Menghujani Carra dengan ciuman, didada wanita itu. Membuat Carra mau tidak mau mengeluarkan lenguhan kecil dari mulutnya begitu saja


"Carra"


Carra membuka matanya saat Juan menghentikan aktivitasnya dan malah memanggil namanya


"Kenapa?"


"Apa kau mencintaiku?" Tanyanya. Tanpa berfikir Carra menyahut dengan mengangguk, rasanya pertanyaaana Juan terlalu dasar padanya


"Kau bahagia bersamaku?" Tanyanya lagi, seperti tidak puas dengan jawaban Carra tadi


"Tentu saja"


Juan menyunggingkan senyum penuh kemenangannya, langsung melahap bibir Carra yang setengah terbuka, dan tanpa berkata lagi ia langsung menggendong Carra dan memindahkannya ketempat tidur mereka tanpa melepaskan ciumannya


Juan menyusuri setiap inci isi mulut Carra, dengan tangannya yang mulai bergelirya kemana mana, jubah mandi yang dikenakan Carra sudah hilang entah kemana


"Hati hati" Sahut Carra saat Juan akan memulai aktivitasnya


Dan pandangan Juan berpusat pada perut Carra yang masih rata, Juan mengerti. Lantas ia mengangguk


"Aku akan pelan pelan" Sahutnya, kemudian mencium permukaan perut Carra sebelum melakukan aktivitasnya


-


Jika Juan dengan Carra sedang memadu cinta di istananya, maka berbeda dengan Abram dan Della yang nampak saling terdiam di posisi masing masing


Abram duduk di sofa dan Adella duduk di tepi tempat tidur


"Abram" Panggilnya dengan lemah


Abram menoleh, tanpa berkata apapun dan hanya menatap wanita itu


"Mau sampai kapan?" Tanyanya


Abram mengernyitkan dahinya


"Sampai kapan kita akan mempertahankan pernikahan kita yang tidak di dasari rasa cinta ini" Tuturnya dengan senyum sendu


Adella sungguh menyerah dengan Abram, ia lelah menjadi istri yang hanya menjadi pajangan. Ia bosan menjadi seorang istri yang tidak dibutuhkan, ia tidak ingin membuang buang waktunya dengan orang yang tidak bisa menghargai keberadaannya


"Apa maksudmu?" Tanya Abram dengan geram


Della menghela nafas, menghirup udara sebanyak banyaknya, mengusir air matanya yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya


"Adella"


"Aku sering bermimpi untuk bisa menikah dan hidup bahagia dengan laki laki yang tidak hanya aku yang mencintainya, tetapi dia juga mencintaiku. Menjadi layaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya, saling mencintai dan mengasihi"


"Dan sekarang, impianku untuk menikah sudah terwujud, tapi bukan pernikahan seperti ini yang aku harapkan. Aku tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan laki laki yang tidak bisa menganggap aku sebagai seorang istri"


"Aku tidak pernah bermimpi untuk menikah dengan seseorang yang tidak bisa mencintaiku. Bukan ini yang aku harapkan"


"Untuk apa kita menpertahankan pernikahan ini jika memang tidak ada cinta dihatimu, untukku Abram"


"Aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan tidak berguna"


Della menjeda kalimatnya, kemudian menghela nafas dan menyeka air mata yang tidak bisa dikendalikannya


"Mari kita bercerai" Sambungnya dengan tertunduk diiringi isak tangisnya yang begitu lemah


Abram menggeleng, ia mendengus di tempatnya. Menatap Della yang masih menunduk


"Aku akan memberikan apapun pada kau, tapi tidak untuk perceraian!" Tegas Abram


"Tidak ada gunanya mempertahankanku Abram, kau tidak mencintaiku bukan. Aku meminta kau menceraikan ku, mengapa kau tidak menurutinya?"


"Bukannya seharusnya kau senang karena bebas dariku? Tapi kenapa Abram, kenapa?"


"Kau ingin membuat penderitaanku semakin panjang?" Teriak Della


Abram memejamkan matanya untuk sesaat


Sedangkan Della tanpa henti menyeka air matanya, ia sudah menyerah dengan Abram. Ia tidak ingin membuang buang waktu lebih banyak lagi


"Aku ingin kita bercerai Abram, tidak ada yang bisa dipertahankan dalam pernikahan kita. Tidak ada alasan untuk kita tetap bersama sama"


"Jangan membuang waktumu untuk bertahan dengan orang yang tidak kau cintai, itu menyakitkan untukmu, dan sangat menyakitkan untuknya" Sambungnya, kemudian membaringkan diri di tempat tidur, tanpa mau mendengar sahutan Abram, lalu menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya


Abram hanya menghela nafas, apa yang dikatakan Della memang benar. Sejujurnya dirinya banyak memberikan penderitaan pada wanita itu. Padahal dirinya sudah bersumpah pada Tuhan dan kedua orangtua wanita itu untuk membahagiakannya, tapi ia mengingkari janjinya dan justru malah terus menyakitinya


Abram memutuskan untuk keluar dari kamar, ia perlu menenangkan diri. Dan tanpa ia sadari jika kepergian dirinya sudah membuat wanita dibalik selimut itu menangis sesenggukan


Kepergian Abram seperti memberi signal pada Della, jika dirinya benar benar tidak diperdulikan, benar benar tidak dibutuhkan


Benar benar tidak dicintai, tidak pantas di pertahankan......


-


Abram kembali ke kamar dan mendapati Della yang sudah tidur dengan damai


Abram mendekat padanya, lalu menarik perlahan selimut itu agar tidak menutupi wajah wanita itu, terlihat wajah Della yang basah karena keringat dan air mata yang belum mengering


Abram menghela nafas, kemudian mengelus rambut Della berkali kali


"Aku sedang berusaha mencintaimu Adella, bersabarlah" Bisiknya


"Maaf, aku belum bisa menyentuhmu. Aku tidak ingin anak kita terlahir dari benih tanpa cinta. Maafkan aku" Lirih Abram, lalu mengecup kepala Della


Dan untuk pertama kalinya ia satu ranjang dengan Della setelah menikah, memeluk wanita itu agar terlelap dalam mimpinya, didalam dekapannya