My Best Match

My Best Match
Khawatir yang Berlebihan



Araga membaringkan gadis itu di atas salah satu dari tiga bed pasien diruang kesehatan, kemudian dengan cekatan ia mencari sesuatu untuk ia oleskan pada kaki Syan yang terkilir


"Bagian mana yang sakit?" Tanyanya setelah mengangkat kaki Syan keatas pahanya. Posisi Syan saat ini adalah duduk dengan bersandar pada bantal yang sudah di susun oleh Araga


"Aku bisa mengoleskannya sendiri" Sahut Syan sambil mencoba meraih sebuah botol minyak pijat ditangan Araga, tapi pria tampan itu dengan cepat menjauhkannya dari jangkauan Syan


"Biar aku saja. Kau hanya perlu memberitahuku bagian mana yang sakit"


Syan mendengus, kemarin dia mengatakan pada Zoey dan Lucy jika tidak ingin bertemu dengan Araga lagi. Tapi keduanya justru dipertemukan kembali dan seakan terjebak di ruang kesehatan


"Aku tidak apa apa. Aku akan masuk ke kelas, mata kuliah pertama sudah habis, dan mata kuliah ke dua, aku ada tugas presentasi."


Araga tak menghiraukan, ia hanya menggosok pergelangan kaki Syan yang dikiranya adalah bagian yang terkilir, karena gadis itu tidak memberitahukan padanya bagian kakinya yang sakit


"Aku sudah memberitahu Dosenmu jika kau sakit dan tidak akan menghadiri kelas"


Syan mengernyit, bukankah sejak tadi Araga bersama dengannya dan bahkan sama sekali belum menyentuh ponselnya


Tak lama, seseorang yang tak lain adalah Skretaris Pribadi Araga masuk ke dalam


"Bos, aku sudah memberitahu Tuan Hydeen jika nona Syan tidak akan masuk kelas" Sahutnya, meletakan tas Syan diatas bed yang di duduki Syan. Kemudian berlalu kembali keluar setelah bosnya menyahut singkat


"Apa Dosen yang memberi tugas presentasi Tuan Hydeen?" Tanya Araga setelah Erick meninggalkam mereka berdua


"Bagaimana kau tau?"


"Artinya benar!"


Syan tidak habis habisnya heran pada pria dihadapannya ini. Memangnya dia ini siapa?


Tapi Syan tidak bisa berkata apa apa. Ia hanya menatap pria tampan dihadapannya ini yang tiba tiba saja menjelma menjadi tukang pijat amatir untuknya


"Berhenti menatapku dan katakan bagian mana yang sakit!"


Syan tersentak dan refleks mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Kemanapun asal dia tidak melihat pesona Araga dihadapannya


"Apa bagian ini ?" Tanya Araga


Syan mengangguk, sampai Araga memijat bagian yang dikatakan Syan dengan keras, setelah sebelumnya ia sempat meminta maaf terlebih dahulu. Membuat gadis itu meringis, tangannya mencengkram bahu Araga dengan sekuat tenaga


Tentu saja Araga juga merasa sakit, cengkraman Syan begitu kuat dibahunya, tapi ia masih bisa menahannya. Terutama melihat Syan yang kesakitan


"Memangnya kenapa tadi berlari?"


"Aku terlambat"


Araga mengangkat wajahnya, membuat pandangan keduanya bertemu


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya heran Syan saat mendapat tatapan intens Araga


"Tidak papa"


Keduanga hanya saling terdiam sampai Araga selesai memijat kaki Syan


"Kau ahli memijat?"


Araga yang sedang menyimpan minyak pijat di loker obat obatan hanya menoleh dengan tersenyum


"Aku suka olahraga dan juga pernah beberapa kali terkilir, aku sudah bisa mengatasinya sendiri. Dan sering menangani hal semacam ini juga" Sahutnya yang kemudian duduk di samping Syan


Syan hanya mengangguk, sampai hening kembali menyelimuti keduanya


"Syan?"


"Hmm"


"Ada yang ingin aku katakan"


Syan menoleh, kemudian bertanya "Apa?"


"Tidak ada"


Syan mengernyit heran, kemudian menggeleng. Ia lebih memilih untuk tidak perduli, meski bibirnya melengkung membentuk senyuman tapi ia tetap ingin menolak, jika laki laki dihadapannya ini sudah membuatnya tersenyum


"Oh yah. Kau ada urusan apa disini?" Akhirnya Syan memilih mengalihkan pembicaraan, mencari topik obrolan untuk keduanya. Ia tidak suka dengan keheningan


Araga diam. Ia tidak mungkin mengatakan pada Syan jika yayasan kampus ini adalah miliknya. Dan ia baru saja menemui salah satu Dekan kampus untuk suatu kepentingan


"Jangan bilang jika ada mahaiswa disini yang lupa membayar saat habis berbelanja dari mall milikmu" Sambung Syan


Araga mengernyitkan dahi, bagaimana Syan tau jika mall tempat mereka bertemu kemarin adalah mall miliknya


