My Best Match

My Best Match
Menghangat



*


"Selamat pagi" Sapa Juan pada Carra yang batu saja membuka matanya, juga ada Syan yang duduk bersandar di dada Juan sambil memandanginya.


Keduanya sudah lebih dulu bangun dari pada Carra


"Pagi"


"Masih mengantuk?" Tanya Juan


"Tidak" Carra mengusap wajahnya tanpa merubah posisi


"Oww, Momy tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur" Puji Syan dengan menatap Juan, meminta pendapatnya


Carra hanya tertawa rendah menanggapi pujian putrinya itu


"Jangan memuji Momy Syan, dia akan besar kepala nanti" Ucap Juan sambil mengusap wajah Carra, membuat gadis itu berdecih sebal dengan tindakan sang suami


Sedangkan Syan hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya itu


"Ayo" Ajak Juan ketika ia turun dari tempat tidur


"Kemana Dad?" Tanya Syan sambil berbalik menatap Dady nya


"Kita mandi bertiga" Sahutnya, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi


Syan menutup wajahnya dengan jari jari tangan sambil melirik pada Carra lewat celah tangannya


"Jangan dengarkan Dady mu Syan" Sahut Carra, lalu turun dari tempat tidur sambil menjepit rambutnya, lalu melangkah menuju lemari pakaian


"Tidak akan Mom" Sahutnya tetapi tidak beranjak di pososinya, justru ia malah kembali berbaring di tempat tidur. Membuat Carra hanya menggeleng karena tingkahnya


"Kau mau tetap disitu, atau segera mandi Syan?" Sindir Carra, tangannya sibuk mengambil perlengkapan untuk Juan kenakan ke kantornya


"Hanya sebentar Mom, kumohon" Pintanya dengan mata terpejam


"Baiklah baiklah" Carra mempersilahkan lalu duduk di tepi ranjang, dan Syan pun duduk di sebelahnya


"Sekarang aku ingin tanya" Sahutnya setelah duduk di samping Carra. Carra menoleh ke arahnya lalu memberi isyarat pada Syan seolah bertanya


"Apa Momy benar benar mencintai Dady?" Tanyanya


Entah ada apa, Syan terlihat masih ragu dengan Carra. Mungkin ia hanya tidak ingin sang Dady kecewa nanti jika saja Carra hanya mempermainkannya


"Kalau Momy tidak mencintai Dady mu, memangnya untuk apa Mom mau menikah dengannya, hmm?" Sahut Carra, lalu mencolek dagu Syan


Syan manggut manggut, mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh Carra


"Baguslah, biar nenek sihir itu tidak mengganggu Dady lagi" Katanya dengan cuek, Carra mengernyit. Tidak tau dengan apa yang dimaksud oleh Syan, atau siapa orang yang disebut nenek sihir itu olehnya


"Nenek sihir?" Gumam Carra


"Siapa yang kau maksud nenek sihir Syan?" Tanyanya


Belum sempat Syan menyahut. Pintu kamar mandi terbuka, Juan nampak muncul dengan wajahnya yang segar dan masih basah


Mendekat pada dua wanita di tempat tidur, kemudian mencium pipi mereka satu persatu. Syan hanya meringis saat bibir Juan yang basah menyentuh pipinya, terasa dingin


"Aww, Momy. Dady sangat sexi bukan?" Tanya Syan sambil menutup wajahnya saat melihat dada bidang Juan


Juan yang semula sedang menghadap kaca besar di meja rias menoleh pada Carra yang salah tingkah karena ucapan Syan yang polos itu


Juan tak menggubris ia hanya masuk ke ruang ganti. Memakai pakaian formal pilihan sang istri kemudian kembali ke kamar dan masih mendapati Syan yang bersandar manja pada Carra


"Syan, kembali ke kamar mu dan cepat mandilah" Suruh Juan akhirnya yang langsung di iyakan oleh sang putri


"Momy, tutup mata mu" Teriak Syan sebelum ia benar benar menutup pintu kamar kedua orang tuanya. Membuat Carra melirik ragu pada Juan. Sedangkan Juan, senyum jahil nampak terbit di bibirnya


"Sudah ku katakan. Dia itu sama seperti kau Juan" Sahut Carra dengan acuh tak acuh. Juan tak menyahut, ia asik merapihkan rambutnya. Hari ini ia ada pertemuan penting dengan salah satu pimpinan company bergengsi di kota itu


