
*
"Sepertinya kau baru saja mendapatkan proyek besar" Ungkap Alex ketika melihat wajah Juan yang nampak berbinar binar, tidak seperti biasanya yang nampak dingin dan berwibawa
Sekarang, keduanya berada di ruangan Juan. Alex baru saja menyerahkan data data yang Juan minta darinya tentang kemajuan perusahaan fashion selama satu bulan kemarin
Sedangkan Robert hanya berdiri di belakang Juan dan seolah menutup mata dan telinganya
"Memangnya kenapa?" Juan bertanya dengan cuek sambil membaca data data yang tadi di serahkan oleh Alex
"Senyum yang kau tebar di sepang gedung RCG"
"Apa salahnya aku bersikap ramah pada para pegawaiku?" Ketusnya yang mendapat gelengan kepala dari Alex
Pemuda itu cukup merasa heran dengan sikap tidak biasa yang terlihat dari saudara sepupunya yang angkuh ini
"Kau seperti, mm. Bukan begitu!"
"Katakan, apa yang membuatmu sesenang ini!" Paksanya
"Tentu saja istriku!" Juan menyahut dengan senyum yang merekah, mengingat bagaimana sensasi indah yang semalam bergulir di antara dirinya dengan Carra. Ahh, sungguh rasanya moment itu tidak akan pernah bisa Juan lupakan
Alex mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud pembicaraan Juan yang seperti teka teki baginya
"Memangnya apa yang kakak ipar berikan padamu!" Tanyanya lagi. Juan menatapnya dengan tidak suka atas pertanyaan yang di ajukan oleh Alex barusan
"Kau ini banyak bertanya sekali. Kalau kau mau tau jawabannya, maka menikahlah dengan gadis yang kau cintai!" Sungut Juan dengan sarkas
"Oww, cinta rupanya!" Gumam Alex, ia nampak mempertimbangkan apa yang dikatakan Juan barusan
"Keluarlah dari ruanganku!" Sambung Juan kemudian, yang langsung mendapat decakan keberatan dari Alex. Pemuda itu seketika menggerutu
"Keluarlah! Kau selalu saja mengganggu. Tidak ada kerjaan!" Makinya, lalu dengan cuek membuka laptop dan mengotak atiknya dengan lihai. Tak memperdulikan Alex yang masih menggerutu di tempatnya
"Mari Tuan Alex" Robert mengusirnya secara halus sambil berjalan menuju pintu keluar, mau tidak mau akhirnya Alex menurut
*
Alex berjalan ke ruangannya, kebetulan ruangannya dengan Abram bersebelahan sehingga sebelum masuk ke ruangannya, Alex bertemu dengan Abram terlebih dahulu
"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Abram yang yang baru saja keluar dari ruangannya, tangannya masih memegang handle pintu
"Aku tidak mengerti dengan Juan"
"Kau tau kan, dia bukanlah orang yang senang mengumbar senyuman. Hay man, senyuman seorang Juan Zhucarlos itu mahal. Tapi tadi pagi, ia menebarnya begitu saja dengan cuma cuma" Cerocos panjang lebar Alex
"Lantas?" Tanya Abram yang sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Alex barusan
"Kau fikir dia tidak aneh?" Tanyanya dengan penuh selidik dan terlihat seperti kebingungan
Abram terdiam, mungkin memang aneh. Tapi bagi Abram yang tinggal satu atap dengan Juan, hal itu adalah sesuatu yang biasa. Karena setau Abram, setelah Juan menikah aura yang keluar dari laki laki itu memanglah berbeda
"Dan kau tau apa alasannya itu?"
"Tidak"
"Dia bilang istrinya, memang apa yang istrinya itu berikan" Racaunya dengan frustasi
Bahkan Abram merasa cukup heran dengan Alex, mengapa pemuda itu begitu pusing memikirkan hal tidak penting?
Lalu Abram mengingat sesuatu dan tiba tiba saja merasa tidak enak atas apa yang baru saja dikatakan oleh Alex
Alex yang sadar atas kebingungan Abram lantas cepat menggelengkan kepalanya. Ia melupakan satu hal, barangkali Abram tersinggung dengan apa yang tadi di katakannya
"Soryy, aku tidak bermaksud_,"
"Tidak apa apa. Yasudah, lebih baik teruskan saja berkerja. Jangan memikirkan hal yang tidak penting" Tuturnya lalu berjalan meninggalkan Alex.
Alex menahan tangannya di udara, mau menghentikan langkah Abram. tapi tertahan. Justru ia malah merasa bersalah karena membahas masalah ini pada Abram
"Ck, sial!" Rutuknya sambil berjalan ke arah ruangannya
Ia pusing karena malah memikirkan alasan kebahagiaan Juan, dan juga malah salah berbicara pada Abram
Kedua saudara sepupunya itu memanglah memusingkan!
