
"Kau yakin tidak apa apa Carra?" Tanya Juan saat keduanya didalam mobil dalam perjalanan pulang menuju mansion
"Tidak apa apa" Carra menyahut malas. Juan selalu saja berlebihan dalam segala hal
"Tapi wajahmu pucat Carra" Sahutnya
"Kita kerumah sakit sekarang" Imbuhnya, dan tanpa aba aba meminta persetujuan Carra, ia mengemudi menuju rumah sakit berbelok ke arah jalan yang bukan menuju mansion
"Aku tidak apa apa. Memangnya siapa yang sakit?" Carra mulai kesal. Jika saja ia memiliki nyawa lebih dari satu, maka ia akan lebih memikih untuk loncat dari mobil yang sedang melaju
Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Syan ada dalam mobil yang lain bersama Sonya
Begitu mobil sampai di parkiran rumah sakit, Juan segera turun dan membukakan pintu mobil untuk sang istri. Dan tanpa berkata langsung menggenggam tangan Carra dan membawanya kedalam rumah sakit, menemui salah satu Dokter
Dan kebetulan Dokter yang pertama ia temui adalah Dokter Arin. Dokter pribadi keluarga Zhucarlos
"Ada apa Tuan. Apa anda sakit?" Tanyanya setelah mempersilahkan Carra dengan Juan duduk di ruangannya
"Istriku Dok" Sahutnya
"Ada apa nona Carra?"
"Hanya tidak enak badan sedikit Dok, suamiku terlalu berlebihan" Sahut Carra dengan tersenyum, ia melirik pada Juan yang mendesah pasrah
Sedangkan Dokter Arin juga hanya tersenyum melihat Juan
"Baiklah, mari saya periksa" Sahutnya, lalu beranjak menuju pembaringan yang terhalang tirai berwarna biru muda. Dan Carra mengikuti, sedangkan Juan tetap menunggu di tempatnya
Sampai tak lama kemudian dua wanita itu kembali dan duduk dikursi masing masing
"Bagaimana?"
"Apa istri saya memiliki riwayat sakit Dok?" Tanya Juan dengan gelisah. Alih alih risih, justru Dokter muda yang cantik itu hanya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya pada Juan
"Selamat Tuan muda, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah"
-
Setelah Dokter menyatakan bahwa Carra sedang hamil dengan usia janin tiga minggu, Juan tidak henti hentinya menciumi Carra, bersikap jauh lebih perhatian dari pada perhatian biasanya yang selalu ia tunjukan setiap hari
Sonya dan Max juga tentu saja amat senang dengan berita ini. Bukan hanya dua orang itu, tapi juga seluruh penghuni mansion yang ikut berbahagia dengan kabar hamilnya menantu keluarga Zhucarlos
"Katakan, kau ingin apa? Biar nanti aku akan belikan" Sahut Juan, entahlah sudah berapa kali pria itu bertanya dan berkata hal yang sama
Karena setaunya, biasanya orang yang sedang hamil selalu memiliki banyak keinginan yang macam macam
Carra yang sedang membaca buku hanya menoleh malas pada Juan yang duduk di sampingnya
"Aku belum ingin apapun Juan, nanti jika ingin aku juga pasti akan katakan. Kau tenanglah"
"Cerewet sekali" Lirihnya kemudian
Juan hanya menggeleng melihat tingkah sang istri. Lalu akhirnya hanya merebahkan dirinya di paha Carra, dan beberapa kali mencium perut Carra yang masih rata
"Carra"
"Hmm"
"Kau ingin anak pertama kita, laki laki, atau perempuan?" Tanyanya
Carra menaruh bukunya, lalu mengusap rambut Juan dengan gemas
"Juan, kandunganku hanya baru tiga minggu" Carra mengingatkan
"Tapi setidaknya dia akan tumbuh besar di dalam perutmu sayang" Sahutnya dengan pandangan menengadah pada Carra
"Mmm, aku tidak masalah laki laki atau perempuan, yang paling penting dia sehat" Sahut Carra dengan tersenyum. Ternyata menjadi calon ibu sebahagia ini rasanya
"Mm, kita kan sudah punya Syan. Jadi sepertinya aku ingin anak pertama kita laki laki. Bagaimana?" Juan meminta pendapat pada Carra
Carra diam, bagai berfikir. Juan dengan Carra memang sepakat, meski mereka memiliki anak suatu saat nanti, mereka tetap akan menyayangi Syan sama seperti sebelumnya. Tidak akan ada perbedaan antara Syan dengan anak mereka nanti
Karena bagaimanapun, Juan dan Carra tetap menganggapa Syan adalah anak kandung mereka dan selamanya akan seperti itu, tidak akan pernah berubah sampai kapanpun
"Mm, baiklah" Carra menyetujuinya
Dan pintu kamar yang terbuka membuat keduanya menoleh, dan mendapati Syan yang berdiri dengan raut wajah kusut membuat Juan dan Carra bertanya tanya
Ada apa dengan anak gadis mereka?
