My Best Match

My Best Match
Anak Angkat



"Pulang saja. Menginap beberapa hari disini, memangnya kau tidak rindu pada Momy, Daren?" Suara Carra di ujung telpon terdengar begitu lirih.


Daren menghela nafas, kemudian kembali menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Aku tidak tau Mom. Tapi aku juga merindukanmu!"


"Kalau begitu pulanglah!"


"Baiklah. Aku akan pulang sore ini,"


"Baiklah. Momy senang mendengarnya."


"Yasudah mom, i love you!"


Panggilan terputus. Daren menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kawan kawannya hanya memperhatikan. Mereka sedang berkumpul disalah satu pusat perbelanjaan, menikmati hari libur dan melepas penat.


"Memangnya sudah berapa lama kau tidak pulang ke mansion?" tanya Lion saat Daren mengambil minuman ditangannya.


"dua minggu," Daren menyahut enteng.


"Kau tidak rindu dengan Syan?" Ram bertanya dengan nada menggoda.


"Itu Syan," Renard menunjuk salah satu sudut. Membuat tatapan tiga pemuda itu mengikuti arah panadangnya, termasuk Daren yang akhir akhir ini jarang sekali bertemu dengan Syan.


Disitulah Daren melihat gadisnya. Syan, kakaknya yang ia cintai. Tengah tertawa dengan Araga, dengan tangan Syan menggandeng lengan Araga. Tatapannya berubah sendu, Ram dengan begitu saja mendorong mening Renard. Menyalahkan pemuda itu karena sudah menunjukan pandangan yang membuat Daren bersedih.


Daren bangkit.


"Kau mau kemana?"


"Pulang!"


Lion hanya berdecak. Kemudian menyusul Daren dan berjalan dibelakang pria itu setelah mendorong kepala dua kawannya yang menggerutu setelah ia tinggalkan.


Tak lama, mereka juga bangkit menyusul.


"Kita akan kemana lagi?" tanya Araga setelah Syan selesai membelikan hadiah untuk Juan dan Carra.


"Kita pulang saja. Aku lelah,"


Araga mengusap puncak kepala Syan.


"Kita pulang saja kalau begitu. Kau mau di gendong?" tawar Araga. Syan hanya mengernyit, kemudian memukul pelan lengan Araga.


"Aku kasihan dengan Skretaris Erick. Dia tersiksa menjadi skretarismu,"


"Tersiksa bagaimana. Dia sudah ku kasih kerja enak, Sayang."


"Ya, dan kau selalu memarahinya kan?" tanya Syan dengan penuh ledekan.


Araga menggaruk tengkuknya. Kemudian tersenyum pada Syan, Syan hanya mencebikan bibir. Lalu mengacak rambut Araga dengan gemas, pria itu menggerutu karena tatanan rambutnya yang berantakan akibat ulah Syan.


Syan tertawa, sampai kemudian tawanya lenyap begitu saja saat ia melihat Daren di parkiran mall.


"Darendra," lirihnya. Araga menatapnya, kemudian mengikuti arah pandang Syan.


"Araga, aku akan menemui Darendra sebentar. Bagaimana?" tanya Syan. Ia menatap Araga, berharap harap cemas.


Araga tersenyum, kemudian mengangguk. Syan melepas rangkulannya dilengan Araga. Kemudian berlalu untuk menemui Darendra.


"Daren," panggilnya sebelum pria itu masuk ke dalam mobil.


Daren yang sudah membuka pintu mobil mengurungkan niatnya. Ia hanya memberi isyarat pada kawan kawannya untuk segera masuk kedalam mobil. Sementara dirinya sendiri kembali menutup pintu.


"Ada apa?" tanyanya tanpa mau menatap wajah Syan. Percayalah, melihat Syan terutama dalam jarak dekat membuat hatinya semakin tak karuan.


"Kau tidak pulang ke mansion?"


"Apa pedulimu?"


"Jelas aku perduli karena ...,"


"Kau kakakku, dan aku ini adikmu. Begitu?" selanya dengan cepat. Ia menghembuskan nafas kesal karena dapat menebak dengan mudah apa yang akan dikatakan oleh Syan. Sementara Syan hanya terdiam, menyelipkan sebagian rambutnya kebelakang telinga.


"Aku hanya bertanya padamu. Ulang tahun pernikahan momy dan dad akan segera digelar, dan kau tidak pulang? Keterlaluan!"


Daren tertawa rendah. Kali ini ia menatap Syan dan ia melihat betapa cantik seorang kakak yang di cintainya itu.


"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu."


Syan hanya terdiam.


Daren menyapu pandangannya ke arah lain, dan ia melihat Araga.


