
"Tunggu, Daren"
"Memangnya kau tak ada niat untuk membawakan koperku"
Dinara terus saja menggerutu sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah cepat Daren yang tak memperdulikannya, keduanya sedang berjalan menuju pintu keluar Bandara
"Dasar so tampan!" Maki Dinara
Daren menghentika langkahnya. Setelah Dinara berada sejajar dengannya lantas ia menurunkan kacamata hitamnya dan menatap Dinara dengan dahi berkerut
"Kau tidak melihat jika aku sudah sangat tampan nona Maharani?"
Dinara memutar bolamatanya dengan jengah, lalu menyerahkan kopernya pada pemuda tampan itu
"Kau akan lebih tampan lagi jika membawakan koperku, Tuan muda Zhucarlos " Sahutnya yang kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Daren
Daren hanya menggeleng, kemudian menatap koper yang sudah beralih pada tangannya
"Damn!"
Daren melajukan mobilnya, meninggalkan Bandara dengan Dinara yang berada dikursi penumpang, gadis itu nampak sibuk dengan ponsel pintarnya
"Seharusnya kau tidak perlu merepotkanku. Kau bisa menyuruh bawahan orang tuamu untuk menjemputmu di Bandara" Oceh Daren yang tidak terima waktu istirahatnya terganggu karena harus menjemput Dinara
"Begini saja kau bilang repot. Hanya menjemputku Daren. And, aku tidak ingin dijemput bodyguard Oma dan Opa. Tidak ada yang tampan!" Ocehnya tanpa melirik sedikitpun pada Daren
Daren hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin berdebat dengan Dinara, dia sama saja seperti Syan. Menyebalkan!
"Ohh, iya. Mengapa kau tidak sekalian mengajak Kak Syan?" Dinara meletakan ponselnya ditas. kemudian setengah memiringkan badannya menghadap pada Daren
"Syan sedang tidak ada di mansion"
"Dimana memangnya?"
"Aku tidak tau. Dia sudah rapih saat aku akan menjemputmu, ku kira dia juga akan pergi ke luar"
Dinara diam. Menopang dagunya dan ...,
"Ku kira dia akan berkencan, ah manisnya ..," Decaknya yang membuat Daren hanya menggelengkan kepalanya saja
" So tau!"
**
Makanan sudah tersaji diatas meja. Syan juga sudah mempersilahkan pria dihadapannya untuk segera makan. Namun diantara keduanya, belum juga ada yang menyentuh makanan
"Ohh, ya. Kita belum berkenalan" Sahut Araga membuka percakapan
"Ohh. Iya"
"Araga" Pria tampan itu memperkenalkan diri tanpa menyebut marganya, tangannya terulur dan langsung di gapai oleh Syan
"Syan"
"Syandu Anjasmara Zhucarlos" Sambung Araga yang membuat Syan tercengang
"Tidak perlu heran!"
Sahut Araga sambil melepas uluran tangannya, Syan tersenyum hambar
"Memangnya siapa yang tidak tau dengan kau. Putri pertama keluarga Zhucarlos" Sambungnya
Syan hanya memutar sedotan dalam minumannya. Pantas saja sangat mudah ketika menawarkannya traktiran, ternyata dia mengenalku. Setidaknya, hanya itu lah yang terbersit dalam fikiran Syan
"Silahkan"
Syan mengangguk, lantas keduanya menikmati hidangan makan dengan suasana canggung bagi Syan, tapi tidak untuk Araga. Laki laki tampan berusia 25 tahun itu terlihat santai dan biasa saja
"Ohh ya. Bagaimana kabar Tuan Juan?" Basa basinya ditengah tengah menikmati makan
"Ohh. Daddy baik"
"Syukurlah, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Kebetulan kerjasama kami sudah selesai. Hanya saja ada beberapa proyek baru yang akan aku kerjakan, aku berniat untuk kembali bekerjasama dengannya"
"Yah, dia sehat. Sekarang dia sedang sibuk dengan beberapa pembangunan Rumah Sakit di kota kota kecil"
Araga mengangguk, setelah sebelumnya ia sempat menatapa Syan cukup lama. Membuat gadis itu sedikit kikuk karena tidak terbiasa. Syan sangat membatasi pergaulannya dengan kaum pria, karena alasan tertentu
"Apa kau sendiri? Biar nanti aku antarkan pulang"
Syan terperangah, dan kemudian menggeleng dengan cepat
"Ohh. Aku hampir saja lupa, aku melupakan teman temannku. Mereka pasti sedang menungguku"
"Tuan Araga, euu"
"Panggil Araga saja" Ralat Araga
"Ohh yah. Araga, aku duluan. Makanannya akan aku bayar" Sahut Syan sambil beranjak. Membuat Araga tidak bisa berbuat apa apa ditempatnya
"Dan, maaf untuk yang tadi, sungguh aku tidak sengaja. Aku duluan, senang bertemu denganmu" Sambungnya dengan terburu buru. Kemudian bergegas meninggalkan Araga
Araga hanya menatap kepergian gadis itu sampai melalui pintu masuk kaca transaparan. Lantas ia merogoh ponselnya dan menelpon seseorang
"Selamat siang Om"
"Iya. Ada apa Araga?"
