
Juan menggelengkan kepalanya saat melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Carra. Harusnya ia tidak membiarkan Carra pulang sendiri tadi, harusnya ia yang memastikan sendiri keselamatan sang istri
Juan mendudukan dirinya dikursinya dengan raut wajah kusut. Tak lama Robert datang masuk ke ruangannya dengan wajah yang juga tak kalah cemas
"Saya sudah menghubungi Ray agar menyelidiki dimana keberadaan Nona, Tuan. Para pengawal juga sudan saya kerahkan agar bergerak cepat"
Juan hanya mengangguk mendengar penuturan Robert, dan pandangannya terarah pada dua orang pria yang baru saja menerobos masuk ke ruangannya
Abram masuk, disusul oleh Alex dibelakangnya. Raut wajah mereka juga sama khawatirnya, meski belum sepenuhnya tau dengan apa yang sedang terjadi
"Juan, ada apa?" Tanya Abram dengan wajah serius. Ia merasa ada yang tidak beres saat melihat Juan berlari menuju ke ruangannya tadi, terutama dengan telpon dari Carra yang tiba tiba saja terputus
"Carra!" Sahut Juan
"Tadi dia menelponku" Abram menyahut, Juan langsung menatapnya dengan serius
"Apa yang dia katakan?" Tanyanya dengan tak kalah serius
"Sambungannya terputus begitu saja, dia belum mengatakan apapun" Lirih Abram
Juan sejenak terdiam, dan tak lama pintu ruangannya yang sedikit terbuka diketuk dari luar. Laki laki dengan pakaian serba hitam langsung masuk menghadap Juan setelah Robert persilahkan
"Ada informasi?" Tanya Juan seketika saja
"Penculik itu adalah suruhan Nona Jenny, Tuan" Sahutnya
Juan mengepalkan tangannya dan menggebrak meja dengan keras
"Harusnya aku sudah menduga ini, harusnya aku sudah membereskannya!" Rutuknya
"Ray, darimana kau tau?" Tanya Alex yang kali ini bersikap serius, ia juga ikut mengkhawatirkan Carra setelah cukup mengerti dengan keadaan yang sekarang sedang terjadi
"Anak buahku yang mengatakannya Tuan Alex" Sahutnya
Juan diam, ia nampak memikirkan sesuatu
"Tuan muda, anak buahku sudah dalam perjalanan menyusul Nona Carra"
"Berdasarkan hasil lacakanku melalui ponsel yang dibawa Nona Carra, para penculik itu membawa Nona ke hutang di ujung kota"
Juan dan yang lainnya mendengarkan penjelasan Ray dengan wajah serius. Orang kepercayaan Juan ini memanglah bisa dipercaya, dan mampu diandalkan
"Tapi jejak itu menghilang begitu saja... Tapi tidak perlu khawatir Tuan, sesuai data terakhir, Nona Carra tetap tidak akan jauh dari hutan itu"
"Bagaimana aku tidak khawatir Ray, istri dan anakku sedang dalam bahaya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri seandainya terjadi apa apa dengan mereka" Lirih Juan dengan nafas beratnya
"Juan, apa tidak sebaiknya kita juga menyusul" Usul Abaram
Juan tak menyahut, ia memang akan melakukannya tanpa usulan dari siapapun. Ia tidak bisa berdiam diri saja ditempatnya menunggu kabar
Ia harus turun tangan sendiri untuk menyelamatkan istrinya.
-
"Hey. Apa kabar, Nyonya Zhucarlos?" Tanya wanita itu dengan sarkas, tangannya terlipat didepan dada, dengan langkah santai ia berjalan ringan kesana kemari di hadapan Carra yang duduk lemas di kursi usang
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Carra, tangannya mencengkram pegangan kursi dengan erat
Ia merasa sakit dibagian perutnya, keringat dingin sudah mengucur deras di dahinya
Jenny tersenyum
"Apa? Tentu saja menyingkirkanmu Carra!"
