
Setelah melewati berbagai proses, pernikahan antara Abram dengan Adella digelar hari ini di salah satu gedung megah milik keluarga Adella. Abram yang hari ini nampak gagah dengan tuxedo putihnya nampak beberapa kali menghela nafas. Jujur ia cukup merasa gugup, bagaimanapun ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya
Berdiri di altar menunggu pengantin wanita. Juan yang berdiri di sampingnya hanya berbisik
"Tidak usah gugup, kau tenang saja" Sahutnya. Dan itu sama sekali tidak membantunya sedikitpun
Ramainya para tamu undangan juga cukup membuat Abram sedikit gugup. Tapi sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya, ia tidak boleh terlihat payah di depan Adella nanti
"Apa saat menikahi Carra kau juga gugup macam ini Juan?" Tanya Abram akhirnya. Mau tidak mau ia memang harus bertanya pada orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini
"Yah, aku juga gugup. Tapi tenanglah, ini hanya sementara saja" Sahutnya
Abram mengangguk
"Pengantin wanita sudah datang" Bisik Alex yang kemudian berdiri di samping Abram, mengapit saudaranya yang akan segera menempuh hidup baru itu
Dan tak lama, semua pandangan tertuju pada sang pengantin yang melangkah dengan begitu anggun. Diapit oleh Nela, Ibunya, dan Carra
Abram tersenyum, Adella terlihat amat begitu cantik hari ini. Tapi bukan hanya itu yang membuatnya tersenyum, tapi yang utama adalah Carra. Wanita itu terlihat begitu anggun sekali dengan gaun berwarna blue tosca warna kesukaan wanita itu
"Jangan tersenyum karena melihat istriku, kau tidak inginkan jika aku memukulimu disini sekarang" Ancam Juan, kemudian tersenyum
Abram hanya tersenyum tipis, rupanya Juan begitu mengenal dengan baik bagaimana karakternya
"Kau cantik, sangat." Bisik Juan saat Carra sudah berdiri di sampingnya
Yah, bahkan kecantikan wanita itu memang mengalahkan pesona sang pengantin wanita hari ini
"Jangan mengatakannya Juan, aku merinding" Ucap Carra sambil berbisik. Sedangkan Juan hanya tersenyum, lalu menggandeng pinggang sang istri agar lebih merapat padanya
-
Adella tersenyum melihat Abram yang hari ini tetlihat amat tampan. Tapi sayang, mata laki laki itu sama sekali tidak memancarkan kekaguman padanya sedikitpun
Seperti apa yang sudah beberapa kali disimpulkannya, jika dirinya memang tidak memiliki tempat dihati Abram sampai kapan pun, tidak akan pernah!
-
"Tiba tiba saja aku teringat saat hari pernikahan kita Carra"
"Kau sepertinya sangat senang memanggil namaku Juan" Sahut Carra tanpa menoleh pada Juan, sedangkan matanya fokus menatap pasangan pengantin yang sedang mengucapkan janji pernikahan
"Memangnya kenapa?" Tanya Juan, lalu sedikit mencondongkan wajahnya pada Carra
"Aku tidak suka!"
Juan tersenyum
"Jadi kau ingin aku memanggilmu apa?" Tanya Juan. Carra tak menyahut
"Sayang?" Tanyanya dengan nada menggoda, Carra menoleh. Lalu menggeleng, tak ayal, pada akhirnya ia tersenyum juga
Pesta pernikahan itu berlangsung dengan mewah dan meriah. Ditambah dengan adanya beberapa penyanyi papan atas yang diundang untuk meramaikan jalannya acara sampai usai
Carra duduk dengan Juan, kakinya cukup pegal karena terus berdiri saja tadi. Dan setelah itu Syan datang diantara mereka dan bersandar pada Carra
"Kau dari mana saja Syan, Mom tidak melihatmu sejak tadi" Sahut Carra sambil merapihkan rambut putrinya itu
"Kau habis makan eskrim?" Tanya Carra saat ia mendapati noda eskrim di gaun Syan yang memiliki warna senada dengan gaun miliknya
Juan menatap Rose yang mulai menciut. Pasalnya, Syan sempat sedikit batuk kemarin
"Maaf Tuan, tapi nona Syan memaksa" Sahutnya dengan memelas
"Kau_,"
"Juan!" Carra menghentikannya
"Rose. Kau boleh pergi, Syan biar dengan kami saja" Sahut Carra dengan lembut pada pengasuh putrinya itu
Rose mengangguk, kemudian beranjak dari tempatnya meninggalkan sang majikan
"Dad, jangan salahkan Rose. Aku yang memaksanya untuk memberiku eskrim"
"Aku sudah tidak sakit lagi. Sungguh!" Sambungnya, meyakinkan
"Syan. Berapa kali Dady bilang, kau sedang sakit"
"Tidak Dad"
"Kau sudah mulai ketularan Momy kau Syan"
"Hey, kenapa kau menyalahkanku Dad?" Tanya Carra yang ikut ikutan memanggil Juan dengan panggilan 'Dady'
"Kalian keras kepala!"
