My Best Match

My Best Match
Araga



Terlihat 3 orang gadis tengah asik mengobrol disebuah area nongkrong di dalam pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, sesekali mereka tertawa dan saling meledek


Meledek Syan yang mengajak mereka keluar, tidak seperti biasanya. Anak itu adalah anak rumahan yang jarang mau diajak keluar, apalagi mengajak.


"Heran saja, tidak biasanya kau mengajak kita keluar Syan, ada apa?" Tanya Zoey dengan heran


"Yayaya, biasanya jika kau diajak keluar kau akan bilang ; aku tidak bisa keluar, aku harus menemani Momy Carra. ahhh, aku. .,"


"Sudah cukup?" Syan segera menyela ucapan Lucy yang terus membulinya


"Yaya, baiklah. Silahkan nona Anjasmara"


Syan menghela nafas


"Aku bosan di rumah. Aku sedang sangat kesal dengan Daren"


"Daren lagi?" Tanya Zoey dengan dahi berkerut


"Ya, tentu saja. Menurutmu siapa lagi yang biasa membuat mood ku kacau jika bukan adik durhaka itu"


"Ayolah Syan. bercirita lebih banyak lagi. Aku ingin mendengar tentang Daren"


"Jangan membuatku semakin pusing Lucy"


Lucy hanya cemberut saja. Habisnya mau bagimana lagi, ia amat takjub dengan Daren, kagum, dan sangat mengidolakannya


"Ada apa, kau memarahi Daren karena dia baru saja putus dari Meilin?" Tanya Zoey dengan serius


"Aku tidak memarahi, aku hanya bertanya, itu saja" Elak Syan


"Hanya bertanya dan berakhir dengan perdebatan, begitu?" Ayolah, Zoey benar benar sudah sangat mengenal Syan


Syan mengangguk pasrah


"Sekali kali mengalah saja padanya Syan"


"Big no!" Syan dengan cepat menyahut


"Aku terlalu cantik untuk meminta maaf duluan pada Daren yang menyebalkan itu" Sahutnya sambil mengibaskan rambut


"Cantik?" Zoey dan Lucy bertanya secara bersamaan. Mereka saling berpandangan, pasalnya tidak biasanya Syan membangkan dirinya seperti itu meskipun kenyataannya dia memanglah cantik


"Ya, memangnya apa? Aku tidak cantik, huh?" Sewotnya


"Ya, ya. Kau cantik Syan" Pasrah Zoey dengan Lucy


"Kau sedang sangat bosan Syan?" Tanya Zoey kemudian,


Syan mengangguk


Sementara Zoey mengedarkan pandangannya, begitu ia mendapat objek menakjubkan dipintu masuk, lantas ia menjentikan jarinya


"Lihat!" Serunya sambil menunjuk arah pintu masuk, membuat Syan dan Luzi serentak menoleh kesana


Dimana ada beberapa pria berjalan dengan langkah cepat, tapi bukan itu yang menjadi perhatian mereka. Melainkan seorang pria tinggi proporsional yang berjalan paling depan, ia tampan, sangat tampan, dengan kacamata hitam yang bertengger manis didepan matanya. Pakaian formalnya sudah menjadi sebuah simbol jika dirinya adalah orang penting


Sementara pria berpakain formal disampingnya, nampaknya adalah Skretarisnya, dan 3 lainnya adalah bodyguard. Syan dapat menebak itu


"So?" Dahi Syan berkerut menatap Zoey yang tersenyum penuh arti padanya


"Dia pemilik mall ini, juga beberapa gedung di kawasan ini, dia adalah orang penting Syan"


"Iya, lalu? Jangn berbelit, aku tidak suka!"


"Kau bilang kau cantik kan Syan"


"Hmm"


"Ajak dia berbincang denganmu, bahkan lebih dari itu, atau sekedar duduk dan menikmati coffee dengannya saja. Bagiamana?"


"Semacam challenge ?"


"Anggap seperti itu!"


"Aku tidak mau!" Syan menyahut spontan


"Tidak ada kerjaan!" Desisnya, meraih gelas minumannya dan menggigit gigit sedotannya


Zoey menatap Lucy, meminta gadis itu untuk ikut membujuk Syan. Lucy mengangguk antusias


"Ehemm!"


Syan yang sedang menikmati minumannya lantas menoleh pada Lucy yang tiba tiba saja seolah mencari perhatiannya


"Kau kenapa?"


"Aku hanya berfikir. Mmm, bagaimana jika Daren tau?"


