
"Kau cemburu?" Tanya Della
Saat ini mereka sedang berada di ruangan Abram, karena saat sadar Abram tidak ada. Della segera menyusulnya setelah pamit pada Carra dan Juan
"Jangan mengganggu!"' Abram menegaskan
Della sempat terdiam, sampai kemudian....
"Untuk apa kau menikahiku jika hatimu masih untuk mantan terkasihmu itu?"
"Aku tau sampai kapanpun aku memang tidak akan pernah bisa menggantikan dia!"
"Tapi setidaknya kau bisa menghargai perasaanku Abram!"
"Diamlah, jika kau sudah tau!"
"Apa?" Teriak Della
"Jangan berteriak di ruanganku!" Protes Abram dengan nada bicara yang rendah tetapi amat penuh penekanan
"Lalu aku harus berteriak dimana?" Tanya Della dengan masih berteriak
"Terserah kau!"
"Aku ingin berteriak disini!" Keukeuh Della dengan suara yang begitu nyaring, bahkan Abram sampai menutup telinga dengan telapak tangannya karena kebisingin dari mulut wanita dihadapannya itu
"Aku ingin menikahimu karena aku merasa bersalah padamu!" Ungkap Abram. Lalu membuat Della seketika saja terpaku
Benar. Sampai kapanpun dirinya memang tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Carra di hati Abram. Bahkan Abram ingin menikahinyapun hanya karena rasa bersalah saja
Dan Della tidak butuh itu!
"Untuk apa kau merasa bersalah?" Tanya Della
Wanita itu terlalu gencar mendesak Abram sampai laki laki itu merasa pusing dengan celotehannya
"Kau tidak perlu menikahiku!" Imbuhnya
Della melangkah menjauhi Abram yang tengah duduk disofa ruangannya itu, tapi Abram menahan pergelangan tangannya
"Apa?" Sentak Della pada Abram yang terlihat begitu frustasi ditempat duduknya
"Apa kau tidak bisa jika diam sebentar saja?"
"Tidak!"
Abram menghela nafas, lalu menarik Della untuk duduk disampingnya, merasa limbung, Della akhirnya terjatuh begitu saja dan menindih Abram, dengan posisi Abram yang setengah berbaring
Posisi wajah keduanya yang begitu berdekatan cukup membuat perasaan Della membuncah tidak karuan. Dan tatapan mata Abram, sungguh menyeret ingatannya untuk kembali mengingat malam itu, malam dimana Della harus melakukan kecerobohan yang menjerumuskan dirinya pada rencana pernikahan karena belas kasihan
Sedangkan Abram, tidak ada yang aneh dengan ekspresi wajah laki laki itu, tatapan matanya pun nampak masih sama, biasa. Tidak seteduh saat ia menatap mata Carra
"Apa sudah selesai?"
Suara Abram cukup menginterupsi Della, wanita itu mengerjap. Sampai untuk kedua kalinya Abram bersuara, baru wanita itu membenarkan posisinya
"Euu" Della sedikit gelagapan, lalu merapihkan rambutnya
"Jangan selalu merasa seperti itu!"
"Apa maksudmu?" Ketus Della matanya menatap Abram dengan tajam
"Kau selalu saja menolak menikah denganku, memangnya kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Abram
Della mematung. Ia kira Abram mendeteksi perasaannya karena adegan tadi, ternyata bukan itu yang dimaksud laki laki dihadapannya ini
"Kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Abram lagi saat mendapati Della yang justru malah asik melamun
"Euuu, tidak tidak!"
"Yasudah, berarti kau tidak perlu repot repot menolak untuk menikah denganku!"
"Kau pikir pernikahan ini sebuah lelucon?"
"Tidak juga!"
"Kau sudah mulai tidak waras Abram!" Maki Della, ia benar benar sudah jengah pada Abram yang dirasanya amat berubah ini
"Terserah kau saja!"
"Kau boleh pergi sekarang!" Suruhnya tanpa basa basi dan segera berlalu ke kursi kerjanya
Della tak berkata apapun lagi, ia sudah muak dengan tingkah laku Abram yang memperlakukan dirinya seenaknya saja. Dan anehnya, ia malah semakin jatuh cinta pada laki laki itu
-
Carra dan Juan memutuskan untuk langsung pulang saja ke mansion karena Syan yang merengek meminta pulang, dan meminta Juan untuk mengantarkannya
"Seharusnya kau dikantor saja, aku bisa pulang sendiri dengan Syan" Sahut Carra saat keduanya sudah mulai memasuki ruang utama mansion
Syan sejak tadi sudah tidur di dalam mobil dan kini Juan tengah menggendongnya menuju kamar Syan
Sonya yang sedang duduk di sofa ruang utama segera beranjak saat Juan sudah datang, padahal waktu menunjukan baru pukul dua siang
"Syan" Panggilnya saat melihat Juan yang menggendong Syan
"Dia tidur Ibu" Carra yang menyahut, Juan segera berlalu mengantarkan Syan ke kamarnya
"Apa anak itu menyusul kalian ke perusahaan?" Tanya Sonya dengan raut wajah cemas
"Anak itu" Sahutnya sambil menggelengkan kepala
"Apa Rose tidak bisa mencegahnya?!" Imbuhnya lagi
"Tidak apa apa Ibu!" Carra tersenyum, lalu menggandeng bahu mertuanya
"Begitu jika dia sedang manja pada Dady nya Carra. Bahkan jika Juan sedang ada di luar kota, dia akan terus menelpon nya untuk segera pulang" Cerita Sonya
"Dan Juan pulang?"
