
*
Carra mengerjapkan matanya, sedikit terbangun. Ia merasa amat haus, tapi tangan Juan yang berada di atas perutnya cukup membuat sulit pergerakannya
Pelan pelan Carra memindahkan tangan Juan, sangat pelan. Jangan sampai membuat suaminya itu terbangun
"Sayang_," Lirih Juan. Matanya masih terpejam rapat
Kemudian sesekali mengerjap dengan susah payah
"Mau kemana?" Sejurus kemudian suaminya itu sudah membuka matanya dengan sempurna
"Aku haus, hanya ingin minum" Sahut Carra
"Perlu aku temani?" Tanya Juan
Carra menggeleng cepat
"Tidak usah, hanya sebentar" Tolak Carra dengan lembut, lalu beranjak dari tempat tidurnya
"Baiklah" Pasrah Juan
Ia kembali memejamkan matanya, membiarkan Carra pergi sendiri ke lantai bawah
-
Dan Carra mendapati Abram yang juga tengah mengambil minum di dapur mansion. Meski ragu, Carra tetap melangkah
"Hey" Sapa Abram saat mendapati Carra
Ia melirik jam dinding yang berada di dapur. Pukul 01 dini hari
Carra tersenyum, kemudian mengambil minum di lemarin pendingin, sedangkan Abram duduk di kursi yang tidak jauh dengan meja disana
Sungguh Carra merasa ada yang janggal dengan Abram. Dengan keputusannya yang tiba tiba saja ingin menikah, jujur Carra merasa ada yang aneh dengan pilihan Abram
Carra tidak ingin ikut campur dengan urusan Abram, tapi mengingat jika dulu ia sangat dekat dengan Abram, membuat Carra khawatir pada laki laki yang berada di hadapannya ini
"Ada yang ingin kau katakan Carra?" Abram yang tau betul tingkah Carra akhirnya mengutarakan pertanyaannya
Carra mendehem sebelum menjawab. Berada di tempat yang sama dan hanya berdua saja cukup membuat Carra tidak tenang, ia takut jika ada orang mansion yang melihat nanti. Tapi rasa penasarannya juga cukup kuat mendorong agar ia bertanya kepada Abram
"Katakan saja!" Imbuh Abram
Carra meletakan gelasnya ketempat semula setelah air dalam gelas sudah berhasil ia tandaskan, dan rasa haus yang tadi melanda tenggorokannya pun kini juga sudah sirna
"Abram. Jujur aku merasa ada yang janggal dengan keputusanmu yang tiba tiba saja ingin menikah. Aku tidak berniat untuk ikut campur, hanya saja aku takut kau tidak bahagia dengan keputusanmu sendiri nanti" Tutur panjang lebar Carra
"Dan wanita yang akan kau nikahi, siapa dia. Mengapa Ayah mengatakan jika kau pernah menolak untuk menikah dengannya" Dan unek unek yang dipendam oleh Carra saat makan malam beberapa jam yang lalu pun sudah berhasil ia loloskan dari bibirnya
Abram tersenyum sebelum menyahut celotehan panjang Carra
"Adella, satu tahun lalu Ayahnya memang pernah menjodohkan kami"
Carra diam, otaknya berfikir. Itu artinya tepat saat Abram meninggalkannya dulu ketika mereka memilih untuk mengakhiri hubungan dengan cara damai
"Tapi aku menolak!" Sambung Abram, membuat Carra terkesiap dan menyimpulkan sebuah pertanyaan
"Kenapa kau menolak?" Tanya Carra, lalu tiba tiba saja ia tersadar jika dirinya sudah salah mengajukan pertanyaan
"Karena aku masih mencintaimu Carra. Dan sampai sekarang!" Spontan Abram menyahut
Dan Carra tau jika laki laki di hadapannya ini sedang tidak berbohong sedikitpun. Tiba tiba saja Carra merasa gugup
Tolong jangan bahas masa lalu! Carra sudah mencintai Juan, tolong jangan buat dia merubah haluan, Carra tidak ingin melukai hati seorang pria lagi. Cukup Abram saja yang tidak sengaja sudah Carra buat sakit hati
"Lalu, apa kau mencintai wanita yang akan kau nikahi?" Tanya Carra, mengalihkan pembicaraan pada topik yang memang semestinya
"Tidak!" Jujur Abram. Dan Carra tau jika Abram tidak pernah berbohong dengan perkataannya
Carra sempat tercengang, jadi apa maksud Abram ingin menikahi wanita yang bernama Adella itu, jika Abram tidak mencintainya?
"Lalu, atas dasar apa kau akan menikahinya Abram?"
"Kau tau, sebuah hubungan yang dibangun tanpa landasan cinta tidak akan berakhir bahagia Abram" Tau tau Carra emosi sendiri dengan tindakan Abram yang seperti ingin bermain main dengan sebuah ikatan sakral pernikahan
Abram tersenyum remeh, menatap Carra yang tengah menatap heran padanya
"Semuanya adalah proses Carra. Sama sepertimu, awalnya kau pun menikah tanpa cinta bukan? Buktinya sekarang kau bahagia!" Tutur Abram dengan santai
Carra menunduk, sedikit merasa bersalah juga karena sebenarnya ia berbahagia diatas penderitaan Abram yang mati matian berusaha mengikhlaskan dirinya untuk Juan
"Abram"
"Aku akan mengenalkannya padamu nanti, kau bisa menilainya sendiri nanti, apakah dia bisa atau tidak membahagiakan aku" Tutur Abram, dan Carra masih belum mengatakan apapun
Abram beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Carra yang masih berdiri di tempatnya sejak tadi
"Jangan difikirkan, kita semua akan baik baik saja!" Ungkap Abram, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Terlihat kebingungan, lalu kemudian mengelus puncak kepala Carra sekilas
"Selamat tidur" Ucapnya yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Carra
Carra masih mematung ditempatnya, juga sedikit terkejut dengan tindakan Abram yang tidak terduga tadi