
Waktu yang terlewat amat berharga, itulah alasannya mengapa Carra selalu mengisinya dengan canda, tawa dan kebahagiaan. Ia tidak ingin membuang waktu percuma, tidak ingin menyia nyaiakan kesempatan yang ada
"MOMY"
Teriakan itu begitu menggema memenuhi seluruh ruangan mansion, Carra sampai menutup telinganya karena suara nyaring Syan yang begitu memekakan telinga
"Ada apa?" Tanya Juan yang baru saja menuruni anak tangga dengan pakaian rapihnya
"Putramu pasti sudah mengganggu Kakaknya" Ucap Carra dengan suara yang pasrah. Ia benar benar lelah menghadapi putranya yang sedikit nakal dan kelewat aktif itu
Sonya dan Max yang berada di ruang utama mansion juga nampak menghampiri Carra yang masih berdiri di bawah tangga
"Ada apa?" Tanya Max dengan raut wajah khawatir
"Daren membuat ulah?" Tebak Sonya, Carra hanya tersenyum saja
"Yasudah, kalian kesana. Nanti mereka bertengkar" Sahut Sonya yang langsung mendapat anggukan dari Juan dan Carra
Cklek
Carra begitu tercengang saat masuk kedalama kamar Syan. Kamar itu begitu berantakan seperti kapal pecah. Seperti telah ada perang antara bajak laut dengan pengembara yang sudah merebut kekuasaan
disana
Buku buku yang berserakan di lantai, semua boneka kesayangan Syan juga nampak tergeletak dilantai, entahlah siapa yang membuat ulah. Yang pasti, Syan benar benar terlihat marah pada anak lelaki yang tengah menggambar sesuatu diatas tempat tidur Syan dengan posisi tengkurap
Juan tertawa, kemudian menghampiri dan menarik buku gambar milik Syan dari tangan putranya
"DARENDRA FRAY ZHUCARLOS" Ungkap Juan
Anak laki laki itu menunduk, jika sang ayah menyebutkan namanya secara lengap, artinya dia benar benar sangat marah
Darendra Fray Zhucarlos, dia adalah malaikat kecil yang dikirm oleh Tuhan pada rahim Carra lima tahun yang lalu. Sekarang usianya baru memasuki tahun ke empat
Yah, dia tampan. Memiliki bentuk wajah yang benar benar terlihat murni perpaduan antara wajah Juan dengan Carra, dengan hidung mancung dan alis tebal serta bibir tipis yang mirip sekali dengan Juan, dan mata teduh berwarna cokelatnya yang begitu mirip sekali dengan Carra
Lelaki kecil yang tampan itu akrab dipanggil Daren. Anugerah terindah dari Tuhan bagi Carra dan Juan, kau harus tau betapa rumitnya Carra saat mengandung Daren enam tahun yang lalu
Bagaimana ia yang selalu merengek ingin ikut dengan Juan ke kantor, atau bertemu dengan klien Juan saat ada meteeng diluar kantor. Ahh sepertinya dia memang berambisi menjadi pebisnis, sama seperti Juan
Dan itu belum seberapa dengan Carra yang setiap malam meminta Juan untuk bergadang karena harus memijitinya, belum lagi dengan Carra yang selalu meminta hal hal aneh, seperti ingin Tamasya ke kebun bintang seminggu tiga kali. Dan masih banyak lagi keinginan dan kelakuan aneh Carra yang muncul saat ia mengandung Daren
Dan ternyata hasilnya adalah begini, mereka memiliki putra yang amat nakal
"Momy, Dady. Dia menghancurkan kamarku, sudah ku bilang untuk keluar tapi dia tidak mau mendengarkanku" Syan yang sekarang sudah berusia 9 tahun itu nampak memberenggut kesal
"Hey, kau jangan memarahiku!" Daren tidak terima
"Kau memang bersalah adik manis" Syan mengungkapkannya dengan penuh ledekan
"Jangan manggilku adik manis aku tidak suka, kakak yang jutek" Sahutnya sambil balas meledek sang kakak yang tengah jengkel padanya sekarang
"Hey kau_" Geram Syan
"Dia juga yang sudah membuatku terjatuh di pesta pernikahan Uncle Alex, Mom" Syan mengadu
"Mengadu saja, anak manja" Daren meledek
"Kau, adik yang sungguh nakal" Syan sudah tidak tahan dengan kelakuan sang adik yang selalu menggoda dan mengganggunya itu
Juan dan Carra hanya melipat tangan di dada, menyaksikan perdebatan antara Daren dan Syan yang tak kunjung usai meski mereka sedang berhadapan dengan orang tuanya