"Bagaimana kau ...,"


Araga dan Syan tersentak saat tiba tiba saja sesorang menerobos masuk kedalam ruang kesehatan, berdiri menatap keduanya dengan tatapan penuh kecemasan yang sulit diartikan


Disusul Erick dengan mata memohon maaf pada Araga karena tidak dapat menahan Daren diluar. Araga hanya mengangguk mengerti


"Kau baik baik saja Syan?" Tanyanya dengan cemas


Araga memilih untuk beranjak dari duduknya, memberi ruang pada Daren agar lebih dekat dengan Syan


"Aku baik, ada apa kau kemari?" Tanya heran Syan


"Aku khawatir, itu kenapa aku langsung kemari saat Ram bilang kepadaku jika kau terjatuh dan dibawa ke ruang kesehatan. Kenapa tidak langsung menghubungiku?" Panjang lebar Daren setengah kesal


"Hey. Aku tidak apa apa, kenapa kau sepanik ini?"


"Apa kau pernah seperti ini sebelumnya? Tidakkan? Itulah kenapa aku khawatir"


"Tapi aku tidak apa apa Daren. Sungguh, kau ini berlebihan sekali, kakiku hanya terkilir"


"Baiklah, kalau begitu mari kita pulang"


Tanpa persetujuan sang kakak. Daren dengan begitu saja mengangkat tubuh Syan dan membawanya keluar dari sana. Membuat Araga yang ditinggalkan merasa tidak rela meski ia tau jika Darendra adalah adik laki laki Syan, meski sebenarnya ....,


"Bos, tidak ada niatan untuk menyusul nona Syan ke mansionnya?" Tanya Erick tiba tiba saja


Araga menggeleng samar dengan senyum keputusasaan


"Aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk menyusulnya kesana" Sahutnya setelah beberapa saat


Erick tersenyum penuh arti, membuat Araga merasa diledek. Tapi beberapa detik kemudian, ia tersenyum saat jari telunjuk Erick mengarah pada tas mungil Syan yang masih berada di bed pasien tempat Syan berbaring tadi


"Kita kesana"


Sahut Araga dengan semangat yang berkobar didadanya setelah ia mengambil tas Syan. Berlalu begitu saja dengan cepat, membuat Erick juga harus bergerak cepat untuk mengimbangi langkah sang bos


Dua orang itu menjadi perhatian para mahasiswi yang masih berada diluar kelas, bahkan ada beberapa dari mereka yang mencoba mengambil foto Araga, pemilik yayasan kampus mereka


Tentu saja Erick yang kewalahan untuk menghentikan mereka, Araga sangat tidak suka potret dirinya diambil sembarangan tanpa seizinnya


**


"Daren, turunkan aku. Aku malu, asal kau tau!"


Daren tidak perduli meski Syan memberontak dalam gendongannya. Karena hanya satu misinya saat ini, yaitu membawa Syan untuk pulang meski gadis itu menolaknya dengan keras


"Kenapa tidak sekalian saja kau bawa aku ke gedung atas dan jatuhkan aku dari sana!"


Daren menghentikan langkahnya saat sudah berada diparkiran. Membuat Syan heran sekaligus takut jika Daren akan melakukan apa yang dikatakannya barusan


Daren kan gila


Tapi saat mendapati Daren yang hanya diam tidak bergeming membuat Syan perlahan menaikan pandangannya. Matanya langsung bertemu dengan iris hitam tajam milik Daren yang kali ini menatapnya dengan teduh


"Dengarkan aku kali ini saja. Aku sedang mengkhawatirkanmu, tolong jangan buat aku marah, Syan" Sahutnya dengan nada rendah yang menimbulkan gelenyar aneh pada dada Syan. Membuat perasaannya menghangat, sampai kemudian ia hanya mampu mengangguk


Keduanya sudah berada didalam mobil, suasana hening yang sangat dibenci oleh Syan. Maka ia memutuskan untuk membuka suara meski kemungkinan akan membuat Daren marah


Mobil sudah keluar dari gedung kampus mereka


"Kau benar benar tidak sopan Daren, bahkan aku belum mengatakan terimakaih pada ....,"


"Pada siapa?" Daren memotong ucapan Syan dengan cepat, tangannya tetap fokus pada gagang stir, hanya matanya yang sesekali menatap gadis di sampingnya


"Araga!"


"Siapa dia?"


"Orang yang tadi menolongku!"


"Menolong? Hanya berdua di ruang kesehatan, kau pikir apa yang orang lain pikirian tentang kalian"


"Aku tidak perduli dengan pendapat mereka!"


Daren tiba tiba saja menghentikan laju mobilnya, menatap tajam Syan yang berada disampingnya. Ia memiringkan badannya agar dapat berhadapan dengan gadis itu


"Katakan dimana saja dia menyentuhmu?"


Syan mengernyit, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Daren barusan


"Apa yang kau katakan?"