"Tau apa?" Syan membentak, mendengar nama Daren, membuat darahnya mendidih


"Tau jika menerima challenge begitu saja kau tidak bisa!" Sahut Lucy dengan penuh ejekan


Membuat Syan menggeram, membayangkan bagaimana Daren akan meledek dan mengolok oloknya nanti


"Baik" Syan bangkit setengah menggebrak meja


"Baik apa?" Zoey dan Lucy bertanya berbarengan


"Aku akan menerima challenge nya!"


Syan menghela nafas, kemudian beranjak dari tempat mereka dengan segelas minuman ditangannya, berjalan menuju pria tampan itu yang sedang melakukan kunjungan ke toko toko didalam mall


Sementara Zoey dan Lucy berhigh five ria


"Kau yakin dia berhasil Zoey?" Tanya Lucy


"Aku tidak tau, yang pasti. Syan harus berusaha keras"


"Yaya, dia Araga Dimitry. Kau tau, dia orang penting"


"Ya, tapi ini bukan cerita novel. Dia tidak kaku dan misterius, dia murah senyum" Sahut Zoey dengan bangga


"Hanya murah senyum kan Zoey, aku juga murah senyum"


"Kau berbeda!"


"Sudah diam, lihat Syan"


Syan nampak berjalan santai, ia beberapa kali menghela nafasnya. Dia tidak biasa harus berhadapan dengan pria, apalagi jika ia yang pertama kali mencari perhatian


Ahh. Zoey ada ada saja. Menjengkelkan! Dan ia juga tidak ingin dianggap pengecut karena menolak challenge tidak masuk akal ini


"Kalian berdua, cek toko bagian selatan, dan kau di bagian utara, sesuai dengan apa yang kita rapatkan di perusahaan tadi. Aku dengan Erick akan menunggu di ruang reservasi" Pria tampan itu-Araga, mengarahkan bawahannya


"Siap Bos"


Baru Araga akan beranjak, seorang gadis tiba tiba saja menabraknya dan menumpahkan minuman pada pakaiannya, juga membuat 3 bodyguardnya mengurungkan niat mereka untuk pergi


Erick buru buru beranjak


"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja"


Syan mengusap usap bagian jas Araga yang sengaja ia tumpahkan minuman, tapi wajahnya menunjukan ketidaksengajaan yang begitu mendalam. Dan ia sangat tau jika jas yang digunakan pria dihadapannya adalah jas mahal. Sama seperti jas jas milik Juan


"Aku tidak sengaja, maafkan aku"


Araga tak merespond, tapi tangannya ikut membersihkan jasnya yang basah


Sementara Erick yang tadi sempat pergi sebentar segera datang dengan tisue ditangannya


"Maafkan aku tuan, aku tidak sengaja. Sungguh" Sesalnya sambil mengatupkan tangan


Sementara Araga yang sedari tadi tidak memperhatikan gadis yang menabraknya, mulai melihat Syan. Dahinya berkerut, tapi ketika sang Skretaris membuka suara, dia mengalihkan perhatiannya


"Apa Bos perlu berganti pakaian?" Tanyanya


Araga menggeleng


"Aku minta maaf" Syan bersuara lagi, Araga mengangguk


"Euu, bagimana jika aku mentraktir kau makan?"


"Sebagai tanda permintaan maafku"


"Aku akan tidak enak hati kalau sampai kau menolak" Bujuknya, beruntun


Araga mengernyit. Mentraktir? Bahkan ia bisa mengambil apapun disini


"Baik"


Setengah heran, Syan mengangguk dengan senyum miris. Ia hanya heran saja, dengan pria tampan dihadapannya yang dengan mudah membuat rencananya berjalan lancar, dengan langsung mengiyakan tawarannya


"Ada apa? Kau jadi mentraktirku makan nona?"


Syan mengerjap sadar


"Ahh, iya. Tentu saja" Syan mengangguk yakin


Sementara Araga tersenyum penuh arti


"Erick. Urus semuanya. Aku akan disini" Sahut Araga yang langsung diiyakan oleh Erick


Erick berjalan dengan 3 orang berbadan tegap itu menuju eskalator, meninggalkan sang Bos dengan gadis yang menumpahkan minuman dijasnya tadi


"Mari" Ajak Araga, Syan mengangguk. Ia sempat mendelik kesal pada dua kawannya yang tengah tertawa sambil mengangkat jempol padanya


Syan mengikuti langkah Araga menuju stand makanan


TBC