
"Sayang" Juan segera menyambut Carra saat wanita itu menerobos masuk begitu saja ke ruangannya
"Tuan saya permisi" Pamit Robert, lalu keluar dari ruangan Juan setelah sang majikan mengiyakannya
Carra segera duduk di sofa ruangan itu tanpa memperdulikan Juan yang sedari tadi memperhatikannya
"Kau sakit Carra?" Tanya Juan yang langsung datang dan mengecek suhu tubuh Carra dengan punggung tangannya
"Seharusnya kau tidak perlu datang kemari jika sedang sakit sayang" Ucapnya penuh perhatian
Carra menatapnya, kemudian tersenyum. Mengingat ucapan Della tentang Juan yang sesungguhnya. Jika ternyata Juan tidak lah sama dengan apa yang selama ini Carra fikirkan
"Aku tidak sakit" Sahut Carra
"Benarkah?" Juan memastikan
Carra mengangguk
"Yasudah, kalau begitu mari kita cepat makan" Ajak Juan kemudian
Kembali Carra mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju pintu keluar untuk pergi ke kafetaria yang berada di lantai atas perusahaan
Juan memang meminta Carra untuk datang ke kantornya karena ia yang ingin makan siang bersama dengan Carra, padahal Carra tidak lapar sama sekali
-
"Kau menyuruhku datang kemari untuk makan siang bukan?" Protes Della saat ia hanya mendapati Abram yang duduk anteng dengan tatapan mata yang lurus pada layar monitor
Bahakan semejak datang ke ruangan Abram. Jangankan ditawari minum, dipersilahkan duduk saja Della tidak. Dan gadis itu akhirnya hanya berdiri saja di samping Abram yang sibuk berkutat dengan laptopnya
"Apa kau tidak bisa diam?" Tanya Abram tanpa mau menoleh pada Della yang berada di sampingnya. Sejak tadi wanita itu memang merengek menyuruh Abram agar menunda sementara pekerjaannya
"Tidak! Aku tidak bisa diam!"
"Rasanya kepalaku ingin pecah Della!"
"Biar saja kepalamu pecah!"
Abram menutup laptopnya dengan geram, lalu memutar kursinya menghadap pada Della. Gadis itu sedikit tersentak dengan tatapan Abram, tidak menyangka jika pria yang dikenal dengan keramahannya ini ternyata memiliki aura mematikan
Bahkan sekarang atmosfer diruangan itu terasa mencekam dan begitu menyeramkan
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Della dengan nada ketus, baiklah. Bersikap seolah olah tidak takut saja, ayo!
Abram tak menggubris, ia kemudian beranjak dan duduknya. Melewati Della yang berdiri dihadapannya tadi dan melenggang menuju pintu keluar
"Hey, kau mau kemana?" Tanya Della dengan sedikit berteriak
"Kau bilang tadi ingin makan!" Sahut Abram tanpa mau menoleh pada wanita yang berada di belakangnya itu
"Bilang 'Ayo' saja sepertinya susah sekali!" Gerutu Della yang kemudian cepat menyusul langkah Abram di depannya
-
Baru Juan dengan Carra akan masuk lift, panggilan diponsel Juan dengan ID Rose dilayar ponsel menghentikan langkahnya
"Ada apa Rose?" Tanya Juan setelah ia menggeser ikon hijau dilayar ponselnya
"Maaf Tuan, nona Syan tiba tiba saja ingin menyusul Tuan ke perusahaan. Kami sudah diloby sekarang, maaf baru menghubungi Tuan" Tuturnya dengan terbata bata. Barangkali takut jika Tuannya itu marah
Juan diam sebentar, lalu
"Baiklah, tunggu disana. Aku akan menjemput Syan dan kau bisa pulang nanti" Ujar Juan, lalu memutus sambungan telpon secara sepihak
"Ada apa?" Tanya Carra setelah Juan selesai
"Syan menyusul kemari"
"Carra!"
