My Best Match

My Best Match
Future Husband



"Ada apa Syan?"


Syan menggeleng


"Bohong sekali, kau terlihat murung sejak tadi pagi. Ada masalah?" tanya Zoey saat keduanya berada di perpustakaan kampus. Lucy sedang berada di kantin mengisi kekosongan perutnya


"Baiklah. Aku memang tidak pernah bisa berbohong padamu, " Syan menghela nafas. Ia siap bercerita


"Aku akan segera di pertemukan dengan calon suamiku,"


"Benarkah?" mata Zoey tampak berbinar. Syan mengernyit tidak percaya, sekaligus kesal


"Hey, kenapa kau malah senang begini. Aku yang akan dipertemukan, bukan kau!" Syan mengingatkan


"Yah, dan aku berbahagia untukmu, Syan. Memangnya kau tidak penasaran bagaimana calon suamimu itu?"


Syan diam, mempertimbangkan apa yang tadi dikatakan Zoey. Ia memang sangat penasaran, tapi juga tidak ingin secepatnya di pertemukan dengan calon suaminya itu. Setidaknya, tunggu hatinya yakin jika ia tidak memiliki perasaan apapun untuk Araga


"Bagaimana Syan?"


"Aku penasaran. Tapi rasanya aku tidak ingin secepat ini. Aku memikirkan Araga,"


Zoey terperangah, mendekatkan wajahnya pada Syan


"Kau jatuh cinta pada Araga, Syan?" tanyanya dengan suara super pelan. Syan hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan ekspresi tak terbaca


"Syan," Zoey mencolek lengan gadis itu


"Aku juga tidak yakin dengan perasaanku." Ia spontan menyahut


"Maksudmu tidak yakin?" heran Zoey


"Aku tidak tau," Syan mendesah frustasi


"Artinya kau sedang jatuh cinta, Syan!"


"Darimana kau tau?"


"Kau sering merasa resah saat mengingat Araga?"


Syan diam, tak lama gadis itu mengangguk. Ia memang seringkali tidak enak hati jika mengingat Araga, terlebih jika pria itu tidak mengirim pesan padanya.


"Hey, Syan. Hello ......," Zoey melambaikan tangan didepan wajah cantik Syan


"Iya aku sering merasa resah dan aku memang mencintai Araga. Puas?"


Zoey malah terdiam. Membuat Syan menatapnya dengan heran


"Kenapa sekarang kau tiba tiba saja bersedih?"


"Sekarang aku tau apa yang sedang kau fikirkan, Syan. Kenapa kau sampai tidak ingin segera dipertemukan dengan calonmu itu. Ya, karena kau mengkhawatirkan Araga. Benar?"


"It's true!"


Syan mendesah, tapi ia hanya bisa pasrah. Bagaimanapun, semuanya sudah diatur oleh Juan dan ia tidak bisa melawan


Berbeda dengan Syan. Justru Araga sekarang sama seperti biasanya. Yah, membuat Erick menggeleng kuat karena tingkahnya yang seperti sudah hilang kewarasan


"Bos,"


"Bos." Erick menggeleng saat Araga sama sekali tak menghiraukannya


"Dekan kampus baru saja menghubungi kita bos," ia tetap memaksakan diri untuk mengatakannya pada Araga meski pria itu hanya menyangga dagu sambil tersenyum


"Hmmm,"


"Ada yang ingin beliau katakan."


"Baiklah, kita berangkat sekarang!"


Araga bangkit dari duduknya. Mengambil jas abu yang ia sampirkan pada sandaran kursi dan mengambil ponselnya sambil merapihkan jas. Erick menggeleng, biasanya Araga akan banyak bertanya jika urusan lain. Tapi undangan untuk datang ke kampus, sekalipun ia tidak pernah menolak. Karena alasannya hanya satu. Bertemu dengan Syan


Erick menggeleng, menyadarkan dirinya dan kemudian dengan cepat mengikuti Araga yang sudah lebih dulu berlalu dengan begitu bersemangat


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Sampailah Araga digedung kampus miliknya. Namun sial rasanya ketika di parkiran ia justru berpapasan dengan Darendra yang tengah berkumpul dengan kawan kawannya


"Katakan padaku jika Darendra tidak jatuh cinta padaku!" desisnya pada Erick yang berjalan tak jauh darinya, keduanya terus saja melangkah dengan cuek


"Kau sudah gila bos!"


"Katakan saja apa yang aku perintahkan!"


Erick tersentak


"Baiklah. Kurasa dia hanya iri pada ketampananmu," Erick sengaja mengatakannya, tidak lebih agar masalah cepat selesai


Araga mengangguk bangga. Bagaimanapun, calon adik iparnya itu memang tidak menyukai dirinya, jadi ia harus sabar dan menerimanya saja


"Kenapa kau menatap pemilik kampus itu dengan menyeramkan seperti itu, Daren?" tanya Ram yang sejak tadi memperhatikan tingkah Darendra. Lantas ia meneguk botol minumannya


"Dia calon suami, Syan!"


