My Best Match

My Best Match
Kembali



"Juan, tidak apa apa. Syan juga tidak mengganggu!" Ujar Carra saat Juan mengoceh ingin memindahkan Carra ke mobil yang lain dengan Rose


Dua mobil itu melaju menuju kediaman Carramell, setelah tadi sampai di bandara. Syan yang memaksa untuk ikut satu mobil dengan kedua orang tuanya membuat Juan sedikit kewalahan karena Syam yang ingin terus duduk di pangkuan Carra


"Dady!" Bentak Syan yang terus di usik oleh Dady nya


"Sudah Dad, bilang. Kau ikut saja dengan Rose" Sahut Juan, tak mau kalah


Robert yang duduk disamping pengemudi hanya tersenyum melihat tingkah Juan yang begitu kekanak kanakan itu


"Kau pelit sekali" Ucapnya yang malah semakin membuat Juan cemburu saat Syan malah berhambur dan memeluk Carra, dan tidak memberi celah sedikitpun untuknya


Juan pasang wajah memelas pada Carra, sedangkan Carra hanya mengangkat bahunya saja. Toh faktanya tangan mereka tetap bertautan meskipun Syan duduk di pangkuan Carra


Mau tidak mau akhirnya Juan hanya bersandar di bahu Carra dengan manja, membuat Carra tergerak untuk mengusap rambut suaminya itu


"Apa masih jauh Mom?" Tanya Syan dengan mata yang nampak mengantuk


"Tidurlah, perjalanan masih lumayan Syan" Sahut Carra sambil membelai rambut putrinya itu


Juan juga nampaknya memejamkan matanya di bahu Carra.


Carra hanya melihat keluar jendela, begitu mobil melewati sebuah taman pusat Kota, tatapannya terpaku disana. Seperti ada yang berdesir dihati Carra


Seperti teringat dengan seseorang. Yah, Abram


Tapi itu bukan masalah, Carra hanya ingat. Tidak kembali mencintai laki laki itu lagi


Karena ada pepatah mengatakan, jika cinta pertama itu memang sulit untuk di lupakan


Dan itu memang benar adanya


"Kenapa?" Tanya Juan, yang ternyata sedari tadi memperhatikan Carra


"Tidak!"


"Jangan memikirkannya lagi"


"Iya" Carra menyahut dengan tersenyum, berusaha meyakinkan Juan. Juga berusaha agar lelaki itu tidak lagi menaruh curiga padanya


Meski Carra tidak ada niat untuk mengingatnya, tetapi tetap saja kenangan kenangan itu seperti roll film yang terus berputar di kepalanya, dan Carra tidak bisa menepis itu. Meski sudah tidak ada lagi cinta di hati Carra untuk Abram, sungguh.


"Biar aku yang menggendong Syan" Sahut Juan akhirnya. Lalu mengambil alih Syan yang tengah tertidur dari pangkuan Carra dan memindahkannya ke pangkuannya


*


Kedatangan Carra dan Juan disambut


dengan baik oleh kedua orang tua Carra. Tentu saja Stev dan Ratna sudah sangat merindukan putri satu satunya itu


Syan sudah bangun sedari tadi saat sebentar lagi sampai dikediaman Araganta


"Mom, apa Oma dan Opa disini baik?" Tanya Syan sebelum ia turun dari mobil bersama dengan kedua orang tuanya


Juan menatap Carra yang ditanya seperti itu oleh Syan, wanita cantik itu tersenyum


"Tentu saja sayang!" Ujar Carra. Lalu merapihkan tasnya saat Syan sudah keluar dari mobil di jemput oleh Rose


"Apa Mami tidak akan marah?" Kali ini Juan yang bertanya, Carra tersenyum


"Mami sudah mengetahuinya. Saat Ibu ke LA kemarin pun mereka mengobrol. Kau tidak perlu khawatir"


"Apa mereka akan menerima Syan? Sama seperti kau yang_"


Carra mengecup bibir Juan sekilas, membuat suaminya itu terdiam dengan tindakan tiba tiba Carra


"Jangan banyak bicara, mari turun" Ajaknya. Juan tak berkata lagi, sampai kemudian ia turun dari mobil


Robert sudah lebih dulu pamit dengan beberapa para pengawal untuk mencari penginapan. Tepatnya pergi ke hotel milik Juan di kota ini


"Carramell" Teriak Ratna begitu Carra turun dari mobil


Perempuan separuh baya itu setengah berlari menghampiri Carra. Sedangkan Stev hanya menunggu di teras rumah dengan tersenyum saat menantunya menghampiri


"Apa kabar Pih?" Tanya Juan setelah memeluk Ayah mertuanya itu


"Baik. Bagaimana dengan mu?"