"Ketuk pintu sebelum kau masuk ke kamar Dad, kau lupa apa yang Dady ajarkan" Itu bukan lah sebuah pertanyaan. Melainkan perintah yang membuat Syan menghentikan langkahnya
"Sorry Dad" Syan berbalik, menutup pintu dari luar, kemudian mengetuknya
Carra menoleh pada Juan, kemudian tersenyum
"Masuk" Perintah Juan
Syan masuk, dengan raut wajah yang sama seperti saat pertama kali masuk tadi
"Hey, ada apa sayang?" Tanya Carra saat gadis kecilnya itu menghampiri mereka
Juan hanya menatap Syan, tanpa beranjak dari posisinya. Sedangkan Syan mendudukan dirinya di meja kaca dihadapan kedua orang tuanya
Syan mengangkat wajahnya, menatap Carra dan Juan secara bergantian
"Dady dan Momy akan punya Baby?" Tanyanya yang membuat Carra dan Juan saling melempar pandangan
Lalu keduanya mengangguk
"Apa nanti kalian tidak akan menyayangiku lagi?" Tanyanya
Carra dan Juan sedikit tertawa, mengerti maksud Syan. Gadis kecil mereka hanya takut kekurangan kasih sayang, hanya takut kehilangan kasih sayang dari Carra dengan Juan
Juan beranjak dari posisinya, menjadi duduk. Kemudian menarik Syan untuk duduk diantara Cara dengan Juan
"Syan. Dengar! Kau anak Dad, selamanya akan seperti itu. Dan Baby yang ada dalam perut Mom, dia juga anak Dad"
"Kalian anak Dad, Momy dan Dady akan sama sama menyayangi kalian sayang" Sahut Juan sambil mengusap puncak kepala Syan
"Benar Mom?" Tanya Syan, karena Carra yang belum mengatakan apapun
"Benar Syan, kalian sama. Anak Momy dengan Dady, kau tidak perlu khawatir. Yah" Sahut Carra, lalu membawa Syan kedalam pelukannya
"Ingin tidur dengan Momy?" Tanya Carra dengan antusias
"Yes" Syan mengangguk gembira
Sedangkan Juan menatap Carra dengan tatapan memelas
"Carra" Lirihnya, dan Carra hanya tersenyum saja. Kemudian beranjak dengan Syan menuju tempat tidur
"Dad tidak tidur disini Mom?" Tanya Syan setelah ia dan Carra sudah berbaring
Carra mengangkat kepalanya dan melihat Juan yang masih duduk di sofa
"Panggil Dady mu" Suruh Carra
"Dad, kemarilah" Ajak Syan
Juan menurut, dan berjalan dengan gontai menuju tempat tidur dan berbaring di samping Syan
"Night Dad" Ucapnya sebelum memejamkan mata
"Night Syan"
-
Adella tidak mengerti dengan Abram yang malah mengajaknya untuk datang ke mansion keluarga Zhucarlos. Padahal Adella sudah menyiapkan sebuah kamar hotel untuk mereka berdua malam ini
Adella cukup tau diri jika mungkin Abram tidak ingin menikmati malam pertama mereka, tapi setidaknya sekedar untuk beristirahat seharusnya mereka menikmati malam ini di hotel
"Hey, pengantin sudah datang" Sonya menyambut
Tadi Abram memang mengabarinya jika ia akan datang malam ini ke mansion mereka dan Sonya sengaja meminta para koki untuk memasak banyak makanan untuk menyambut mereka
"Iya Tante" Della menyahut. Lalu ia dan Abram permisi untuk masuk ke kamar mereka dan kembali lagi untuk makan malam
"Istirahat dulu sebentar, anggap saja mansion sendiri" Sahutnya pada sang menantu, Adella mengangguk
-
"Abram, Tante Sonya menyuruh kita untuk menikmati makan malam" Sahut Sonya saat Abram justru malah membaringkan tubuhnya
"Kau saja, aku tidak lapar"
"Aku juga tidak lapar, tapi setidaknya kita menghargai pemilik mansion"
Abram membuka matanya, kemudian berjalan lebih dulu melewati sang istri. Dan Della hanya menghela nafas, kemudian tersenyum dengan tenang
Jika pasangan pengantin baru nampak akan lebih mesra, maka berbeda dengan Abram dan Adella. Sepertinya hal itu tidak berlaku untuk mereka
-
"Apa Juan tidak ikut makan Tan?" Tanya Abram saat keempatnya menikmati hidangan makan malam
"Dia menemani istrinya" Max yang menyahut
"Mm, memangnya ada apa dengan Carra Om?" Tanya Della yang sedari tadi memang cukup penasaran. Juga heran pada Carra dengan Juan yang sepertinya lebih banyak menghabiskan
waktunya didalam kamar
"Tidak apa apa. Hanya kabar bahagia" Sahut Max dengan tersenyum pada Sonya
Abram dan Della hanya diam, menunggu Max dan Sonya barangkali akan menyampaikan sesuatu tanpa mereka bertanya terlebih dahulu
"Om akan segera mendapatkan cucu dari Juan dan Carra" Sahut Max dengan binar bahagia yang amat terpancar dari wajahnya
Abram yang sudah selesai mengunyah makannya hanya terdiam, untung saja dia tidak tersedak. Sedangkan Adella yang duduk disampingnya hanya menoleh sebentar
"Selain bahagia dengan pernikahan kalian, kami juga mendapat hadiah dari Juan dengan Carra" Ujar Sonya dengan bahagia
Abram tersenyum miring, benar. Ini adalah hadiah terindah untuknya
HADIAH TERINDAH!