
Btw, satu episode yang kemaren sudah di revisi yah. Ini lanjutannya:")
-
"Kami hanya nonton, berbelanja dan makan. Juan" Sahut Carra saat Juan terus saja menanyainya tentang kegiatan apa yang dilakukan Carra selama berjalan jalan dengan Della tadi siang
"Sungguh?" Tanyanya sambil menindih Carra dengan satu kakinya
"Ya, aku tidak berbohong sayang" Sahut Carra dengan senyum merekah pada suaminya itu
"Kau tidak berbohong? Barangkali ada pria yang meminta nomor ponselmu" Tebak Juan dengan tatapan memicing, mendekati wajah Carra yang sedang berbaring miring menghadap padanya
"Ya, memang ada" Carra menyahut dengan santainya yang membuat Juan seketika bangkit dan terduduk
Carra yang sedang berbaring hanya mengernyit menatapnya dengan cuek
"Jadi benar kan dugaanku kalau kau tidak akan mau mendengarkanku!"
"Hey, kau tidak ingin bertanya siapa yang meminta nomor ponselku?" Tanya Carra sambil mengguncang lengan Juan tanpa merubah posisinya
Juan diam, kemudian melirik pada Carra yang tengah tersenyum padanya
"Siapa?" Tanyanya setelah cukup lama terdiam
"Mas mas tukang pulsa!" Sahutnya dengan acuh
Juan menggeleng, kemudian tersenyum dengan kikuk. Apa dia terlalu berlebihan dalam cemburu pada Carra?
Lalu setelahnya, dia tersenyum dengan tanpa mau dibantah
"Bagaimana jika dia menyimpan nomor ponselmu?"
"Bagaimana jika nanti diam diam kau berhubungan dengannya"
"Atau dia yang terus menghubungimu nanti, hmm?"
Cerocos Juan yang membuat Carra hanya mampu menggeleng kan kepala mendengarnya
"Aku tidak mau tau, besok kau harus mengganti nomor ponselmu. Atau sekalian saja dengan ponselnya!" Sahutnya dengan mantap, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Carra dengan frustasi
Hanya karena nomor ponsel Carra ia kasihkan pada tukang pulsa? Ayolah, Juan. Kau bukanlah anak remaja yang baru saja jatuh cinta!
Juan memejamkan matanya, tanpa memperdulikan Carra disampingnya, dan Carra hanya tertawa kecil saja melihat tingkah suaminya itu
"Juan" Panggilnya sambil mencolek pipi Juan yang sama sekali tidak digubris oleh laki laki itu
"Juan!"
"Hey"
"Diamlah Carra!" Decaknya
Carra semakin mendekat pada sang suami, mencium pipi kiri Juan, mencoba menggoda suaminya yang sedang cemburu tingkat tinggi itu
"Kau yakin akan langsung tidur?" Tanyanya. Berbisik dengan nada sensual ditelinga Juan, yang refleks membuat Juan membuka matanya
Mengernyit menatap Carra. Memang sejak kapan istrinya ini jago menggoda?
"Hmm?" Tanya Carra lagi, yang sepertinya dalam hitungan detik mampu meruntuhkan ego yang tadi sempat memuncak dalam diri Juan
Karena setelahnya, Juan segera menyerang leher Carra. Tidak butuh waktu lama bagi Juan untuk melepas semua pakaian yang dikenakan oleh istrinya dan bercinta saat itu juga
-
Dari kejadian tadi siang, Carra banyak belajar. Jika dirinya memang harus bersyukur atas apa yang ia punya saat ini. Menghargai apa yang ia miliki sekarang
Juan dan Syan, adalah anugerah yang harus Carra syukuri. Dan Abram, biarkan saja dia juga membangun kebahagiannya sendiri
"Bagaimana, apa wanita itu masih terus menghubungimu?" Tanya Carra
"Jangan membahasnya Carra" Sahut Juan sambil melingkarkan tangannya ditubuh Carra
"Aku hanya bertanya"
"Dan aku tidak ingin membahasnya sayang"
Untuk mencegah keributan yang mungkin akan terjadi, Carra akhirnya lebih memilih untuk mengakhiri obrolan mereka dan memejamkan matanya
Sedangkan Juan juga sepertinya sudah mulai tertidur, terdengara dari hembusan nafasnya yang begitu tenang
"Night sayang" Ucap Carra sebelum ia benar benar memejamkan matanya
-
Abram hanya mengotak atik laptopnya tanpa memperdulikan wanita yang sudah setengah jam lalu duduk berhadapan dengannya di ruang kerja dan mengganggu konsentrasinya
"Yang akan menikah itu kita Abram, bukan sopir kau!" Protes Della saat ia mengajak Abram untuk feeting baju pengantin dan Abram malah menyuruh Della untuk berangkat dengan sopirnya
Memangnya calon suami Della itu Pak Sopir?
"Aku sedang banyak kerjaan Adella" Sahut Abram seperlunya
"Aku sudah memberitahumu sejak kemarin Abram, seharusnya kau menyempatkan waktu untuk ini. Kau fikir hanya aku saja yang akan menikah, kau juga!" Protesanya
Abram memijit pelan pelipisnya. Kemudian menatap Della yang masih berada di posisinya
"Yasudah, tunda saja!" Abram menyahut dengan enteng
"Yasudah, tunda saja! Batalkan saja semuanya!"
"TIDAK USAH MENIKAH!"
Sahutnya yang kemudian beranjak, menyambar tasnya dan mealangkah pergi
Abram menghela nafas, ancaman Della yang sudah sangat sering ditujukannya pada Abram. Lantas Abram juga dengan cepat beranjak dan mengejar Della
Menarik tangan Della yang sudah memegang handle pintu, kemudian menyandarkan gadis itu pada dinding sebelah pintu
"Kau"
Della terdiam, matanya bersitatap dengan Abram yang juga tengah menatapnya dengan tajam. Bahkan tiba tiba saja jiwa berontaknya lenyap begitu saja saat melihat tatapan menyeramkan Abram
"Apa kau tidak bisa jika bersabar sedikit saja?" Tanya Abram dengan datar
"Sabar apa maksudmu?" Tanya Della, ambigu
Abram terdiam, sedangkan Della diam diam tersenyum
"Apa kau memang tidak ingin jika pernikahan kita dibatalkan?" Tanya Della yang membuat Abram memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Della yang kali ini seperti menertawakannya
"Hmm?"
Abram mundur satu langkah, kemudian berbalik dan kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Della buru buru mengusap dadanya. Menetralkan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat saat jarak dirinya dengan Abram hampir terkikis
"Ayo" Ajaknya setelah mengambil ponsel di meja kerjanya
"Kemana?" Tanya Della dengan bingung
"Feeting baju pengantin!" Sahutnya dengan santai, lalu melenggang keluar duluan
Sedangkan Della hanya berdiam saja di tempatnya seperti patung.
"Hey," Abram kembali mundur saat mendapati Della tak mengikuti langkahnya
"Kau yang tadi memaksaku untuk cepat pergi Adella!" Sahutnya
Della mengangguk, kemudian beranjak dari posisinya dan cepat mengikuti Abram