My Best Match

My Best Match
Hadiah



Acara pesta pertunangan masih berlangsung dengan meriah. Kebahagiaan antara Syan dengan Araga masihlah yang paling mendominasi disana.


Para tamu undangan masih asik menikmati berjalannya acara hiburan yang di isi oleh penampilan dari beberapa penyanyi papan atas yang sudah disewa.


Diantara keramaian, dua orang gadis tengah gencar menggoda seorang pria yang mulai pusing karena tingkah laku keduanya.


"Skretaris Erick, berdansa denganku saja." Dinara dengan gencarnya membujuk Erick untuk berdansa dengannya, dan Zoey nampak tidak terima sekali melihatnya.


"Denganku saja!" Zoey juga bersikukuh.


Erick menggeleng pusing, tidak tau harus berbuat hal apa.


"Dengan aku saja,"


"Hey. Nona Dinara yang terhormat, mengalah saja. Aku lebih tua darimu," Zoey emosi sendiri. Sementara Lucy juga hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.


"Dengar Kak Zoey, yang tua jauh lebih baik jika mengalah pada yang muda. Kau ini, bagaimana sih!"


Kali ini, Erick mulai memijit pelipisnya. Kepalanya sudah sedikit pusing. Mungkin sebentar lagi akan pecah jika ia tidak pergi dari sana.


"Nona-nona. Kenapa tidak kalian berdua saja yang berdansa?" tanya Erick dengan tampang serius bercampur kesal. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan dua gadis itu yang melongo menatap kepergiannya.


"Hey!"


Dinara dan Zoey hanya menatap kepergian Erick dengan perasaan dongkol setengah mati.


Kemudian sama sama menyilangkan tangannya didepan dada. Syan dan Araga yang memperhatikan dari kejauhan hanya tertawa.


"Kurasa Skretarismu tidak menyukai Dinara ataupun Zoey. Atau jangan jangan, dia menyukaimu?" Syan menebak asal.


Araga berdecak tidak terima.


"Tentu saja tidak sayang. Dia normal!"


"Yang aku tau. Dia sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya, dengan seorang gadis dari LA."tutur Araga. Memberitahu calon istrinya agar tidak salah paham dan berfikir macam macam padanya.


Sementara Syan mengangguk anggukan kepala. Kedua orang tua mereka mengobrol disalah satu sudut yang sedikit jauh dari keramaian. Diam diam Juan memperhatikan putranya. Darendra hanya berdiri tanpa ekpresi, nampaknya para kawannya yang berisik pun seolah tak mengganggu ketenangannya.


"Juan," Juan menoleh pada Carra yang menyentuh bahunya.


"Ada apa sayang?"


"Kau sedang memikirkan apa? Aku perhatikan sedari tadi kau hanya melamun." tegurnya yang memang memperhatikan sang suami.


"Tidak sayang, aku tidak apa apa." Juan menggapai tangan Carra, mengelusnya. Meyakinkan sang istri jika dirinya baik baik saja.


**


Beberapa hari setelah acara pertunangan Syan dengan Araga. Suasana di dalam mansion keluarga Zhucarlos terasa sangat berbeda.


Tidak ada lagi Syan yang berteriak karena diganggu oleh Daren. Tidak ada lagi Daren yang setiap hari mengusili sang kakak. Tidak ada lagi pertengkaran antara adik dengan kakak. Bahkan tidak ada obrolan kecil diantara mereka.


Daren lebih sering tinggal di apartemennya daripada di mansion. Juan yang memahami bagaimana perasaan putranya hanya membiarkannya saja.


Sementara Syan, ia bisa apa selain menerima? Menjaga jarak dengan Daren mumgkin adalah jalan terbaik untuk keduanya.


"Syan, Araga sudah menunggu di depan." sahut Carra saat putrinya itu turun dari tangga lantai 2 kamarnya.


"Oh, oke Mom."


"Kalian akan pergi kemana?" tanyanya. Penasaran dengan Syan yang terus saja tersenyum.


"Mmmm. Membeli kado untuk Mom dengan Dad," sahut Syan dengan bersemangat.


Carra mengangguk anggukan kepalanya dengan bibir terlipat. Sementara Syan hanya nyengir kuda.


"Baiklah, kau urus saja. Acaranya akan dilangsungkan di mansionku. Datang saja nanti siang kemari dan tanya pada istriku tema apa yang akan dipilihnya." Juan muncul dengan ponsel ditelinganya. Nampaknya ia sedang berbicara mengenai pesta ulang tahun pernikahannya dengan Carra yang ke dua puluh tahun yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.


" .....,"


"Baiklah," Juan mengakhiri panggilannya dan mendekat pada Carra. Mencium pipi istrinya didepan putri mereka, Syan hanya berpura pura memalingkan wajah dengan tertawa.


"Baiklah, Mom Dad aku duluan," sahutnya sambil berlalu keluar.


Carra dan Juan hanya mengangguk dengan tersenyum.


"Sudah menunggu lama?" tanya Syan saat Araga menyambutnya sambil membukakan pintu mobil.


Araga hanya menggeleng. Kemudian masuk ke posisinya, Erick selalu ada diantara mereka. Siap menjadi obat nyamuk. Mobil melaju meninggalkan pelataran megah mansion keluarga Zhucarlos.


"Sudah sarapan?" tanya Syan pada pria disampingnya. Araga menggeleng cuek, membuat Syan heran dengan sikapnya.


"Kau kenapa? Sakit?" tanyanya lagi dengan khawatir.


