My Best Match

My Best Match
Sejarah yang Terulang



Ini bukan mimpi, Daren bahkan sangat sadar dengan apa yang terjadi hari ini. Dimana ia menyaksikan sendiri bagaimana Araga dengan Syan mengucap janji suci pernikahan di altar sana.


Daren hanya tersenyum simpul, ia melihat binaran kebahagiaan diwajah Araga dengan Syan. Tidak ada yang salah dengan keputusannya. Ia setuju dengan Abram, mencintai yang sesungguhnya, berarti harus rela melihat dia bahagia meski bersanding bersama orang lain.


Terkesan egois jika Darendra memaksa Syan untuk bersama-sama dengannya, sementara dalam perut wanita itu, tumbuh benih cinta milik Araga yang tidak mungkin dikliem menjadi miliknya. Dan dihati wanita itu, hanya nama Araga yang terukir tanpa bisa terusik meski sedikit saja.


Dari kejauhan, Juan dan Carra menatap putra mereka. Carra yang mengerti perasaan Juan lantas mengusap lengan suaminya, tersenyum hangat menyalurkan kekuatan pada Juan.


"Aku kasihan pada putra, kita sayang." Pria itu membuka suara.


"Juan ...,"


"Apa ini karma karena dulu aku mengambil kau, dari Abram?"


Carra terhenyak mendengarnya, ia menggeleng cepat.


"Tidak, Juan. Jangan mengatakannya. Kau sama sekali tidak mengambil aku dari, Abram. Jalannya memang harus seperti ini, kita tidak bisa menyalahkan takdir, sayang!" Carra berusaha menenangkan Juan.


"Sejak dulu aku mengerti bagaimana perasaan Abram saat harus melihat kau, bersanding denganku. Dan ...,"


"Melihat Darendra yang sekarang berada di posisi Abram, aku merasa bersalah pada dirikku sendiri, Carra."


"Jangan mengatakannya, lagi. Juan. Aku tidak suka mendengarnya," Carra memasang wajah kesalnya, Juan tersenyum hangat, menangkup satu sisi wajah sang istri.


"Maaf, istrikku!"


Hanya kalimat singkat yang diakhiri kecupan di kening, Carra luluh dan tersenyum, tapi tangannya mencubit pelan pinggang Juan.


"Ini tempat umum, aku malu, Juan."


"Tidak papa, kau Nyonya Zhucarlos. Semua orang tau kau istrikku,"


"Baiklah, baiklah."


Juan menggandeng Carra, kemudian tatapan keduanya kembali beralih pada Darendra yang diujung sana nampak diajak mengobrol oleh kawan-kawannya.


Sementara tepat di altar, Syan dan Araga saling berhadapan setelah mengucap janji suci, kini keduanya harus melakukan ritual berciuman sebagai tanda jika mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Syan merapatkan bibirnya, menahan debaran jantung yang membuatnya semakin risih saat wajah Araga kian mendekat. Araga yang melihat kecemasan diwajah Syan hampir saja tertawa, tapi berhasil ia tahan.


"Syan,"


"Tidak perlu gugup, kita hanya akan berciuman!" sahutnya dengan enteng. Syan hanya tersenyum ketika tangan Araga sudah berada di pinggangnya, dalam seperkian detik, pria tampan itu sudah menyatukan bibir mereka.


Para tamu undangan bertepuk tangan, sebagian membuat kehebohan melihat keharmonisan pasangan pengantin itu, beberapa dari mereka juga mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel.


"Mereka romantis," ucap Dinara yang berdiri disamping Erick, Erick hanya menoleh kemudian tersenyum.


"Aku peringatkan jangan melihatnya, Daren!" sahut Ram, sementara matanya tak lepas menatap Syan dan Araga yang belum melepas ciuman mereka.


"Aku sudah terlanjur melihatnya!" Daren menyahut acuh.


"Kasihan hatimu, Daren!" Renard angkat bicara. Daren hanya tersenyum samar, hatinya sudah lama terluka, tertimpa beberapa luka baru dan ia tidak pernah terpuruk sekalipun. Apa yang perlu dikhawatirkan?


