
"Darendra,"
Syan cukup merasa terkejut saat tiba tiba saja pintu kamarnya terbuka. Menampilkan Darendra yang mulai melangkah masuk setelah menutup pintu. Setaunya, pagi ini Darendra akan pergi untuk acara kampus dengan kawan-kawannya untuk beberapa hari ke depan.
Tapi mengapa sekarang ada di kamarnya?
"Bagaimana?"
"A ..., apanya?" Syan balik bertanya dengan gugup.
"Kita!"
"Maksudmu?"
"Tidak usah berpura-pura, Syan. Aku sudah mengetahuinya! Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?" desaknya tanpa bisa membuat Syan mengelak.
Syan hanya menggeleng, sampai kemudian Daren menggapai satu tangannya untuk ia genggam.
"Kita tidak memiliki ikatan darah, Syan. Aku mencintaimu,"
"Syan?"
"Tidak Darendra!"
"Tidak apa maksudmu?"
"Aku tidak mencintaimu, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu!"
Wajah Darendra nampak menahan kesal. Beberapa kali mendapat penolakan nyatanya tak membuat dirinya jera menyatakan cinta pada Syan.
"Syan,"
"Harus ku katakan berapa kali Darendra. Aku tidak mencintaimu! Kita memang tidak memiliki ikatan darah, tapi aku dan kau tumbuh dalam kasih sayang orang tua yang sama. Akan terasa tabu jika kita menjalin cinta Darendra."
"Lalu aku harus bagaimana, Syan?"
Syan menggeleng.
"Apa kau pernah mencintaiku?" tanya Darendra dengan penuh harap.
"Pernah!" Syan menyahut tanpa ragu.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?"
"Tidak akan bisa Darendra!"
"Kenapa kita tidak menyatukan cinta kita sekarang, Syan. Dady akan merestui kita jika memang kita saling mencintai. Ku mohon, Syan." pintanya dengan amat memohon.
Syan menghalau air matanya agar tidak terjatuh. Darendra dihadapannya tetap menatapnya dengan penuh harap. Ia merasa terlalu kejam pada Darendra, tapi apalah daya. Ia sudah tidak memiliki cinta lagi untuk Darendra, ia tidak bisa menyangkal perasaannya.
"Aku tidak bisa, Darendra!" Syan melepas tangannya dari genggaman Darendra.
Darendra terlihat nampak pasrah.
"Aku mencintai, Araga!" sahut Syan dengan suara lemah.
Kali ini, Daren tersenyum licik.
"Apa menurutmu dia akan tetap mau kepadamu setelah mengetahui fakta jika kau bukan putri kandung keluarga Zhucarlos?"
"Kau fikir, dia tidak merasa tertipu?"
Syan mematung, ia benar benar tidak memiliki kata-kata untuk menemukan jawaban dari pertanyaan Darendra barusan. Apa ini, alasan Araga tidak menghubunginya selama dua hari ini. Apa Araga sudah mengetahui fakta tentang dirinya?
Dan ia memilih untuk menjauh? Menghindarinya?
"Bagaimana Syan?"
"Keluarlah dari kamarku! Aku ingin sendiri, Daren."
Tanpa menunggu lama, Darendra dengan cepat keluar dari kamar Syan. Meninggalkan gadis itu yang ingin menenangkan diri. Menenangkan hati dan fikirannya.
Setelah Daren keluar, Syan segera menggapai ponselnya. mencoba menghubungi Araga, tapi nihil, pria itu sama sekali tidak bisa di hubungi.
Menguatkan asumsinya jika Araga benar benar sedang mencoba menghindarinya. Karena dirinya hanya anak angkat dengan latar belakang keluarga kandung yang tidak sederajat dengan keluarga Araga. Tidak sebanding, barangkali, mereka bahkan tak pantas untuk bersama.
Setetes air tiba tiba saja jatuh membasahi pipi Syan. Apa ia harus kehilangan Araga? Secepat ini?
**
"Kau yakin akan ke kampus, Syan?" tanya Carra setelah Syan selesai sarapan. Syan hanya mengangguk dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Kau tidak papa?" Juan juga angkat bicara.
"Ada apa memangnya? Mom, Dad, aku baik baik saja. Kau tenang, tidak perlu khawatir," sahutnya dengan tenang.
"Aku berangkat." Sambunya yang kemudian berlalu dengan cepat setelah mencium pipi Carra dan Juan.
"Dia akan baik baik saja," sahut Juan saat Carra terus memandangi kepergian Syan.
"Semoga saja,"
**
Seperti biasanya, Syan beraktivitas selayaknya mahasiswa biasa di kampus. Waktu istirahat ini, ia menikmati makan siang di kantin lantai 2. Mengobrol dengan Lucy dan Zoey adalah hal terbaik baginya.
"Kau!"
"Apa?" heran Syan yang tidak tau apa-apa. Dan ia lebih tidak mengerti lagi saat kamera yang dibawa wartawan tersebut menyala dan merekam mereka.