"Aku tidak memiliki dosa apapun padamu Jenny, ku mohon jangan sakiti aku dan anakku" Mohon Carra
Bukannya iba, justru Jenny tertawa dengan lepasnya, Carra menggeleng dengan wajah cemas. Setaunya, orang macam Jenny bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan musuhnya, meski Carra tidak merasa jika dirinya adalah musuh Jenny
"Tidak punya dosa apapun kau bilang?" Tanyanya dengan nada meremehkan
"Lalu kau yang hidup berbahagia dengan Juan, sedangkan aku hidup sendiri dalam bayangan Juan. Apa menurut mu itu bukan dosa besar Carra?" Sahut Jenny dengan nada tinggi
"Kau berbahagia diatas penderitaanku!" Teriaknya dengan histeris
"Kau tau Carra, satu tahun yang lalu sebelum insiden aku tidur dengan Juan, aku sempat menjadi penolong untuk Juan. Aku sudah menyelamatkan nyawa orang yang paling berharga dalam hidup Juan, Syan. Anak angkat kalian!" Tuturnya dengan wajah sendu
"Kau tau Carra, aku yang mencelakakan Syan. Dengan harapan Juan akan mau menikahiku setelah aku menyelamatkan nyawa Syan"
"Psikopat!" Sela Carra, tapi Jenny nampak tidak perduli
"Tapi apa yang ku dapat?" Tanyanya
Kemudian tiba tiba saja tertawa sendiri seperti orang kerasukan
"Juan memberiku uang dalam jumlah yang sangat banyak" Katanya sambil merentangkan tangan, seakan banyaknya uang yang ia maksud adalah sesuai dengan apa yang diperagakannya
"Padahal aku tidak butuh! Aku hanya ingin Juan, Carra. Aku hanya ingin dia menikahiku" Tuntutnya dengan suara lemah
"Apa kau bersedia membagi suamimu denganku?" Tanyanya dengan penuh harap, dengan wajah melas yang dibuat buat
"Aku tidak sudi!" Desis Carra dengan mata tajam
Jenny nampak menggeram, dan kemudian mencengkram wajah Carra
"Aku sudah memintamu dengan cara baik baik Carra. Tapi kau meminta aku untuk berbuat kasar?"
"Baiklah, akan aku kabulkan!" Katanya dengan sarkas. Carra menggeleng
"Carramella Araganta! Jangan harap kau akan berbahagia diatas penderitaanku!" Ucapnya dengan penuh ancaman
Carra meringis, lagi lagi ia merasa sakit luar biasa pada perutnya
"Ku mohon Jenny, hentikan!" Mohon Carra
Carra bagun dari duduknya, dengan susah payah menahan sakit yang sekarang sedang dirasakannya
"Jenny, jika memang kau ingin berbahagia. Maka carilah kebahagiaan mu sendiri, dengan Juan pun kau belum tentu akan bahagia" Ucap Carra
Jenny memandang ke arahnya
"Kau tidak harus menceramahiku Carra!"
Carra menggeleng, kemudian melangkah meninggalkan Jenny
Tapi wanita licik itu tidak mungkin begitu saja melepaskan Carra. Jenny menahan tangan Carra, Carra mencoba memberontak
"Lepas Jenny, ada nyawa yang harus aku jaga. Ada seseorang yang harus aku_"
"Diam!" Teriak Jenny dengan lantang
Kemudian ia tersenyum dengan sarkas
"Oww, aku ingat!" Desisnya
"Dengar Carra, kau pernah bilang jika anak kalian nanti adalah pelengkap untuk mempererat hubungan rumah tangga kau dengan Juan. Maka aku tidak akan pernah membiarkan anak itu untuk lahir" Sahutnya sambil menarik Carra
"Jangan sakiti dia Jenny, ku mohon" Pinta Carra dengan wajah penuh permohonan yang sungguh sungguh
"Sudah terlanjur Carra!" Desis Jenny, matanya mengarah kebawah dengan tatapan seolah kasihan kepada Carra
Pandangan Carra mengikuti, Carra hanya menggeleng dengan tangis yang semakin menjadi begitu ia melihat ada darah yang mengalir di paha dan turun ke betisnya
Carra mengatur nafasnya, mencengkram lengan Jenny dengan kuat, wajahnya sudah semakin memucat. Perutnya terasa di aduk aduk
"Jenny, ku mohon. Tolong selamatkan aku, tolong" Pintanya dengan suara lemah
"Menolongmu? Ayolah Carra, cerdaslah sedikit. Tujuanku membawamu kesini adalah untuk ini, jadi aku tidak akan pernah menolongmu" Sarkasnya dengan wajah tanpa dosa, tanpa ada rasa kasihan diwajahnya sedikitpun melihat Carra yang kesakitan
Carra memejamkan matanya, membayangkan serangkaian kejadian seharian ini, bagaimana dia dibawa ketempat ini oleh sopir palsu, dan diseret seret masuk untuk ke dalam gedung, di dudukan dengan kasar dikursi tua tadi.
