
"Tidak!"
Dinara tetap bersikeras menolak bujukan Della yang mengajaknya turun ke lantai bawah karena sudah ada orang yang akan dikenalkan padanya. Tapi Dinara dengan keras menolak bujukan Della.
"Dinara, kau mau Papamu, marah?".
"Mama. Kalian tidak berbicara dulu denganku, tidak bertanya apa aku setuju atau tidak!"
"Yasudah, Mama bertanya apa kau setuju?"
"Tentu saja tidak!"
Adella menghela nafas, menatap putrinya yang bertahan ditempat tidur dengan selimut yang melilit tubuhnya.
"Yasudah, jika kau tidak bisa di bujuk!" Adella beranjak setengah kesal pada putrinya. Dinara menatap kepergiannya dengan perasaan pasrah. Karena bagaimanapun, ia tetap akan menolak perjidohan ini. Hatinya sudah milik pria lain, dan ia tidak ingin membaginya.
Dinara beringsut, menyingkap selimutnya dan turun dari atas tempat tidur. Baru kakinya akan melangkah menuju balkon kamarnya, suara ketukan didepan pintu membuatnya mendesah.
"Mama, kau tidak perlu memaksa. Tidak akan berhasil, percuma saja!" teriaknya.
Tok, tok!
"Astaga. kenapa nyonya Lucas itu sangat menyebalkan!" ia menggerutu bagai pada dirinya sendiri.
"Aku sudah jatuh cinta pada pria lain, Ma. Mengertilah!"
Tok, tok!
"Demi Tuhan?" Dinara menggeleng geram. Sampai kemudian ia memutuskan untuk membuka pintu kamarnya.
"Mama, sudah kubilang ....,"
Dinara membeku dengan mulut menganga begitu melihat orang yang sejak tadi mengetuk pintu kamarnya dengan nada menyebalkan.
Bukan Adella, tapi Erick.
"Skretaris Erick ..., kau sedang apa?"
"Apa Kak Syan dengan Tuan Araga ada disini?" tanyanya ragu-ragu. Jika sedari tadi orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Erick, maka sedikit banyak ia sudah menjatuhkan harga dirinya sendiri dengan berteriak seperti gadis hutan.
"Tidak ada!"
"Lantas?" dahinya berkerut, jika tidak ada Araga dan Syan, untuk apa Erick ada disini? Begitu pikirnya.
"Aku yang datang bertamu kemari!"
Dinara melongo tak percaya, ia benar-benar harus memastikan jika orang yang berada dihadapannya adalah Erick, nyata dan bukan fatamorgana.
"Aku tidak pernah menyangka, Nona Dinara, jika ternyata gadis yang dimaksud oleh orang tuaku, adalah kau?"
Dinara semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria dihadapannya. Kepalanya masih menerka-nerka.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud!" gadis itu berbicara dengan senyum canggung.
"Kenapa kau tidak mau turun ke bawah?" Erick justru malah melempar pertanyaan padanya.
Setelah tadi Adella bilang jika Syan memang tidak ingin turun, Erick menawarkan diri untuk membujuk gadis itu. Iya benar, mereka dijodohkan.
Orang yang akan dikenalkan pada Dinara adalah Erick, begitupun sebaliknya. Lucu memang, tapi karena kedua orang tua mereka berteman akrab dan tidak ingin hanya sekedar berteman, mereka berniat menjodohkan putra-putrinya. Hingga mereka akan berstatus sebagai besan.
Ini baru rencana sekitar lima bulan lalu, jauh sebelum Adella dan Abram memutuskan untuk kembali tinggal di New York.
"Nona," Erick menegur Dinara yang justru malah mematung.
"Skretaris Erick, aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang kau maksud!" gadis itu masih berusaha mengutarakan rasa heran dan penasarannya.
"Kau akan mengetahuinya jika ikut denganku. Mari," Erick mengulurkan tangannya. Dinara menatap telapak tangan Erick dihadapannya, kemudian menatap wajah pria tampan itu.
Perlahan namun pasti, tangannya terulur dengan senyum simpul, ia membiarkan Erick menggenggam tangannya menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah.
Dinara memejamkan matanya, meminta tolong pada jantungnya yang saat ini sedang berdetak kencang untuk tidak keluar dari rongganya
"Skretaris Erick, kau hampir membuat jantungku keluar dari tempatnya!" Dinara membatin.
**
"Sungguh?" tanya Syan.
"IYA!"
