My Best Match

My Best Match
Tidak Ada Celah



Syan hanya mematung didalam kamar mandi. Adalah hal yang sudah ia duga jika ini akan terjadi. Karena saat melakukannya dengan Araga, ia sedang berada dalam masa subur. Sehingga wajar, jika sekarang benda kecil ditangannya memiliki dua garis, positif.


Syan menghela nafas, haruskah ia mengatakannya pada Araga? Apa ini bukan aib, lalu bagaimana?


Beberapa kali Syan hanya mondar-mandir didalam kamar mandi, sampai kemudian ia memilih untuk keluar saja dan menghubungi seseorang.


"Zoey,"


"Ada apa, Syan. Kau merindukanku?"


"Aissh, kau ini. Tentu saja tidak!" sangkal Syan dengan serius. Setelah insiden di kampus sebulan yang lalu, Syan memang memutuskan untuk berhenti kuliah. Rasanya, ia lebih tenang jika berada di rumah saja. Untunglah Juan dan Carra mengizinkan. Sedangkan Araga, dia tidak memberi tanggapan apa-apa. Terlebih akhir-akhir ini dia sibuk sekali dengan urusan pekerjaannya, kemarin dia baru saja pulang dari Sidney untuk urusan bisnis.


"Lalu apa?"


Syan tersadar dari laamunannya saat suara Zoey menginterupsinya.


"Tidak apa-apa. Kau berkuliah hari ini?"


"Tidak ada. Sekarang hari libur Syan,"


"Oh, yasudah jika begitu. Aku akan datang ke rumahmu,"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan,"


"Baiklah, aku menunggumu!"


Syan menutup telpon, kemudian kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara dilantai bawah, Carra dan yang lainnya sudah menunggu Syan di meja makan untuk sarapan.


"Kemana memangnya, Syan?" tanya Juan saat putrinya itu tak kunjung datang.


"Tidak tau, mungkin di kamarnya." Carra menyahut.


"Biar aku panggilkan." Darendra beranjak, menapaki satu persatu anak tangga untuk ke kamar Syan.


Ia hanya mengernyit saat tidak mendapati Syan dikamarnya, tapi feelingnya mengatakan jika Syan pasti berada dikamar mandi.


"Baiklah, dia akan segera turun ke lantai bawah." Daren beranjak, tanpa sadar tangannya menyenggol sesuatu dari atas nakas. Darendra terdiam, menatap benda kecil itu yang berada dilantai.


Ia berjongkok memungutnya, menatap dua garis dalam benda kecil itu dengan tatapan nanar. Sampai suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya mendongak, matanya langsung bertatapan dengan Syan.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Darendra bangkit dengan tampang yang sangat kesal. Padahal akhir-akhir ini hubungannya dengan Syan sudah sangat membaik, ia berharap Syan dapat membuka hati untuknya. Tapi kenyataan yang ia lihat hari ini sudah habis meremas hati dan perasaannya.


Sudah tidak ada celah lagi baginya untuk mendapat tempat meski sedikit saja di hati, Syan.


"Apa maksud semua ini, Syan?" tanyanya dengan tatapan mata yang sudah sangat memerah.


Syan mematung menatap benda miliknya yang berada ditangan Daren.


"Katakan Syan, kau melakukannya dengan Araga?" Daren bertanya dengan suara berat.


"Ini kecelakaan, Daren!"


Daren tertawa meremehkan, sementara Syan hanya mencengkram ujung jubah mandinya dengan perasaan cemas.


"Kecelakaan katamu? Bagaimana mungkin dua orang dewasa melakukannya karena kecelakaan, kau tidak masuk akal!"


"Sungguh Daren. Ini kecelakaan! Ada seseorang yang memasukan sesuatu ke minumanku!"


"Dan Araga melakukannya dalam keadaan sadar. Begitu katamu?"