Rasanya, ini seperti rutinitas bagi Carra. Melihat Daren dan Syan akur memanglah mustshil, dan melihat mereka selalu bertengkar adalah memang pemandangan utama di mansion. Entahlah, tapi anak anak itu memang tidak pernah mau akur, Carra dan Juan sudah kehabisan cara untuk menghentikannya
Keduanya terlihat saling menyayangi, tapi juga selalu terlihat seperti musuh. Mungkin itulah cara mereka menunjukan rasa sayang masing masing
Carra dan Juan tidak begitu paham, tapi yang pasti Daren dan Syan sejujurnya saling menyayangi satu sama lain
"Momy, aku akan terlambat ke sekolah jika begini!" Protes Syan yang merengek pada Carra
Memiliki, Daren. Tidak membuat Juan dan Carra menyisihkan Syan, itu adalah janji mereka untuk tetap menyayangi Syan. Tidak ada perubahan apapun setelah Daren hadir di tengah tengah mereka
Keduanya tumbuh dalam kasih sayang yang sama dari Carra dan Juan, tidak ada yang nomor satu atau nomor dua tidak ada yang dibeda bedakan. Semuanya sama, semuanya disayangi, dan akan di hukum jika melakukan kesalahan
"Baiklah, jangan hiraukan Daren. Kau pergi dengan Grandfa, Daren biar Mom dan Dady yang urus" Sahut Carra
Syan mengangguk, memgambil seragam Junior High School-nya kemudian berlalu ke ruang ganti
"Daren" Carra memanggil Daren dengan suara datar
Daren mendesah pasrah, kemudian melangkah turun dari tempat tidur, menuruti perintah sang Momy yang akan menasihatinya
"Dad" Ia meminta bantuan Juan, lupa sudah jika Juan hampir murka padanya tadi
"Ikuti Momy!" Sahut Juan
Tak memperdulikan wajah memelas sang anak, Juan justru melipat tangannya di dada begitu saja dengan ekspresi tidak perduli pada Daren
"Kau jahat Dad" Rutuknya
"Kau nakal Daren, ayo ikut dengan Dady dan Momy" Juan bangkit dan mengangkat tubuh anak itu untuk ia bawa ke kamarnya
-
"Sorry Mom" Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Daren setelah cukup lama ia hanya terdiam di hadapan Carra dan Juan
"Yah, kau meminta maaf dan Mom memaafkanmu, tapi kau selalu mengulanginya dan meminta maaf lagi. Begitu seterusnya, mau sampai kapan. Hmm?" Cerocos Carra
Bocah laki laki itu hanya memilin jari jarinya sambil menunduk
"Sorry Mom, aku tidak akan mengulanginya lagi, sungguh"
Juan hanya manggut manggut saja mendengar ocehan putranya. Ia sudah terlalu sering mendengarnya, dan pada akhirnya, ia akan tetap kembali mengulang kesalahannya
"Promise?" Tanya Carra
"I promise" Janjinya sambil mencium punggung tangan Carra dan kemudian berlalu dari ruang kerja Juan
Carra menggeleng, sedangkan Juan yang duduk di atas meja dengan tangan yang terlipat di dada hanya tersenyum saja, sampai kemudian suara ribut dari ruang utama mansion menginterupsi keduanya.
"MOMYYYYYYY"
Juan mengangguk pada Carra dan beranjak menuju ruang utama mansion
Carra memijit pelan pelipisnya, terlihat Daren yang sudah menumpahkan susunya di seragam sekolah Syan dan hanya mengangkat tangannya
Seolah menunjukan dirinya jika ia tidak bersalah
"Sorry"
"Aku tidak sengaja Mom" Ungkapnya
Sedangkan Syan ditempatnya sudah sangat murka. Rose membantunya mengelap seragamnya yang basah itu
Hampir semua orang di dalam mansion memijit pelipis mereka karena tingkah Daren yang selalu membuat ulah itu. Meski tak ayal, tingkahnya justru semakin menggemaskan
Alhasil, Syan yang sudah ngambek itu memutuskan untuk membolos saja
-
Perlu kalian ketahui, Abram dengan Della sudah tidak tinggal disini lagi. Mereka pindah ke LA tiga tahun lalu untuk menemani masa tua Kakek tunggal Abram disana. Sebagai cucu yang baik, Abram bilang ia harus menurut, dan takut takut jika itu adalah keinginan terakhir sang Kakek. Ia tidak mau menyesal sudah menolak keinginan sang Kakek nanti
Abram dan Della juga sudah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Maharani Dinara Lucass. Yang hanya memiliki selisih satu minggu kelahiran dengan Daren, Daren satu minggu lebih cepat dari Dinar
Pada akhirnya, Carra merasa bahwa Abram sudah benar benar takluk pada pesona Adella. Terlihat jelas dari bagaimana Abram selalu memanjakan istrinya itu.