"Benar-benar sulit di percaya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" Syan masih belum bisa percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Dinara yang tiba-tiba saja menelponnya, memberi kabar jika ternyata pria yang akan dikenalkan padanya adalah Erick, pria yang disukainya.
"Kedua orang tua kami berteman baik, Kak."
"Lalu, kau akan menerima perjodohan ini?"
"Bodoh jika aku menolaknya, sudah baik aku tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkannya. Sangat tidak masuk akal jika aku menolak." oceh gadis itu dengan panjang lebar, sementara Syan malah terkekeh geli mendengarnya.
"Kapan pertunangannya akan dilaksanakan?" tanyanya, tidak sabaran.
"Tidak secepat itu, Kak Syan. Kami masih dalam tahap perkenalan, jika aku dan Skretaris Erick yakin, maka kami siap untuk melangkah ke jenjang berikutnya!" Dinara terdengar menggebu sekali menceritakannya.
"Maksudmu kau merasa tidak yakin?"
"Harus dua orang yang merasa yakin, Kak."
"Selama ini kami belum mengenal dengan baik. Apa salahnya jika menjalaninya lebih dulu sambil melakukan pengamatan!"
"Kau ini calon istri apa agen rahasia, Dinara. Kenapa harus melakukan pengamatan!"
"Semuanya butuh pertimbangan yang matang, Kak Syan. Ah, kau tidak akan mengerti, baiklah. Aku tutup telponnya."
"Dadah,"
"Oke,"
Syan hanya menggelengkan kepalanya begitu panggilan terputus. Dinara, beruntung dia hidup sesuai dengan harapannya.
"Syan,"
Syan mendongak, melihat siapa yang baru saja masuk kedalam kamarnya.
"Zoey, Lucy!" ia terpekik senang, dengan segera beranjak menghampiri kedua kawannya dan memeluknya. Rindu.
"Kami merindukanmu, Syan!" ujar Lucy setelah melepas pelukan.
"Aku juga merindukan kalian,"
**
Setelah melepas rindu, Syan mengajak dua kawannya itu untuk berbincang di balkon kamarnya. Ia bersandar pada pembatas balkon, sementara Lucy dan Zoey duduk menikmati kue yang disuguhkan salah satu pelayan mansion.
"Kau tau, Syan. Semenjak kau berhenti kuliah, aku merasa kesepian jika di kampus." Lucy sama sekali tidak berhenti mengoceh dengan mulut penuh. Syan hanya tertawa saja menanggapinya.
"Aku kehilangan selera belajar, bahkan lebih parah lagi aku kehilangan selera makanku, apa kau pikir aku tidak tersiksa?!" Sambungnya.
Zoey yang merasa janggal lantas tertawa dan menyela.
"Ada yang keliru Lucy. Apa katamu tadi, kehilangan selera makan? Yang benar saja!"
"Hey, lantas kau pikir siapa yang tadi pagi memesan tiga mangkuk sekaligus pasta? Hmm?"
Lucy nyengir, ia lupa jika Zoey adalah nyamuk yang selalu ada disekitarnya.
"Saat itu aku lapar, Zoey!"
"Cih, dasar!"
Syan tak menanggapi, ia hanya tersenyum dan menggeleng saja menyaksikan tingkah dua kawannya.
"Syan,"
Syan mengalihkan tatapannya pada Zoey yang memanggilnya. Ia menaikan alis, bertanya dengan bahasa isyarat.
"Kau tidak ada niatan untuk menyuruh calon suamimu datang kemari?"
Syan tersenyum penuh arti, ia tau kemana arah pembicaraan Zoey yang sebenarnya ingin bertemu dengan Erick. Karena jika Araga datang kemari, otomatis Erick juga akan selalu ada bersamanya.
"Kau ingin bertemu dengan Skretaris Araga?"
Zoey mengangguk dengan senyuman.
"Menyerahlah, Zoey!"
Zoey bangkit dari duduknya, berdiri di samping Syan. Sementara Lucy hanya memperhatikan.
"Kenapa kau menyuruhku untuk menyerah?" tanyanya setengah heran.
"Aku baru saja mendapat kabar, jika Skretaris Erick dijodohkan dengan Dinara!"
"Hah?"
"Iya!"
Zoey nampak mematung.
"Tidak ada cara lain, Zoey. Kau harus mundur!"
Zoey diam, menggigit ujung jarinya dan kemudian menyahut.
"Baiklah!"
"Kau mundur semudah itu, Zoey?" Lucy ikut berkomentar.
"Kenapa tidak?"
