
Centrall Park, Manhattan. New York City, AS
Abram duduk sendiri di salah satu bangku, dengan tatapan kosong. Entahlah apa yang ada di fikirannya, barangkali hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya
Abram tentu saja merasa heran dengan Juan yang tidak masuk ke kantor hari ini, dan ia mendapat kabar dari Robert jika saudara sepupunya itu mengalami kecelakaan ringan
Sebagai seorang saudara yang baik. Abram berinisiatif menjenguknya di rumah sakit milik keluarga Juan, tapi apa yang dilihatnya disana sungguh membuatnya tidak tenang sampai sekarang
Itulah alasan mengapa ia ada di tempat ini, sendiri, saat sekarang
Senyum miris terbit di bibirnya, meski ia tidak mengetahui apa yang tengah dibicarakan oleh Juan dan Carra, tapi Abram cukup mengerti, jika dua orang itu pasti sedang saling mengungkapkan isi hatinya. Karena binar bahagia nampak terpancar di wajah Juan
Entahlah Abram harus bagaiamana. Apakah dia harus senang melihat Juan dan Carra bahagia? Atau dia harus bersedih karena sekarang Carra sudah bisa mencintai Juan dan benar benar melupakan dirinya?
"Apa apaan aku ini!" Rutuknya, mengutuki diri sendiri
"Sepertinya apa yang dikatakan Alex benar, aku butuh seorang wanita" Sahut Abram pada dirinya sendiri, dengan senyum meremehkan begitu ia teringat kata kata Alex
Juan, Abram dan Alex memanglah saudara sepupu yang selalu saling terbuka. Kecuali jika tentang Carra, Abram tidak terlalu terbuka padanya, sedangkan Alex. Jauh sebelum Juan tau jika Carra adalah gadis yang di cintai oleh Abram, Alex lebih dulu tau tentang hal itu. Sehingga sekarang, Alex lah yang selalu menasihati Abram agar laki laki itu cepat move'on dan mencari pengganti Carra
Untuk dapat melupakan orang lama, kamu membutuhkan orang baru bukan?
Abram tidak berniat untuk mencari pelampiasan, meskipun iya, pada dasarnya semua manusia pasti bertindak demikian. Dan Abram? Bahkan ia ragu untuk memulainya, hatinya sudah terlanjur jauh mencintai Carra, tidak mudah untuk melupakannya, tidak mudah pula untuk mencari penggantinya
*
"Tidak. Aku tidak ingin minum obat!" Tolak Juan saat suster menyuruhnya untuk minum obat. Tadi Juan sudah makan bubur yang di bawakan Carra dari luar, Juan memang tidak menyukai makanan dari Rumah sakit
"Tuan, tapi.."
"Aku bilang tidak. Apa kau tidak dengar?" Bentak Juan, yang membuat suster tersebut sampai terlonjak kaget
Dan Robert yang memang sudah kembali masuk ke ruangan Juan dengan setia berada di samping sang majikan. Ia hanya memberi isyarat pada sang suster agar suster tersebut pergi sebelum Juan mengamuk nanti.
Bukankah sudah pernah dikatakan, Juan bukanlah manusia. Jadi, sedang sakit atau tidak, dia akan tetap sama
Bersamaan dengan itu, Carra yang tadi keluar sebentar datang dengan alis yang bertaut. Ia mendengar suara Juan yang marah marah tadi
"Tidak papa sus" Sahut Carra saat berpapasan dengan suster yang berjalan menunduk menuju pintu keluar
Lalu langkahnya semakin mendekat menuju brangkar Juan. Laki laki itu melihat ke arah samping dan tidak sadar dengan kedatangan Carra
"Kau tidak ingin sembuh Tuan?" Tanya Carra, yang lalu duduk di kursi tempatnya tadi
Juan menoleh dan lalu menggenggam tangan Carra
"Aku tidak terbiasa minum obat" Sahutnya
"Ini bukan tentang biasa atau tidak biasa Juan, tapi ini untuk pemulihan. Biar kau cepat sembuh"
"Aku tidak apa apa Carra"
"Benarkah?" Tanya Carra sambil memicingkan matanya
Lalu dengan sedikit kuat Carra menoyor kepala suaminya itu sampai Juan mengaduh kesakitan
"Aww, hey. Kau mau membunuh suamimu Carra?" Tanya Juan sambil memegang kepalanya yang tadi di toyor oleh sang istri
"Kau bilang tidak apa apa bukan, hmm?" Tantang Carra
Juan diam, lalu memperbaiki posisinya, ia duduk dan menatap Carra
"Kenapa?" Tanya Carra, saat mata Juan dengan lekat memandangnya
"Istriku terlihat sangat cantik sekali" Pujinya