Abram sudah menemukan kebahagiaannya, meski bukan dengan Carra
-
"Yes Mom" Hanya itu yang keluar dari mulut Daren, sedangkan Syan nampak asik bermain dengan ponsel pintarnya
Hari ini, Juan dan Carra memang akan terbang ke LA untuk menghadiri pesta pernikahan Jasmine yang akan dilalsanakan dua hari lagi
"Kakak, kau mendengarnya tidak?" Tanyanya pada Syan saat sang Momy berlalu menyusul Dady nya yang masih berada di dalam mansion
"Aku mendengarnya tampan" Sahut Syan denga senyum cerah sambil mencubit kedua pipi Daren dengan gemas
Jika biasanya Daren akan mengamuk diperlakukan seperti itu, maka kali ini ia hanya diam dan mengusap pipinya saja. Percayalah, ia memang anak yang patuh dan segan kepada Carra
"Ohh, manisnya" Decak Syan saat Daren tidak melakukan perlawanan padanya
Daren hanya mencebikan bibirnya saja. Tidak perduli pada sang Kakak yang berusaha memancing amarahnya. Ia tidak ingin dimarahi sang Momy
"Kalian hati hati, jaga diri baik baik. Hey jangan lupa untuk mengabari Grandfa jika sudah sampai" Sahut Max sambil menggendong Daren dan mengelus puncak kepala Syan
"Oke Grandfa" Daren menyahut bersemangat, sedangkan Syan hanya mengangguk saja
"Sudah siap?" Tanya Juan yang sudah rapih dengan paduan kecamata hitamnya, disampingnya ada Carra yang menggandeng lengannya dengan mesra. Yah, dan itu semua tidak akan lepas dari gangguan putra mereka yang maha nakal
"Hey, Dad itu tangan Momy ku" Sahut Daren sambil meronta untuk turun dari pangkuan Max, Max terpaksa menurunkannya
Syan hanya memutar bola matanya dengan jengah jika saja Daren selalu mengganggu kemesraan orang tua mereka, padahal Juan sudah sangat tegas padanya
"Lepas lah" Pintanya sambil menarik tangan Carra agar menjauh dari Juan. Juan membuka kacama hitamnya, lalu berjongkok di hadapan Daren
"Dady bilang apa? Jangan mengganggu Dady jika sedang bersama Momy!" Peringatnya sambil memberikan ekspresi menyentil pada Daren
"Kau mau Dad dan Mom meninggalkan kau disini, hmm"
"No!" Daren dengan cepat menyahut
"Darendra fray Zhucarlos"
"Momy" Daren segera mengangkat kedua tangannya, meminta Carra untuk menggendongnya. Berlindung pada Carra dari amukan Juan
Carra menggeleng, tapi kemudian menggendong putranya itu
"Kau berat sekali baby" Sahut Carra sambil merapihkan rambut Daren
Juan hanya mendesah pasrah, apalagi saat Carra berjalan menuju mobil. Alhasil Juan hanya mengikuti saja sambil menggandeng Syan menuju mobil
"Hati hati" Max dan Sonya melambaikan tangan pada dua mobil yang keluar dari gerbang utama mansion
"Dengar, di sana kalian jangan membuat keributan. Jangan bertengkar, jangan membuat Grandma dan Grandfa disana repot" Nasihat Juan pada putra putrinya itu
"Syan kau harus mengalah pada Daren"
"Always, Dad" Syan menyahut patuh
"Daren, kau jangan menjahili Kakak. Jangan nakal, Dady tidak ingin kalian membuat keributan apapun nanti!" Sahutnya tanpa bisa di bantah
Carra hanya melihat Syan dan Daren yang duduk di kursi belakang. Mereka tampak mengangguk sambil bermain ponsel. Dengan posisi Daren yang menjulurkan kakinya dan bersandar pada lengan Syan. Jika sedang seperti itu, maka orang lain tidak akan mengira bahwa kedua anak itu sering sekali berperang
Carra tersenyum pada Juan yang duduk disampingnya, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami. Sedangkan sang sopir yang tengah mengemudi di depan hanya menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil itu