"Puufftt!" Ram menyemburkan minumnya, Renard yang sial terkena cipratan mulut pemuda itu mengusap wajahnya. Tentu saja ia juga tidak lupa untuk menggerutu dan mengumpat kesal


"Sialan kau, Ram."


"Aku tidak sengaja. Sans Rend," sahutnya dengan wajah tanpa dosa.


"Dia calon suami, Syan?" tanya Lion. Pemuda itu memang sedikit berbeda, ia cenderung lebih cool daripada yang lain


Darendra mengangguk. Ram sedikit tertawa sambil menepuk bahu Darendra beberapa kali


"Sainganmu ternyata berat juga Daren,"


Daren tertawa meremehkan


"Kau fikir aku tidak tampan?" tanyanya dengan memasang wajah tampannya yang super menjengkelkan


"Tampan saja tidak cukup untuk mendapatkan hati kakakmu, Daren. Benar?"


Jlebb!


Daren hanya diam


Syan baru saja akan ke ruang dekan untuk mengantarkan berkas yang dititipkan miss. Jeniver padanya, tapi disana pula ia justru malah berpapasan dengan Araga yang baru saja keluar darisana


Syan memperlambat langkahnya. Ia gugup, juga kesal pada respon acuh tak acuh Araga semalam saat ia meangatakan perihal pertemuan dirinya dengan calon tunangannya


Syan menghentikan langkahnya saat Araga justru menghalangi jalannya


"Selamat siang nona, kenapa kau begitu gugup?" tanyanya dengan jenaka. Membuat Syan menggeram dalam hatinya


"Tolong jangan halangi jalanku tuan Araga yang terhormat. Aku sedang buru buru," sahutnya dengan ketus


Araga melihat sekitar, dan sepi. Ia lantas mendekatkan wajahnya pada Syan dengan mata menyipit


"Ada apa, sayang?"


Syan segera menolehkan wajahnya. Dadanya bergemuruh dengan hebat. Sementara Araga tersenyum dan mengacak rambut gadis itu dengan gemas


"Kau akan ke ruang dekan?"


Syan tak menyahut


"Pergilah. Sampai berjumpa nanti malam," Araga berlalu.


"Nanti malam?"


Syan mengernyit heran, tapi juga tidak tau dengan apa yang dimaksud pria tampan itu


**


Entahlah Syan harus berbahagia atau bagaimana. Ia sudah rapih dengan dress berwarna putih yang dikenakannya. Rambutnya ditata serapih mungkin dengan make'up flawless diwajah cantiknya. Tapi hatinya tidak serapih itu, bahkan menolak dandanan rapihnya sekarang


"Syan," Syan menoleh. Carra masuk, ia juga sudah cantik dan rapih. Tapi raut wajahnya seperti mencemaskan sesuatu


"Mom?"


"Kau tau dimana Daren?" tanyanya


"Dia belum pulang?" Syan justru balik bertanya


Carra menggeleng


"Sudah di telpon?"


"Dia tidak mengangkat telpon,"


Syan diam dengan meremas ujung dressnya. Apa Daren sampai separah ini karena acara pertemuan keluarga yang akan berlangsung sebentar lagi, sampai sampai dia tidak pulang ke mansion


"Kau sudah siap?"


Syang mengangguk


"Aku akan coba menghubungi Daren, mom."


Carra mengangguk, kemudian pamit pergi. Sementara Syan meraih ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Daren


Ia mulai cemas sendiri memikirkan Daren. Ia takut orang bodoh itu akan melakukan hal yang tidak ia inginkan


"Daren, kau di mana?" tanya Syan begitu panggilan tersambung, sementara orang diujung sana hanya tertawa, Syan menggigit jarinya


"Jangan bercanda Daren. Kenapa kau tidak pulang?"


"Untuk apa aku pulang? Untuk melihat kau bertukar cincin dengan calonmu itu? Sudahlah. Aku tidak perlu berada disana. Hidupku tidak berarti lagi, Syan!"


"Jangan bodoh Darendra!" Syan emosi


"Katakan padaku Syan! Apa aku penting bagimu?"


Syan mematung, menggigit ujung kukunya. Pertanyaan Daren seperti jebakan baginya.


"Aku tidak penting, yah." suara Daren terdengar melemah


Syan menghela nafas, setengah kesal


"Kau penting Daren,"


"Kalau begitu bisa kau datang padaku sekarang?"


Kali ini Syan diam. Ia dihadapkan pada dua pilihan sulit antara pertemuan keluarga, atau Darendra


"Bisakah Syan?"


"Tapi bagaimana dengan pertemuan keluarga yang akan segera berlangsung?"


"Artinya kau tidal bisa datang. Aku memang tidak penting bagimu,"


"Bisa!"