Abram yang berdiri dengan Adella dekat dengan altar hanya tersenyum. Ia tau, jika sejarah dari masa lalu telah terulang disini. Bedanya, Syan dengan Daren tidak pernah berpacaran dan mendapat tentangan, tapi tetap saja, ada hati yang harus benar-benar merelakan, melihat orang yang dicintainya bersanding dengan orang lain.


Abram tau bagaimana perasaan Daren saat ini, ia pun pernah di posisi tersebut. Dan rasanya ...., nikmat. Pedih dan bahagia sekaligus dalam satu waktu.


"Syan, kau tau? Aku bahagia sekali." Bisik Araga setelah melepas ciumannya. Syan hanya membalas dengan tersenyum.


"Sekarang, kau hanya milikku Syan. Hanya milikku, apa kau mengerti?"


Syan mengangguk, senyum hangat di bibirnya tak kunjung luntur. Ia merasa bahagia, sangat bahagia.


"Aku tau, Araga. Kau juga harus mengingat satu hal,"


"Apa?"


"Kau bukan hanya milikku,"


Dahi Araga nampak berkerut.


"Maksudmu,"


"Kau milik kami, milikku, dan calon anak kita!"


Seketika senyuma hangat dan bahagia nampak terpancar di wajah pria tampan itu, ia mengangguk, kemudian memeluk Syan tak kalah hangat.


Hadirin bertepuk tangan, berbahagia melihat pasangan baru dihadapannya.


Daren yang melihat hal itu diam-diam mengulum senyum, sampai tepukan dibahu membuatnya menoleh.


"Dad,"


"Kau bahagia melihat, Syan dengan Araga?" tanyanya, Daren tersenyum miring, ia tidak tau dengan apa yang ada dikepalanya, hanya saja, ia merasa jika dirinya tidak salah memilih dan menentukan keputusan.


Juan tersenyum, sementara Daren masih terdiam dengan mata yang lekat menatap Araga dengan Syan.


"Cintaku pada Syan sama sekali tidak salah, Dad. Aku tidak menyesal mencintainya, hanya saja aku menyesal ....,"


"Aku menyesal pernah beberapa kali meamaksanya untuk membalas cintaku, aku menyesal dengan hal itu," Daren tersenyum hambar setelahnya, mengingat bagaimana Syan selalu menolak dirinya karena hatinya hanya milik Araga, dan ia tidak bisa menggoyahkannya.


"Seperti itulah, cinta. Daren!"


"Maaf, untuk kesalahan Dady dimasa lalu. Kau yang harus menanggungnya sekarang, maaf Daren. Dad tidak tau, jika karma benar-benar nyata."


"Jangan mengatakannya, Dad. Jangan permlnah menyalahkan takdir,"


Tangan Juan terangkat untuk menepuk bahu putranya, "kau sama seperti Carra."


Tatapan keduanya kembali pada kedua mempelay. "Sedikit berkorban tidak apa-apa, 'kan Dad?"


"Kau berkorban banyak, Sayang!"


Daren menoleh saat bukan Juan yang menyahut, tetapi Carra yang langsung menggandengnya.


"Momy bangga padamu!"


Daren hanya tersenyum, menoleh pada Juan yang juga tersenyum hangat. Daren melihat banyak kebahagiaan disini.


Tidak ada yang perlu disesalinya.


**


Begitu serangkaian acara pernikahan berjalan dengan lancar tanpa sedikitpun hambatan, Syan langsung diboyong ke rumah milik keluarga Araga.


Karena mulai hari ini, ia sudah resmi menjadi Nyonya muda Dimitry, detik ini, ia akan hidup bersama dengan Araga sampai seumur hidupnya. Sisa hidupnya akan ia habiskan dengan Araga.


Araga, orang yang menjadi target keusilan dua kawannya disalah satu pusat perbelanjaan, yang ternyata tak lain adalah calon suaminya sendiri.