"Darendra,"


"Kau bukan hanya anak angkat dikeluarga ini Syan, bahkan kau sudah mencoreng kehormatan keluarga ini dengan mengandung anak diluar pernikahan!"


"Cukup Daren!" Syan berteriak.


"Apa yang aku katakan adalah kebenaran, Syan!"


"Tidak sepenuhnya benar!"


Daren terdiam tanpa mau menatap Syan. Sementara mata Syan sudah berkaca-kaca.


"Begini cara kau berbicara pada orang yang kau cinta, Daren?"


"Bagaimana mungkin kau melukai perasaannya dengan kata-katamu?"


"Bagaimana mungkin kau memukul harga dirinya keras-keras seperti ini. Apa maksudmu aku ini murahan?"


"Jika kau tidak suka aku berada di sini. Aku bisa pergi, Daren!"


Syan beranjak membuka lemari, mengambil koper dan memasukan pakaiannya disana. Sesekali menyeka air matanya. Sampai tangannya menggantung diudara saat Darendra menahannya, ia menatap Daren dengan tatapan kecewa, dan tatapan yang diberikan Darendra nampak jauh


lebih kecewa, kecewa pada Syan.


"Tidak ada yang mengizinkanmu pergi dari sini!"


"Mengertilah, Syan. Aku hanya kecewa padamu, belum kau membuka hati untukku, tapi kenapa kau justru mengandung benih cinta dari Araga?"


Syan hanya diam, menunduk dengan terisak. Daren benar, dia pasti sangat kecewa. Tapi bagaimanapun, semuanya sudah terjadi, dan tidak ada orang yang bisa memutar waktu ke belakang.


"Maaf, Daren!"


**


Daren menghentikan mobilnya dipelataran rumah Zoey, ia mengantarkan Syan ke rumah kawannya itu.


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu!" sahutnya sebelum Syan turun dari mobil. Syan tersenyum tipis, kemudian mengangguk dan turun dari mobil. Daren hanya menatapnya sampai Syan masuk kedalam rumah Zoey setelah Zoey membukakan pintu.


Darendra nampak menghela nafas, merebahkan kepalanya pada gagang stir. Ia seperti putus harapan untuk mendapatkan Syan.


**


"Jadi, Darendra marah padamu?" tanya Zoey matanya menatap benda kecil yang sudah diserahkan, Syan. Ia tidak terlalu terkejut, karena sejak awal, Syan sudah mengatakan semuanya.


Daren yang mencintainya, dan kecelakaan antara dirinya dengan Araga. Ia tau semuanya.


"Lalu, bagaimana dengan Araga?" ia sudah bertanya lagi.


"Maksudmu?"


"Dia sudah tau kau mengandung anaknya?"


Syan menggeleng lemah.


"Kenapa kau tidak memberi tahunya. Dia calon ayah dari anak ini, seharusnya dia yang tau lebih dulu, bukan Darendra, Syan!"


"Aku ragu untuk memberi tahu, Araga!"


"Ragu kenapa?"


"Aku takut dia tidak menerima kehadiran anak ini. Bagaimana jika nanti dia malah membenciku, bagaimana jika dia menganggap anak ini hanya aib bagi keluarga Dimitry?"


Syan mendesah frustasi. Zoey menatapnya tak percaya.


"Jangan bodoh, Syan! Justru Araga akan marah jika kau menutupi ini darinya,"


"Jika kau mau menutupi kehamilanmu. Lantas akan sampai kapan?"


Syan hanya diam, apa yang Zoey katakan memang benar, tapi ia tidak memiliki keberanian untuk mengabari Araga. Bagaimana jika apa yang tadi dikatakannya benar, bahwa Araga akan menolak kehadiran anak dalam kandungan Syan. Bagaimana jika Araga malah akan meninggalkannya dan mencari wanita lain nanti.


Atau ...,


"Syan. ponselmu!"


