My Best Match

My Best Match
Harus Menerima Kenyataan



Kedua orang tua Carra sudah sampai di New York sejak pukul 7 pagi, dan sampai siang ini Carra belum juga mau membuka matanya. Juan amat merasa bersalah pada mertuanya karena tidak bisa menjaga Carra dengan baik


Tapi Stev dan Ratna nampak memakluminya, mereka percaya ini adalah takdir. Dan Juan sudah berusaha dengan baik. Selanjutnya, tingal hanya menerima kenyataan yang ada.


-


"Carra sudah bangun Bu?" Tanya Juan yang baru datang dari kantor setelah tadi ada sesuatu yang harus di urusnya


Sonya menggeleng, Ratna yang juga duduk disampingnya ikut menggeleng pula


Juan menghela nafas, sudah empat hari Carra belum juga siuman. Dan Juan sudah amat frustasi dengan hal itu, ia amat rindu dengan Carra


Juan melangkah mendekati brangkar Carra, kemudian duduk di kursi dan menggenggam tangan Carra


"Sayang, kau nyenyak sekali" Sahutnya dengan tersenyum


"Biarlah tidur dulu. Tapi nanti, kau harus bangun. Ya, kau sudah banyak menanggung dosa karena tidak melayani suamimu sayang" Sahut Juan, kali ini nada bicaranya terdengar begitu sendu


"Kau harus, bangun. Aku merindukanmu, sangat"


Ratna hanya menatap menantunya itu dengan perasaan senang, haru dan penuh rasa terimakasih. Rupanya ia tidak salah merestui Juan dengan Carra, karena laki laki itu amat mencintai putrinya, tulus kepada Carra


Ratna percaya, Carra hidup bahagia dengan Juan. Mereka hidup saling berdampingan dengan damai


"Sayang" Juan memanggil Carra, tapi nihil. Mata indah Carra tetap terpejam dengan rapat


Juan hampir putus asa, tapi ia yakin Carra tidak akan meninggalkannya


-


Dua hari setelahnya, Carra baru siuman. Pihak keluarga sangat senang dengan kabar itu terutaman Juan. Ia yang sedang berada di perusahaan segera bergegas ke rumah sakit saat Stev memberi tahunya jika Carra sudah siuman. Tapi mereka harus merasa kecewa juga karena Carra yang tidak ingin menemui siapapun, ia tidak ingin bertemu dengan satu orangpun meski itu adalah Juan


"Bagaimana Mih?" Tanya Juan pada Ratna yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan Carra, ia nampak gelisah. Sama seperti Sonya yang ada dalam dekapan suaminya dan cemas pada Carra. Mereka takut psikis Carra terganggu karena insiden penculikan itu


"Dia tidak ingin menemui siapapun Juan, dia bahkan tidak ingin bicara sepatah katapun" Sahut Ratna dengan sendu


Juan memejamkan matanya, mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia tidak bisa membiarkan Carra terus seperti ini, akan sampai kapan jika terus dibiarkan?


"Biar aku coba masuk" Sahut Juan


Ratna mengangguk, dan Juanpun berlalu masuk keruangan Carra


Dan yang pertama Juan lihat, adalah


Carra yang berbaring miring dan memunggunginya, dia sama sekali tidak bergeming. Hanya terlihat bahunya yang naik turun dengan nafas teratur


Mata Juan berair menatapnya, ia rindu pada istrinya. Ingin memeluk Carra, ingin memberikan rasa aman padanya, tapi untuk beberapa alasan, Juan menunda untuk melakukannya


"Carra"


Juan melangkah dan berdiri disamping brangkar Carra, tersenyum nanar menatap Carra yang tidak mau berbalik menatapnya. Padahal Juan tau, Carra pasti tau jika ada seseorang yang masuk ke ruangannya


"Aku sangat merindukan mu Carra"


"Katakan! apa kau juga merindukanku?"


Juan meracau dengan tersenyum getir, melihat Carra yang tak kunjung merespondnya, dia merasa terluka


"Kau tidak merindukanku sayang?" Tanya Juan lagi, baru Juan akan melangkah semakin mendekat pada Carra. Suara Carra sudah menginterupsinya yang membuat Juan menghentikan langkahnya


"Aku tidak ingin di ganggu!" Sahutnya, Juan menggeleng


"Carra, berhari hari aku menunggumu, apa kau tidak merindukanku?"