"Di mana saja dia menyentuhmu?" Daren membentak. Syan yang sedari tadi sudah berkaca kaca kini menititkan air mata


"Kau keterlaluan Daren, memangnya kau siapa berhak mencampuri urusan hidupku?" Syan mengusap air yang membanjiri pipi mulusnya


"Kau bahkan sudah berfikiran yang tidak tidak tentangku, memangnya aku semurahan itu sampai kau, saudaraku sendiri berfikiran kontor tentangku!"


Daren menghela nafas, kemudian memukul gagang stir dengan gusar. Ia pun bertanya tanya dengan apa yang dilakukannya. Dia adalah seorang adik laki laki yang hanya ingin melindungi kakak perempuannya. Tapi bukan hanya itu, karena sesungguhnya, ada bagian dihatinya yang menolak saat mengetahui Syan berada dengan pria lain, dan hanya berdua


Ia merasa sakit, dan marah disaat bersamaan. Dan ia pun tak tau apa emosi yang sebenarnya dirasakannya


Begitu sampai di mansion, Syan segera turun dari mobil begitu, saja. Berjalan dengan terpincang pincang, membuat Daren buru buru menghampirinya dan mencoba menggendong gadis itu, namun Syan berontak, meski akhirnya ia kalah dan Daren kembali menggendongnya sampai masuk ke dalam mansion dan membuat Carra terkejut


"Ada apa ini, kau kenapa sayang?" Carra segera menghampiri putrinya saat Daren sudah menghempaskan gadis itu ke sofa panjang di ruang utama mansion


Daren hanya berdiri dengan tangan yang teelipat di dada, menatap Syan dengan tatapan tak terbaca


"Syan, ada apa. Apa di kampus kalian bertengkar?"


Syan menggeleng, sementara Daren hanya diam seribu bahasa


"Tidak Mom, aku hanya terjatuh dan kakiku terkilir, sungguh. Ini tidak parah. Darendra saja yang berlebihan"


Carra menghela nafas


"Coba Momy liat"


Syan menjulurkan kakinya ke arah Carra, Carra melihatnya


"Pak Abas.."


Syan berdecak saat sang Momy memanggil Pak Abas, ia tau apa yang akan dikatakan sang Momy setelah ini


Pak Abas datang, berdiri dengan patuh di hadapan Carra


"Panggil Dokter Arin"


Tebakan yang tepat. Syan hanya memutar bolamatanya dengan jengah saat Pak Abas mengangguk dan berlalu ke arah meja telpon setelah sebelumnya sempat melihat pergelangan kaki Syan yang berada di pangkuan Carra


"Momy, aku tidak apa apa"


"Araga sudah memijat kakiku, dan ini sudah jauh lebih baik. Tidak perlu memanggil Dokter Arin, aku tidak ingin merepotkannya"


Carra menatap putrinya itu dengan heran, heran pada kata pertama yang diucapkan Syan barusan


"Araga?" Tanya Carra dengan dahi berkerut, membuat Syan gelagapan karena sudah lancang menyebutkan nama pria dihadapan sang Momy


"Ahh, dia. Dia ...,"


"Kenapa kau gugup? Memang dia siapa?" Darendra langsung bersuara


"Dia bukan siapa siapa Mom. Dia hanya orang yang tadi menolongku, juga ....,"


"Orang yang tak sengaja aku temui di mall kemarin!" Sambung Syan dengan hembusan nafas pasrah mengatakan semuanya pada Carra


"Jadi kalian sudah saling mengenal?" Darendra terlihat tidak suka


Syan mengangguk. Suasana mendadak hening sampai Dinara yang memecah keheningan disana


"Kak Syan. Ada apa?" Dinara yang baru saja muncul dari lantai atas seketika berhambur pada Syan


"Ada apa ini, apa Kak Syan tiba tiba saja lumpuh?"


"Jangan gila kau!" Syan langsung mencubit lengan gadis itu, Dinara hanya mengerucutkan bibirnya, kemudian duduk disofa yang lain sambil memperhatikan kaki Syan yang masih berada di pangkuan Carra


"Kami tidak ada hubungan apa apa Mom, sungguh" Syan meyakinkan Carra


Carra mengangguk mengerti, membuat Syan bernafas melihatnya


"Dan jangan panggil Dokter Arin"


"Kita akan tetap memanggil Dokter Arin jika tidak ingin membuat Dady kau marah"


Syan hanya menghela nafas, ia tau jika berurusan dengan Juan, maka semuanya akan lebih merumitkan. Jadi lebih baik ia mengalah saja


Darendra yang sudah tidak tahan berada disana akhirnya memilih untuk keluar dar mansion, tak memperdulikam tiga wanita yang menatap heran padanya


Daren merasa kesal, dan yang lebih membuatnya kesal lagi, dia tidak tau dirinya kesal karena apa. Atau karena siapa


Sampai kemudian langkahnya melambat saat ia berpapasan dengan dua orang laki laki diteras mansion


Salah satu dari laki laki itu adalah orang yang ditemuinya berada berdua dengan Syan di ruang kesehatan kampus


Dan perasaan Daren semakin kesal saat melihatnya


TBC


Wkwk dah geregetan belum?😂