Dan satu mobil hitam dibelakang yang mengawal kepergian mereka
-
"Duduk manis, dan jangan mengganggu Kakakmu" Sahut Juan saat sudah mendudukan Daren di kursi pesawat pribadi mereka
"Yah, Dad. Aku mengingatnya, sepertinya kau begitu tidak percaya denganku" Rajuknya
"Atau aku duduk dengan Mom saja" Ancamnya
"Hey!" Juan segera bereaksi sambil mengangkat jari telunjuknya
"Tidak akan Dad" Daren menyahut pasrah
"Anak pintar!" Juan mengacak rambut Daren
Kemudian mengambil duduk disamping Carra dan menggenggam tangan Carra, selanjutnya mendaratkan ciuman di pipi Carra. Jika dikursi samping tidak ada anak mereka, mungkin Juan akan memberi sensasi indah pada Carra didalam pesawat, diangkasa
Tapi sayang, mereka tidak hanya berdua disini
-
Carra hanya tersenyum, menoleh pada Syan dan Daren yang nampak asik mengobrolkan sesuatu, kemudian melirik Juan yang merebahkan kepalanya di bahu Carra, Carra sungguh merasa bahagia, ia merasa sempurna
Dan ketika pesawat sudah berada diantara awan awan putih, meninggalkan dunia bawah yang indah, maka Carra hanya merasakan jika perasaannya membuncah
Ia merasa Tuhan begitu adil memberikannya kebahagiaan. Yang dulu pernah hilang darinya, sekarang digantikan dengan yang jauh lebih mengagumkan. Daren adalah bukti dari penantiannya dengan Juan
Malaikat kecil berambut pirang itu adalah harta bagi Carra, yang paling berharga. Tingkah nakalnya adalah selayaknya ia anak kecil, Carra tidak masalah. Ia senang dengan Daren,
Senang dengan Daren yang selalu mengganggu Syan
Senang dengan Daren yang sering membuat Juan cemburu, senang dengan Daren yang selalu meminta tidur di kamar Carra dan membuat Juan murka
Dia senang dengan apapun yang Daren lakukan selama itu tidak melewati batas
Meski itu membuat orang seluruh mansion harus pusing karenanya
-
Carra bersyukur dijodohkan dengan Juan, saudara sepupu mantan kekasihnya itu, menikah dan memiliki anak bersama laki laki sombong yang tampan itu
Jika pun dulu Carra tidak di jodohkan dengan Juan, Carra percaya, jika Tuhan pasti akan tetap mempertemukan mereka
Juan tetap akan menjadi pasangat terbaik bagi Carra
"Thanks, My Best Match"
Juan tersenyum, dan senyumnya kian merekah ketika Carra mendaratkan kecupan singkat padanya di bibir
-
Di udara, Carra benar benar tersadar atas apa yang diterimanya adalah keindahan, kebahagiaan, anugerah terbesar dari Tuhan
Dulu, ia boleh kehilangan. Tapi hari ini, ia memiliki Daren, Syan dan Juan. Yang sudah berjanji padanya, untuk tidak akan meninggalkan
Juan dan Carra memang bukanlah pasangan yang sempurna, tapi kehadiran Daren adalah pelengkap bagi mereka
Penyempurna kekurangan Juan dengan Carra yang pernah ada
TAMAT
-
**Hallo, terimakasih untuk kalian yang membaca cerita ini, meninggalkan like dan koment. Juga menyumbangkan poin dan koinnya pada MBM
Cerita ini sudah tamat sesuai dengan apa yang sudah Author rencanakan alur ceritanya. Jika terlihat buru buru, maka itu hanya perasaan kalian saja. Hehe, karena dari awal alur ceritanya memang akan seperti ini
Semoga tidak mengecewakan:")
Terimakasih pada kalian semua:")
Jangan lupa follow akun Noveltoon ku @Eva Yulian. Agar bisa melihat karya terbaruku
Salam sayang
EvaYulianti**:*