Juan merasa dunianya hancur seketika saat Carra menolak untuk di dekatinya.


"Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun!"


Kali ini Juan mengangguk dengan tersenyum getir, ia menyeka air matanya. Setelah dukanya harus kehilangan calon anak mereka, apa sekarang Juan juga harus kehilangan Carra?


"Jangan membuatku menjadi suami yang gagal Carra," Ucapnya


"Aku tau kau terluka dengan semua ini, tapi semua sudah menjadi takdir Tuhan, sayang."


"Kita tidak bisa menyangkal hal itu. Akupun terluka Carra, berhari hari aku selalu diselimuti oleh rasa bersalah karena tidak bisa menjaga kau dengan calon anak kita"


"Sebagai seorang calon ayah, aku juga merasa gagal Carra, aku merasa hancur. Aku merasa bersalah, aku menyesal tidak bisa menjaga kau"


"Aku_" Juan menjeda kalimatnya


"Kenyataan ini memang terlalu pahit untuk bisa kita terima. Tapi tak ada cara lain lagi sayang"


"Dan kita disini harus saling menguatkan"


Carra menyeka air matanya, mendengar penuturan Juan, seharusnya Carra juga berfikir demikian. Ini sudah ketentuan Tuhan, dan Carra harus bisa menerima kenyataan


Carra berbalik, mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian merengkuh tubuh Juan untuk ia peluk. Juan membalas pelukan Carra dengan erat, perasaannya campur aduk sekarang. Ia bahagia jika Carra memang sudah akan menerima semuanya


"Kita lalui ini bersana sayang, kau tau? Aku tak akan sanggup jika tanpa kau Carra, tak akan bisa"


"Maaf Juan"


"Untuk apa?"


"Aku tidak bisa menjaga malaikat kecil kita" Lirih Carra


"Kau tidak menginginkan ini kan, ini bukan salahmu sayang" Juan mengusap punggung Carra, meletakan dagunya diatas kepala wanita yang sekarang berada dalam dekapannya


"Kita mulai dari awal" Sambung Juan


Carra mendongak, kemudian mengernyit


-


"Syukurlah sayang, Mamih sangat khawatir kau tidak ingin berbicara" Sahut Ratna sambil mengusap puncak kepala Carra, Carra hanya tersenyum. Juan sedang menyuapinya makan


Diruangan itu sekarang ada Juan, Ratna, Sonya, Max, Stev, Robert, Della dan Abram


"Syan dimana?" Tanya Carra saat sedari tadi ia tidak melihat putrinya


"Syan akan kesini sebentar lagi" Sonya menyahut


Dan setelah melihat keadaan Carra yang nampak jauh lebih baik. Kedua orang tua Carra dan Juan pamit keluar, diikuti oleh Della dan Abram, membiarkan Carra untuk beristrahat sejenak dengan Juan. Kecuali Robert yang tetap berdiri disana


"Kau merasa jauh lebih baik?" Tanya Juan setelah ia selesai menyuapi Carra


Carra mengangguk, tapi kemudian, ia seperti memikirkan sesuatu


"Tenanglah, orang yang sudah membuatmu begini sudah hancur di neraka" Sahut Juan, matanya nampak memerah saat mengingat insiden naas yang menimpa Carra itu


Carra terdiam, ia tertegun begitu mengingatnya. Mengingat bagaimana ia dipaksa oleh para lelaki itu untuk keluar dari mobil dan masuk ke sebuah gedung terbengkalai, bagaimana ia diperlakukan kasar oleh Jenny


Dan yang membuat air mata Carra benar benar menetes, adalah saat ia melihat darah yang mengalir melewati betisnya, detik detik ia merasa kehidupannya hancur dalam sekejap, detik detik dimana ia harus kehilangan malaikat kecilnya, dua nyawa sekaligus


"Aku sudah mengirimnya ke neraka Carra" Ungkap Juan lagi sambil mengusap air mata Carra, Carra menepisnya


"Mengapa kau melakukan nya Juan?"


"Mengapa kau membunuhnya?" Tanya Carra dengan air mata yang mengalir deras


"Dia sendiri yang melakukannya Carra, dia yang mengakhiri hidupnya"


"Dengar Carra, siapapun orang yang berani menyakitimu, maka dia tidak akan hidup. Sekalipun, itu adalah. Aku"