
*Kalau terus terusan memikirkan waktu untuk masa lalu, bagaimana dengan masa depan?
_EvaYulian*_
-
Sudah satu minggu Carra berada di mansion. Keadaannya sudah jauh lebih baik, kedua orang tuanya juga sudah kembali ke LA. Dan Jasmine juga sempat datang menjenguknya. Carra memang jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski tidak sepenuhnya, ia seperti kehilangan semangat hidupnya. Meski, Carra dengan pintar mampu menyembunyikannya dari setiap orang, tapi Juan bisa membacanya dengan jelas. Jika istrinya, tidak dalam keadaan yang baik baik saja
"Sayang"
Carra yang sedang duduk melamun di sofa kamar mereka cepat tersadar dan tersenyum menatap Juan yang sudah rapih dengan pakaian formalnya
"Ahh, kau ingin sarapan?" Tanya Carra sambil beranjak dan kemudian menghampiri sang suami. Juan tersenyum dan kemudian menggeleng
"Mmm apa aku tidak usah ke kantor saja ya" Racau Juan sambil menopang dagunya
"Hey, mengapa tidak pergi ke kantor?" Tanya Carra dengan herannya, tidak biasanya Juan seperti bingung begini jika ingin pergi bekerja
"Hm, aku malas jika harus meninggalkan istriku yang terus melamun" Sahutnya sambil menjatuhkan lengannya di kedua bahu Carra
Carra membulatkan mulutnya membentu huruf 'o'
"Aku tidak melamun sayang" Dusta Carra kemudian sambil mengalungkan lengannya di leher Juan
"Sungguh?" Tanya Juan, memastikan
Carra mengangguk dengan mantap,
"Aku tidak yakin" Juan menyentil pelan dahi Carra, membuat wanita itu mengusap usap keningnya
"Kau bisa berbohong pada seluruh dunia, tapi tidak padaku sayang, kau tidak bisa dan tidak boleh berbohong padaku" Sahut Juan yang perlahan menarik Carra kedalam pelukannya, membuat Carra menghangat seketika, tapi sungguh, Carra memang tidak bisa begitu saja melupakan kenyataan pahit itu
"Yang tertinggal, mari lupakan. Masa depan ada di hadapan kita, kita tidak akan kembali lagi ke masa lalu sayang" Sahutnya
"Aku tau, memang bukan hal yang mudah untuk melupakannya begitu saja, akupun sama. Tapi cepat ataupun lambat, kita memang harus melupakannya bukan?"
"Aku tidak ingin kau selalu dihantui bayang bayang masa lalu Carra" Sahut Juan, mengakhiri ucapannya dan kemudian mengecup kening Carra, lama berada disana
"Ada aku, kau tidak sendiri" Sudah, tangis yang selalu ditahan Carra akhirnya pecah juga. Ia terisak dengan tangan yang meremas jas Juan, membuat penampilan laki laki itu sedikit acak acakan
"Juan" Panggilnya sambil mendongak menatap Juan
Juan balik menatapnya
"Apa aku membuatmu kecewa? Apa kau menyesal sudah menikah denganku?" Tanyanya dengan sendu, Juan dengan cepat menggeleng
"Jangan pernah berkata begitu sayang, sedikitpun aku tidak pernah menyesal menikahimu" Sahut Juan
Dan Carra hanya diam dalam dekapan Juan, memejamkan matanya sampai kemudian ia merasa deruan nafas Juan yang menyapu pernukaan kulit wajahnya, tidak butuh waktu lama bagi Carra untuk merasakan sensasi bibir Juan yang menyentuh bibirnya
Awalnya hanya lumatan lumatan kecil saja, tapi perlahan berubah menjadi ciuman bernafsu yang penuh dengan tuntutan. Sampai kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah Juan yang sepertinya tidak jadi pergi ke kantor
-
Itu adalah malam pukul 8, saat Carra merasa ingin menikmati cuaca dimalam hari. Tapi ia juga harus merasa jengkel karena Juan menolak untuk menemaninya, menyebalkan. Benar benar bukan suami yang pengertian. Carra menuruni anak tangga dengan perlahan dan melihat Abram yang tengah duduk di sofa menonton tv dengan Della yang bersandar di bahunya
Nampaknya hubungan mereka sudah jauh lebih baik. Dan Carra tersenyum melihat itu, ia bahagia jika memang Abram sudah membuka hatinya untuk Della
Siapapun membutuhkan kebahagiaan, dan Carra merasa, bahwa Abram juga layak untuk itu
Carra segera menoleh saat merasa benda berat menimpa bahunya, Juan tengah tersenyum padanya dengan tangan yang ia taruh di bahu Carra
"Kau bilang tadi ingin melihat bintang, ayo. Biar kita juga mengajak Syan" Sahut Juan yang langsung menggandeng Carra untuk benar benar turun dari tangga
"Kau bilang tadi tidak ingin ikut keluar" Rutuk Carra dengan wajah cemberutnya
