My Best Match

My Best Match
Tersangka



"Juan, apa yang terjadi?" Tanya Max saat Juan menuruni anak tangga dan akan pergi ke ruang kerjanya, Robert sudah menunggunya disana


"Tidak ada apa apa Ayah" Dusta Juan, lalu cepat pergi sebelum sang Ayah kembali bertanya. Ia tidak ingin nembuat kedua orang tuanya cemas karena hal ini


Ia bisa membereskannya sendiri


"Tidak papa Ayah, barangkali Juan hanya buru buru saja tadi" Nasihat Sonya agar suaminya itu tidak cemas, Max mengangguk


-


"Suruh orangku untuk menyelidiki nomor ini" Perintah Juan saat ia sudah berhadapan dengan Robert, Robert mengambil ponsel yang disodorkan Juan kemudian memeriksanya


"Ada orang yang sedang mempermainkanku, dia sengaja mengalihkan perhatianku!" Geram Juan


Robert tampak menghela nafas,


"Maaf Tuan, saya tidak bisa berbuat apapun. Tanah itu sudah jatuh ditangan pemilik perusahaan Gold sekarang" Tutur Robert


"Kabarnya, perusahaan Gold akan mendirikan hotel. lengkap dengan club dan kasino" Sambungnya yang memang sudah menyelidiki, pergerakan selanjutnya dari perusahaan Gold pasal tanah itu


Juan menggeleng


"Tidak apa apa, biarkan saja. Yang ada difikiranku hanyalah keluargaku, anak dan istriku. Aku tidak ingin terjadi apapun dengan mereka"


"Selidiki ini dan perketat penjagaan, aku takut ada seseorang yang sedang mengintai sekarang, jangan biarkan orang asing masuk selangkah pun kedalam mansion!"


"Baik Tuan"


-


Setelah obrolannya dengan Robert, Juan kembali ke kamar dengan wajah lelah, ia mendudukan dirinya di sofa. sementara Carra sedang merapihkan diri di depan meja rias


"Sayang"


Juan menoleh saat Carra memanggil, dan duduk disampingnya


"Ada masalah besar?" Tanya Carra yang sedari tadi memang sudah tidak tenang dengan kepulangan Juan


"Tidak ada apa apa. Kau jangan khawatir, kita hanya perlu berhati hati, mengerti?"


Carra mengangguk, lalu berhampur pada dada Juan. Entahlah, perasaannya tidak enak. Seperti akan ada sesuatu besar yang terjadi, yang sekarang sedang mengincar dirinya


"Aku akan menjaga kau, dan dia" Sahut Juan, yang lalu mengelus permukaan perut Carra, Carra hanya tersenyum


"Kita akan baik baik saja" Sambungnya meyakinkan


Dan Carra hanya bisa mengangguk


-


Bohong jika Juan tenang tenang saja dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi. Sederhana memang, tapi ia hanya takut orang yang sedang mempermainkannya berada satu langkah di depannya, Juan tidak ingin jauh tertinggal


"Bagaimana perkembangan nomor telpon itu?" Tanya Juan saat orang kepercayaannya masuk ke ruangannya


"Tidak ada yang bisa di temukan Tuan. Sepertinya nomor itu hanya digunakan satu kali saat mengirim pesan pada Tuan, dan kemudian dia sengaja membuangnya agar menghilangkan jejak"


"Saya rasa, orang ini tau banyak tentang Tuan" Tuturnya


"Jangan terlalu khawatir Tuan, sepertinya orang ini memang sengaja ingin mengalihkan perhatian Tuan, Tuan hanya perlu tenang dan fokus pada Nona Carra dan Nona kecil" Tuturnya lagi


"Baiklah, terimakasih atas kerja kerasmu. Kau boleh kembali " Sahut Juan sambil mengibaskan tangannya


Orang kepercayaan Juan mengangguk, kemudian pamit pergi ke luar dari ruangannya


"Misterius!" Desis Juan


"Sampai kapan kau akan bersembunyi?"


"Bagaimana menurutmu Robert?"


Robert diam, bagai berfikir


"Saya tidak ingin berburuk sangka Tuan, maaf jika saya lancang. Tapi saya fikir, ini ada hubungannya dengan Nona Jenny" Tutur Robert dengan hati hati


"Karena setau saya, Tuan tidak memiliki musuh selama ini" Sambungnya


Juan terdiam, mengapa ia tidak berfikir pada Jenny?


Tapi, belum ada bukti yang kuat dengan tuduhannya. Tsk!