"Pulanglah. Tunanganmu sudah menunggumu!" suruhnya yang membuat Syan menoleh ke arah Araga yang sedari tadi mengawasinya.


Syan kembali melihat Daren, dan adiknya itu sudah masuk ke dalam mobil. Tak lama, mobil yang dikemudikan Darendra melaju, meninggalkan Syan yang berdiri saja ditempatnya. Ia hanya menatap kepergian adiknya dengan perasaan gamang. Sampai kemudian ia merasakan tangan hangat yang merangkul bahunya. Syan menoleh, Araga tersenyum dengan hangat dan lembut, membuat perasaannya berdesir hebat.


"Tidak papa,"


Syan hanya mengangguk. Lalu Araga menggandengnya menuju mobil, Erick sudah sangat lama menunggu mereka.


Sepanjang perjalanan pulang, Syan hanya diam. Membuat Araga terus memperhatikan tunangannya itu.


"Tidak perlu di fikirkan Syan,"


"Bagaimana tidak aku fikirkan Araga. Dia adikku, dan sekarang bersikap seolah olah dia tidak mengenali aku. Adik durhaka!"


Araga menyentuh lengan gadis itu.


"Ini hanya tentang waktu, sayang. Aku yakin suatu saat dia akan menerima hubungan kita,"


"Iya kan Erick?" Araga meminta pendapat sang Skretaris untuk mencairkan suasana.


"Iya." sahutnya cepat.


"Ini hanya tentang waktu nona. Saya yakin suatu saat nanti tuan muda Darendra akan menerima hubungan kalian."


Araga berdecak.


"Aku sudah mengatakannya tadi" sinisnya. Syan mendelik pada Araga. Benar bukan? Dia sering memarahi skretarisnya. Bahkan hanya karena hal sepele.


Erick yang sudah terbiasa dengan perlakuan Araga hanya berdecak saja.


**


Beberapa hari kemudian, acara pesta ulang tahun pernikahan Carra dengan Juan yang ke dua puluh tahun dilangsungkan di mansion Zhucarlos.


Acara berlangsung dengan meriah, para tamu undangan dari kalangan menengah atas turut menghadirinya, semua rekan kerja Juan dan Carra, serta kerabat terdekat di undang untuk datang.


Carramell dan Juan sang pemilik acara nampak terlihat sangat bahagia dalam balutan outfit formal yang berwarna senada. Mereka nampak sibuk melayani para tamu undangan yang memberi ucapan selamat dan juga hadiah.


Syan baru saja keluar dari kamar dengan balutan gaun berwarna senada dengan Carra.


Gerakannya membenarkan rambut terhenti saat melihat Daren yang juga baru keluar dari kamarnya dengan balutan outfit formal senada dengan Juan. Dia terlihat begitu tampan dan dewasa.


Daren juga menoleh pada Syan. Lalu perlahan menutup pintu kamarnya. Syan masih menatapnya dengan tersenyum.


Syan menggeleng. Lalu, keduanya hanya terdiam saling menatap satu sama lain.


"Kau ...., cantik."


Syan menunduk.


"Kita segera turun ke bawah!" sahut Syan yang kemudian melangkah. Tapi Daren tiba tiba saja menghadang langkahnya, berdiri di hadapan Syan. Membuat gadis itu salah tingkah.


"Syan,"


"Hmmm?"


"Kau tidak mau berubah fikiran?"


Syan mengerutkan keningnya.


"Maksudmu?" tanyanya, tidak mengerti.


"Kau masih tidak ingin mempertimbangkan perasaanku?"


Syan menghela nafas.


"Tolong jangan merusak suasana Darendra."


"Berapa kali harus aku katakan Syan. Aku mencintaimu!"


Syan hanya terdiam. Ia berniat meninggalkan Darendra, tapi baru satu langkah, langkahnya terhenti saat melihat sang tunangan yang berdiri tak jauh dari mereka, menatapnya. Ia yakin jika Araga sudah mendengar semuanya sedari tadi.


Sekarang, Syan berada diantara Daren dengan Araga. Ia berdiri bagai disuruh memilih. Dan ....,


Syan menghela nafas, kemudian memutar badan. Kembali pada Darendra.


"Turunlah ke bawah. Dady sudah menunggu." sahutnya. Daren tak menyahut, tapi ia berlalu menuruni anak tangga. Meninggalkan Syan, melewati Araga begitu saja seolah tak melihatnya.


Araga menghela nafas. Kemudian melangkah menghampiri Syan.


"Kau tidak turun?" sahutnya sambil mengulurkan tangan. Syan menerimanya dengan tersenyum.


