
*
*
Juan cepat meletakan ponsel Carra saat yang punya keluar dari ruang ganti. Ia juga segera bergegas ke kamar mandi sebelum Carra curiga padanya
Padahal Carra sudah melihatnya, tapi ia juga tidak ingin terlalu perduli. Toh tidak ada yang dirahasiakannya pada sang suami
Carra menyisir rambutnya dan segera menyiapkan baju kantor untuk Juan. Tapi, ahh Carra tidak tau suaminya itu akan pergi ke kantor atau tidak
Yasudahlah. Carra cepat mengambil kemeja putih dan stelan jas hitam dengan dasi berwarna hijau neon
"Momy" Terdengar ketukan dipintu kamar. Carra segera membukanya, Syan sudah berdiri di depan pintu dengan rambut yang acak acakan
"Hey, kenapa ini?" Tanya Carra begitu melihat Syan. Tak lama Rose muncul dengan sisir dan ikat rambut ditangannya
"Maaf nona, nona kecil tidak ingin disisir oleh saya" Sahutnya dengan nafas yang memburu. Mungkin mengejar Syan yang berlari naik tangga menuju kamar Juan dan Carra, yang berada di lantai atas
Carra mengerti
"Yasudah. Tidak apa apa"
"Syan, apa kamu ingin Momy yang merapihkan rambutmu?" Tanya Carra yang langsung dijawab anggukan oleh Syan
"Baik, masuklah!" Suruhnya. Syan langsung masuk, Carra juga menyusul setelah mengambil sisir dan ikat rambut ditangan Rose
*
Carra menghampiri Syan yang sudah duduk di tepi ranjang. Juan sudah keluar dari kamar mandi dan kembali masuk ke ruang ganti
"Memang kenapa kau tidak ingin di sisir oleh Rose, Syan?" Tanya Carra sambil menyisir rambut Syan
"Tidak apa apa" Sahutnya polos dan anteng saat Carra mulai mengikat rambutnya
"Kau sudah sarapan?" Tanya Carra lagi
"Sudah"
"Dady dengan Mom mengapa tidak ikut sarapan?" Tanya Syan kemudian bersamaan dengan Juan yang keluar dari ruang ganti
"Mengapa pagi pagi begini ada di kamar Dad Syan?" Tanya acuh Juan sambil merapihkan kerah kemejanya
Begitulah Juan, ia memang jarang sekali memperbolehkan Syan untuk masuk ke kamarnya. Terlebih saat dia sudah menikah dengan Carra, ia selalu mempunyai aturan yang tidak bisa untuk di langgar
"Aku akan segera ke kamarku Dad" Sahut Syan tak kalah acuh. Ia hafal betul bagaimana sikap Dadynya itu, bukan sesuatu yang mengejutkan bagi Syan
Setelah Syan keluar, Carra turun dari tempat tidur. Mengambil jas dan memakaikannya pada Juan. Memang selalu seperti itu, bagaimanapun Carra selalu melakukan tanggung jawab dan tugasnya sebagai seorang istri, hanya satu yang belum ia lakukan. Yah, memberikan kepuasaan batin kepada suaminya. Carra belum bisa melakukannya utuk yang itu
Dan Juan yang memang juga sudah terbiasa dengan perlakuan Carra. Ia hanya membiarkan saja istrinya itu melakukan tugasnya, dan Juan nantinya hanya sepuas hati memandangi wajah cantik Carra yang terlihat telaten saat memakaikannya dasi
"Carra"
Cup
Satu kecupan dari Carra mendarat di bibir Juan. Hanya kecupan singkat, sepertinya Carra melakukannya sebagai tanda permintaan maaf pada Juan karena ia belum bisa menjadi istri yang baik, meskipun sebenarnya hati Carra ngilu saat mengingat bagaimana jahatnya ucapan Juan padanya
Juan yang nampak terpaku. Ini kali pertama Carra menciumnya duluan, tentu saja hal itu terlihat menakjubkan di mata Juan.
"Kiss morning" Sahut Carra, seolah membaca ekspresi heran dari Juan
"Aku tunggu di meja makan. Kau harus sarapan" Sambung Carra sambil mengusap bahu Juan. Seolah mengatakn jika laki laki itu sudah rapih
Kemudian Carra melangkah menuju pintu keluar dan keluar dari kamar. Meninggalkan Juan yang tengah tersenyum tipis kearahnya
Sambil berjalan menuruni tangga, Carra mengutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia mencium Juan duluan dan membuat suasana menjadi terasa canggung baginya
Bagaimana jika Juan berfikiran macam macam dan memperkuat keyakinannya jika Carra adalah wanita gampangan
Bagaimana jika setelah ini Juan marah padanya karena Carra menciumnya. Padahal sudah beberapa hari ini Juan tidak memberikan kiss morning padanya
Ahh tiba-tiba saja Carra merasa tubuhnya lemas sekarang
Mengapa bisa ia refleks mencium Juan?
Apakah Carra sudah memiliki rasa padnya?