Dan sekarang, mereka benar-benar menikah, memulai untuk hidup bersama membina rumah tangga, membangun keluarga yang bahagia.


"Sayang,"


Syan yang sedang merebahkan diri diatas tempat tidur menoleh pada Araga yang baru saja keluar dari kamar mandi, sementara Syan memang sudah mandi sejak mereka datang ke rumah ini.


"Ada apa, aku sudah menyiapkan pakaianmu." Syan mengubah posisinya, bersandar pada kepala ranjang.


Araga hanya mengangguk. Tidak tau apa maksudnya, kemudian pria itu berjalan ke arah ruang ganti. Beberapa saat, kembali dengan sudah memakai piama, mematikan lampu dan merebahkan diri disamping Syan. Malam sudah kian larut, dan mereka perlu beristirahat.


"Kau belum mengantuk?" tanyanya pada Syan, Syan menggeleng.


"Kemarilah!" Perintah Araga. Ragu, Syan mendekat, merebahkan kepalanya dibantal yang sama dengan Araga, Araga memiringkan tubuhnya, menatap sang istri dengan tatapan hangat.


"Jangan menatapku!" Syan merasa risih dan terganggu.


"Aku mencintaimu, Syan!"


"Aku tau."


"Kalau begitu biarkan saja aku menatapmu. Aku memiliki hak penuh atas dirimu."


Syan menoleh, matanya seketika saja bertemu dengan mata Araga, membuat jantungnya tiba-tiba saja merespon secara berlebihan.


"Ter—serah, kau!"


Araga tertawa, gemas melihat istrinya yang nampak gugup.


"Kenapa kau menggemaskan sekali, Syan?"


"Tidak tau!" Syan salah tingkah, dan ia kesal pada Araga yang begitu gencar menggodanya.


"Baiklah, kau dengar ini, aku ingin bercerita."


"Hmm".


"Dua hari sebelum pernikahan kita, Daren datang menemuiku,"


"Apa yang dia katakan?" tanya Syan, antusias.


Araga nampak menghela nafas, kemudian mulai bercerita mengenai obrolannya dengan Daren tiga hari yang lalu.


Jujur awalnya ia cukup terkejut saat Daren meminta waktunya sebentar untuk mengobrol, ia risih Daren tidak mau menyerah setelah satu minggu yang lalu mengatakan bahwa ia juga pernah meniduri Syan.


Araga tau ia berbohong, ia hanya ingin Araga percaya padanya dan pergi meninggalkan Syan, setidaknya hal itu yang ada dikepala Araga.


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan?" tanyanya setelah menyesap kopi hitam dihadapannya.


"Apa salahnya mengajak calon kakak iparku untuk mengobrol,"


Araga tersenyum, setengah tertawa mendengar jawaban lugas Darendra yang sulit dipercaya.


"Apa maksudmu sekarang kau sudah merestui hubungan kami?"


"Lantas?"


"Aku hanya sedang belajar menerima hubungan kalian,"


"Yang aku lihat, kau memang benar-benar mencintai Syan, ku kira kau mampu menjaganya."


Araga nampak hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Selama kau tidak menyakiti Syan, baik hati ataupun fisiknya. Aku akan membiarkanmu bersama dengannya,"


"Sekali saja aku melihat ada air yang jatuh dari mata Syan meski hanya setetes, dan itu karenamu. Jangan salahkan aku jika aku mengambil Syan dari mu!"


Syan hanya terdiam mendengar penuturan Araga yang bercerita mengenai pertemuannya dengan Darendra sebelum hari pernikahan mereka.


"Setelah itu apa yang terjadi?"


"Tidak terjadi apa-apa. Kau tau apa yang aku lakukan disana ...,"


Syan sekarang berbaring tepat di lengan Araga mendongak dengan alis bertaut. Seolah bertanya pada Araga tentang apa yang pria itu lakukan, karena jujur. Ia tidak dapat menebaknya.


"Tentu saja aku berterimakasih pada adik iparku itu. Setidaknya, kita tenang karena sudah mendapat restu darinya. Meski aku tau ...,"


"Dia sakit hati, Syan."