"Ayo,"


"Atau kita tidak perlu turun saja sekalian,"


"Ha? Kenapa?"


"Kau cantik, cantikmu untukkku saja sayang. Jangan di bagi untuk orang lain,"


Syan hanya tertawa. Saat ia akan mengacak rambut pria itu, Araga menangkap tangan Syan. Ia tidak ingin penampilannya kacau karena ulah Syan nanti.


Syan cemberut, sementara Araga tertawa. Lalu mencium puncak kepala Syan, dan perlakuan manisnya itu hanya membuat Syan terdiam dengan senyum mengembang.


**


"Kau sudah turun. Dimana Syan?" tanya Juan saat Daren menghampirinya dengan Carra.


"Dengan tunangannya." Jawab malas Darendra.


Juan tersenyum kemudian menggandeng putranya.


"Kau tampan sekali," pujinya yang membuat Darendra salah tingkah. Pasalnya, sangat jarang Juan memuji, kecuali prestasinya.


"Kau sudah dewasa, Daren. Sebentar lagi, kau yang akan meneruskan perusahaan Dad."


"Dad, jangan membahas perusahaanmu. Ini hari bahagia kau dengan Mom, lupakan dulu masalah pekerjaan."


Juan tersenyum sambil menepuk bahu putranya.


"Baiklah, baiklah!"


Sementara di sudut lain. Della dengan Abram hanya duduk menikmati minuman.


"Kau juga ingin pesta?" tanya Abram tiba tiba saja.


Adella tertawa


"Ulang tahun pernikahan kita masih jauh, Abram."


Abram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maksudku, nanti!"


Adella tersenyum, kemudian menggandeng pinggang Abram dan merebahkan kepalanya di dada sang suami.


"Abram. Terimakasih sudah mencintaiku,"


Abram tersenyum sambil mengelus rambut Adella.


"Aku juga berterimakasih padamu. Terimakasih sudah sabar menghadapaiku selama ini,"


Adella tersenyum sambil mengangguk.


Syan yang sudah turun dengan Araga dari lantai dua ikut berbaur dengan yang lain. Acara di buka dengan pidato singkat dari Juan yang berterimakasih pada para tamu undangan, terutama adalah berterimakasih pada sang istri, Carra, dan anak anaknya.


"Syan, aku keluar sebentar." Araga berpamitan pada Syan. Syan hanya mengangguk, Araga berlalu. Juan belum menyelesaikan pidatonya. Sekarang, ia sedang mempersembahkan sebuah hadiah untuk Carra.


"Hey, bukankah Tuan Juan dan Nyonya Carra hanya memiliki satu putra? Darendra Fray Zhucarlos?" tanya salah seorang perempuan yang berada dekat dengan Syan.


"Memangnya kau tidak tau, dulu Tuan Juan mengangkat seorang anak perempuan menjadi putrinya." seorang perempuan dengan dandanan serba glamour menyahut berapi api, menyebar gosip dari masa lalu.


Dua perempuan lainnya mulai keheran heranan.


"Apa kalian tidak tau? Bahkan dulu Tuan Juan sempat mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan jika ia mengangkat seorang anak."


"Oh yah, aku tidak menyangka." yang lain menanggapi.


"Aku tidak tau. Bahkan juga tidak tau apa keuntungan Tuan Juan mengadopsi anak itu, aku dengar dia hanyalah anak seorang pekerja bangunan yang meninggal dalam peristiwa bencana alam." perempuan biang gosip itu semakin menjadi.


Senyum dibibir Syan perlahan luntur begitu saja. Ia mendengarnya, mendengar semuanya.


"Beruntung sekali anak perempuan itu. Seandainya aku memiliki seorang putra, aku akan menjodohkannya."


"Siapa tau itu anak hasil dari hubungan gelap Tuan Juan dengan seorang wanita! Dan ia pura pura mengangkatnya menjadi anak untuk menutupi aibnya."


"Untuk apa di jodohkan dengan anak itu, bagaimana jika nanti keluarga Zhucarlos membuangnya? Aku tidak mau, untung anak ku seorang gadis!" Ibu biang gosip itu berkata dengan sarkasnya sambil melipat tangan di depan dada.


Mata Syan sudah mulai berkaca kaca. Perlahan ia melangkah, meninggalkan keramaian menuju ke kamarnya. Ia tidak tahan mendengar para ibu ibu yang menggosipkannya.


Araga yang baru saja kembali dan juga tak sengaja mendengar gosip diantara empat ibu ibu yang berkerumun itu hanya mematung. Menatap kepergian Syan yang sudah menapaki anak tangga.


Dan apa tadi? Anak angkat?


Syan anak angkat Juan Zhucarlos?


TBC