
Syan membanting tubuhnya diatas tempat tidur. Tangisnya pecah, dalam waktu beberapa detik penampilannya sudah kacau parah.
Sejujurnya, Syan tidak perlu terkejut dengan hal itu. Ia tau dirinya bukanlah anak kandung Carra dengan Juan. Ketika ia berusia delapan tahun, Juan memberitahukan detail ceritanya bagaimana Juan sampai mengadopsinya, bahkan Juan juga menunjukan rekaman beberapa tahun silam saat dirinya mengadakan jumpa pers untuk memberitahu lapisan masyarakat jika dirinya mengadopsi seorang anak, yaitu Syan. Gadis kecil yang sekarang tumbuh dengan sangat cantiknya.
Kenapa Juan melakukannya? Karena Juan adalah orang penting, dan ia menghindari kejadian yang nantinya akan menimbulkan kesalahpahaman dimasa depan. Itulah kenapa Juan memberitahukan Syan sejak dini.
Awalnya Syan sempat terkejut dan merasa bersedih, tapi nyatanya Juan dan Carra sangat menyayangi dirinya dan tak pernah membeda bedakan antara dirinya dengan Darendra.
Tapi begitu hal itu dibahas dimasa sekarang. Syan merasa dadanya amat sesak. Terlebih orang orang tadi juga sempat menuduh Juan yang tidak tidak. Syan merasa syok, ia merasa orang orang tadi berfikiran buruk tentangnya dan menuduh jika dirinya hanya merugikan keluarga Zhucarlos.
Sementara Araga, diam diam ia meninggalkan kerumunan pesta dan berjalan ke pelataran mansion, menyandarkan tubuhnya pada body mobil miliknya. Menatap kamar Syan dari bawah sana. Ia menghela nafas, kemudian masuk kedalam mobil dan benar benar pergi dari sana.
Meninggalkan mansion keluarga Zhucarlos sebelum acara selesai.
Di ruang utama mansion keluarga Zhucarlos. Robert sudah cemas sendiri karena Syan tak kunjung kembali ke lantai bawah. Ia sempat mendengar para pemggosip yang menggosipkannya, tapi untuk memberitahukannya pada Juan, ia merasa waktunya belumlah tepat. Karena ia tidak ingin mengganggu acara bahagia Juan dengan Carra.
**
Begitu acara selesai, Juan merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa. Carra juga duduk disampingnya. Para tamu undangan sudah meninggalkan tempat berlangsungnya acara. Dalam waktu sekejap keadaan mansion menjadi sepi
Darendra juga nampak melepas jas yang di pakainya.
"Oh yah. Syan dimana? Sepanjang acara, aku sama sekali tidak melihatnya." sahut Juan pada beberapa orang mansion yang masih berada di ruang utama.
"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan." sahut Robert dengan sopan.
"Katakan saja!"
Robert terdiam, matanya menatap Darendra yang tengah memainkan ponselnya.
"Tidak disini, Tuan." Juan mendesah, apakah Robert tidak tau jika dirinya ini sangat lelah?
"Kau ini, kenapa merepotkan sekali."
"Baiklah baiklah. Ke ruang kerjaku saja." Juan beranjak sambil menggandeng Carra.
Darendra mengangkat pandangannya. Juan berlalu dengan Robert dan Carra ke arah ruang kerja Juan. Ia hanya mengangkat bahu, tidak ingin tau apa yang dibahas para orang tua itu. Ia kemudian beranjak dan melangkah ke arah tangga untuk ke kamarnya. Beristirahat adalah saat yang tepat untuknya.
Sementara di ruang kerja Juan. Pria itu nampak sangat khawatir di kursi kerjanya, ia menopang dagu. Memikirkan sesuatu, sementara Carra juga nampak sangat tidak tenang setelah Robert memberitahukan masalah yang sempat terjadi saat pesta berlangsung.
"Kau tau siapa orang itu?" keheningan akhirnya pecah oleh suara Juan.
"Ibu Asmita. Istri dari tuan Jodi,"
"Jodi?" tanya Juan, memastikan. Kenapa ia jadi mengingat Jomblo ditinggal mati?
"Benar Tuan. Perusahaan kita berinvestasi disana."
Juan tersenyum licik.
"Apa yang akan terjadi jika kita menarik semua investasi disana?"