"Hey, sayang. Bagaimana mungkin aku bisa menolak keinginanmu!" Sahut Juan sambil mengacak rambut Carra dengan gemas
"Hey, kalian akan kemana?" Tanya Della saat melihat Juan dengan Carra yang hendak pergi ke luar
"Kencan!" Juan menyahut sambil berlalu keluar, tapi sebelumnya ia sudah menyuruh pelayan untuk memanggil Syan agar ikut ke halaman depan
Adella menggeleng, kemudian menatap Abram. Laki laki itu nampak acuh, sampai kemudian ia berlalu begitu saja menuju kamar mereka
"Hey_" Della geram, sampai akhirnya ia menyusul Abram yang berjalan dengan cepat
-
Della langsung memerobos masuk ke kamarnya dan melihat Abram yang sedang membuka kaosnya membuat ia dengan cepat membalikan badan. Abram hanya tersenyum, padahal pemandangan seperti ini sudah sering dilihat oleh Della. Tapi entahlah, Della juga tidak mengerti mengapa kali ini melihatnya begitu, ia justru mengambil kesimpulan lain
"Hey"
Abram yang sudah berganti memakai piama menepuk bahu sang istri
"Ada apa?" Tanyanya sambil melipat tangannya di dada dan menatap Della
"Aku hanya merasa ada yang tidak beres" Della menggaruk tengkuknya
Taua tau Abram malah menaruh tangannya di pintu, memojokan Della dalam kurungannya, membuat wanita itu tiba tiba saja salah tingkah atas perlakuan Abram
"Ada apa?" Tanya Abram bagai mendesak
"Tidak" Spontan Della menyahut
"Kau merasa aku cemburu pada mereka?" Tanya Abram dengan alis bertaut. Membuat Della jauh lebih gusar karenanya
"Jangan memandangku seperti itu!" Sahut Della yang akhirnya protes pada suaminya itu
"Hey, apa salahnya memandangi istri sendiri? Ada undang undang yang melarang memang?"
"Ti_Tidak"
Sial, Della yang biasanya tidak tau malu meski keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di depan Abram, justru saat ini malah benar benar malu hanya karena di tatap seperti itu oleh Abram
"Ada apa?" Tanya Della yang merasa heran dengan sikap sang suami yang di rasanya tidak biasa ini
"Mungkin selama ini aku salah Adella. Salah karena menikahimu, tetapi hatiku tetap untuk Carra. Aku memang brengsek" Sahutnya dengan senyum lemah
"Dan aku bersalah karena selama ini tidak pernah sadar dengan ketulusan kau padaku. Aku terlalu bodoh untuk tetap mencintai istri saudaraku sendiri, aku memang_" Abram menjeda kalimatnya. Sedangkan Della nampak hanya siap mendengarkan dengan memilin jari jari tangannya
"Adella, apa terlambat jika aku mengatakan sekarang?" Tanyanya
Spontan, Della menggeleng. Meski sejujurnya ia tidak tau dengan apa yang akan dikatakan oleh Abram
"Aku mencintaimu, aku baru menyadarinya sekarang, jika aku mencintaimu, istriku" Sahutnya. Terlihat begitu tulus di mata Della, membuat wanita itu dalam sekejap mata berhambur begitu saja dalam rengkuhan Abram
Abram tersenyum, dan kemudian balas memeluk Della, mencium puncak kepala wanita itu berulang ulang
Selama ini, Abram memang selalu memperhatikan Adella. Memperhatikan bagaimana ia melayani dirinya sebagai suami, melihat bagaimana ketulusan Della padanya. Yang tidak pernah protes, meski Abram tidak memperlakukannya dengan baik
Abram sadar, jika ia tidak mungkin selamanya akan mencintai Carra, yang jelas jelas sudah sangat mencintai Juan. Dari situ, Abram bertekad memberikan posisi pada Della untuk menempati hatinya yang telah kosong
Dan tidak butuh waktu lama bagi Della, untuk benar benar masuk dalam posisi itu
"Sekarang, hati ku adalah milikmu," Ungkap Abram
"Ke depannya, jika kau merasa cemburu atau sakit hati atas kelakuanku, kau bisa protes" Sambungnya sambil menyentil dahi Della, pelan
Wanita itu hanya mengerucutkan bibirnya, yang kemudian malah mendapat kecupan dari Abram
Selanjutnya, hanya terdengar berisik saja dari dalam kamar itu. Dan kemungkinan, yang terjadi adalah hal yang memang selayaknya untuk mereka lakukan
-
Carra tengah duduk dengan Juan di bangku panjang di halaman depan mansion, memandangi bintang yang terang benderang dilangit. Dengan Syan yang duduk diantara Carra dengan Juan, menjadi pelengkap bagi mereka
Jujur, selama satu minggu ini Carra memang jarang berinteraksi dengan Syan. Dan sepertinya anak itu juga ragu untuk mendekatinya