Syan menaruh satu telapak tangannya didada Araga.


"Aku yakin, seiring dengan berjalannya waktu Darendra akan bisa menerimanya. Aku mengenalnya, aku tau bagaimana dirinya!" Syan menenangkan Araga yang nampak tidak enak hati.


Araga memang berambisi untuk mempertahankan Syan saat Darendra gencar akan merebut Syan darinya, tapi ketika pemuda itu datang padanya dan dengan berbesar hati merestui hubungannya dengan Syan, ia justru merasa tidak enak hati. Meski tidak mungkin juga baginya untuk melepaskan Syan begitu saja.


"Apapun yang terjadi, semuanya sudah menjadai takdir, yang sudah kita lewati, semata-mata bukan karena kebetulan," ungkap Araga, tangan yang lainnya merengkuh tubuh Syan.


"Kita sudah bersama, itu karena takdir!" Syan menyahut.


"Tidurlah!" suruh Araga, mengingat waktu yang sudah larut malam. Syan mengangguk, kemudian memejamkan mata setelah Araga meninggalkan kecupan singkat di dahi dan bibirnya.


Nampaknya, tidak akan ada malam pertama. Kalaupun ada, sudah bukan malam pertama lagi bagi mereka. Malam kedua, mungkin itulah yang tepat bagi keduanya.


Araga perlahan memejamkan mata, menyelami dunia mimpinya yang indah, sementara Syan membuka matanya, ia merasa tidak mengantuk.


Ada sesuatu di fikirkannya. Ada yang mengganjal, dan rasa itu mengarah pada Daren. Darendra adiknya.


Syan percaya ini jalan hidupnya. Tidak ada lagi sisa cinta untuk Darendra dihatinya. Akan terasa tabu pula, jika ia membalas perasaan Daren.


Hati tidak bisa di paksa 'kan. Sekalipun ia dan Daren tidak memiliki ikatan darah, hatinya sudah tertambat, pada Araga. Pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.


Syan mencintainya, dan ia tidak ingin membagi cintanya.


Berdo'a yang terbaik untuk Darendra adalah jalan terbaik yang bisa dilakukannya. Bagaimanapun, sudah ada penentu diantara mereka.


Syan tersenyum, mengingat kebaikan Darendra yang memberi restu untuknya dan Araga. Ia menoleh, pada Araga yang sudah terlelap di alam mimpinya.


"Araga, aku mencintaimu,"


"Terimakasih, terimakasih untuk semuanya." Ia mengulurkan tangan, memeluk tubuh sang suami dan merapatkan kepalanya didada Araga.


Araga yang merasa ada pergerakan disekitarnya lantas menggeliat, membuka matanya perlahan. Membalas pelukan Syan.


"Ada apa Sayang, kau tidak bisa tidur?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak. Syan mengangguk.


"Kenapa?"


"Kau meninggalkan ku tidur!" Seloroh Syan dengan manja.


Araga mengernyit, kemudian tertawa. Syan nampak menekuk wajahnya.


"Ada apa, kenapa kau menggemaskan seperti ini?" Araga mengeratkan pelukannya, membuat Syan justru merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Araga ...,"


"Sayang, ada apa? Kau baik-baik saja?" Araga berubah panik, mengubah posisinya menjadi duduk, ikut memegangi perut Syan setelah menyalakan lampu disamping tempat tidur.


"Dia baik-baik saja? Apa aku menyakiti kalian?"


Syan menggeleng, perlahan nyeri diperutnya mereda, ia hanya diam dengan dahi terlipat. Membuat Araga merasa cemas dan khawatir melihatnya.


"Biar aku telpon dokter!"


"Tidak usah!" Syan menahan lengan pria itu.


"Why?"


Syan menggeleng.


"Sudah mendingan," sahutnya kemudian.


Araga menghembuskan nafasnya, lega. Ia lantas menarik Syan kedalam pelukannya.


"Jangan membuatku khawatir!"


