
Juan kembali ke rumah sakit dengan Abram dan Alex, Sonya yang nampak mengkhawatirkannya segera menghampiri
"Kau tidak apa apa Juan?" Tanyanya sambil memeluk Juan
"Aku tidak apa apa Ibu" Juan menyahut dengan senyum lemah
Pada dasarnya, Juan bukanlah orang yang mudah menunjukan kelemahannya pada setiap orang. Tapi kali ini, nampaknya ia tidak bisa lagi untuk tidak mengeluarkan air matanya saat ia harus menerima kenyataan jika ia kehilangan kedua calon anak pertamanya
"Ibu, apa Carra sudah bangun?" Tanya Juan
Sonya menggeleng, membuat Juan memejamkan matanya dengan frustasi
Yang lain hanya menatap Juan dengan prihatin. Adalah kali pertama bagi mereka Juan berada dalam titik terendahnya. memperlihatkan sisi kelemahannya dihadapan orang orang
"Aku akan menemuinya" Sahut Juan, dan Sonya hanya mengangguk
Max menepuk bahu putranya, memberikan dukungan dan menyalurkan kekuatan pada Juan agar ikhlas menerima semuanya
-
Abram yang melihat Della tengah duduk di kursi panjang disamping pintu ruangan Carra lantas menghampirinya, duduk disamping istrinya itu. Sedangkan Alex nampak menghampiri Sonya dengan Max, mengucapkan duka cita dan memberi dukungan agar mereka tidak larut dalam kesedihan
"Syan dimana?" Tanya Abram, Della menoleh
"Di mansion, dia tidak tau jika Carra masuk rumah sakit" Sahutnya
Abram diam dan mengangguk
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Della yang memang amat penasaran dan prihatin dengan kejadian naas yang menimpa Carra
"Carra di culik, Jenny yang melakukannya" Tuturnya, Della terperangah tidak percaya. Ada, manusia senekad itu
Atas dasar apa? Tidak tidak, Della tidak ingin banyak bertanya
Kemudian ia hanya diam dan mengatur nafasnya agar lebih normal
"Kau ikut menyelamatkan Carra?" Tanya Della dengan ragu, setelah cukup lama ia hanya terdiam. Pertanyaan bodoh, tentu saja Abram ikut menyelamatkan Carra, selain ia yang masih menyimpan perasaan pada Carra, juga karena ia saudara Juan yang harus membantu Juan saat sedang mengalami masa sulit
Abram yang tengah menunduk lantas menoleh pada Della, kemudian mengangguk
Mendapat jawaban seperti itu, Della hanya manggut manggut
"Kau cemburu?" Tanya Abram, pertanyaan yang tidak pernah terlintas dibenak Della. Della spontan menggeleng dengan tertunduk, dan perlakuan Abram yang diluar dugaannya begitu menghangatkan perasaan Della
"Jika cemburu, maka katakan!" Sahutnya sambil mengacak rambut Della. Sedangkan Della hanya terpaku
Abram sedang kerasukan mahluk yang seperti apa?
-
"Sayang?"
Juan duduk dikursi disamping brangkar Carra, menggenggam tangan sang istri yang terbaring lemah dengan wajah pucatnya
"Sayang. Ku mohon bangunlah, aku sudah kehilangan dua malaikat kita. Dan aku juga tidak ingin kehilangan kau, aku tidak akan bisa tanpa kau Carra"
"Ku mohon bangunlah"
Juan menangkupkan tangan Carra pada wajahnya, menunduk dengan air matanya yang ikut menetes saat ia menunduk. Sungguh, Carra adalah kelemahan Juan.
Juan tidak bisa melihat Carra yang hanya berbaring saja seperti mayat hidup.
Juan pernah berjanji pada Carra, jika dimasa depan. Ia tidak akan membiarkan Carra menangis, tapi Juan tidak bisa menepati janjinya. Justru ia sendiri yang mendatangkan petaka bagi Carra sampai mereka harus kehilangan calon anaknya
"Juan, ini sudah larut malam"
"Apa tidak sebaiknya kau pulang dulu nak," Nasihat Sonya sambil mengusap puncak kepala putranya itu
Juan mendongak, menghapus air matanya kemudian menghela nafas
"Aku akan disini saja menemani Carra, Bu. Ketika dia bangun, harus aku yang pertama kali dilihatnya" Sahutnya
Sonya terdiam, ia mengerti bagaimana keadaan putranya ini
"Baiklah, biar Ibu menyuruh Robert untuk membawakan pakaian untukmu" Sahutnya, kebetulan Carra memang berada di ruang VVIP, fasilitas disana sangat lengkap, termasuk memiliki kamar mandi, dan Sonya menganggap, tidak apa apa jika Juan memang ingin terus menemani Carra
"Mertuamu akan datang besok"
"Mereka tau insiden ini?" Tanya Juan dengan raut wajah yang merasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa menjaga Carra dan calon anak mereka. Apa yang akan dikatakan pada mertuanya nanti?