Carra merasa karena hal itu sekarang dirinya pendarahan, dan yang melakukan hal keji ini adalah, Jenny.
Wanita yang terobsesi untuk hidup bersama dengan suaminya
-
"Apa kau tidak bisa lebih cepat sedikit Lex!" Gerutu Juan, yang sudah sangat cemas pada Carra
Seandainya terjadi sesuatu pada Carra dan calon anaknya, maka Juan tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri
"Tenanglah Juan, aku sopir handal. Aku juga cemas pada Carra" Sahut Alex sambil fokus menyetir
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, mengikuti mobil Ray di depan sebagai petunjuk jalan
Abram juga sudah gusar ditempatnya, tapi juga tidak bisa bersikap berlebihan atau Juan akan mencekiknya nanti
Tapi sumpah demi apapun, Abram juga sangat mencemaskan Carra
-
"Kau tau Carra, aku mencintai Juan, dan aku ingin dia ada disisiku sepanjang hidupku. Bukan denganmu, kau yang tiba tiba saja datang dalam kehidupan Juan dan menyingkirkanku begitu saja!" Teriaknya
Sedangkan Carra sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi, wajahnya sudah kian pucat
"Kau penyebab aku berbuat semua ini pada kau Carra. Kau sendiri penyebabnya!" Makinya lagi
-
Mobil berhenti, Juan segera turun sebelum yang lain, ia bergegas menghampiri Ray yang nampak memeriksa ponselnya
"Ke arah sana!" Tunjuk Juan pada area gedung, dimana disana ada rombongan para lelaki yang sedang bertempur
Mereka adalah anak buah Ray dengan Juan, yang sedang berkelahi dengan orang suruhan Jenny
"Tuan,"
Juan menghentikan langkahnya saat Ray memanggilnya
"Apa lagi?" Tanyanya dengan geram
"Kita tidak bisa gegabah, atau nanti Nona Jenny akan nekad mencelakakan Nona Carra!" Ray mengingatkan
"Bagaimana jika sekarang istriku sedang berada dalam bahaya, bagaimana jika dia_" Teriak Juan dengan frustasi
"Juan tenanglah, jangan gegabah!" Abram juga mengingatkan saudaranya yang sedang kalaf itu
Juan mengacak rambutnya, frustasi
"Tuan, saya sudah menyuruh anak buah Tuan besar untuk membawa helikopter kemari" Sahut Robert yang sudah siap siaga barangkali ada keadaan darurat nanti
Juan mengangguk tanpa berkomentar apapun
Ray nampak menelpon seseorang, sepertinya dia sedang menelpon anak buahnya
"Baik, oke. Kerja bagus!" Sahutnya yang kemudian memutuskan sambungan
"Tuan, Nona Carra berada didalam gedung itu, di ruang utama gedung.... Dengan Nona Jenny" Sahutnya, dengan diiringi keraguan di akhir kalimatnya
Tanpa aba aba lagi, Juan berlari begitu saja menuju gedung itu. Nampaknya para anak buah Jenny yang banyak jumlahnya itu sudah kalah telak oleh anak buah Ray dan orang orang Juan atas suruhan Robert
Karena bagaimanapun, para anak buah Ray dan Juan adalah orang orang yang terlatih dengan baik
"Aku dan Alex akan menyusul Juan. Robert kau tunggu disini, tunggu bantuan datang" Perintah Abram, dan Robert hanya mengangguk mengerti
Membiarkan Abram dan Alex menyusul Juan menuju gedung, sedangkan Ray juga sudah lebih dulu menyusul