"Om tidak perlu melakukan rencana pertemuan antara aku dengan Syan. Kami sudah bertemu"
**
Syan disambut tepuk tangan saat kembali pada Zoey dan Lucy. Ia duduk dengan wajah jengah
"Apa kalian puas?"
"Kalian mengobrol apa saja?" Lucy tak kalah antusias
"Tidak banyak. Rupanya dia mengenalku, dia partner bisnis Daddy Juan" Pasrah Syan
"Dan dia tampan. Kau tidak terpesona Syan?" Tanya Zoey dengan dahi berkerut
"Aku tidak berhak terpesona pada pria manapun" Syan tersenyum hambar
"Tuan Araga berbeda Syan"
"Dia tetaplah pria!"
Zoey diam. Syan kembali menyahut "Apa aku benar?"
Zoey dan Lucy bertukar pandang. Dan kemudian mengangguk pasrah
"Oh yah. Jika kau sudah ada kemajuan dengan Tuan Araga. Tolong bantu dekatkan aku dengan Tuan Erick"
"Sekretarisnya?" Tanya heran Syan
"Ya. Memang siapa lagi!"
"Kau gila!"
Zoey hanya menggembungkan pipinya, tidak terima dengan makian Syan
"Kau tau dia siapa?" Tanya Zoey kemudian
Dahi Syan berkerut, kemudian ia menyahut
"Aku tidak perduli. Jangan membahasnya, lagi. Aku tidak akan bertemu dua kali dengannya!"
"Benarkah!"
"Bagaimana kalau 3 kali!"
"Kau lebih gila dari Lucy, Zoey"
Zoey hanya tertawa, sementara Lucy hanya mengernyit santai saja ditempatnya
**
"Habis darimana?"
Syan yang berjalan ke arah tangga menuju kamarnya lantas menghentikan langkah. Menatap Daren yang mulai berjalan ke arahnya
"Dimana Dinara?" Syan justru malah melemparkan pertanyaan
"Kau habis darimana?"
Syan melangkah, tapi Daren menahan tangannya
"Kau habis darimana?" Pertanyaan Daren masihlah sama
"Berkencan?"
"Berkencan? Yang benar saja. Aku tidak berkencan!"
"Lalu?"
"Jangan mengajakku ribut. Tenagaku sudah habis untuk hari ini!"
Daren hanya mengangkat bibir bawahnya ke atas, menambah aksen imut diwajahnya. Sementara Syan hanya memggeleng. Baru Syan akan beranjak, justru Juan datang dengan Carra
Juan masih mengenakan stelan formalnya, sedangkan Carra memakai dress ala rumahan, dengan tangan yang menggandeng lengan Juan, satu tangannya lagi memegang tas kerja Juan
"Ada apa? Apalagi yang membuat kalian bertengkar?" Tanya Juan to the point
Syan melirik pada Daren yang acuh tak acuh saja bersandar pada pegangan tangga
"No, Dad. Kita tidak bertengkar. Hari ini, Daren menjadi anak yang manis, kau tenang saja" Sahut Syan yang membuat ekspresi wajah Daren berubah masam
"Pintar"
Syan mengangguk manis, sementara Daren masih saja menampilkan raut wajah yang tidak bersahabat
"Jangan meributkan hal hal tidak penting!" Carra menambahkan. Syan mengangguk
"Daren? Kau mendengar Momy?" Tanya Carra pada sang putra yang nampak hanya terdiam dan acuh tak acuh saja
"Yes mom!"
"Good!"
"Oh, yah Syan. Hari ini kau kemana saja?" Tanya Juan yang membuat Syan heran. Juan memang seringkali mengontrol kegiatan Syan setiap harinya, tapi mengingat jika tadi siang ia sempat makan dengan seorang pria. Syan takut Juan akan marah
"Syan"
"Dad, euuu"
"Kau habis berkencan?" Tebak Juan yang membuat Syan kelabakan. Sementara Daren menebak nebak, Juan tidak akan berkata seperti itu jika dia tidak mengetahui sesuatu
"Dad...., " Syan ragu. Sementara Carra juga cukup merasa heran
"Tidak papa. Tidak perlu dijawab. Dad akan beristirahat dengan Mom!" Sahut Juan yang kemudian berlalu dengan Carra menuju kamar mereka
Syan bernafas lega di tempatnya, dan itu semua tak luput dari pengawasan Daren, Syan menoleh saat sadar bahwa Daren memperhatikannya. Baru Daren akan angkat bicara, Syan sudah lebih dulu menyela
"Jangan bertanya apapun. Aku tidak akan menjawabnya!"
TBC