"Ya, selalu berusaha mempercepat pekerjaannya"
"Juan begitu menyayangi Syan" Tambah Sonya, dan Carra mengangguk membenarkan sambil tersenyum
Apa yang dikatakan ibu mertuanya memanglah benar. Juan begitu menyayangi Syan. Sama sekali tidak terlihat jika Syan adalah anak angkatnya
-
"Kenapa?" Tanya Carra saat melihat Juan yang begitu gontai berjalan masuk ke kamar, dan kemudian merebahkan tubuhnya begitu saja ditempat tidur. Di bawah kaki Carra yang sedang selonjoran bermain ponsel
"Tidak apa apa"
"Sungguh?" Tanya Carra, tidak yakin
Juan tak menyahut, ia justru malah memejamkan matanya kemudian menarik satu kaki Carra untuk ia tumpangkan pada wajahnya
"Juan" Pekik Carra, tentu saja ia kaget dengan tindakan Juan yang dengan begitu saja
"Juan!"
"Juan!!!"
merasa Juan tidak juga menyahut maka Carra berteriak, dan membut Juan malah menggigit jari kaki istrinya itu
"Juaaaann!!!!"
Carra berteriak dengan keras dan membuat Juan tertawa, untung saja kamar mereka itu kedap suara. Sehingga teriakan Carra tidak mungkin terdengar sampai ke lantai bawah
"Kenapa kau malah tertawa?" Protes Carra sambil mengusap dua ibu jari kakinya yang digigit oleh Juan tadi
Tanpa berkata, Juan dengan begitu saja menarik kaki Carra sampai wanita itu kini berada, berbaring disamping Juan dengan mulut yang terus mengoceh, memaki dirinya
"Kau ini apa Juan, kau mau berubah menjadi suami yang senang menyakiti istri? Hmm"
"Kau benar benar jahat!"
Ucapnya lagi. Alih alih menyahut, Juan justru malah merebahkan kepalanya di dada Carra. Membuat wanita itu malah mencebik dan kembali mengomel, dengan senang hati Juan mendengarkannya saja tanpa mau protes
"Isshh, kau lebih manja dari Syan. Juan!" Ptotesnya
"Aishh, kau berisik sekali Carra!" Rutuknya yang akhirnya mengeluh juga karena celotehan istrinya itu
"Kau yang membuatku mengoceh!" Protes Carra
"Apa yang aku lakukan?" Tanya Juan tidak terima
"Menggigit kaki ku!"
"Kapan?"
"Hey suamiku, kau amnesia?" Tanya Carra dengan jengah
Juan tak menyahut, ia asik saja dengan posisinya yang merebehkan kepalanya di dada Carra. Padahal dirinya belum mandi sore ini karena tadi sempat menyelesaikan dulu tugas kantornya diruangan kerjanya di lantai bawah
"Carra" Panggil Juan setelah cukup lama keduanya saling terdiam
"Hmmm"
"Hayu!" Ajaknya
Carra mengernyit, apa yang dimaksud suaminya?
"Apa?" Tanya Carra, ambigu
"Aliissh!"
Carra terdiam sebentar, barulah ia mengerti apa maksud suaminya tadi itu
"Kau belum mandi Juan!" Sahutnya kemudian
"Sekalian saja setelah ini" Tawarnya dengan wajah memelas pada Carra
"Aku sudah mandi!" Sergah Carra, masa iya dirinya harus mandi dua kali setelah ini
"Bagaimana kalau dikamar mandi!" Usul Juan dengan gilanya, Carra menatapnya, jengah
"Tidak mau!" Tolaknya kemudian dengan cepat
Juan tersenyum penuh arti dengan tangan yang bersiap membuka satu persatu kancing baju yang dipakai oleh Carra
"Kalau begitu, disini atau dikamar mandi?" Tanya Juan dengan tangan yang terus bergerak
Carra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak ingin menyahut untuk memberikan jawaban, karena apapun keputusannya, dan dimanapun tempatnya Juan tetap tidak bisa di bantah, jika ia ingin maka Carra tidak bisa menolak
Dan sesuatu yang harus terjadi, maka terjadilah
Sore ini Carra benar benar harus mandi dua kali