My Best Match

My Best Match
Forbidden Relationship



"Ayolah Daren. Katakan, ada apa?" Tanya Ram pada Daren yang asik meminum vodkanya tanpa banyak bicara


Mereka sekarang sedang berkumpul di apartement Ram. Tepat di meja bar mini ditempat itu setelah tadi Daren meminta mereka bolos kuliah


Renard menepuk bahu Daren, menyadarkan laki laki itu dari lamunannya, Darendra hanya mengerling. Bertanya dengan alis yang bertaut. Sedangkan kawan kawannya nampak heran pada Daren


"Ada apa Daren, tidak biasanya kau datang dan mengajak kami untuk menikmati minuman" Ram kembali bersuara. Sementara Lion nampak hanya asik menikmati minumannya saja


Daren mengangguk, mempertimbangkan perkataan kawan kawannya. Tentang apa alasan sebenarnya ia mengajak memereka semua


"Tidak apa apa. Hanya sedang ingin minum saja" Dustanya setelah beberapa saat


"Tidak perlu berbohong dude. Kami mengenalmu, alasan seperti ini saja tidak masuk akal untuk kami dengar"


Ram dan Lion mengangguk, membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Renard pada Daren. Sudah 2 jam Daren bersama sama dengan mereka, tapi anak itu tak kunjung membuka suaranya setelah mengajak mereka menikmati minum


Daren tersenyum, ia memang selalu terbuka pada 3 kawannya itu. Sehingga untuk perasaannya saat ini pun, rasanya ia harus bercerita pada Ram, Renald, dan Lion


Perasaan anehnya, pada kakaknya sendiri. Pada Syan, ia yakin jika dirinya merasa cemburu. Meski selama berpacaran dengan para gadisnya ia belum pernah merasa cinta dan cemburu. Tapi pada Syan, ia merasa perasaan itu ada, dan sedikit berbeda. Aneh, tapi itulah yang dirasakannya


Ram nenyenggol bahu Renard saat mendapati Daren yang justru melamun ditempatnya


"Rupanya masalah kau kali ini begitu berat ya"


Daren terkesiap saat Lion bersuara, refleks ia mengangguk


"Seberat apa dude?"


"Aku sedang merasa....., cemburu. Aku tidak tau dengan perasaanku. Tapi itulah yang aku rasa" Terangnya


"Cemburu pada siapa? Bukankah kau baru saja putus dengan anak mentri itu?"


"Ku rasa aku cemburu pada kakakku sendiri, yah saat melihat Syan dengan laki laki lain. Aku merasa ....,"


"Syan?" Tiga laki laki itu terperangah, memotong ucapan Daren dengan cepat dan kemudian saling melirik, kini tatapannya berpusat pada Daren


"Syan?" Ram memastikan


Darendra mengangguk


"Ram, pagi tadi kau bilang jika Syan terjatuh dan ditolong oleh seorang laki laki. Orang yang menolongnya adalah Araga. Araga Dimitry"


"Calon suami Syan" Sambungnya setengah ragu dan tidak rela


"Calon suami?" Kembali mereka terperangah. Terutama Ram, hingga Renard menyikut pinggang laki laki itu agar tidak bersikap berlebihan


Darendra mengangguk


"Bagaimana kau tau jika itu calon suami Syan?" Tanya Lion yang jauh lebih santai dari dua kawan Daren yang lain


"Aku mengetahuinya beberapa bulan yang lalu saat ikut dengan Dady dalam pesta pemenang tander. Aku mendengar Dady menyebutnya calon menantu"


"Aku tau jika Dady tidak pernah bermain main dengan ucapannya. Kurasa dia serius mengatakan jika Araga calon menantunya"


"Aku dan Syan memang tau jika kelak Syan akan dijodohkan. Tapi Dady masih merahasiakan siapa calon suami Syan sampai sekarang"


Mereka mendengarkan cerita Daren dengan seksama


"Pantas saja Syan tidak pernah menanggapi godaan anak anak kampus, atau menerima pernyataan cinta dari seseorang. Ternyata jodohnya sudah disiapkan om Juan?" Tanya Lion, Daren mengangguk


"Lalu, kau?" Tanya Renard


Daren mengernyit mendengar pertanyaan Renard


"Aku tidak tau dengan perasaanku. Hanya satu hal, aku merasa cemburu dan tidak rela jika Syan dengan laki laki lain"


"Hey Daren, dia kakak mu. Apa kau lupa?"


"Aku tidak lupa, hanya saja aku juga tidak mengerti dengan perasaanku. Aku mencintainya"


"Tapi kau taukan dengan hal ini. Semacam ...., forbidden relationship?"


"Aku tau dengan hal itu!"


