My Best Match

My Best Match
Manja



Sepertinya Della memang harus mulai terbiasa. Bukan terbiasa karena ia yang harus berada di samping Abram setiap saat, tetapi terbiasa untuk selalu di abaikan oleh laki laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu


Bahkan Abram jauh lebih memilih untuk tidur di sofa daripada harus berbagi ranjang dengan Della. Terutama setelah ia mendengar berita kehamilan Carra, ia jauh lebih semakin dingin. Bahkan saat dimeja makan tadi ia diam seribu bahasa tanpa mengatakan sepatah katapun setelahnya


Tapi apalah daya, Della tiba bisa berbuat apa apa


"Abram" Panggilnya


Abram yang sudah tidur pulas hanya menggumam


"Abram" Panggil Della lagi. Ia melihat jam dalal ponselnya dan ternyata sudah hampir pukul dua pagi


"Abram" Panggilnya lagi sambil melempar bantal ke arah Abram


"Adella aku sedang tudur" Sahut Abram dengan suaranya yang serak khas orang bangun tidur


Adella beranjak dan menghampiri Abram disofa


"Aku ingin minum" Sahutnya


Abram membuka matanya, menatap Della dalam gelap


"Hmm lalu? Kau hanya perlu pergi ke dapur, tidak harus berteriak kepadaku" Maki Abram kemudian melanjutkan tidurnya


"Aku ingin ditemani Abram, aku tidak berani" Rengek Della sambil mengguncang lengan Abram


"Tidak ada hantu di mansion ini Della"


"Kau akan baik baik saja!" Sahut Abram dengan suara yang tidak jelas


"Dasar, suami tidak pengertian!" Maki Della dengan suaranya yang pelan. Kemudian beranjak dengan langkah berat menuju tempat tidur, lebih baik ia tidur meski merasa haus


Diam diam Abram membuka matanya dan mendesah saat melihat Della yang justru kembali ke tempat tidur, membuat Abram beranjak dari posisinya dan keluar dari kamar


"Apa apaan, tadi aku memintanya untuk mengantarku keluar mengambil minum dia tidak mau. Sekarang pergi keluar tanpa mau mengajakku!"


"Menyebalkan!"


Cklekkk


Buru buru Della memejamkan matanya saat ia mendengar pintu kamar yang terbuka


"Ini"


"Jangan menggangguku, aku ingin tidur!" Sahut Della


Abram mendesah, kemudian duduk di tepi tempat tidur dan meletakan gelas yang dibawanya ke meja disamping tempat tidur


"Kau bilang tadi ingin minum"


"Aku sudah mengambilnya dari dapur" Sambungnya, lalu beranjak dan tidur di sofa tempatnya tadi


"Ehh"


Della duduk dan menggapai gelas berisi air putih yang sudah diambilkan oleh suaminya


Della sempat tersenyum dengan wajah merona sebelum ia menandaskan air di gelas itu


-


"Sayang, hari ini aku pulang sedikit telat" Sahut Juan sambil merapihkan dasinya


Carra yang sedang berbaring disofa sambil membaca majalah fashion lantas mendongak pada suaminya


"Ada apa memangnya?" Tanyanya, lalu duduk dan menatap Juan yang mulai berjalan ke arahnya


"Ada pertemuan dengan kolega dari Prancis nanti malam" Sahutnya yang berdiri dihadapan Carra


Mengelus rambut sang istri, Carra mendongak dengan wajah murung. Entah mengapa setelah tau jika dirinya hamil, ia tiba tiba saja ingin selalu bersikap manja pada suaminya


Entahlah ini bawaan janin dalam perutnya atau memang keinginannya sendiri yang ingin bermanja manja pada Juan


Seperti tadi malam saat meminta Juan untuk tidur disampingnya dan memindahkan Syan ke pinggir dengan bantal sebagai penghalang agar anak mereka itu tidak jatuh


Dan hari ini ia juga enggan melepas Juan untuk pergi ke kantor


"Kau kenapa?" Tanyanya lalu duduk disamping Carra


"Kau tidak bisa jika hari ini tidak ke kantor?" Tanya Carra dengan penuh harap


Juan mengernyitkan dahi, sedikit heran dengan sikap sang istri yang mendadak berbeda ini


"Ada apa?" Tanya Juan sambil mendekatkan wajahnya pada Carra yang tengah menekuk wajahnya