Syan tersadar, ia merogoh ponsel didalam tas selempangnya yang terus berdering. Panjang umur, orang yang menelponnya adalah Araga. Orang yang berada didalam kepalanya.


"Angkatlah!"


Syan mengangguk. Perlahan menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ditelinga kanannya.


"Sayang, kau dimana?"


"Euu, aku di ..., aku di mansion!" dustanya. Zoey nampak mengernyitkan dahi.


"Aku tidak suka kau berbohong, Syan!"


Syan terdiam. Apa Araga sekarang sedang berada di mansionnya?


"Kau dimana?"


"Euu, aku dirumah Zoey!"


"Tunggu disana. Aku akan menjemputmu,"


"Tidak usah. Aku akan pulang sendiri,"


"Tunggu disana dan jangan kemana-mana!"


"Baiklah!" pasrahnya dengan lemah.


"Ada apa?" tanya Zoey setelah Syan meletakan ponselnya.


Zoey hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Baguslah jika Araga yang akan menjemput Syan. Semoga Syan akan berterus terang.


**


Syan hanya tersenyum tipis saat Araga keluar dari mobilnya setelah Erick membukakan pintu mobil. Dengan langkah manly, ia berjalan menghampiri Syan, menggandengnya dan tersenyum pada Zoey.


"Zoey, aku duluan." pamit Syan.


"Berhati-hatilah Syan."


Syan mengangguk, kemudian berjalan dengan Araga ke arah mobil.


"Kau tampak tidak sehat, Syan. Ada apa?" tanya Araga setelah keduanya sudah berada didalam mobil.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja!"


"Perlu ke rumah sakit?"


"Tidak perlu. Jangan khawatir,"


Araga terdiam. Sementara Erick hanya tersenyum saja sambil fokus menyetir.


"Akhir-akhir ini aku sibuk bekerja, tidak terlalu memperhatikanmu, maaf."


"Tidak papa,"


Syan hanya tersenyum tipis, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sedikit bergeser jauh dari Araga. Membuat Araga yang akan menggenggam tangannya akhirnya mengurungkan niat.


Setengah perjalanan, suasana didalam mobil hening. Erick ingin memecah keheningan dengan membuka obrolan, tapi nampaknya dua orang yang duduk di kursi belakang seperti tidak memiliki minat apapun. Terutama Syan.


"Kita akan kemana?" merasa bosan, Syan akhirnya memilih untuk bertanya mengenai tujuan mereka.


"Makan siang." Araga menyahut singkat, Syan mengangguk.


Mobil berhenti di sebuah restoran gaya modern, tepat berada dijantung kota. Araga turun dan membukakan pintu mobil untuk Syan.


"Kita makan disini?" tanyanya pada Araga, pria itu langsung mengangguk.


"Ada apa? Kalau kau tidak suka, kita bisa mencari rempat lain!"


"Euuu, tidak, tidak. Kita makan disini saja!"


Araga menggenggam tangan Syan, berjalan memasuki restoran setelah mendapat sapaan dari petugas resto di pintu masuk. Erick sudah memesan meja untuk mereka berdua.


"Aku sudah memsan makanan kesukaanmu. Lobster, duduklah." Araga mempersilahkan. Syan hanya mengangguk dan duduk setelah Araga menarikan kursi untuknya.


"Lobster?"


Araga mengangguk. Ia tau semua makanan kesykaan Syan.


"Aku tidak ingin lobster,"


"Ada apa?"


"Belakangan ini aku tidak menyukainya."


Mata Araga menyipit menatap Syan.


"Ada apa?"


"Tidak ada. Aku tidak berselera makan." Syan bangkit, berlalu begitu saja meninggalkan Araga. Araga juga bangkit untuk mengejar Syan.


"Nona, ada apa?" tanya Erick, ia sempat memegang lengan Syan karena gadis itu hendak terjatuh.


"Nona Syan tidak apa-apa?" tanyanya. Syan memegangi kepalanya, ia merasa pusing yang sejak tadi ditahannya menjadi semakin parah.