Pria itu kembali menggeleng.


"Skretaris Erick. Ada apa dengan bos mu ini?"


Syan sedikit mencondongkan tubuhnya. Membuat Araga dengan cepat menarik pinggang gadis itu untuk kembali duduk ditempatnya.


"Jangan berbicara dengan pria lain,"


"Dia skretarismu!"


"Bagaimana jika dia mengkhianatiku?"


Posesif mode on.


"Baiklah, jadi katakan kau kenapa?"


"Apa kau sakit gigi?"


"Apa kau tidak peka?" Araga justru balik bertanya dengan pertanyaan yang membuat Syan terdiam seribu bahasa.


"Maksudmu?"


Araga menghembuskan nafasnya setengah kesal.


"Kemana kau semalam?"


Syan diam. Mengingat ingat, dan ia ingat jika semalam dirinya ketiduran, pagi hari ia mendapat banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Araga. Mungkin itu alasan kenapa ia marah.


Syan menghela nafas.


"Aku ketiduran,"


Araga melipat tangannya di dada. Enggan menanggapi apapun alasan Syan. Sepanjang jalan Syan hanya bisa meminta maaf pada Araga. dan Araga berlaga tidak perduli saja sampai akhirnya Syan memilih untuk menyerah dan membiarkannya.


Syan turun begitu saja saat Erick sudah memarkirkan mobil di parkiran salah satu pusat perbelanjaan. Araga hanya menatap gadis itu, Syan berjalan sedikit memutari mobil dan kemudian berhenti pada pintu kemudi, mengetuknya, setengah ragu Erick menurunkan kaca jendela mobil setelah sempat melirik sang bos yang masih duduk anteng di kursi belakang.


"Ada apa nona?"


"Bisa temani aku berbelanja hari ini. Aku tidak suka sendirian," sahutnya seolah sengaja menyindir dan mengabaikan Araga. Araga segera membuka pintu mobil dan turun dari sana. Menghampiri Syan.


"Kau, jangan macam macam!" peringatnya. Syan mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Kau, tutup kacanya!" teriaknya pada Erick. Erick hanya berdecak, tapi kemudian ia menurut juga.


"Ku kira kau marah padaku dan tidak ingin menemanuku!" acuh Syan. Araga menghela nafas.


"Baiklah. Aku tidak marah padamu, ayo!" ajaknya dengan lembut sambil menggenggam tangan Syan. Syan tertawa, lalu berjalan mengikuti Araga yang nampak pasrah karena harus mengalah.


Begitulah wanita, jika prianya sedang marah. Maka senjatanya adalah balik marah, dan si pria akan mengalah padanya. Hebat bukan?


Dalam waktu beberapa detik. Dua insan itu nampak berdamai dan mulai asik memilih barang yang akan dibelinya.


"Kau ingin membelikan hadiah apa?" tanya Araga saat Syan tak kunjung menemukan hadiah yang cocok untuk orang tuanya.


"Aku tidak tau. Aku sudah sangat bingung." keluh Syan.


Araga hanya mengangguk anggukan kepalanya. Langkah Araga berhenti saat mereka berada di toko perhiasan. Langkah Syan otomatis juga ikut terhenti.


"Ada apa?"


"Kemarilah," ajak Araga. Kemudian mereka mendekat pada etalase etalase yang memajang berbagai perhiasan mewah yang super mahal.


"Aku sudah sering memberi Momy hadiah perhiasan, Araga."


Araga hanya diam tak menyahut. Ia melihat deretan kalung dan memilih salah satu kalung dengan liontin berlian kecil.


"Kau suka?" tanyanya pada Syan yang menatap jengah padanya.


"Tidak!"


"Tapi aku suka. Coba pakailah,"


Syan berbisik pada pria itu "Aku tidak mau,"


"Oh. Kau menyukainya tapi kau malu." sahut Araga dengan wajah tanpa dosanya. Sementara Syan membulatkan mata dengan sempurna. Apa yang pria itu katakan?


"Biar aku pakaikan," ujarnya sambil beralih ke belakang tubuh Syan. Syan tersenyum kikuk pada seorang wanita yang melayani Araga memilih kalung tadi.


"Cantik," pujinya setelah selesai memasang kalung dileher sang tunangan. Syan hanya tersenyum kaku.


**


"Berterima kasihlah Syan," Araga mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Syan yang tadi berlalu begitu saja dari toko perhiasan saat Araga sedang membayar. Gadis itu sama sekali tak menunggunya.


"Aku tidak ingin berterimakasih. Aku tak memintanya," sanggah gadis itu sambil terus berjalan meninggalkan Araga.


"Kalau begitu kau berbutang padaku!" sahut Araga. Tentu saja ia hanya bercanda.


"Aku tidak mau membayarnya!"


"Harus Syan!"


Syan menghentikan langkahnya, sementara Araga terus berjalan dan berdiri dihadapan gadis itu.


Syan melipat tangannya di dada.


"Aku harus membayarmu dengan apa?"


"Kasih sayang!" sahut Araga, spontan.


Syan tertawa. Lalu menggandeng lengan Araga dan mengajaknya kembali berjalan. Mencari hadiah untuk Carra yang belum ia temukan.


"Ini maksudnya kau membayar hutangmu Syan?" tanya Araga saat Syan terus saja menggandeng lengannya.


"Iya. Anggap hutang ku sudah lunas dan sekarang kau yang berhutang padaku!"


"Hah?"


TBC