My Best Match

My Best Match
Possessive Younger Brother



Suasana kantin lantai 3 masih lah sama. Beberapa orang yang berada disana masih menikmati makan siangnya dengan damai. Sampai kemudian Erick bangkit tiba tiba ketika melihat seorang pria masuk ke lantin lantai 3


"Darendra." lirihnya saat pria yang muncul mendadak itu berjalan ke arah meja Syan dan Araga. Dan ia tidak bisa menghentikannya.


Syan dan Araga yang melihat itu mendongak pada Daren yang berdiri dipinggir meja mereka.


"Hay," pemuda itu malah ber-see hay ria


Araga tersenyum tipis. Ia bimbang, serba salah


"Aku akan makan di kantin lantai 2. Tapi sayang, semua meja disana penuh dan aku tidak kebagian tempat." sahutnya dengan santai.


"Silahkan jika kau mau bergabung," sela Araga yang tau kemana arah pembicaraan calon adik iparnya itu.


"Oh, baiklah. Kau cukup peka juga ternyata." sahut Daren yang kemudian dengan tidak tau malunya duduk begitu saja. Erick disana nampak kembali duduk setelah Araga memberi intruksi untuk tenang dan membiarkannya saja


"Tidak sopan." Syan mencibir


Daren hanya mengangkat kedua bahunya dan kemudian memesan makan. Tanpa canggung ia makan begitu saja setelah pesanannya datang, mengabaikan Araga yang sejujurnya tidak nyaman karena kehadirannya. Sedangkan Syan juga makan dengan cuek, juga sedikit merasa bersalah pada Araga karena acara makan siang mereka terganggu akibat ulah Darendra.


"Makanlah, Tuan Araga." sahut Daren dengan wajah tanpa dosanya


"Panggil Araga saja. Biar kita lebih akrab,"


"Kau ingin akrab denganku?" Daren memasang wajah tengilnya yang tampan. Araga tersenyum kecut, berbeda dengan Syan yang nampak tidak enak hati pada Araga karena tingkah Darendra yang seenaknya dan terkesan tidak sopan.


"Tidak juga," Araga menyahut setelah beberapa saat. Ia terlihat masih santai.


"Bagus, kebetulan aku sudah memiliki banyak teman. Dan, sepertinya kita juga tidak cocok untuk berteman." sahutnya yang kemudian memasukan makanan ke mulutnya.


"Darendra. Berhenti bersikap tidak sopan!" tegur Syan. Ia merasa Daren sudah kelewatan, dan faktanya ia memang sengaja. Syan tau itu, ia tau jika Daren tidak menyukai Araga.


"Habiskan saja makananmu dan cepat pergi dari sini!" sambungnya.


"Kau bukan pemilik kantin Syan, kau tidak ada hak untuk mengusirku!" sahutnya dengan cuek.


Araga bersikap biasa saja. Ia juga tidak ingin memancing keributan dengan calon adik iparnya. Biarkan Syan yang angkat bicara.


"Baiklah, terserah kau saja. Aku sudah selesai." Syan beranjak, mengambil tasnya dan kemudian berlalu.


Lucy dan Zoey juga bangkit dari duduknya. Kemudian mengikuti langkah Syan meski setengah heran dan bingung.


Sementara Daren hanya tersenyum. Memang ini yang ia inginkan, Syan pergi dan meninggalkan Araga, kemudan acara makan siang mereka gagal, dan ia berhasil. Araga hanya melihat kepergian gadis itu dengan pasrah.


"Baiklah. Aku juga sudah selesai, Araga." Daren bangkit.


"Nikmati makan siangmu. Bersenang senanglah. Kau pemilik kampus, kau bisa berbuat apapaun termasuk membooking kantin dan mengundang kakakku untuk makan siang denganmu. Hebat!" sahutnya yang sepenuhnya adalah menyindir Araga yang diakhiri senyum sinisnya.


"Aku permisi." sambungnya yang kemudian melangkah pergi. Araga hanya tersenyum, kemudian mengangkat tangannya ke udara sambil menggeleng. Acara makan siangnya dengan Syan gagal total karena kehadiran calon adik ipar yang nampak tidak menyukainya itu.


"Adek yang posesif." decaknya kemudian


Tapi ketika ponselnya berbunyi saat ada sebuah pesan masuk, pria tampan dengan dua lesung pipi itu tersenyum


Om Juan


Datang ke perusahaanku sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan


"Bos maaf, tapi aku tidak bisa mencegah Tuan muda Zhucarlos ..,"


Erick menghentikam ucapannya saat Araga mengangkat satu tangan tanda menyuruh ia untuk diam


"Kita ke RCG sekarang," sahutnya sambil berlalu. Erick mengangguk dan mengikuti langkahnya


**


Araga melangkah dengan berwibawa ke ruangan Juan dengan diarahkan oleh Robert. Sesekali ia merapihkan jasnya


"Tuan Juan dan tuan Ardana sudah menunggu di dalam." sahut Robert, Araga hanya mengangguk


Ardana Dimitry, adalah ayah dari Araga Dimitry. Pemilik departemen store terbesar di Amerika


Robert membukakan pintu, Araga masuk. Senyumnya merekah saat ia melihat Juan dan Ardana yang tengah duduk di sofa yang berada diruangan Juan


"Selamat siang, Ayah. Om Juan."