"Kau yang menyebabkan perusahaan orang tuaku bangkrut. Apa salah mereka? Karena mereka menyebut kau anak angkat keluarga Zhucarlos? Begitu?"
Syan terpaku. Para mahasiswa lain yang berada di kantin juga nampak heran dan mulai berkasak kusuk. Mengenai fakta yang baru saja mereka dengar.
"Syan anak angkat keluarga Zhucarlos?"
"Yang benar saja."
"Ada apa memang?"
"Benar anak angkat?"
"Apa yang kalian lakukan?"
"Matikan kameranya!" bentak Zoey yang merasa tidak terima. Para wartawan hanya menghindar, tanpa mematikan kameranya yang sudah menyala.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan!" sahut Syan pada seorang wanita yang tadi melabraknya.
"Kau anak angkat keluarga Zhucarlos, dan kau merasa tidak terima karena ibuku mengatakannya saat di pesta keluarga angkatmu. Kau merasa tidak terima dan menyuruh ayah angkatmu untuk menghancurkan perusahaan ayahku?"
"Benarkan!" tiduhnya berapi-api.
Syan menggeleng.
"Aku tidak pernah melakukannya!" sahut Syan dengan mata berkaca kaca.
"KAU HANYA ANAK ANGKAT!"
"Aku tidak melakukannya!"
Syan perlahan berjalan mundur, menyapu pemandangan disekitarnya, dimana banyak orang yang berkasak-kusuk dan menatapnya dengan tatapan tidak suka setengah heran dan penuh tanya.
"Aku tidak melakukannya!" sahutnya yang kemudian berlari dari kantin menuju kelas.
Zoey dan Lucy mengejar. Sementara itu, salah satu dosen kampus mengamankan mahasiswi pembuat onar tersebut. Yang bahkan sengaja menyewa wartawan untuk memuat siaran berita secara live.
Dalam hitungan detik, tayangan berita yang mengatakan jika Syan adalah anak angkat keluarga Zhucarlos dimuat dalam media, terutama tayang di beberapa saluran televisi.
Permasalahan dari masa lalu kembali mencuat ke permukaan.
"Syan, kau tidak apa-apa?" Zoey menghampiri Syan yang berjalan tergesa menuju parkiran setelah ia mengambil tasnya di kelas.
"Syan." Lucy juga mengejar.
Syan menghentikan langkahnya.
"Apa setelah ini kalian juga akan menjauhiku? Apa kalian tidak akan mau berteman denganku lagi?"
"Syan. Jangan gila! Apa yang kau katakan?"
Syan terdiam, menyeka air matanya. Sementara Lucy menyentuh lengan gadis itu.
"Syan, kami berteman denganmu tulus, tak perduli kau anak orang tersohor atau bukan. Kami tulus, Syan."
Zoey mengangguk, membenarkan apa yang baru saja dikatakan Lucy.
"Anak siapapun, kau tetap sahabat kami, Syan. Jangan berpikir begitu, kau mengerti?" Zoey menambahi. Syan mengangguk, memeluk dua sahabatnya dan berterimakasih.
Setelahnya, ia memutuskan untuk pergi menenangkan diri.
**
Araga mendesah pasrah diruang kerjanya setelah menghadiri beberapa rapat penting dengan klien dari luar kota, bahkan ia melupakan ponsel pribadinya yang berada diatas meja ruang kerjanya.
Terdapat beberapa panggilan dari Syan, tapi Araga merasa ragu untuk balik menghubungi gadis itu.
"Bos," Erick nampak panik saat masuk ke dalam ruang kerja Araga
"Ada apa? Kau mengagetkanku!"
"Nona Syan dalam masalah,"
Araga terdiam. Sampai Erick menunjukan ponsel padanya. Kabar terbaru mengenai keluarga Zhucarlos, dan siaran berita yang berlangsung di kantin kampus miliknya.
**
"Lalu kenapa kalian membiarkannya lolos begitu saja?" Bentak Araga sambil menggebrak meja di hadapannya. Setelah ia tau jika gadis yang membuat onar sempat diamankan dan dibebaskan begitu saja. Tentu ia merasa emosi dan geram
"Maaf, Pak. Tapi kami ...,"
"D.O dia dari kampus. Blacklist, dan jangan biarkan universitas manapun menerimanya sebagai mahasiswi!" Perintahnya tanpa bisa di bantah. Dan mereka hanya mampu mengiyakan.
Araga harus merasa kecewa saat ia datang ke kampus dan tidak mendapati Syan disana. Bahkan dua temannya pun tak tau Syan ada dimana. Araga cemas, ia khawatir.
Untunglah ia sudah berkomunikasi dengan Juan. Mengerahkan anak buah mereka untuk menghentikan tayangan saat Syan dilabrak dan dikatai anak angkat, meski siaran tersebut sudah meluas dan di tonton oleh seluruh lapisan masyarakat.
Satu hal yang harus dilakukan Araga saat ini. Ia harus menemukan keberadaan Syan.
TBC