*
Abram melanjutkan langkahnya untuk ke area parkir perusahaan. Ia memang berniat untuk pergi ke luar karena merasa tidak cukup nyaman berada di tempat ini sekarang
Jadilah dia ada alasan untuk keluar dari ruangannya dan pergi menjernihkan isi kepalanya, ia terlalu suntuk
*
Carra baru saja turun dari lantai atas kamarnya setelah menghabiskan makanannya yang tidak bisa di sebut sebagai sarapan, yang diantarkan oleh pelayannya itu ke kamar beberapa waktu yang lalu
Suasana mansion nampak sepi, Syan juga sepertinya sedang berada di luar mansion. Sejujurnya, Carra selalu merasa kesepian berada di mansion setiap hari, ia ingin pergi keluar. Tapi Juan selalu melarangnya dengan alasan alasan yang memang masuk akal menurut Carra
"Sepertinya aku butuh teman mengobrol" Gumamnya, lalu menentang ponsel dan mendial nomor seseorang, lalu menelpon
Sesaat panggilan tersambung, Carra seketika saja menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara orang diujung sana hampir hampir membuat gendang telinganya pecah. Menyesal Carra menelponnya, meskipun tidak bisa di pungkiri, jika ia senang ada teman mengobrol
"Ya, aku baik baik saja. Kau tidak perlu khawatir!" Ucap Carra. Lalu kembali naik ke undakan tangga dan masuk ke kamarnya
"Kenapa kau baru menelponku saudara sepupu sombong" Cibirnya di ujung telpon, Carra hanya tersenyum, menanggapi celotehan Jasmine yang super cerewet itu
"Aku tidak ingin mengganggu manager mall yang super sibuk" Carra mencibir. Mengingat Jasmine yang memang menjadi manager di salah satu pusat perbelanjaan terbesar milik keluarganya di kota itu
"Dasar kau!"
"Bagaimana kabar suamimu?"
"Keterlaluan. Kau malah menanyakan kabar suamiku!" Gerutu Carra yang tiba tiba saja merasa wajahnya memanas begitu mengingat Juan, dan bagaimana percintaan mereka semalam
Sedangkan orang diujung sana yang mendapat gerutuan hanya tertawa saja
"Untuk apa aku menanyakan kabarmu, kurasa kau baik baik saja nona Carramella"
"Aku yakin itu karena suamimu sangat mencintai dirimu. Apa aku benar?" Ungkap panjang lebarnya
Carra diam, berfikir sebentar tentang apa yang diungkapkan Jasmine barusan. Saudara sepupunya itu memang benar, Juan begitu mencintai dirinya. Dan dia adalah pasangan terbaik bagi Carra
"Kau benar" Aku Carra setelahnya
"Kau benar benar beruntung Carra" Pujinya, terdengar nada bicaranya begitu tulus
"Lalu bagaimana. Apa kau juga akan segera menikah nona Flaw?" Goda Carra
"Tentu saja iya. Tapi tidak dalam waktu dekat, aku masih ingin berkarir. Aku harus menjadi apa yang aku inginkan dulu. Semua cita citaku harus tercapai sebelum aku mengabdi pada suamiku nanti" Panjang lebarnya. Jasmine memanglah tipe wanita yang ambisius. Karir, cita cita dan mimpinya adalah hal yang terpenting dalam hidupnya
Baginya, wanita juga memiliki hak yang sama dengan para lelaki untuk mewujudkan mimpinya atau untuk berada di posisi yang sama dengan lelaki itu sendiri
Jasmine selalu menggebu gebu jika membahas
tentang mimpi mimpinya. Bahkan Carra juga sering termotivasi olehnya
"Yah, baiklah. Semoga jodohmu mau dengan kau yang penuh ambisi itu" Tukas Carra sambil memijit pelan pelipisnya
"*Sembarangan kau!"
"Tentu saja aku harus berhati hati memilih pasangan, dia harus menerima ku apa adanya!"
*"Termasuk menerima kau yang senang menghabiskan uang untuk berbelanja itu?" Sindir Carra begitu mengingat kebiasaan saudara sepupunya yang memang senang berburu barang barang mahal
"Tentu saja. Aku juga harus mendapat pasangan yang juga kaya raya, dia tidak boleh melarangku untuk bersenang senang!" Tuturnya yang Carra yakini, jika keduanya sedang mengobrol dengan berhadap hadapan. Maka sekarang ia akan melihat Jasmine yang asik bercerita sambil mondar mandir tidak karuan di hadapannya
Sebut saja Jasmine adalah tipe wanita yang materialistis, memang begitu kenyataannya. Dia terlahir dari keluarga yang serba ada, sehingga wajar jika dia terbiasa hidup mewah, bergelimang harta, dan serba berkecukupan
Tapi dia tidak munafik pada laki laki yang mendekatinya, dia akan bilang jika dirinya adalah tipe wanita yang suka berfoya foya. Terserah mereka sanggup atau tidak menghadapi dan memenuhi kebutuhannya, dan beberapa kandidat yang akan ia kenalkan pada kedua orang tuanya lebih memilih untuk mundur
Dia sudah menyusun rencana untuk membuang kebiasaan buruknya itu, tapi selalu gagal. Sesuatu yang sudah terbiasa dilakukan itu memang sulit untuk di tinggalkan
"Yah baiklah. Semoga harapanmu itu menjadi kenyataan yah saudara sepupu!"
"Lupakan!"
"Lebih baik ceritakan bagaimana kehidupan rumah tanggamu dengan Juan. Kalian pasti berbahagia" Jasmine mengucapkannya dengan menggebu gebu
Dan mulai lah Carra bercerita pada Jasmine. Selama ini Carra memang selalu terbuka pada saudara sepupunya itu
Carra bercerita bagaimana kehidupan rumah tangga dirinya dengan Juan bahkan tentang Juan yang memiliki seorang anak angkat. Awalnya Jasmine merasa terkejut, tapi begitu Carra menceritakan detailnya, ia nampak beranggapan wajar
Hanya satu yang tidak Carra ceritakan pada Jasmine, yaitu tentang pertengkaran antara dirinya dengan Juan karena Carra yang menolak untuk ditiduri, juga Juan yang berfikir bahwa Carra sudah pernah melakukannya dengan Abram
Carra fikir, itu adalah aib dari rumah tangga. Tidak perlu di ceritakan pada orang lain, biarkan Carra saja dengan Juan yang saling menutupi kesalahan masing masing
Karena sekarang, keadannya sudah menjadi lebih baik. Dan Carra tidak ingin membuka luka lama biarkan saja terus mengalir dengan semestinya