Syan beringsut keluar dari kamarnya, berjalan tergesa karena mengejar waktu. Ia takut jika Daren berbuat hal gila dan ia harus datang memastikannya jika pemuda itu sedang baik baik saja, meskipun mungkin hatinya tidak.


"Syan, kau mau kemana?" Carra berteriak saat putrinya berlalu begitu saja keluar dari mansion. Carra mengejar, namun Syan sudah dengan mobilnya dan keluar dari gerbang utama


"Yaampun. Dia mau kemana?"


Sementara diluar gerbang utama. Mobil limosin putih hendak memasuki pelataran mansion, Araga yang berada di dalamnya cukup merasa heran karena melihat mobil Syan keluar


"Bukankah itu mobil, Syan?" fikirnya


Risa menepuk bahu putranya, menyadarkan Araga yang terus menatap kepergian mobil Syan


"Ada apa sayang?"


"Ohh, tidak apa apa ibu." dustanya. Sebenarnya hatinya bertanya tanya benarkah di dalam sana ada Syan


"Sayang," Carra menghampiri Juan yang baru saja keluar dari kamar


"Ada apa?"


"Syan baru saja pergi,"


Alis Juan bertaut


"Kemana?"


"Aku tidak tau, tapi tuan Ardana dan nyonya Risa sudah ada di luar."


Juan diam. Sampai kemudian ia merangkul Carra dan tersenyum begitu calon besannya masuk dituntun oleh Pak Abas


"Selamat malam, tuan Juan." Ardana langsung memberikan pelukan terhangatnya pada Juan. Juan membalasnya dengan penuh ungkapan selamat datang


Carra juga menyapa Risa dan bercengkrama seputar putra putrinya. Sementara mata Araga sibuk mencari keberadaan Syan


Di lain tempat, Syan berdiri dengan berbagai rasa dihatinya. Kesal, marah, kecewa, bimbang, cemas semuaanya bercampur menjadi satu


Daren berdiri dihadapannya. Pemuda tampan itu masih memakai pakaian yang sama saat tadi siang di kampus. Jeans hitam, T shirt putih dan jaket jeans berwarna hitam.


Keduanya berdiri di sebuah taman yang saat itu begitu sepi, atau Daren memang sengaja mengosongkannya


"Kau datang?"


"Kau yang memintaku datang, Daren."


Daren tertawa. Hatinya senang melihat Syan berada dihadapannya, artinya ia memiliki posisi penting dihidup Syan. Jika tidak, Syan tidak mungkin lebih memilihnya dan meninggalkan pertemuan keluarga yang sesungguhnya melibatkan Araga. Karena Araga adalah calon tunangannya, calon suami Syan kelak, Darem benci ini tapi ia harus mengakuinya, jika Araga, adalah calon kakak iparnya


"Apa yang akan kau lakukan? Aku buru buru Daren, aku harus segera menghadiri pertemuan keluarga."


Daren tersenyum miris. Ternyata ia sudah terlalu banyak berharap, dan jauh berfikir


"Aku hanya menyiapkan ini untukmu," Daren menjentikan jarinya dengan ekspresi tak terbaca. Seketika itu serantaian lampu led kecil berwarna kuning menyala disekitar taman dengan bentuk hati yang mengelilingi Syan dan Daren, selang beberapa detik, langit seolah menyala dengan petasan warna warni yang menghiasinya


Syan tertawa bimbang


"Jangan bermain main Daren, Daddy akan marah jika kita tidak ada di mansion sekarang,"


"I don't care!"


"Daren, tapi aku...." Syan lagi lagi harus merasa resah saat seorang pria yang mengenakan pakaian rapih dengan biola ditangannya datang dan langsung memainkan alat musik itu


Daren meraih pinggang Syan, merapatkan satu tangannya pada tangan gadis itu. Menuntunnya untuk bergerak mengikuti irama biola yang mengiringinya


"Daren,"


"Untuk kali ini saja, Syan. Hanya sebentar, aku ingin bersamamu,"


"Berapa kali harus aku katakan Syan. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu."


Syan hanya menundukan kepalanya, ia tidak bisa berkata kata


Sedangkan Araga menggeram kesal di teras mansion keluarga Zhucarlos begitu mendapat kabar dari informannya jika Syan sedang bersama Daren sekarang, berkencan. Setelah tadi Juan mengatakan jika Syan memang pergi begitu saja, dan Juan hanya meminta maaf. Tentu saja Ardana memakluminya, dan makan malam tetap berlangsung dengan penuh canda tawa. berbeda dengan Araga yang tidak dapat bertatap muka dengan calon tunangannya


"Jadi benar, jika Darendra memang menyukai Syan?"


Araga meremas ponselnya. Mungkin dia harus menyusun rencana, bergerak sendiri dengan lebih cepat untuk membuat Syan cepat jatuh dalam pelukannya


TBC