My Best Match

My Best Match
Tidak Akan Bosan



"Bersabarlah Daren. Kita akan pulang besok, kau tidak perlu khawatir!" Leon menenangkan Daren yang.sejak tadi cemas setelah melihat berita tentang Syan. Dan ia baru saja membuka ponselnya. Setelah seharian hanya menikmati kebersamaan tidak penting dengan tiga kawannya.


"Jangan khawatir? Kau sudah gila?" maki Daren, tidak terima.


Leon berdecak pasrah. Sesungguhnya memberitahu Daren memang tidak akan ada gunanya.


"Daren, berita itu sudah berhenti ditayangkan. Tidak ada keributan lagi yang mendebatkan berita tersebut. Aku yakin, dadymu dan calon suami Syan pasti sudah mengurusnya!" Ram menambahi. Daren berdecih tidak suka, calon suami Syan? Rasanya ia ingin mengamuk saja mendengarnya.


"Kau yakin kita akan pulang besok?" tanya Daren sekali lagi setelah beberapa saat.


"Iya, aku tidak berbohong!" Leon yang menyahut.


Kali ini Daren diam. Menautkan jari jemarinya. Sementara wajahnya nampak tetap cemas seperti tadi. Ia masih memikirkan Syan, memikirkan bagaimana kondisi gadis itu setelah jiwanya terguncang dengan kasus ini. Meski Juan sudah mengurusnya, tetap saja Daren merasa tidak tenang. Menyesal ia tidak tinggal di mansion saja.


Sementara itu, di mansion keluarga Zhucarlos, Syan hanya diam di kamarnya sambil sesekali menggigit selimut yang dipegangnya ketika membayangkan kejadian semalam antara Araga dengan dirinya. Betapa memalukan dirinya, astaga.


Syan menghela nafas, menggelengkan kepalanya. Ia malu sekali pada dirinya sendiri. Terlebih ia masih terbebani dengan masalah yang belakangan menimpa dirinya. Walaupun Juan dan Araga sudah membereskannya, hatinya tetap saja merasa tidak bisa tenang.


"Astaga!"


Baiklah, lupakan saja sebentar. Syan beranjak, ia memilih untuk ke lantai bawah, menemui Carra atau siapa saja yang dapat diajaknya untuk berbicara. Sehingga dapat mengalihkannya dari perasaan canggungnya pada calon suaminya sendiri.


"Aku tidak tau, Om. Tapi kurasa, mengasingkannya ke tempat yang jauh dari kota mungkin adalah cara terbaik!"


Samar-samar Syan mendengar obrolan seseorang dengan Juan di lantai bawah.


Ia hafal dengan suara tersebut, Araga. Benar, itu adalah suara Araga.


"Aku sepemikiran denganmu, Araga. Aku juga ingin mengasingkannya saja!"


"Siapa yang akan diasingkan?" tanya Syan yang membuat tiga orang di ruangan itu menoleh pada Syan.


Syan melanjutkan langkahnya ke arah mereka, berdiri disamping sofa yang di duduki Carra. Lupa sudah pada rasa malunya terhadap Araga.


"Syan,"


"Siapa yang akan diasingkan?" tanya Syan sekali lagi saat tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Keluarga Asmita!" Juan yang menyahut.


Syan mengerutkan kening.


"Aku tidak setuju!" putusnya tanpa pertimbangan.


Juan seketika menatap Syan. Begitu juga dengan Carra dan Araga. Mereka tentu saja heran dengan keputusan Syan yang tiba-tiba saja mengutarakan ketidaksetujuannya untuk mengasingkan keluarga Asmita.


"Syan, apa maksudmu?"


"Dad, apa menurutmu hal itu tidak keterlaluan? Kau bahkan sudah mengakuisisi perusahaannya, mereka sudah tidak punya apa apa. Putri mereka juga sudah dikeluarkan dari kampus. Apa penderitaan itu tidak cukup bagi mereka?"


Juan diam, menatap putrinya.


"Aku tidak ingin Dad berbuat lebih kejam dan melanggar hak asasi manusia!"


"Tapi kau, Syan!"


"Aku tidak apa apa Dad, sungguh!"


Juan diam. Mempertimbangkan keinginan Syan.


"Kasihani mereka, Dad!" pintanya lagi dengan sangat.


"Baiklah!" putus Juan akhirnya.


"Biarkan saja mereka!" sambungnya yang membuat Araga mengangguk. Lantas ia bangkit.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang." pamit Araga setelah merasa jika urusannya sudah selesai.