"Duduklah,"


Araga duduk di single sofa. Berhadapan dengan dua pria gagah yang lebih tua darinya itu. Sementara Eric dan Robert berdiri tak jauh dari tempat mereka


"Hal penting apa yang akan kita bicarakan?" tanya Araga saat dua pria dihadapannya itu hanya diam saja


"Bisnis baru, proyek baru atau...,?"


"Pertunanganmu dengan Syan," Ardana menyahut cepat


Araga mengernyit, kemudian tersenyum. Jika benar begitu, maka ia merasa memang sudah waktunya ia bertemu dengan Syan. Sudah saatnya Syan mengetahui siapa dirinya


"Bagaimana?" tanya Juan


"Iya, dan Ayah setuju. Memang Ayah ingin kalian segera bertemu, bertunangan atau bahkan menikah dan segera memberikam cucu untuk Ayah," sambung Ardana yang mendapat anggukan setuju dari Juan


Araga hanya mengangguk anggukan kepalanya. Kenapa rasanya indah sekali membayangkan dirinya akan membina rumah tangga yang bahagia dengan Syan?


"Bagaimana Araga, apa kau setuju?" suara Juan mengintrupsi lamunan Araga. Spontan, pria tampan itu mengangguk


"Aku setuju om. Bagaimana pun, Syan memang harus segera tau. Jika aku adalah calon suaminya. Biar dia tidak bertingkah macam macam," tutur Araga yang membuat Ardana dan Juan mengernyit heran.


"Maksudmu?" dua pria itu bertanya secara bersamaan


Araga hanya tertawa. Kemudian menceritakan bagaimana tingkah laku Syan yang selalu menghindarinya dan mengatakan jika calon suaminya akan marah. Padahal calon suami Syan adalah dirinya, Araga sendiri.


Bukan hanya tiga pria itu saja yang tertawa. Tapi, Robert dan Erick juga tertawa mendengarnya


**


"Apa yang kau lakukan. Kau sudah tidak sopan dan mengacaukan acara makan siangku dengan Araga!" maki Syan ketika mereka sudah sampai di mansion. Ia merasa kesal pada Daren


"Apa, kau marah?" tanya Daren sambil ikut masuk ke kamar sang kakak


"Iya, aku marah!"


Daren diam. Senyum tipis muncul dibibirnya


"Apa kau mulai menyukai Araga?" tanyanya dengan mata menyipit menatap Syan. Syan terdiam


"Bukankah kau bilang kau akan patuh pada Daddy dan tidak akan berbubungan dengan pria lain, Syan."


"Tapi Araga sudah meminta izin pada Dad."


"Dan kau percaya?"


"Iya!"


Daren mengalihkan tatapannya ke arah lain


"Aku dan Araga hanya berteman. Aku juga akan patuh pada Dad. Itu tujuan hidupku, menjadi anak penurut dan bahkan menerima perjodohan dari Dad untuk masa depanku,"


"Meski harus mengorbankan kebahagiaan mu sendiri, Syan?"


Syan diam, ia hanya menghindari kontak mata dengan Darendra


"Bagiku kebahagiaan Dadd jauh lebih penting!"


"Meski kau akan menyakitiku dengan keputusanmu itu, Syan. Meski kau tau jika aku mencintaimu. Begitu?"


Syan menatap Darendra. Mata laki laki itu tidak berbohong, ia sedang berkata jujur. Syan dapat melihat hal itu. Tapi ini tidaklah benar


"Meski aku mencintaimu, Syan?" Daren mengulang pertanyaannya


"Jangan gila Darendra. Aku kakakmu dan kau adalah adikku, jangan lupakan status itu."


"Maka aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria manapun," ancamnya dengan serius


Syan menautkan alisnya


"Lalu siapa yang akan menikahiku, kau mau membiarkan aku menjadi perawan tua!"


"Aku yang akan menikahimu, Syan."


Syan terhenyak mendengarnya. Rasanya, ia ingin menangis mendengar Daren yang begitu keras kepala mengungkapkan cinta padanya


"Darendra. Tidak bisa begini, keluar dari kamarku dan berhenti berbicara tentang cinta."


Daren menggeleng


"Lupakan aku. Atau Daddy akan marah jika mengetahui hal ini."


"Melupakanmu? Apa aku harus berbahagia melihatmu menikah dengan pria lain, apakah sejarah orang tua kita dimasa lalu harus terulang dan aku yang menjadi korban? Sama seperti uncle Abram yang kehilangan Momy, demi Daddy?" panjang lebar Daren yang membuat Syan hanya terdiam tidak mengerti. Yang ia tangkap adalah, pernah ada cinta segi tiga diantara tiga orang yang disebutkan Darendra dimasa lalu


"Daren,"


"Syan. Katakan bagaimana cara agar kau mau menerima cintaku, aku mencintaimu Syan." sahut Daren setengah frustasi


"Darendra, aku adalah kakakmu. Ini tidaklah benar,"


"Lupakan aku, dan buang perasaan cintamu, Daren!"


"Semudah itu?" dahi Daren berkerut dengan penuh kekecewan


Syan mengangguk, kemudian menunduk


"Aku yang akan berbicara pada Daddy, agar merestui kita." Daren bringsut, kemudian berlalu dari kamar Syan. Menutup pintu kamar Syan dengan bantingan yang keras


Sementara Syan luruh diatas tempat tidurnya. Mengacak rambutnya frustasi. Disatu sisi, ia merasa jika dirinya mulai menaruh hati pada Araga. Di sisi lain, ia tidak bisa menghentikan Darendra


TBC