My Best Match

My Best Match
Permohonan Restu Abram



Lalu lalang kendaraan yang begitu ramai, Abram mengemudikan mobilnya dengan perlahan menuju apartementnya. Hari ini tidak pulang ke mansion karena merasa butuh waktu untuk sendiri


Sepanjang perjalanan Abram hanya memikirkan Adella. Bukan karena perasaannya sudah berbeda, hanya saja ia masih menimbang nimbang keputusannya. Dan apa yang dikatakan Carra memanglah benar, pernikahan bukanlah sesuatu hubungan yang bisa di permainkan


Tapi hati kecilnya juga menolak untuk membatalkan niatnya ini. Meski ia sendiri pun tidak yakin dirinya mampu membahagiakan Adella atau tidak nanti. Membahagiakan wanita yang tidak dicintainya, yah. Itu memanglah mustahil


-


Abram membanting tubuhnya ke sofa diruang utama Apartementnya, matanya mulai terpejam dan fantasinya mulai berkeliaran


Kemudian selanjutnya ia hanya menghela nafas, panjang


"Aku tetap harus menikahi Adella" Lirihnya, lalu beranjak dari posisinya dan mulai melangkah ke lantai atas, dimana disana ada kamarnya


-


"Carra" Panggil Juan saat ia sedang merapihkan dasinya


"Hmmm" Carra menyahut seperlunya, ia sedang duduk bersandar di sofa sambil memperhatikan suaminya yang sedang merapihkan diri itu


"Kau tidak ingin membantu suamimu?" Tanyanya


Carra tersenyum, lalu beranjak dan melangkah mendekati suaminya


Merapihkan dasi yang belum selesai dirapihkan oleh Juan, laki laki itu tersenyum sambil mengamati wajah cantik Carra


"Morning" Sapa seseorang yang tiba tiba saja masuk ke kamar mereka


Suara yang selalu membuat suasana mansion riuh. Juan menatapnya dengan jengah


Anak durhaka yang selalu mengganggu moment kemesraan kedua orang tuanya. Syan


"Morning Syan" Carra membalas sapaannya sambil melanjutkan aktivitasnya merapihkan dasi Juan


"Ketuk pintu jika ingin masuk Syan" Tegur Juan


"Sorry Dad"


"Kau ada apa kemari Syan?" Tanya Carra yang sudah selesai merapihkan dasi suaminya


"Uncle Robert sudah menunggu Dady dibawah" Beri tahunya


"Setiap pagi juga begitu Syan" Sahut Juan, ia tau jika putrinya itu hanya beralasan saja agar dirinya tidak memarahinya karena sudah masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu dahulu


Sedangkan Carra hanya tersenyum melihat ayah dan anak yang sering berseteru itu


"Sayang, aku tidak ikut sarapan hari ini. Aku langsung ke kantor saja" Sahut Juan sambil memasang arloji ditangan kanannya


"Jangan lupa sarapan di kantor" Titah Carra, Juan mengangguk. Lalu mengecup kening Carra, inginnya dibibir. Tapi apalah daya dengan adanya Syan yang sejak tadi mengamati mereka


"Pengganggu!" Sahut Juan yang mencubit pelan pipi Syan, kemudian berlalu


"Terkutuk kau Dad!" Rutuk Syan. Carra segera membekap mulut putri kecilnya itu


"Jangan bicara seperti itu sayang!" Sahutnya


"Sorry Mom. Tapi Dady itu menyebalkan!" Gerutunya, dan Carra hanya tersenyum saja melihat Syan yang terlihat jengkel pada Juan


"Ayo kita sarapan" Ajak Carra, Syan langsung mengiyakan dan berjalan dengan menggenggam tangan Carra ke lantai bawah


"Grandma" Teriaknya pada Sonya yang tengah sarapan sendiri di meja makan, Max tengah ke luar kota untuk perjalanan bisnis


"Halo sayang, ayo kemari" Ajaknya sambil menarik kursi disampingnya, Syan segera menurut dan duduk disana. Carra duduk di kursi yang lain berhadapan dengan ibu mertua dan putri angkatnya


"Juan tidak sarapan di mansion Carra?" Tanya Sonya


"Dia buru buru Ibu"


"Kebiasaan anak itu" Lirihnya yang masih bisa di dengar oleh Carra


"Aku sudah mengingatkannya untuk sarapan di kantor Bu, jangan khawatir"


"Semoga dia mau mendengarkan istrinya. Dia selalu sulit di atur Carra" Tutur Sonya dengan raut wajah kecewa


Sedangkan Carra hanya tersenyum saja


-


"Yang benar saja, mengapa begitu tiba tiba?" Tanya Alex saat ia tau Abram mau menikahi Adella, wanita yang pernah ia tolak untuk di jodohkan dengannya tepat satu tahun yang lalu


"Mana aku tau!" Sahut Juan yang tengah melahap sarapannya


"Ayolah Juan!" Bujuk Alex yang sepertinya amat penasaran dengan kisah hubungan Abram dengan Della


"Aku tidak tau. Bukankah kau yang selalu tau apapun tentang Abram!"


