My Best Match

My Best Match
Bukan Gosip



"Dinaraa....."


Syan berteriak saat pintu kamarnya terbuka. Menampilkan seorang gadis yang amat dikenalinya yang merentangkan tangan dengan begitu saja. Meminta ia untuk memeluknya


Syan berhambur, memeluk Dinara sambil berjoged ria. Dia akan memiliki teman untuk bercerita. Tentu saja bercerita tentang segala keburukan Darenra


"Aku merindukanmu Kak Syan"


"Yaya, tapi kau hampir membunuhku Dinar!" Protes Syan saat pelukan Dinara begitu menyesakannya


"Maafkan aku" Dinara meengendurkan pelukannya


"Akhirnya kau kembali ke new york"


Sahut Syan setelah melepas pelukan mereka


"Tidak tau Kak. Mungkin karena new york adalah tempat kelahiranku. Aku merindukannya, dan setelah pertimbangan yang cukup panjang, aku memilih untuk tinggal disini" Sahut Dinara panjang lebar


Syan mengangguk puas, kemudian menyahut


"Yah, dan kau tega tidak memberitahuku perihal kepulanganmu ini. Kalau bukan karena melihat postingan sosial mediamu, aku tidak akan tau jika kau datang. Dinara" Syan menggerutu dengan tampang tidak bersahabat. Tangannya terlipat di dada dan ia mulai berjalan ke arah tempat tidur


Dinara mengikuti


"Kak Syan. Aku ingin memberi kejutan" Sahut Dinara sambil merentangkan tangan dengan tampang so imut, membujuk agar Syan tidak marah


"Owww. Aku terharu Dinar" Sahut Syan yang kemudian tertawa. Karena dia tidak benar benar marah tentang hal itu


Dinara duduk disamping Syan dengan tampang berbinar


"Oh yah. Bagaimana kencannya tadi siang?" Tanyanya sambil meraih tangan Syan. Matanya mengerjap ngerjap imut. Membuat Syan mengernyit heran, hari ini semua orang menanyakannya tentang kencan


"Kencan apa?"


Dinara memutar bolamatanya dengan jengah


"Ayolah Kak Syan. Jangan pura pura tidak tau begitu. Tadi siang kau habis berkencan bukan? Katakan bagaimana pacarmu itu!"


Syan semakin tidak mengerti dengan pertanyaan Dinara yang terlampau batas menurut Syan. Karena ia tidak tau dengan apa yang dimaksud putri tunggal Abram dengan Adella ini


"Jangan menanyakan hal itu Dinara. Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud dan aku tidak berkencan. Oke"


"Kak Syan aku mengenalmu dengan sangat baik. Meski kita berjauhan, tapi aku tau kau orang yang seperti apa"


"Meski kau tidak berkencan, tapi setidaknya kau berkenalan dengan seorang pria bukan?" Dinara mencolek dagu Syan


"Hey darimana kau tau?" Syan keceplosan


"Ohh, jadi ternyata aku benar. Ayo katakan dia seperti apa Kak. Pasti dia tampan bukan?"


Syan diam, menerawang pada kejadian tadi siang, dengan Araga. Laki laki tampan yang baru saja dikenalnya karena challenge bodoh dari Zoey dan Lucy. Dinara benar, dia tampan dan berkharisma. Dia menyenangkan, jenaka dan ....,


"Jangan memikirkannya sendirian Kak Syan. Ayo katakan padaku" Gadis itu memohon, tetapi setengah merengek


"Aku tidak suka bergosip Dinara!"


"Ini bukan gosip Kak Syan. Ini disebut curhat, katakan saja padaku. Aku akan menyimpan rahasiamu dengan sangat aman" Dinara bertingkah seolah mengunci mulutnya


Syan mendesah, bagaimanapun. Ia tau jika saudaranya ini adalah the gossip queen. Ia tidak ada cara lain selain terus terang bercerita


"Kak Syan ...,"


"Iya. Aku berfikir dulu Dinara"


Dinara mengangguk antusias, Syan memulai ceritanya


"Tadi siang aku memang bertemu dengan seorang pria. Kami berkenalan"


"Apakah dia tampan?"


Syan mengangguk


"Apa dia orang penting?"


"Sepertinya begitu"


"Kalian bertukar nomor ponsel?"