-


2 Minggu setelah pengiriman pesan misterius itu. Juan sedikit lebih tenang, karena sepertinya orang itu tidak melakukan pergerakan apa apapun lagi


Justru sekarang Juan sedang sangat bahagia karena mendapat kabar dari Dokter Arin, Dokter pribadi keluarga Zhucarlos, bahwa Carra sedang mengandung bayi kembar


"Mau kemana?" Tanya Carra saat Juan hendak beranjak dari tempat tidur. Waktu menunjukan pukul 9 pagi, sedangkan Carra meminta Juan untuk tetap berada di tempat tidur. Kebetulan ini adalah hari libur


"Ke kamar mandi sebentar sayang, kau mau ikut?" Tanya Juan dengan alis terangkat


Carra dengan cepat menggeleng, Juan tersenyum dan kemudian beranjak ke kamar mandi


Carra hanya menunggu sambil memainkan ponsel Juan, tak lama pintu kamar mandi terbuka dan Juan kembali duduk di tepi tempat tidur


"Mm, kita mau sampai kapan seperti ini?" Tanya Juan yang nampaknya sudah bosan berdiam diri ditempat tidur. Carra menoleh, sejujurnya ini bukan hari pertama Carra bersikap begitu manja kepada Juan semenjak hamil


Terutama akhir akhir ini ia memang sering menahan Juan agar tidak pergi ke kantor, menyuruh Juan pulang cepat dan harus terus berada disisinya. Sepertinya hormon kehamilan yang dijalani Carra memang sederhana


Ia hanya ingin selalu dengan Juan, dan Juan selalu menurutinya, ia tidak ingin membuat Carra kecewa


Juan menghela nafas saat tatapan Carra begitu mengintimidasinya. Lalu ia mengelus puncak kepala Carra


"Baiklah, kita disini saja" Sahut Juan yang langsung merebahkan diri disamping Carra, Carra hanya tersenyum dengan penuh kemenangan


Dan kemudian merapatkan diri pada Juan


-


"Kau disini saja sayang" Tahan Della saat Syan memaksa untuk bertemu dengan Juan dan Carra


"Aunty, aku hanya ingin bertemu dengan Mom. Sekarang dia lebih suka bermain dikamar daripada diluar, menyebalkan" Gerutunya sambil mengerucutkan bibir


"Sayang, Momy Carra sedang hamil. Dia butuh banyak beristirahat agar dede bayinya sehat. Kau mengerti ya"


"Aunty, aku hanya sebentar, aku hanya ingin menemui Momy dan segera kembali lagi ke mari. Ayolah. kau pelit sekali"


"Sayang_"


"Aunty_"


"Ada apa ini?" Tanya Abram yang muncul dari arah dalam dan kemudian menghampiri Syan dan Della yang berada di halaman samping tempat Syan biasanya bermain


"Uncle" Rengek Syan, Abram berjongkok dan Syan segera berhambur dalam dekapannya


"Ada apa?" Tanyanya, Syan tak menyahut


Abram mengarahkan pandangannya pada Della, istrinya itu hanya menggeleng


Setelah insiden kecil Della yang meminta bercerai pada Abram, kini hubungan keduanya memang sedikit membaik, sering tidur bersama meski belum sepenuhnya melakukan kegiatan sebagai suami istri diatas tempat tidur


Sikap Abram perlahan kini mulai membaik pada Della, dan Della senang dengan hal sederhana itu


"Ada apa Syan?" Tanya Abram lagi


"Aku ingin ke kamar Momy dan Dady, Uncle. Tapi Aunty melarang aku melakukannya!" Rutuknya yang menyalahkan Della, Abram menoleh, Della segera menggelengkan kepalanya dan membuat Abram hanya tersenyum


"Untuk apa kau ke kamar mereka?" Tanya Abram lagi


"Aku hanya ingin bertemu dengan Momy, hanya sebentar" Rengeknya


Abram mengelus puncak kepala gadis kecil itu, memberinya pengertian


"Momy Carra sedang beristirahat, kau tidak boleh mengganggunya ya"


"Kau sama saja seperti Aunty, kalian sama saja!" Rutuknya sambil menyilangkan tangannya di dada


"Kau tidak ingin Dady marah karena kau nakal kan Sya" Tanya Abram lagi


Syan diam, dan kemudian mengangguk


"Maka patuhlah!"


"Momy dan Dady akan makan siang nanti. kau bisa menemuinya"


"Momy sering menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanannya ke kamar Uncle,"


Abram menghela nafas, apa yang dikatakan Syan memang benar. Carra hampir tidak pernah keluar dari kamar selama dua minggu terakhir ini


"Baiklah, nanti Uncle akan mengurus itu" Janji Abram


"Are you sure?" Tanya Syan dengan tatapan berbinar


Abram segera mengangguk dan membuat Syan mendaratkan kecupan ringan di pipi Abram, kemudian masuk kedalam mansion dengan riang gembira, disusul oleh Rose


Sedangkan dua orang dewasa itu hanya saling berpandangan tanpa berkata sepatah katapun, sampai kemudian Abram melangkah dan menggandeng Della untuk masuk kedalam mansion


Meski awalnya sempat terpaku, tapi kemudian Della melangkah juga dengan sedikit canggung dalam rangkulan Abram