"Istriku, kau kenapa sayang?" Tanya Juan sekali lagi


Carra menatap Juan, menaruh tangannya di dada suaminya itu. Membuat Juan mengikuti tangan Carra dan tatapannya berpusat pada dadanya


"Ada apa. Kau menggodaku?" Tanya Juan dengan tatapan mata yang memicing pada Carra


Juan tersenyum miring


"Akan aku kabulkan" Sahut Juan yang langsung menyerang leher Carra, sedangkan Carra perlahan membuka jas yang sudah di pakai suaminya itu


"Kau yakin Carra?" Tanya Juan


Carra mengangguk. Lagi, Juan tersenyum. Baru ia akan mendekat pada bibir Carra, tiba tiba saja wanita itu mendorong nya dan bergegas ke kamar mandi sambil menutup mulut dengan telapak tangannya


Dengan raut wajah khawatir, Juan menyusul Carra ke kamar mandi


-


Carra mencuci mulutnya setelah mengeluarkan semua isi perutnya, dan sekarang tubuhnya begitu lemas


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Juan dengan khawatir sambil menahan pinggang Carra yang mulai lunglai


"Kau tidak apa apa?" Tanyanya lagi


Carra hanya menggeleng


"Biar aku panggilkan dokter" Sahutnya, lalu menggendong Carra ala bride menuju kamar dan membaringkannya di tempat tidur


Baru Juan akan beranjak Carra menahan tangannya, dengan kepala yang menggeleng. Mengisyaratkan agar Juan tidak pergi meninggalkannya meski hanya selangkah saja


Juan mengangguk, lalu menggapai ponselnya dan menelpon seseorang


"Cepat kemari!"


-


Orang seisi mansion nampak panik saat Dokter Arin, Dokter pribadi keluarga Zucarlos itu datang pagi pagi ke mansion dan langsung saja berjalan menuju lantai dua kamar Juan


Tentu saja ia buru buru, bahkan orang yang tadi menelponnya hanya mengucapkan dua patah kata saja yang pada intinya menyuruhnya untuk datang dengan cepat


"Ada apa Tante?" Tanya Della yang baru saja keluar dari kamar bersama dengan Abram


"Tidak tau Adella, sepertinya Dokter Arin dipanggil oleh Juan" Tutur Sonya yang tak kalah khawatir. Ia cemas, takut terjadi hal buruk pada anak atau menantunya


-


Semua yang ada dikamar Juan dengan Carra bernafas lega saat tau jika tidak ada hal buruk yang terjadi pada Carra dan janin yang ada dalam kandungannya


Ia hanya mengalami gejala morning sickness, mual yang biasa terjadi pada ibu hamil


"Nanti akan saya siapkan vitamin Tuan" Sahutnya sambil mencatat sebuan resep dal buku kecil


Juan hanya mengangguk, dan bergumam. Sedangkan Carra mengucapkan terimakasih sebelum Dokter cantik itu permisi pergi setelah membeeikan resep obat


"Abram, kau gantikan aku untuk meteeng dengan klien kita nanti malam. Aku akan menemani istriku" Perintah Juan pada Abram yang ada disana


"Iya Juan" Sahutnya dengan patuh, kemudian sekilas menatap Carra sebelum berlalu dari tempat itu


Adella mengikuti di belakangnya


"Abas, siapkan bubur untuk istriku!" Perintahnya pada Abas yang baru saja datang mengantarkan teh hangat untuk Carra


"Baik Tuan muda" Sahutnya dan langsung permisi keluar


"Carra, kau istirahatlah!" Sahut Sonya


"Iya terimakasih Ibu"


Sonya tersenyum, kemudian permisi pula untuk keluar dan meninggalkan pemilik kamar itu


"Kau tidak apa apa sayang?" Tanya Juan yang nampak khawatir sekali dengan keadaan Carra


"Aku tidak apa apa. Kau jangan berlebihan sayang" Sahutnya dengan tersenyum tulus


"Aku khawatir Carra"


"Aku tidak apa apa!" Carra meyakinkan


Juan menjatuhkan kepalanya didada Carra, membuat Carra heran dengan tingkah suaminya itu


"Kau membuatku khawatir sayang"


"Maaf"


Hening


"Artinya kita tidak bisa melanjutkan yang tadi?" Tanya Juan yang sudah mengangkat kepalanya di dada Carra dan kini tengah menatap sang istri


Carra mendengus, kemudian mencubit lengan Juan


"Sayang_" Rengeknya