Itu bukan suara Juan. Suara bariton itu berasal dari belakang Carra dan Juan
"Hay" Sapa Carra begitu ia melihat Della, dan tak lama Abram menyusul di belakangnya
"Kau akan pergi kemana?" Tanya Della begitu ia sudah berhadapan dengan Carra
"Makan siang, tapi sepertinya Juan harus menjemput Syan dulu" Tutur Carra, Della mengangguk
"Kita makan siang bersama saja, aku juga akan pergi makan siang dengan Abram. Bagaimana?" Tawar Della dengan antusias
Carra menoleh pada Juan, detik selanjutnya Juan mengangguk. Sedangkan Abram bersikap biasa saja
"Sayang, kalau begitu kau duluan. Aku menyusul Syan dulu" Pamit Juan, mencium kening Carra sekilas kemudian berlalu menuju loby kantor
Diam diam Della memperhatikan hal itu. Ia merasa Juan dan Carra saling mencintai, sehingga mungkin hal semacam ini selalu mengusik perasaan Abram setiap kali melihatnya
"Ayo" Ajak Abram, membuyarkan kecanggungan yang sempat tercipta disana
Carra dengan Della mengangguk, lalu ikut masuk lift setelah Abram lebih dulu menekan tombol dan masuk lebih dulu
-
Rasanya, Carra tidak bisa jika berada dalam suasana canggung macam ini tapi beruntung karena calon istri Abram tidak lah terlalu kaku. Sehingga tidak membuat Carra cukup bimbang berada diantara mereka
Carra duduk sendiri di bangku panjang dan Abram duduk bersama Della dihadapannya, meja kayu mengkilat menjadi penengah diantara mereka
Tak lama pesanan merekapun datang, Carra juga sudah memesan makanan untuk Juan
"Momy"
Panggilan khas itu, Syan. Carra menoleh dan tersenyum cerah pada sang putri
"Sayang" Decak Carra setelah Juan mendudukan Syan disamping Carra, dan Juan duduk disamping Syan. Mengapi Syan yang duduk diantara keduanya
Della hanya memperhatikan pemandangan itu, keluarga kecil yang sungguh bahagia. Syan yang datang dan mencium pipi Carra, juga Carra yang membalas ciuman bocah kecil itu. Kemudian Syan nampak menyuruh Juan juga melakukan hal yang sama, mencium pipi Carra
Dan Juan yang melakukannya membuat Syan berdecak bahagia
"Begitu Dad, jauh lebih baik" Ungkap Syan, Juan dan Carra hanya tertawa
Diam diam Adella melirik pada Abram yang terlihat sama sekali tidak terganggu dengan pemandangan menyakitkan yang berada di depannya
"Kenapa tidak ikut dengan Mom saja tadi?" Tanya Carra pada Syan yang tengah asik melahap sendwich ayam panggang milik Carra
Syan menggeleng, tidak tau apa maksudnya. Mungkin ia hanya enggan menyahut karena sedang lahap lahapnya makan
"Aunty ini siapa?" Tanya Syan yang sepertinya baru menyadari kehadiran Della
Pandangan tiga orang dewasa itu akhirnya tertuju pada Della yang tengah menikmati minumannya
"Calon istri Uncle" Sahut Abram, tersenyum. Kemudian melanjutkan makannya tanpa ekspresi
"Cantik" Puji Syan kemudian
"Terimakasih sayang"
"Tentu saja Syan, Uncle mu itu memang pintar mencari wanita" Sekilas Juan menoleh pada Carra
"Jangan dengarkan Dady mu Syan!" Sahut Abram dengan cueknya
Kembali Syan mengangguk tanpa ada artinya. Juan hanya tersenyum remeh pada Abram, jujur ia masih sangat kesal dengan Abram yang secara terang terangan mengaku jika dirinya masih mencintai Carra, istrinya
"Kau tidak makan sayang?" Tanya Juan kepada Carra yang sedari tadi memang hanya sibuk mengontrol makan Syan saja yang belepotan kemana mana
"Aku tidak lapar, aku kemari hanya untuk menemanimu makan saja bukan?"
"Jauh jauh dari mansion kemari hanya untuk menemani Dady makan saja, memangnya Dady tidak bisa makan sendiri Mom?" Tanya Syan, ia mengakhiri makannya lalu menjilati jari jemarinya yang penuh dengan saus manis. Membat Juan segera meraih tisue dan membersihkan jari jemari putrinya itu
Sama halnya dengan Carra, wanita itu juga segera membersihkan mulut Syan dengan tisue
Dan itu semua tidak lepas dari pengamatan Della, ia begitu tertarik dengan keharmonisan keluarga yang ada di depannya ini
"Dady mu memang tidak bisa makan sendiri Syan" Sahut Carra dengan acuh
"Dady selalu butuh Momy Syan, apalagi jika ingin tidur!" Sahut Juan dengan gelagat santai yang langsung mendapat pukulan di lengan dari Carra
Carra pasang wajah masam pada Juan yang selalu saja sembarangan itu
Dan Della hanya tersenyum, bahkan ia tidak sadar jika Abram sudah tidak ada disampingnya. Sudah tidak ada diantara mereka