"Kau tidak perlu khawatir, mereka tidak akan menyalahkanmu"
"Apa aku berdosa Bu?" Tanyanya dengan mata yang sudah berair
"Kau tidak berdosa nak_" Sahut Sonya. ia menjeda kalimatnya. Terakhir melihat Juan menangis, adalah saat putranya itu berusia tujuh tahun. Ia menangis karena mendapatkan mainannya rusak karena Abram, dan ini adalah kali pertama bagi Sonya melihat kembali air mata Juan setelah 20 tahun berlalu
Dan Sonya tidak sanggup melihatnya
"Aku berdosa Bu"
Sonya memeluk putranya
"Tuhan hanya belum mengizinkan kau menjadi seorang ayah, nak. Kau sama sekali tidak bersalah, tidak" Sahut Sonya
Dan Juan hanya menangis dalam pelukan ibunya. Melihat Carra yang tak kunjung bangun membuat Juan sangat khawatir, ia takut Carra tak akan bangun lagi
Juan tak akan siap, sampai kapanpun tak akan siap jika harus kehilangan Carra
-
Juan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil, kemudian duduk ditempatnya tadi disamping Carra. Dan Carra....
Belum kunjung membuka matanya
"Sayang, kapan kau akan bangun?"
"Dengar, kapanpun kau bangun. Aku akan selalu menunggumu, kau harus bangun. Kita masih memiliki Syan yang membutuhkan kita Carra" Ocehnya,
Dan suara ponsel yang berbunyi mengalihkan perhatiannya. Juan menyambar ponselnya
"Kenapa Ray?" Tanyanya
"Tuan, mayat nona Jenny sudah ditemukan"
"Baiklah, aku akan kesana!"
Sambungan terputus.
"Sayang, aku akan pergi sebentar. Setelah itu aku akan kembali, kau harus bangun" Sahutnya, kemudian mengecup kening Carra dan kemudian berlalu pergi setelah meraih jasnya disofa dan keluar dari ruangan Carra
-
Juan hanya menopang dagu saat melihat sebuah mayat yang sudah terbujur kaku dihadapannya dengan bersimpah darah
Menurut penuturan Ray, saat Jenny terjatuh dari atas tebing, ia tepat mengenai sebuah kayu tajam, jatuh dan tubuhnya tertancap disana. Bahkan Jenny mati mengenaskan dengan mata yang terbuka dan lidah yang terjulur. Mungkin itu karma baginya
Dan mungkin juga Juan memiliki dosa tertentu dalam kematian Jenny. Tapi coba fikirkan lagi seandainya Jenny tidak nekad menculik dan mencelakakan Carra, semuanya akan baik baik saja. Juan juga tidak pernah mengusik orang yang tidak mengganggunya
Juan tidak sepenuhnya menyalahkan Jenny, hanya saja dalam hal ini. Jenny memang sudah mengambil tindakan yang berlebihan, bahkan melanggar batas
"Tuan muda, lalu kita apakan mayat ini?" Tanya Ray yang sedari tadi hanya diam memandangi Tuannya yang nampak melamun
"Kuburkan saja, memangnya mau diapakan?" Sinis Juan
"Maaf Tuan muda"
Bukannya seharuanya Juan yang meminta maaf karena sudah membentak?
Baiklah, Ray adalah orang yang pengertian. Jangankan saat suasana hatinya sedang kacau, bahkan dalam keadaan hati yang baik baik sajapun Juan sering sekali marah marah
"Bagaimana keadaan Nona Carra, Tuan?"
Juan menoleh pada Ray, kemudian ia menghela nafas dan menggeleng
"Ia masih belum sadarkan diri" Sahut Juan dengan suara kecil
"Saya turut berduka cita Tuan"
Juan tersenyum, menepuk bahu orang kepercayaannya itu, kemudian tersenyum
"Terimakasih Ray, kau sudah bekerja keras dengan sangat baik dalam misi ini"
Ray tersenyum
"Aku sudah gagal menyelamatkan Nona Carra" Lirihnya
"Kau tidak bertanggung jawab untuk itu Ray, itu tanggung jawabku, kau tidak harus merasa bersalah"
"Kau sudah sangat bekerja keras, jika saja tidak ada kau. Mungkin sampai sekarang, Carra belum diketemukan!" Sahut Juan dengan tulus
Ray melihat ketulusan didalam diri iblis itu, bahkan jika Ray gagal menjalankan misi, Juan pasti akan memarahinya. Tapi kali ini? Sepertinya Carra memang sudah membawa pengaruh baik pada Juan
Meski tidak bisa Ray pungkiri, jika sekarang, Tuannya benar benar sedang menunjukan titik terlemahnya