"Seperti yang papih lihat!" Ucap Juan sambil merentangkan tangannya, yang kembali mendapat pelukan dari mertuanya


"Apa kabar sayang? Mamih sangat merindukanmu" Ujar Ratna tanpa melepaskan pelukannya


"Carra juga sangat merindukan Mami" Ucap Carra


"Maaf Nyonya, Tuan menyuruh untuk segera masuk" Sahut salah satu pelayan dirumah Carra dengan hormat


Ratna mengangguk, kemudian menggandeng Carra untuk masuk. Rose dan Syan mengikuti di belakangnya


-


Carra kembali


Kembali ke rumahnya, ke tempat dimana ia sering menghabiskan waktu di balkon kamarnya


"Tidak ada yang berubah" Ujar Carra saat memasuki ruang utama rumahnya


"Agar kau tetap betah jika pulang ke rumah" Sahut Ratna dengan senyuman hangat khasnya


Sekarang mereka semua berkumpul di ruang utama rumah dengan senyum penuh bahagia yang terpancar di wajah masing masing


"Hey, ini_" Sahut Ratna


Baru menyadari jika ada seorang anak kecil yang begitu cantik diantara mereka


"Syan, Oma" Ujar Syan dengan senyum tulus di wajahnya


Ratna tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya dan membuat Syan pindah tempat duduk menjadi di pangkuannya


Ratna memang tidak terkejut dengan kehadiran Syan yang notabenenya adalah anak menantunya itu, meskipun hanya anak angkat. Kebetulan Sonya memang sudah menceritakannya kemarin


Lagipun hal itu tidak masalah bagi Ratna jika hal itu tidak mengganggu kebahagiaan putrinya. karena sepertinya Carra pun tidak masalah dengan hal itu


"Berapa umurmu?" Tanya Ratna pada gadis kecil itu


Syan diam, kemudian melirik pada Juan yang tengah tersenyum padanya dengan tangannya yang menggenggam tangan Carra


"Berapa Dad?" Tanyanya pada Juan


Juan diam, bagai berfikir sedangkan Carra hanya tersenyum


"Mmm, 17" Sahut Juan yang membuat Syan dengan cepat menggeleng


"Dady yang tau Oma" Sahut Syan, seolah menyuruh Ratna untuk bertanya pada Juan saja


Ratna tersenyum


"Kau ingin makan?" Tanya Ratna kemudian


Syan mengangguk, lalu ia dituntun ke meja makan duluan oleh pelayan bersama dengan Rose


-


Abram tengah menikmati makan siangnya setelah tadi bertemu dengan salah satu kliennya di perusahaan. Ia memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran yang berada di dekat perusahaan


Abram memanglah tipe orang yang jarang menikmati makan di kafetaria perusahaan, baginya keluar dari sana adalah zona nyaman nya


Setelah ia tadi mendapat kabar dari Juan jika saudara sepupunya itu sudah sampai di LA dan akan kembali setelah dua hari kemudian, ia akhirnya yang akan mengurus sebagian pekerjaan Juan yang tidak bisa di selesaikan laki laki itu secara online


Baru Abram akan beranjak dari duduknya setelah menerima bil. Tiba tiba saja seseorang menabraknya dan menumpahkan sebuah minuman dan membuat jas mahalnya basah


"Yatuhan!" Pekiknya


Dan orang yang menumpahkan minuman itu hanya menganga, tidak percaya jika ia melakukan kecerobohan. Lagi!


"Kau tidak punya mata?" Tanyanya dengan sewot sambil mengelap pakaiannya yang basah dengan tisue


"Hey Tuan, aku tidak sengaja. Kau yang tiba tiba bangun dan menabrak ku!" Oceh Della


Yah, wanita itu. Wanita yang beberapa hari lalu bertemu dengan Abram di salah satu pusat perbelanjaan di kota lain


"Dan, kau menyalahkan ku?" Abram tidak terima


"Tentu saja begitu!"


Abram menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan wanita yang tidak mau disalahkan itu. Padahal jelas jelas dia yang salah


Kemarin menumpahkan eskrim, dan sekarang Jus. Besok apa lagi?


"Terserah, kau!" Sahut Abram lalu berlalu pergi meninggalkan Della yang masih terpaku di tempatnya


Lagi? Dia ditinggalkan oleh laki laki itu untuk ke sekian kalinya


-


Adella Maharani, gadis berusia 24 tahun itu adalah anak tunggal dari pengusaha brand berilian terkenal di kota itu


Dia memang memiliki kisah kelam dengan Abram Lucass


Satu tahun yang lalu, saat Abram baru kembali berpindah ke new york, ia memang sempat dikenalkan dengan Della oleh orang tua wanita itu


Bahkan orang tua Della memang menjodohkan mereka, dan Della pun sudah jatuh cinta pada laki laki itu. Tapi sayang, Abram justru malah menolak perjodohan itu dan meninggalkan Della begitu saja di gedung pertemuan para kolega satu tahun yang lalu


Dari situ Della tau melalui detektif suruhannya jika ternyata Abram masih mencintai mantan kekasihnya. Dan anehnya, Della tidak bisa membenci laki laki itu, atau membuat laki laki itu jatuh cinta pada dirinya


Meski laki laki itu tidak pernah memperdulikannya, anehnya Della tetap saja mencintainya


"Terserah kau!"


Della mengulangi apa yang dikatakan Abram tadi dengan sorot mata penuh kecewa