"Tidak apa-apa!"


Syan merasa tubuhnya seperti berada di udara, dan benar saja, ternyata Araga menggendongnya. Erick dengan cepat membukakan pintu mobil.


"Erick. Kita ke rumah sakit sekarang,"


"Baik bos!"


"Araga, aku tidak sakit!"


Araga tak menggubris protesan Syan. Dia hanya diam tanpa mau menatap gadis itu. Dan Syan hanya bisa pasrah.


Pasrah sampai akhirnya ia berada di sebuah ruang rawat dengan infus ditangannya, setelah tadi dokter perempuan memeriksanya. Sekarang, ia sedang menunggu Araga yang pergi keluar dengan dokter tersebut.


Syan sudah berharap-harap cemas. Ia yakin jika dirinya tidak apa-apa. Hanya saja, hari ini belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke mulutnya, dan ia hanya kelelahan saja.


Syan menoleh saat pintu ruangan terbuka, Araga muncul dengan sebuah plastik putih ditangannya.


Ia hanya diam tak menyapa, atau bahkan meski sekedar tersenyum saja tidak. Ia mengeluarkan strofoam dari plastik yang tadi dibawanya. Tadi Araga memang menyuruh Erick untuk membeli bubur.


"Makanlah!"


"Tidak mau,"


"Kata dokter kau kelelahan, Syan. Tubuhmu perlu nutrisi,"


"Aku tidak lapar!"


"Bagaimana dengan anak kita?"


Jleb!


Syan mematung. Menatap Araga dihadapannya.


"Kau sengaja ingin menyakiti anakku, Syan?"


Syan menggeleng lemah. Sudah ia duga, jika dokter pasti akan memberitahukan kehamilannya pada Araga.


"Makanlah,"


Akhirnya Syan hanya bisa pasrah, menerima sesuap demi sesuap bubur yang di berikan Araga padanya.


"Kita akan segera menikah!"


"Maksudmu?"


"Aku akan segera menikahimu!"


"Karena anak ini?"


"Juga karena kau!"


Syan terdiam, ia menerima gelas yang disodorkan Araga, menenggak isinya pelan-pelan, matanya terus menatap Araga yang membereskan strofoam bubur.


Kemudian pria itu duduk di kursi samping bed pasien Syan.


"Aku sudah boleh pulang?" tanya Syan sambil hendak beranjak, tapi tatapan intens Araga membuat nyalinya seketika saja menciut, sehingga Syan memutuskan untuk kembali berbaring saja.


Araga bangkit dan duduk di tepi bed pasien.


"Kenapa kau tidak memberi tahukannya padaku?" tanyanya kemudian.


"Memberitahukan apa?"


"Kehamilanmu, Syan!"


"Yang paling penting, sekarang kau sudah mengetahuinya, bukan?"


"Tidak seperti ini caranya! Aku ingin mendengarnya langsung darimu!"


Syan menghela nafas.


"Araga, aku sedang mengandung anakmu!" sahutnya kemudian.


"Sekarang sudah terlambat!"


Syan hanya memutar bolamatanya, jengah.


"Kenapa kau masih meragukanku, Syan!"


"Aku tidak meragukanmu!" sangkalnya dengan cepat.


"Lantas?"


"Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukannya padamu, Araga!"


"Sayang sekali aku tidak mempercayaimu. Jelas-jelas kau meragukanku. Memangnya kenapa, kau takut aku tidak menerima kehadiran bayi ini, begitu?" Araga nampak emosi.


Syan hanya diam. Apa yang Araga katakan begitu tepat, Syan tidak berani menyangkalnya.


"Berapa kali harus ku katakan Syan. Jangan pernah meragukanku. Janin dirahimmu, adalah milikku. Dia dan kau, adalah tanggung jawabku!"


"Biarkan aku secepatnya menikahimu!"


TBC