Carra hanya menoleh pada Syan dan kemudian tersenyum
"Momy, ayo kita beri selamat pada Uncle Abram" Ajak Syan
Carra melihat kursi pengantin, dan yang lain memang sedang memberi ucapan selamat pada pasangan yang sekarang sudah resmi menjadi suami istri itu
"Mmm, ajak Dady mu" Pinta Carra
Sementara Juan yang padahal mendengar itu hanya cuek cuek saja. Bersikap seolah tidak mendengar ucapan dua wanita yang disayanginya itu
Syan menoleh ragu pada Juan disampingnya, kemudian memegang lengan Juan dengan tampang memelas. Juan menoleh, melihat tidak tega pada raut memelas Syan yang terkesan di buat buat
"Yasudah, ayo" Ajaknya yang membuat Syan terlihat amat riang dan berjalan lebih dulu meninggalkan Carra dengan Juan
Carra dan Juan beranjak, sampai kemudian Carra kembali terduduk saat merasakan sedikit nyeri pada perutnya
"Sayang" Refleks Juan yang juga ikut memegang perut Carra dan duduk kembali di kursinya
"Ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah cemas
Carra menggeleng, tapi wajahnya nampak tidak meyakinkan
"Kita pulang saja, ya" Ajaknya
"Tidak papa. Kita belum memberi ucapan selamat pada Abram dan Della"
"Sayang, kau tampak pucat" Jaun menangkup sisi wajah Carra. Ia benar benar cemas pada istrinya itu
"Aku tidak apa apa Juan. Sungguh" Sahut Carra dengan tersenyum. Rasa nyeri di perutnya berangsur menghilang
"Aku tidak apa apa" Carra menegaskan lagi saat melihat Juan yang nampak tidak percaya padanya
Lalu perlahan ia berdiri dan mengangguk, mengajak Juan untuk segera memberi ucapan selamat pada Abram dan Adella
Juan menggandeng Carra dengan amat hati hati
"Kau yakin?"
"Aku sudah tidak apa apa Juan"
-
"Kau sangat cantik" Puji Adella saat Syan menghampirinya dan memberikan ucapan selamat
"Kau jauh lebih cantik Aunty, sangat cantik" Syan memuji balik
"Hmm, benarkah?" Tanya Della sambil memegang dagu gadis kecil itu
"Sungguh. Tanyakan saja pada uncle Abram" Sahutnya yang membuat Della refleks menatap Abram, tau tau Abram juga menoleh dan keduanya saling bertatapan
"Benarkan Uncle?" Syan bertanya meminta kepastian. Yang membuat pasangan pengantin itu dengan cepat memutus kontak mata mereka
"Euu. Iya" Abram menyahut singat sambil tersenyum
Della tau jika bisa saja Abram hanya lah berbohong. Tapi entah mengapa hal sederhana itu mampu membuat Della cukup berbunga bunga rasanya
"Dady, Momy" Panggil Syan saat kedua orang tuanya datang
Juan dan Carra hanya tersenyum, lalu memberi ucapan selamat pada Abram dan Della
"Selamat Abram, semoga berbahagia" Sahut Juan sambil memeluk saudara sepupunya itu, yang dijawab ucapan terimakasih oleh Abram
"Dady, antar aku ke Oma sebentar" Pinta Syan
"Sebentar Syan"
"Tidak papa Juan, antarkan saja"
"Kau tidak papa sayang?"
"Tidak, aku akan menyusul kau dan Syan nanti" Sahut Carra dengan senyum meyakinkan. Mau tak mau Juan akhirnya menurut saja
"Aku duluan, sekali lagi selamat untuk kalian"
Ucapnya sebelum berlalu
"Terimakasih Juan" Della menyahut sebelum Juan berlalu
Tinggalah hanya Carra, Abram dan Della di sana. Carra tersenyum dengan cerah
"Selamat ya, semoga kalian berbahagia" Sahut Carra lalu mengulurkan tangannya pada Abram
Dengan ragu, Abram menerima uluran tangan Carra. Seolah seperti mimpi baginya diberi ucapan seperti itu oleh Carra. Wanita yang dulu pernah ia inginkan untuk dijadiakan seorang istri
Tapi justru takdir berkehendak lain pada dirinya, pada Carra. Pada hubungan mereka berdua
Ada banyak yang Abram sampaikan lewat sorot matanya. Tapi sekarang, Carra sudah tidak memahami itu
"Terimakasih Carra" Sahutnya, Carra tersenyum. Kemudian beralih pada Della
Memeluk wanita itu seperti pada saudaranya sendiri
"Berbahagialah Della. Bahagiakan Abram, percayalah. Kalian akan saling mencintai nanti"
"Kau hanya butuh waktu" Sahutnya, berbisik pelan ditelinga Della
Della mengangguk dan tersenyum
"Terimakasih Carra" Sahutnya setelah pelukan mereka terlepas
Carra mengangguk sambil tersenyum tulus
Dan hal itu tidak luput dari perhatian Abram.
Ia sungguh yakin sekarang, jika dirinya memang sudah terhapus di hati Carra. Harusnya Abram menjadikan ini sebagai titik awal baginya memulai kehidupan baru dengan Adella
Meski sampai detik ini Abram belum mencintai Adella. Tetapi tetap saja, ia sudah mengikat wanita itu dengan janji suci. Sudah berjanji dihadapan Tuhan dan kedua orang tua Adella untuk membahagiakannya.
Dan Abram, bukanlah orang yang suka ingkar janji