"Momy"
Carra yang tengah menengadah ke angkasa sana mengalihkan pandangannya dan menatap Syan
"Ada apa sayang?" Tanya Carra dengan senyum cerahnya
"Apa Momy merindukan baby twins?" Tanyanya, Juan seketika menoleh pada Carra. Takut takut Carra akan berubah menjadi sedih lagi nanti, tapi Carra menggeleng menjawab kekhawatiran Juan
"Yah, Momy merindukan baby twins. Sangat" Sahut Carra sambil mencolek dagu Syan
Syan tersenyum, kemudian mengelus pipi Carra. Meski ia tidak tau dan tidak mengerti penyebab sang Momy yang kehilangan bayinya. Tapi yang Syan tau adalah, bahwa yang namanya kehilangan itu menyakitkan. Itulah yang membuat Syan begitu memahami perasaan Carra
"Momy lihat" Suruh Syan sambil menunjuk bintang yang paling bersinar dilangit
Juan dan Carra mengikuti arah yang ditunjuk Syan
"Ada yang pernah bilang, jika orang yang tidak ada sebenarnya dia bukan benar benar tidak ada. Tapi, dia berubah menjadi bintang dilangit" Tuturnya
"Momy percaya?" Tanyanya. Carra tersenyum, kemudian mengangguk. Tidak menyangka jika anak sekecil Syan mengetahui hal itu, Juan juga tersenyum pada Carra sambil mengelus rambut putri kecilnya
"Itu baby twins, mereka sedang mengawasi Momy. Mereka akan sedih jika melihat kau sedih Mom, jadi kau harus tetap tersenyum" Sahutnya sambil menaruh kedua jari telunjuknya di masing masing ujung bibirnya
Refleks Carra juga tersenyum
"Mom, kau masih memiliki aku dan Dady, kau tidak boleh bersedih, aku tidak suka" Sahutnya sambil melipat tangan di dada, memasang wajah jutek pada Carra
"Hey, anak kecil. Mengapa kau cerdas sekali" Carra menaruh jari telunjuknya di kening Syan sebentar
"Siapa yang mengajari mu?" Tanya Carra dengan alis terangkat
Syan mengangguk, kemudian mengerlingkan matanya pada Juan. Dan laki laki itu hanya memiringkan kepalanya pada Carra dengan aksen yang menggemaskan
"Mm. Jadi, apa Dady juga yang mengajarimu untuk marah dan menumpahkan makanan dari Rose kemarin?" Tanya Carra
Kemarin Syan memang membuat keributan di meja makan mansion saat ia tidak suka dengan menu sarapan yang disiapkan oleh Rose
"Dady bilang, jika tidak menyukai makanannya. Maka yasudah, buang!" Katanya dengan polosnya. Juan menutup wajahnya dengan segera, takut mendapat amukan sang istri
"Aku hanya anak patuh, Mom. Aku menurut, jadi aku mengikutinya" Sambungnya yang tidak ingin disalahkan
"Mulai sekarang. Kau dengarkan Mom ya, jika Dady berkata tidak masuk akal, jangan kau dengarkan! Mengerti?"
Syan menoleh pada Juan, laki laki itu mengangguk, pasrah jika saja Syan akan menurut pada Carra
"Oke Mom" Sahutnya sambil mengangkat tangan dan jarinya membentuk huruf o
Carra segera memeluknya, begitupun Juan yang memeluk dua wanita yang disayanginya itu
Syan benar, Carra masih memiliki Juan, memiliki Syan, masih memiliki keluarga yang begitu mendukungnya
Carra tidak sepenuhnya kehilangan semuanya. Justru apa yang hilang belum sebanding dengan apa yang masih dimilikinya saat ini
Carra memiliki Syan, gadis kecil yang cantik. Orang pertama yang memberinya pengalaman menjadi seorang Ibu muda. Carra masih memiliki orang tuanya yang amat memberi dukungan penuh padanya, mertuanya yang juga sangat menyayanginya
Dan yang pasti, Carra memiliki Juan, sosok suami yang amat begitu menyayanginya. Pasangan terbaik bagi Carra, rasanya, Juan terlalu sempurna bagi Carra untuk dijabarkan sebagai seorang suami. Juan lebih dari itu bagi Carra, sungguh.
Dan untuk yang pernah hilang, barangkali Tuhan memang sedang menyiapkan hadiah yang jauh lebih indah dari apa yang sudah diambil darinya
Carra percaya itu, ia tidak sendiri. Ia tidak benar benar kehilangan, tidak. Justru semuanya, baru akan dimulai sekarang
"I love you Mom, Dad" Ucap Syan yang menggenggam tangan Carra dan Juan
"I love you too, Syan" Carra dan Juan menyahut berbarengan, mengecup pipi Syan berbarengan pula antara kiri dan kanan
Syan memejamkan matanya saat kedua pipinya mendapat kecupan. Tidak sadar jika setelah itu Juan justru mencium bibir Carra sekilas, kemudian mengecup keningnya dengan lama