
"Mah, aku akan berangkat hari ini. Dan tinggal dirumah Aunty Carra. Oke"
"Dinara, dengar. Mama dan Papa juga akan berangkat besok, kenapa tidak berangkat bersama saja" Della masih berusaha membujuk putrinya yang bersikeras untuk berangkat duluan ke new york
"Mama, aku sudah memesan tiket. Dan aku sudah besar, aku bisa menjaga diri Ma. Aku akan meminta Daren menjemputku nanti" Ocehnya yang tetap kekeuh dengan pendiriannya
Della hanya memijit pelipisnya
"Pah, kau mendukungku kan?" Gadis itu beralih pada Abram yang tengah membaca koran didepan tv
"Papah akan berbicara dengan Daren nanti"
"Kau setuju Pah?" Gadis itu berdecak bahagia
"Hmm"
"Terimakasih Pah, aku akan segera menghubungi Daren" Sahutnya yang kemudian, dengan secepat kilat berlalu ke kamarnya dengan pandangan meledek pada sang Mama
Della melangkah mengaahampiri suaminya
"Kau selalu saja menuruti apa keingannya, aku tidak mengerti" Gerutunya begitu ia duduk disamping sang suami
Abram meletakan koran yang sedang dibacanya ke atas meja, kemudian menggandeng sang istri yang tengah merajuk padanya
"Adella, dengar! Dia sama sepertimu sayang, dia keras kepala dan aku tidak bisa untuk tidak menurutinya" Sahutnya sambil mencium kening sang istri, membuat Della menghangat seketika, tapi kemudian ia merajuk kembali saat mengingat perkataan Abram
"Hey Abram. Aku tidak keras kepala"
"Ya baiklah. Kau tidak keras kepala sayang"
19 tahun sudah Abram dengan keluarga kecilmya menetap di LA, menjalani kehidupan dengan bahagia, dengan penuh cinta dan suka cita. Pada akhirnya, Abram benar benar mencintai Della, dan tidak bisa meninggalkannya, perasaan untuk Carra sudah menjadi masa lalu, yang berdamai dengan dirinya
3 Tahun yang lalu, kakek Abram meninggal dunia. Sehingga Abram dengan Della memutuskan untuk kembali ke new york namun putri tunggal mereka menolak dengan alasan tidak ingin meninggalkan LA
Tapi belakangan ini, gadis itu sangat keras kepala ingin pindah ke new york, ke rumah kakek neneknya disana
**
"Kau baru saja putus?" Tanya Syan saat Daren dengan begitu saja masuk ke mobilnya
Daren mengangguk sambil memainkan vidio game diponselnya
Syan menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya. Sejenak menoleh pada Daren disampingnya
"Kenapa? Dia cantik, anak orang penting. Kurang apa memangnya?"
"Dia kurang bisa memuaskanku Syan!"
Syan mendengus, menggeleng, dan memilih untuk tidak perduli
"Kau memang tidak pernah serius!" Desisnya
"Aku serius, kurang apa memangnya?"
"Yah, dan ....,"
"Sudahlah Syan, jangan mencampuri urusan perasaan ku. Kau tidak akan mengerti"
"Kaub juga tidak perlu perduli denganku!"
Syan tertawa hambar mendengar ocehan Daren yang dirasanya keterlaluan
"Aku tidak perduli Daren, sangat tidak perduli. Aku hanya malu, adikku menjadi playboy campus yang...., Murahan!"
Daren menatap gadis yang tengah menyetir disampingnya, ia tersenyum miring
"Menyebalkan!"
"Kau jauh lebih menyebalkan Daren"
"Tapi aku tampan!"
"Dan murahan!"
"Berhenti menyebut diriku murahan Syan"
"Itu kenyataannya adik manis!"
"Aku tidak suka dengan panggilan itu"
**
Setelah perdebatan didalam mobil sepulang dari kampus, Daren nampak kesal pada Syan. Ia turun dengan membanting pintu mobil
"Hey. Ini mobil kesayanganku Darendra!" Teriaknya yang tidak digubris sama sekali oleh Daren. Pemuda itu dengan begitu saja bergegas masuk kedalam mansion, bahkan mengabaikan sapaan dari dua pelayan yang menyapanya dipintu masuk
Jika biasanya Daren akan membalas sapaan mereka dengan senyum yang penuh godaan, kali ini ia bersikap dingin dengan tampang tidak bersahabat
"Dasar, begitu saja merajuk!"
Syan turun dari mobilnya, berjalan kedalam mansion dengan langkah santai, tangannya mengotak atik ponsel untuk menghubungi kawan kawannya, ia butuh hiburan
**
Daren membanting tubuhnya dengan begitu saja keatas tempat tidur, nafasnya memburu. Entahlah apa yang membuatnya begitu, hanya saja ia merasa ada emosi tidak jelas dalam tubuhnya jika Syan nenyebut dirinya adik
"Shit!"