"Sayang, aku harus segera berangkat. Aku akan sarapan di kantor saja" Katanya sambil merapihkan dasinya


Carra yang semula duduk di tepi tempat tidur lantas mendekat padanya dan mengambil alih pekerjaan yang sedang di kerjakan Juan


"Memang ada apa? Ini masih sangat pagi" Sahut Carra sambil merapihkan dasi sang suami


"Aku ada pertemuan penting di luar kantor hari ini. Apa Robert sudah datang?" Tanyanya


Padahal sedari tadi Carra hanya berdiam diri saja, tidak keluar dari kamar. Carra menggeleng, ada tatapan tidak rela untuk melepaskan Juan, padahal ia sudah terbiasa di tinggalkan oleh suaminya ini


"Kenapa?" Juan yang sadar dengan ekspresi Carra lantas hanya menatap sang istri, menemukan barangkali ada yang salah disana


"Kau belum sarapan, aku hanya khawatir" Dusta Carra


Juan tidak begitu yakin, ia hanya menatap Carra. Kemudian tangannya merengkuh pinggang Carra dan merapatkan tubuh mereka, sedangkan tangan lainnya ada di dagu Carra


Dalam seperkian detik bibir keduanya sudah menyatu, saling ******* satu sama lain tanpa canggung. Menebar kehangatan di pagi yang mendung ini, memang tidak terlihat sinar matahari di celah jendela, jadi simpulkan saja jika hari ini memang sedang mendung


Tapi Juan dan Carra seolah tidak perduli. Panas atau pun hujan tidak masalah, asal keduanya tidak di ganggu oleh kedatangan Syan yang selalu mendadak dan membuat mereka menunda aktivitasnya


Juan menyentuh bibir Carra setelah selesai dengan ciuman mereka. Carra hanya tersenyum, seolah merasa bahwa dirinya belum pernah sebahagia ini.


"Sarapannya enak" Sahut Juan dengan alis terangkat, yang membuat Carra tersipu dengan ucapannya


"Aku ingin menu ini setiap pagi" Sambungnya, lalu mencium bibir Carra lagi, hanya sekilas. Kemudian beralih pada kening dan melangkah keluar dari kamar


*


Setelah selesai mandi, lantas Carra turun ke bawah, berniat untuk sarapan. Tapi saat ia menuruni satu persatu anak tangga, langkahnya mulai melambat


Matanya memaku pada Abram yang tengah sarapan sendiri di meja makan, membuat Carra ragu apakah ia harus turun ke bawah atau tidak. Ia ingin putar balik, tapi sudah terlanjur turun ke bawah dan Abram juga sudah terlanjur melihatnya


"Pak Abas" Panggil Abram begitu Carra sudah ada di depan meja makan dan menarik kursi untuk duduk


Abas yang muncul dari dapur dengan sedikit tergesa gesa lantas segera membungkuk hormat pada dua orang di maja makan


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan muda?"


"Kau hanya perlu berdiri di sini" Abram menyahut dengan cuek, kemudian melanjutkan sarapannya


Abas mengangguk patuh, dan berdiri di tempatnya


Mendadak Carra merasa canggung berada dalam situasi seperti ini dengan Abram, mungkin itu juga alasan Abram menyuruh Abas untuk datang di antara mereka


"Apa Syan sudah sarapan?" Tanya Abram, entahlah pada siapa. Yang pasti itu di tujukan pada Carra yang menikmati makanannya dengan canggung


Carra menatap Abram, begitu juga laki laki itu. Sampai kemudian Abram yang duluan memutus tatapan itu dan pura pura sibuk dengan sarapannya


"M, sepertinya sudah. Rose tidak pernah terlambat mengingatkan Syan sarapan" Tutur Carra


Abram hanya mengangguk. Kemudian suasana kembali menjadi canggung. Rasanya Carra seperti orang asing dengan Abram, aura di tempat keduanya berada benar benar hening dan dingin


Seperti tidak pernah ada cerita diantara keduanya di masa lalu


Seperti tidak pernah ada cinta di antara keduanya


Padahal, dulu keduanya pernah memiliki mimpi untuk hidup bersama, tinggal satu atap, membina rumah tangga yang bahagia, memiliki anak dan menghabiskan masa sampai hari tua


Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu belaka


Sekarang, Cara sudah memiliki Juan. Dan Abram, ia juga harus menemukan pengganti Carra dan hidup bahagia