"Perusahaan tersebut akan bangkrut!"
"Tarik semua investastasi disana, biarkan perusahaan itu gulung tikar. Kalau perlu, akuisisi saja perusahaannya, biarkan mereka memohon pada kita!"
"Tidak boleh ada yang mengusik ketenangan putriku!" geram Juan. Ia mengepal tangannya, kata kata orang yang sudah mengatakan Syan anak angkat seolah terngiang di kepalanya.
Terlebih, orang itu juga mengatakan jika Syan adalah anak hasil dari hubungan gelapnya dengan seorang wanita.
Keterlaluan!
**
Cklek!
Perlahan Carra membuka pintu kamar Syan. Ia berlalu lebih dulu keluar dari ruang kerja Juan untuk melihat keadaan putri mereka.
Carra tersenyum saat sang putri yang sudah memakai piama itu melangkah ke arahnya dan memeluknya dengan tiba tiba.
"Sayang," Carra mengusap punggung sang putri.
"Aku mencintaimu, Mom."
"Momy, juga begitu. Syan,"
"Jangan dengarkan mereka. Mereka tidak tau apa apa tentangmu, tentang kita."
"Aku tidak mau mendengarkan mereka, Mom. Yang aku tau, kau dan Dady menyayangiku, bukankah begitu?"
Carra mengangguk, semakin erat memeluk Syan agar putrinya merasa tenang. Tak lama, pintu kamar Syan terbuka, Juan masuk dan langsung menghampiri Syan.
"Syan,"
Syan melepas pelukannya dengan Carra. Kemudian beralih memeluk Juan.
"Kau tidak apa apa?"
Syan menggeleng dalam pelukan sang ayah. Setelah cukup lama, perlahan Syan menarik diri dari pelukan Juan. Ia menyeka air matanya yang tiba tiba saja menetes.
"Aku memang anak angkat mu, Dad."
"Jangan katakan itu, Syan."
"Apa kalian tidak menyesal mengangkatku menjadi putri kalian?"
"Syan, jangan mengatakan hal itu. Dady tidak suka kau berbicara seperti itu. Kau sudah Dady anggap seperti putri kandung, Dad. Selamanya kau akan tetap menjadi putri Dad, Syan!" sahut Juan dengan helaan nafas berat. Ia takut jika nanti Syan ingin pergi darinya.
"Apa kau tidak rugi, Dad?"
"Sedikitpun tidak, Syan. Apa yang merugikanku? Tidak ada. Oke?"
"Momy Carra, sejak dulu dia juga menyayangimu, bukan. Jangan seperti ini, Syan. Dad, mohon," mata Juan nampak berkaca kaca menyaksikan putrinya yang hampir tidak pernah bersedih, tiba tiba harus dihadapkan dengan situasi saat ini.
"Ini tidak akan lama, kau tenang, ya."
"Dady mu benar, Syan. Sampai kapanpun, kau akan tetap menjadi putri kami."
Carra juga ikut memeluk Syan. Sementara itu, tanpa mereka bertiga tau. jika Darendra ada disana. Mendengar semuanya, tangannya terkepal sempurna, menampilkan buku tangannya yang memutih, menandakan jika dirinya sangat sedang menahan amarah.
**
Brak!
Suara pintu yang di dorong dengan keras membuat Juan yang semula menunduk dengan memejamkan mata, seketika menoleh ke sumber suara.
Matanya memicing, saat mendapati Darendra di ambang pintu ruang kerjanya dengan tatapan tidak bersahabat. Juan menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
"Daren, kau sudah melupakan tatakrama dan sopan santun yang selama ini Dad ajarkan?" tanyanya.
Darendra tak menggubris.
"Kenapa Dad tidak memberi tahuku jika Syan adalah anak angkat dad?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu?" Juan masih berusaha bersikap tenang.
"Aku mengetahui semuanya, Dad. Kenapa Dad menutupinya dariku?"
Juan diam, ia masih terlihat sangat tenang.
"Dad,"
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Menikah dengan Syan!"
Juan tersenyum.
"Apa Syan akan mau?"
Kali ini Darendra yang terdiam. Juan bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Darendra. Menyentuh bahu pria itu dan membuat kepalan tangan Darendra perlahan mengendur, ia merasa menghangat.