"Kalau begitu, bisa aku bilang sesuatu padamu?" Tanya Carra, lalu berdiri dan mengambil sebutir obat yang di tinggalkan oleh suster tadi di nakas, disamping brangkar Juan, tanpa Juan sadari
"Kau ingin mengatakan apa?" Tanya antusias Juan dengan tatapan berbinar
Carra semakin mendekatkan wajahnya pada Juan, tidak perduli dengan Robert yang berdiri di belakangnya. Bahkan mungkin Robert pun paham dengan apa yang akan di lakukan Nonanya ini
"Hmm," Gumam Juan lagi
Ketika jarak keduanyaa sudah semakin dekat, Juan mulai memiringkan kepalanya, hendak mencium Carra
Tapi apa yang di dapatkannya justru malah membuatnya meringis, ketika Carra dengan sedikit memaksakan sebutir obat masuk ke mulut Juan
Dan seolah mengerti, Robert segera menyodorkan segelas air pada Carra. Cara menerimanya, lalu membantu Juan meminumnya
"Telan!" Suruh Carra saat melihat ekspresi Juan yang kesulitan meminum obat
Juan menurutinya, melakukan apa yang disuruh Carra sampai obat itu benar benar ia telan, meski Juan merasa pait dari obat tersebut tersangkut di kerongkongannya
"Pintar" Puji Carra, yang membuat Juan memandang jengah padanya. Dan Robert hanya tersenyum melihatnya
Bagaimana bisa Presdir mereka di puji macam begitu. Dan seketika juga Robert berhenti tersenyum saat Juan melotot ke arahnya
"Kau benar benar ingin membunuh suamimu Carra" Decaknya yang membuat Carra hanya bisa menahan senyum
"Sekarang aku butuh pemanis" Sambungnya kemudian
"Kau ingin apa? Kueh, buah atau permen?" Tanya Carra dengan antusias
"Bibir mu" Jawab Juan, spontan dan tiba tiba saja membuat Carra mematung
Mungkin Carra sudah terbiasa melakukan ciuman dengan Juan. Tapi jauh sebelum ia memproklamirkan perasaannya pada Juan, dan Carra merasa ragu untuk itu. Terlebih di dalam ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua, ada Robert diruangan yang sama
Carra sempat mendehem sebelumnya, lalu ia melirik Robert yang ada di belakangnya yang diikuti oleh Juan juga
"M, Tuan saya permisi keluar" Pamitnya yang mengerti dengan tatapan kedua majikannya. Jujur dia sudah peka sedari tadi, hanya saja ia juga menunggu waktu yang tepat untuk berpamitan
Dan setelah kepergian Robert, Juan memandang penuh arti kepada Carra. Tatapan matanya seolah memancarkan kemenangan
"Kemari" Suruh Juan sambil menepuk tempat di sampingnya
Carra menurut dan duduk di tempat yang di tunjuk Juan, sehingga sekarang keduanya duduk saling berhadapan
Tanpa ragu, Juan menarik dagu Carra begitu saja, memiringkan kepalanya dan mulai mendaratkan bibirnya di bibir Carra. Dengan sedikit menarik tengkuk Carra untuk memperdalam ciuman mereka
Juan beraktivitas dengan lihai, *******, menghisap dan mengabsen setiap inci mulut Carra dengan lidahnya. Rasanya, ini sensasi luar biasa yang ia lakukan setelah pernyataan cinta Carra padanya
Juan tidak perlu ragu lagi, karena sekarang ia sudah tau dengan pasti bagaimana perasaan Carra padanya
Juan masih fokus pada aktivitasnya, sementara Carra juga masih menikmatinya dengan mata terpejam. Ia hanya menikmati tanpa berniat membalas permainan Juan, bukan tidak ingin. Hanya saja ia membiarkan Juan menikmati aktivitasnya
Sesaat kemudian, Juan menghentikan aktivitasnya. Ekspresinya seolah merasakan sesuatu dengan tatapan mata yang lekat pada Carra, gadis itu terlihat sedikit gelisah
"Manis" Sahutnya kemudian. Seolah menilai bagaimana rasa bibir Carra
Sejauh ini, ciuman tadi adalah ciuman pertama bagi Juan dengan Carra, dalam sensasi yang berbeda. Yah, seperti tidak ada pembatas diantara keduanya yang selama ini di bentangkan oleh Carra
"Sepertinya aku akan mulai suka minum obat jika pemanisnya adalah kau" Ocehnya
Sedangkan Carra hanya mencebik, kesal sekaligus malu dengan tatapan intens Juan yang seperti meledeknya
Tanpa mereka sadari jika aktivitasnya tadi menjadi tontonan orang paling menyebalkan dalam kamus Juan
Alex, sedari tadi dia berdiri di ambang pintu dengan tangan yang menyilang di dadanya. Menjadi penonton adegan ciuman Carra dengan Juan