"Tentu saja tidak. Aku hanya tidak sengaja menabraknya dan mentraktir dia untuk makan sebagai bentuk permintaaan maafku"


"Ada apa memangnya? Tidak keren sekali cara kalian itu"


"Tidak apa apa. Mereka hanya menghiburku karena aku sedang kesal pada Daren!" Tangan Syan mengepal begitu mengingat pemuda tampan yang menyebalkan itu


Meski Daren sudah mengatakan jika ia tidak marah pada Syan, tapi tetap saja. Syan yang marah padanya karena ia sudah membanting pintu mobil kesayangannya. Syan tidak terima


"Ada apa lagi dengan Daren. Kalian sedang ribut?"


"Apa saat Daren menjemputmu dia menggosipkanku?" Syan malah balik bertanya


"Tidak, dia hanya sedikit terlihat kesal padamu"


"Baguslah. Dia memang tidak layak menggosipkan ku. Kau tau sendirikan Din, sejak dulu aku tidak pernah bisa akur dengannya"


Syan mulai mengeluarkan hasrar terpendam di hatinya


"Sejak kecil. Dia sudah sangat sering menggangguku"


"Dia itu menyebalkan, menjengkelkan. Selalu membuat aku marah, dan dia selalu menggangguku dimanapun. Di mansion, di kampus. Dinara dengar! Bahkan ia juga menggangguku di dunia mimpi"


"Apa dia sampai masuk di mimpimu Kak"


"Ya begitu. Kurasa dia meminta ahli untuk menjelajahi mimpi, dan dia menargetkanku Din" Syan mulai tidak masuk akal dengan ocehannya


"Apa menurutmu menjadi diriku ini tidak tersiksa hah? Aku seperti tidak memiliki kebahagiaan hidup Dinara"


"Dengar! Sepertinya aku harus mulai tinggal sendiri. Jika terus terusan satu atap dengan Daren. Aku akan gila Dinara, aku akan mengidap penyakit bipolar. Hey, aku masih muda, aku tidak ingin gila."


Dinara hanya nyengir kebingungan mendengar cerocosan Syan yang begitu panjang. Dinara mengerti jika Syan sangat kesal sekali kepada Daren


"Ohh yah. Jangan lupakan ini, dia sering meminjamku uang di kampus, mengancamku, membuat ku malu. Dia sering bergonta ganti.pacar"


"Dan masih banyak lagi hal yang membuat aku kesal pada Darendra"


Syan terus memaki, meluapkan amarahnya sepeeti orang gila. Bahkan ia tak menyadari kehadiran Daren yang sudah sejak tadi berdiri didepan pintu kamar yang terbuka dengan tangan yang terlipat di dada. Dan tentu saja ia sudah mendengar semua makian Syan padanya


"Apa sudah puas menggosipkanku?"


Syan menoleh ke asal suara, kemudian mengernyit dan beralih menatap Dinara, gadis itu hanya menggeleng, sejujurnya Dinara juga sudah lama melihat Daren berdiri disana, hanya saja ia bingung mau memberitahu karena Syan yang terus saja mengoceh


"Hey, sejak kapan kau berdiri disana?"


"Sudah sejak lama Syan. Sejak awal kau mulai menggosipkanku"


"Aku tidak menggosipkanmu ya!?"


"Jelas jelas kau sedang bergosip. Malah mengelak!"


"Ini bukan gosip. Ini disebut curhat, kau memangnya tidak tau? Dasar payah, menyebalkan, menjengkelkan, pembuat masalah"


Daren tertawa


"Kenapa kau jadi cerewet sekali Syan!"


"Dengar ya, tadi sore aku tidak meladenimu karena aku sedang lelah. Sekarang tidak, ayo berdebat!"


Daren membuang pandangannya dari Syan, dengan tersenyum. Kemudian menggeleng, dia memang tidak akan menang berdebat dengan seorang Syandu Anjasmara


"Aku tidak ingin berdebat!"


"Dasar payah!"


Dinara yang sejak tadi hanya menjadi saksi perdebatan adik kakak itu hanya memijit pelipisnya "Satu minggu tinggal disini, aku yang akan gila"


"Aku kemari hanya ingin memberitahu kalian, para pegosip ..,"


Syan menahan geram mendengarnya, Dinara juga tampak menyipitkan matanya pada Daren yang acuh tak acuh saja itu


"Momy menyuruh kalian untuk makan malam, turunlah ke lantai bawah!" Sahut Daren, tapi ia tak kunjung beranjakn dari tempatnya berdiri


Syan bangkit, kemudian mengangguk pada Dinara agar ikut makan malam ke lantai bawah. Syan menubruk sebagian tubuh Daren begitu saja saat melewati pintu


Sementara Daren hanya menggeleng. kemudian berbalik mengikuti dua wanita itu ke lantai bawah


TBC