"Daren. Seandainya saat kau mengatakan bahwa dirimu mencintai Syan, dan Dad melihat cinta untukmu di mata Syan. Mungkin Dad bisa saja merestui kalian,"
"Tapi Dad tidak melihat ada cinta dimata Syan untukmu, cinta Syan hanya untuk Araga. Dad melihatnya hanya untuk Araga. Sedangkan untuk kau, tidak lebih dari sekedar cinta seorang kakak pada adiknya, Darendra."
Juan memberitahukan dengan tenang. Agar putranya mengerti, ia menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Relakan Syan jika kau benar benar mencintai dia, Daren!" Juan menepuk bahu putranya dua kali. Kemudian berlalu darisana begitu saja. Membiarkan Darendra mencerna baik baik apa yang tadi dikatakannya.
**
"Saya mohon Tuan,"
Seorang pria paruh baya tengah bersimpuh memohon ampun atas kesalahan yang sudah istrinya perbuat. Yang membuat keluarga mereka menjadi gelandangan dalam hitungan menit.
Sementara Juan yang duduk di singgasananya hanya menautkan tangan. Menatap pria itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Saya mohon Tuan Juan. Istri saya hanya sedang khilaf," pintanya lagi. Kali ini Juan tertawa, tertawa dengan kerasnya. Tawa yang membuat siapa saja yang mendengarnya mampu merinding karena merasa takut.
"Tuan, kasihanilah keluarga kami!"
Mohonnya lagi dengan suara bergetar. Suasana yang mencekam di ruang kantor Juan itu benar benar menebarkan atmosfer yang sangat mengerikan.
"Kasihan? Apa istrimu mengasihani putriku saat berkata dengan tidak sopannya? Hmm?"
"Tapi, Tuan ...,"
"Tidak ada ampun bagimu!"
Tangan Juan mengepal diatas meja kayu bercat hitam mengkilatnya. Matanya memerah menahan amarah.
"Istrimu sudah membuat air mata putriku jatuh. Aku tidak bisa memaafkan dan memakluminya, tidak akan!"
Robert yang mengerti jika Juan sudah selesai, ia segera membantu Tuan Jodi untuk keluar dari ruang kerja Juan.
Juan hanya menatap kepergiannya dengan mata yang berkaca kaca. Sungguh, melihat Syan yang menangis semalam, ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Ia tidak dapat mencegah air mata putrinya. Bagaimanapun, sejak kecil, Syan adalah hartanya. Ia menyayangi Syan sama seperti ia menyayangi, Darendra. Darah daginyanya.
**
Araga menopang dagunya, mendengar penjelasan Erick atas sesuatu yang sudah diselidiki olehnya mengenai kebenaran latar belakang calon istrinya berdasarkan gosip miring yang ia dengar semalam.
"Jadi, dia benar benar anak angkat keluarga Zhucarlos?"
Erick mengangguk.
"Ini rekaman 20 tahun lalu saat Tuan Juan resmi mengadopsi nona Syan dan mengumumkannya di depan media." Erick mengotak atik laptopnya, lalu menghadapkannya pada Araga.
Araga menatap layar yang menampilkan bagaimana Zhucarlos muda saat itu berbicara di depan media dengan penuh wibawa. Juan menyatakan jika dirinya mengadopsi seorang putri tanpa ia beritahukan namanya.
"Artinya, Ayah sudah mengetahui hal ini?" tanya Araga setelah ia merasa sudah selesai melihat siaran itu meski durasi vidio belum berakhir.
"Saya rasa tidak. Bertepatan dengan tanggal tersebut. Saat itu tuan besar sedang ada acara keluarga di pulau terpencil. Banyak ketidak mungkinan beliau tidak melihat siaran ini."
"Bagaimana jika Ayah tau hal ini, dan ia merasa di tipu oleh keluarga Zhucarlos. Karena menjodohkan putranya dengan anak angkat di keluarga itu?" tanya Araga dengan raut wajah tidak terbaca.
"Yah, di tipu!" lirihnya saat Erick memilih menggelengkan kepalanya.
Araga mejamkan mata, menghela nafas panjang. Otaknya berfikir keras, dan ia dihadapkan pada dua pilihan.
Mempertahankan hubungannya dengan Syan, atau meninggalkan Syan. Ia harus memilih salah satu.
TBC