Daren menggapai ponselnya saat benda pipih itu berdering lama, menandakan jika ada telepon masuk. Dahinya berkerut saat melihat nama seseorang dilayar ponsel
Daren menggeser ikon hijau, menempelkan benda pipih itu di ditelinganya
"Hmmm"
Daren menjauhkan ponselnya saat mendengar orang diujung sanaa yang berteriak memanggil namanya dengan keras
"Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu"
"Jemput aku di bandara!"
"What?"
"JEMPUT AKU DI BANDARA!" Dinara menyahut dengan penuh penekanan
"Untuk apa?" Daren masih keheran heranan
"Aku akan ke new york Daren!"
"Untuk apa?"
"Hey! Berhentilah bertanya dan cepat jemput aku!"
"Aku sedang tidak enak badan!"
"Kalau begitu, suruh kak Syan saja yang menjemputku!"
Daren berdecak, saudaranya yang satu ini memang sangatlah menyebalkan
"Kenapa tidak kau saja yang menghubungi Syan"
"Hey, ada apa tampan? Kalian bertengkar, lagi?"
Daren berdecak kesal
"Kenapa kau begitu merepotkan?"
"Jadi, kau atau Kak Syan yang menjemputku?" Gadis itu tidak memperdulikan ocehan Daren yang memakinya
"Tunggu disana, dan aku akan menjemputmu!"
"Baiklah, terimakasih Daren. Aku menyayangimu!"
Dinara memutus sambungan panggilan begitu saja
"I dont care!"
Daren beringsut dari tempat tidurnya, mengambil kunci mobil diatas nakas dan keluar dari kamarnya
Ia berjalan dengan santai seperti biasanya, suasana hatinya sudah menjadi lebih baik, tapi ketika menuruni tangga, Syan berada di belakangnya juga nampak akan ke lantai dasar
Daren yang merasakan kehadiran seseorang lantas menghentikan langkahnya, membuat Syan mengernyit dan kemudian tetap melanjutkan langkah, melewati pemuda itu
"Kau mau kemana?"
Tanya Daren saat melihat Syan sudah berganti pakaian dengan rapih. Ia melangkah mengikuti sang Kakak
"Hunting!"
"Kemana?"
Syan menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap pemuda tampan itu
"Ada apa. Kau sudah tidak marah lagi padaku D-A-R-E-N-D-R-A?"
Daren berdecak sambil memutar bolamatanya dengan jengah, ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Syan
"Kau ingat ingat lagi Syan, berapa lama durasi marahku padamu!"
Syan tersenyum miring
"Tidak sampai lima menit. Benar?"
Daren mengangguk pasrah. kemudian melangkah melewati Syan dengan begitu saja. Selama ini, jika keduanya berdebat, dan Daren yang tersulut emosi, ia tidak akan pernah lama marah kepada Syan. Entahlah, kenapa
"Kau mau kemana Daren?" Tanya Carra yang muncul dari ruang kerja Juan
"Ahhh. Mom, aku akan nenjemput Dinara, dia memaksa untuk aku jemput" Sahutnya sambil menggandeng Carra menuju pintu keluar
"Kenapa dia tidak menghubungi Momy?"
"Mungkin dia ingin memberikan suprise pada Momy"
"Kau sudah membocorkannya Daren, rencana Dinara sudah hancur!" Syan yang berjalan dibelakang mereka menyahut
"Ohh, Mom. Kau pura pura tidak tau saja, baik. Aku berangkat" Sahut Daren dengan buru buru setelah mencium pipi Carra, ia juga sempat mengedipkan sebelah matanya pada Syan
Carra hanya menggeleng, melihat kelakuan putranya. Sikapnya jauh sekali dari Juan yang dingin dan misterius
Darendra itu jenaka, kelakuannya hampir sama dengan Alex, tetapi tampannya tidak beda jauh dengan Juan, bahkan lebih. Dan beda lagi jika terkadang ia sedang serius, maka ia sama seperti Juan, ataupun Abram
"Hey, kau mau kemana Syan?" Tanya Carra sambil menelisik penampilan putrinya yang sudah rapih
"Aku ada urusan dengan teman temanku di luar Mom, ya. Dadah" Gadis itu bergegas ke mobilnya setelah sebelumnya juga melakukan apa yang dilakukan Daren tadi, mencium pipi Carra
"Hey ....,"
Carra menggantung ucapannya saat Syan sudah menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya, keluar dari gerbang utama mansion
"Dulu mereka tidak pernah mau jauh dariku, sekarang setelah dewasa ....,?"
Carra hanya mengangkat kedua bahunya, dan kemudian masuk ke dalam mansion saat kedua putra putrinya benar benar pergi
TBC