Keempatnya diam, 3 kawan Daren tentu saja bingung. Mereka belum pernah menemukan kasus ini sebelumnya, sehingga tidak tau harus dengan cara apa menenangkan kawannya


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Lion, memecah keheningan yang tadi sempat melanda


"Aku tidak tau. Mungkin menculik Syan sebelum acara pertemuan keluarga dilaksanakan!" Sahutnya yang diakhiri dengan tawa. Ia memang bercanda, tapi tidak dengan matanya yang seolah mengatakan hal demikian rupa


"Wtf! Kau bercanda kan Daren?" Renald tampak syok dengan berlebihan


"Aku masih memikirkannya. Aku juga tidak mungkin membuat Dady Juan murka"


**


"Jadi, orang yang menolongmu itu Araga?" Tanya Zoey dengan raut wajah yang syok


Ia dan Lucy sengaja datang karena mendengar jika Syan dibawa keruang kesehatan karena kecelakaan di kampus. Saat tak mendapati Syab di ruang kesehatan, maka mereka berencana datang ke mansion Syan sepulang dari kampus


Syan mengangguk dengan ekspresi risih


"Bagaimana ceritanya dia bisa menolongmu dan berada di kampus kita Syan?"


"Aku terburu buru dan menabraknya sehingga aku terjatuh, kemudian dia menolongku. Dia yang berada di kampus kita, aku tidak mengetahuinya" Jelas Syan. Sedangkan Lucy hanya diam, ia masih menyimak


Sama halnya dengan Dinara yang juga hanya menyimak. Ia sudah berkenalan dengan dua teman Syan tadi


"Dan dia juga sampai datang ke mansion mu?" Tambah Zoey lagi


Syan mengangguk


"Aku merasa dia jatuh hati padamu Syan" Lucy angkat bicara


"Tolong jangan mengatakan hal yang tidak tidak atau kepalaku akan pecah nanti" Syan memegangi kepalanya dengan frustasi


"Syan, jika dia tidak jatuh cinta padamu. Untuk apa juga dia mengantarkan tasmu, bukankah dia bisa bersikap tidak perduli. Toh hanya tas dan dia juga baru mengenalmu kan"


"Apa namanya jika bukan jatuh hati?!"


Keempat gadis itu hanya diam. Dan Syan adalah yang paling terbebani disini


"Aku setuju dengan Kak Lucy" Dinara tiba tiba saja berbicara. Lucy menjentikan jarinya, kemudian bertos ria dengan Dinara tanda persetujuan. Sementara Syan hanya menggeleng gelengkan kepalanya


"Kak Syan, tidak ada salahnya. Ku kira aunty Carra juga akan setuju. Araga tampan, dewasa, dan yang pasti dia kaya raya. Aku juga akan mendukungmu jika kau mau melakukan pendekatan dengannya!" Sahut Dinara dengan panjang lebar


Zoey dan Lucy mengangguk setuju


"Aku tidak butuh dukungan kalian. Hmm"


"Dan aku juga tidak tertarik dengan Tuan Araga. Toh Dady juga sudah menyiapkan jodoh terbaik untukku, mungkin sebentar lagi aku akan ditunangkan dengannya. Jadi, aku tidak mau menyakiti hati pria lain" Syan juga menyahut dengan panjang lebar


"Owww, jadi kau takut menyakiti hati Tuan Araga. Begitu Syan?" Goda Zoey, yang membuat Lucy dan Dinara juga tersadar


Syan kelabakan karena sudah salah berbicara. Sementara, dua kawan dan sodaranya itu sibuk menggodanya


Syan hanya menutup mata dan telinga


**


Sepanjang menyetir, Erick seringkali melihat spion diatas kepalanya, melihat sang bos yang duduk di kursi belakang dengan wajah yang berseri seri. Mereka sedang dalam perjalanan menuju perusahaan setelah pulang dari mansion keluarga Zhucarlos


"Bos"


Araga yang menopang dagu sambil tersenyum melihat pada Erick dihadapannya yang tadi menegurnya tadi


Kemudian, ia hanya tersenyum saja


"Biarkan aku berbicara bos. Dengar ini!"


"Hmm"


"Awal pertemuan kalian, aku merasa hal tersebut sangatlah kebetulan. Pertemuan kedua, tadi pagi dikampus, aku berubah fikiran, meski nona Syan berkuliah di kampusmu. Aku merasa pertemuan tadi bukanlah kebetulan"


Erick menjeda kalimatnya


"Mungkin memang sudah waktunya kalian bertemu!"


"Ketika kau sampai datang ke mansionnya dan bahkan menginjakan kaki dikamarnya, aku berfikir takdir sepertinya mendukung kau dan mungkin .., kalian berjodoh"


Araga mengernyit, kemudian menendang sandaran kursi kemudi dengan cukup keras. Membuat Erick sedikit tersentak. Untung jalanan sepi dan ia langsung bisa menguasai diri


"Aku juga baru saja berfikir begitu!"Sahutnya yang diakhiri senyuman


"Kenapa kau tidak langsung melamarnya?"


"Apa apaan? Aku belum mendapat intruksi apapun dari om Juan. Tentu saja aku tidak bisa langsung mengambil tindakan"


"Meski aku mencintai Syan, tapi tetap saja hubungan ini atas dasar perjodohan. Harus ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Apalagi ini bukanlah pernikahan bisnis. Aku harus mengaturnya dengan sedemikian rupa" Sahut Araga dengan mantap. Sementara Erick hanya mengangguk puas dengan jawaban lugas dari Bosnya


TBC