"Memusingkan!" Rutuknya, yang akhirnya pusing sendiri


"Kau selalu saja memusingkan urusan orang lain!" Celoteh Juan


"Aku hanya heran saja. Aku merasa ada yang tidak beres" Ucapnya dengan mata seolah sedang menerawang ke mana mana


"Sepertinya aku terlalu lama di paris, sampai aku ketinggalan berita menghebohkan macam ini" Imbuhnya


Juan hanya menggelengkan kepalanya


"Jangan berlebihan dude. Ini tidak lah menghebohkan, kau sendiri saja yang heboh!"


"Kau tidak akan mengerti!"


"Baiklah baiklah, enyahlah kau dari ruanganku!" Usir Juan


Alex mulai melangkah, tapi Juan malah memanggilnya sehingga ia mundur satu langkah


"Ada apa?" Tanyanya begitu sampai di hadapan Juan


"Buang ini ke tempat sampah!" Suruhnya sambil menyerahkan wadah bekas makanannya pada Alex, laki laki itu mendecak. Tapi akhirnya menurut juga dan kembali beranjak


"Aku heran mengapa kakak ipar mau dengan kau yang jorok ini" Sahutnya sambil melangkah


"Jangan berbicara apapun atau kau akan ku pecat nanti"


"Baik bos!" Alex menurut dengan malas


Ancaman yang sangat sudah akrab dengannya, tapi sekalipun Juan tidak pernah melakukannya


-


Sesuai dengan apa yang dikatakannya pada Adella Maharani, jika malam ini Abram akan datang untuk melamarnya


Hingga disinilah Abram sekarang, di ruang tamu mansion keluarga Maharani, berhadapan dengan Della dan kedua orang tuanya


"Jangan bermain main dengan putriku Abram!" Tegas Fredly (Ayah Della) Saat Abram mengatakan jika ia ingin melamar putri tunggal keluarga Maharani


Abram menghela nafas, respond dari calon mertuanya memang sesuai dengan apayang sudah dirinya perkirakan


"Aku tidak main main Pak Fredly, kedatangan ku kemari memang untuk melamar putri Anda" Sahut Abram


Della hanya duduk diam di tempatnya, dan sesekali menggenggam tangan Ibunya


"Kau fikir kau ini siapa. Aku masih ingat satu tahun lalu kau menolak untuk aku jodohkan dengan Adella, mengapa sekarang tiba tiba saja kau ingin melamarnya" Sahutnya dengan panjang lebar


Abram terdiam, lalu menatap Adella sebentar


"Aku menolak perjodohan itu dengan sopan dan baik baik. Aku juga tidak tau jika aku akan mencintai Adella sekarang. Maka dari itu aku ingin melamar dia" Sahut Abram


Diam diam Della merasa begitu bahagia dengan pernyataan Abram yang mengatakan jika ia mencintai dirinya. Meski pada kenyataannya Della tidak pernah mengetahui apa kebenarannya


Atau makna dibalik pernyataan Abram


Fredly terdiam, menatap Abram dengan penuh pertimbangan


"Jangan berbohong Abram. Aku tidak ingin menyerahkan putriku pada orang yang salah, aku tidak ingin dia menderita nanti karena tidak mendapat cinta darimu!" Sahutnya dengan nada lemah


Sebagai seorang Ayah, tentu saja Fredly harus mempertimbangkannya dengan matang ketika ia harus menitipkan putrinya pada orang lain untuk seumur hidup, ia tidak ingin putrinya mendapat kekecewaan dan sakit hati di masa depan nanti


Abram terdiam, kini tatapan matanya berada dalam garis lurus menembus mata Della. Wanita itu, wanita yang katanya mencintai Abram sejak awal perjumpaan mereka, wanita yang selalu di hindari oleh Abram, wanita yang malah tanpa sengaja sudah ia renggut kesuciannya


Apa Abram bisa mencintai dan membahagiakannya nanti?


"Aku tidak main main Pak Fredly, aku mencintai Adella, dan aku berjanji akan membahagiakan dia" Sahut Abram, matanya tidak beralih dari Della yang sudah mulai salah tingkah karena tatapannya


Mendengar itu, Adella benar benar tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia bahagia mendengar Abram mengatakan hal demikian


Fredly yang melihat rona kebahagiaa di wajah putrinya kemudian mengangguk pasrah, menerima lamaran Abram dan berharap yang terbaik untuk masa depan putrinya itu


"Aku menerima lamaranmu untuk putriku Abram!" Ungkapnya


Dan dengan begitu saja, senyuman manis lolos di bibir Abram entah atas dasar apa


-


"Terimakasih" Sahut Adella saat ia mengantarkan Abram sampai ke teras mansion


Abram yang tidak tau harus bersikap seperti apa hanya mengangguk. Ia kemudian masuk ke mobilnya, dan Della hanya melambaikan tangan dengan perasaannya yang ringan yang hampir membentur ke udara


Kemudian kembali masuk ke mansion saat mobil Abram sudah keluar dari gerbang utama