"Syan,"


Carra menyentuh lengan Syan. Menyuruh putrinya itu untuk mengantarkan sang tunangan. Syan mengangguk.


Syan terus saja menghindari tatapan mata Araga, bahkan saat mereka sudah sampai di teras mansion, Syan hanya diam tanpa mau berbicara sepatah katapun pada calon suaminya.


Sampai Araga yang kemudian menegur.


"Syan,"


"Hmm,"


Araga membalikan tubuh Syan agar berhadapan dengannya, gadis itu nampak gugup, bahkan hanya menunduk sampai Araga mengangkat wajahnya. Mau tak mau, akhirnya Syan menatap mata jernih Araga.


"Ada apa?"


Syan menggeleng, sementara Araga tersenyum.


"Tidak usah malu, cepat atau lambat kau pun akan menjadi istriku dan kita akan tetap melakukannya."


Syan hanya diam menatap kesungguhan diwajah tampan pria itu. Rupanya Araga dapat membaca apa yang sedang difikirkannya.


"Telpon aku jika kau rindu. Aku pulang," pamitnya setelah menggenggam tangan Syan sebentar. Syan mengangguk, sampai kemudian Araga berlalu ke arah mobilnya, menyetir sendiri mobil mewah itu keluar dari gerbang utama mansion.


Syan hanya menatapnya, kemudian melambaikan tangan saat mobil Araga sudah tidak ada.


**


Pagi-pagi sekali, Daren tiba di mansion. Pak Abas yang membukakan pintu.


"Tuan muda Daren," sapanya. Daren hanya mengangguk samar. Kemudian dengan cepat berlalu begitu saja ke arah tangga. Pak Abas hanya menatapnya, menggeleng kecil dan kembali ke tempatnya.


"Syan,"


Tok! Tok! Tok!


Beberapa kali Daren mengetuk pintu kamar Syan, tapi belum ada sahutan dari dalam. Daren berdecak, masuk ke kamarnya dan keluar dengan membawa sebuah kunci. Kunci kamar Syan, ia menyimpannya satu ketika dulu sering berdebat dengan Syan. Syan yang pelit meminjamkan laptop dan Daren selalu masuk ke kamarnya dengan diam-diam untuk mengambil laptop. Untuk saat seperti ini, rupanya hal ini berguna untuk ia lakukan.


Cklek!"


Pintu terbuka, tidak ada siapapun kecuali Daren mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Pemuda tampan itu bernafas lega, setidaknya ia sudah berada di mansion dan akan bertemu dengan Syan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Syan saat melihat Daren di kamarnya. Ia mendelik kesal, merapatkan jubah mandinya sementara Daren justru melangkah ke arahnaya dan langsung memeluknya dengan erat.


"Daren,"


Daren tak menggubris, ia mendekap tubuh Syan dengan perasaan menggebu. Rindu.


"Aku merindukanmu, Syan!"


"Aku merindukanmu!"


Syan hanya diam tanpa membalas pelukan sang adik, ia hanya diam membiarkan Daren untuk terus memeluknya.


Perasaan gamang dan bimbang silih berganti menghantui. Akankah ia mempertimbangkan perasaan Daren. Tapi bagaimana dengan Araga? Syan mencintainya, sangat.


Dan apa jadinya jika Daren tau bahwa dirinya bahkan sudah tidur dengan Araga. Apa Daren akan marah?


Apa Daren akan menyerah dan memilih untuk meninggalkannya? Mungkin bagus jika begitu. Cepat atau lambat, Daren memang harus bisa menerima hubungannya dengan Araga. Terlebih jika ada benih cinta Araga yang tumbuh di rahimnya. Maka Daren, benar benar benar harus bisa merelakannya.


"Syan,"


Syan tersadar dari lamunannya, ia tersenyum mendengar Daren memanggil namanya. Rindu yang ia rasa, hanya sebatas kakak kepada adik tersayangnya. Tidak lebih dari itu, Syan tidak mungkin sampai mengkhianati dan mengecewakan Araga.


Ia tidak bisa. Araga sudah terlalu baik padanya. Mungkin Daren juga tulus seperti Araga, tapi Syan tidak bisa mencintainya seperti mencintai Araga. Hanya Araga.


"Daren,"


"Aku mencintaimu, Syan. Aku tidak akan bosan untuk terus mengatakannya!"


TBC