"Tidak papa, aku senang melihat kau seperti tadi!"


Araga menggelengkan kepalanya mendengar tanggapan sang istri.


"Kau yakin tidak apa-apa, Sayang?"


Araga melepas pelukan mereka, memegang kedua bahu Syan dengan mata yang lekat menatap istrinya.


"Hmm," Syan mengangguk.


Araga kembali tersenyum, lega. Mengelus perut Syan, kandungan wanita itu sudah memasuki minggu ke-delapan.


"Aku menyayangi kalian!" sahutnya, kemudian menjatuhkan kepalanya di perpotongan leher Syan.


Syan hanya diam, membiarkan deruan nafas hangat Araga menerpa kulit lehernya.


"Syan,"


"Iya,"


"Aku mencintaimu,"


"Aku juga mencintaimu, Araga!"


"Jangan pernah meninggalkanku!"


"Tidak akan!"


Syan mengusap belakang kepala Araga, tersenyum dengan bahagia atas kebahagiaan yang dimilikinya. Memiliki keluarga yang menyayanginya, memiliki Darendra, serta memiliki Araga, pasangan terbaiknya.


Juga berbahagia dengan benih yang tumbuh di janinnya, calon buah hatinya dengan Araga.


"I love you, Araga. I love you!"


Araga merengkuh tubuh Syan, memeluk istrinya dengan erat. Ia tidak ingin kehilangan Syan, ia mencintainya.


Biarlah Syan menjadi yang pertama dan terakhir baginya.


Dua insan itu memadu cinta, berbeda dengan Darendra yang hanya duduk dan menikmati pemandangan di balkon kamarnya.


Malam yang kian larut tak sedikitpun mengirimkan kantuk. Ia justru hanya diam menatap langit bertabur bintang, menerawang kehidupan selanjutnya yang akan ia jalani dengan cerita baru tanpa ada Syandu.


Tanpa Syandu Amjasmara Zhucarlos. Ahh, tidak, Syandu Anjasmara Dimitry. Tanpa dia.


Bohong jika Darendra benar-benar merelakan Syan. Pada kenyataannya hatinya tetap mencintai sang kakak. Tapi untuk kembali mengusik ia dan kakak iparnya, tentu saja Darendra tidak akan pernah melakukannya.


Bagaimanapun, ia ingin Syan bahagia, meski tidak dengannya. Bagaimanapun, ini sudah menjadi keputusan dalam jalan yang diambilnya. Ia tidak akan menyesalinya.


Ia akan menjalani hidup barunya dengan tenang, dengan cerita yang akan ia buat dengan seindah-indahnya.


Biar Syan bahagia, dirinyapun bahagia. Dan biarkan cerita cinta diantara mereka, tak penah ada ujungnya.


Cerita cinta yang tak pernah dimulai, tetapi berakhir begitu saja. Darendra tetap bahagia, setidaknya, namanya pernah singgah, dalam hati sang kakak. Lebih dari sekedar adik, seperti apa yang pernah Syan katakan.


Jika Syan, pernah mencintainya.


~T A M A T~


**


Hello Readers, bagaimana? Perjalanan cinta mereka sudah berakhir. Hmm, mungkin belum selesai karena Darendra belum menemukan pasangan hidupnya.


Menggantung?


Tidak adil?


Seperti dipaksakan?


Ohh ayolah, aku juga sering melihat ending cerita macam ini, dimana salah satu pemeran utama memiliki misteri diakhir cerita yang membuat penontonnya penasaran.


Biasanya ada di film-film barat, sih😂


Jangan bahas Darendra, dia juga sudah bahagia melihat Syan dan Araga yang berbahagia. And, sekarang aku mau fokus pada novel AgyanFreya BUKAN CINTA BIASA, mohon dukungannya dengan like, komen dan vote yah. Mau bersaing untuk masuk rank tuh sekarang susah banget, tergantung vote dari para pembaca. Hehe.


Terimakasih untuk dukungannya selama ini.


Aku cinta kalian❤😘


Biarlah cerita berakhir dengan semestinya.