"Jalan takdir tidak akan pernah salah, Lucy. Barangkali kami tidak berjodoh, mau diapakan?"
Lucy mengangguk setuju. Syan memeluk karibnya itu.
"Tenang saja, kau cantik. Akan banyak orang yang mengantre meminta kau untuk menjadi kekasihnya!"
Zoey mengangguk, mengeratkan pelukannya pada Syan. Ia juga tidak paham dengan perasaannya pada Erick, tapi satu hal yang ia tau setelah mendengar kabar ini dari Syan. Cinta, tidak harus memiliki, ia percaya hal itu.
Saling mendoa'kan mungkin jalan terbaik untuk mencintai.
**
Darendra hanya diam di loby perusahaan. Ia baru saja keluar dari ruangan Juan, dan ia belum memiliki keinginan untuk pulang. Sehingga berdiam diri saja menjadi pilihannya.
Tangannya sibuk menggeser-geser layar ponsel, sementara fikirannya entahlah kemana. Jujur, ia masih menolak percaya jika sebentar lagi, Syan benar-benar akan memulai kehidupan barunya dengan Araga.
Meninggalkan dirinya dalam belenggu cinta.
"Ada apa?" pertanyaan dan tepukan dibahu membuatnya menoleh. Ia tersenyum tipis saat mendapati Abram disampingnya.
"Kau sedang tidak ada urusan?"
"Tidak ada, Uncle. Ada apa?"
"Ikutlah denganku!"
Setelah ikut dengan Abram, kini Daren berada disebuah kafe, di lantai atas outdoor. Semilir angin sore mulai menyapanya, menerbangkan rambut hitam legam bagian depannya.
"Bagaimana suasananya?" tanya Abram setelah menyesap kopi hitam miliknya.
Daren hanya tersenyum, kemudian kembali mengedarkan pandangannya pada panorama langit musim panas yang nampak indah.
"Apa kau merasa sedikit tenang?" Abram kembali bertanya.
"Kurasa begitu,"
Abram tersenyum puas. Akhir-akhir ini, ia memang kerap kali memperhatikan Daren yang nampak berbeda, dan ia menemukan jawabannya secara langsung dari Juan saat ia bertanya.
Melihat Daren yang nampak hanya terdiam dengan tatapan kosong di loby perusahaan tadi, akhirnya Abram memutuskan untuk mengajak Daren nenikmati kopi.
"Tidak biasanya, Uncle mengajakku keluar untuk menikmati kopi, ada apa?"
"Hanya menikmati kopi saja!" Abram menyahut logis. Tidak ingin banyak bicara, Daren hanya mengangguk saja.
"Daren,"
"Hmm,"
"Kau mengetahui hubunganku dengan Juan dan Carra dimasa lalu, bukan?"
Daren menurunkan bibir cangkir dari bibirnya, menatap Abram dengan tatapan heran. Heran karena tiba-tiba saja Abram menanyakan hal demikian.
"Dinara pernah menceritakan!" sambungnya yang membuat Daren mengangguk.
Abram tersenyum.
"Kau tau Daren, aku sangat mencintai Carra. Lama kami menjalin hubungan, menikmati masa muda dengan kebersamaan. Tapi siapa sangka, jika takdir baik tidak dapat berpihak pada kami." Abram bercerita.
"Ketika aku tau jika Juan dijodohkan dengan Carra, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku dengan begitu saja merelakan,"
"Bukan tidak ingin berjuang, hanya saja bagi Carra, kebahagiaan kedua orang tuanya sangatlah penting. Dan bagiku. kebahagiaan Juan juga sangat penting!"
Daren mendengarkan penuturan Abram. Sementara Abram diam-diam menahan perih dihatinya saat ia harus kembali menyelam ke masa lalu antara dirinya Carra, dengan Juan.
"Ketika aku sadar jika Juan sangat mencintai Carra, aku benar-benar belajar untuk ikut bahagia dengan kebersamaan mereka. Aku percaya, jika Juan bisa membuat Carra bahagia."
"Sampai seiring berjalannya waktu, aku juga melihat Carra yang perlahan mulai mencintai, Juan." Abram tersenyum hambar dibagian ini. Daren masih setia mendengarkannya.
"Mencintai itu sederhana, Daren. Asal melihat orang yang kita cintai bahagia, maka kita juga akan ikut bahagia."
"Mungkin hati kita berbeda perihal merelakan, tapi aku yakin, dalam memperlakukan orang yang kita cintai, kita memiliki perasaan yang sama!"
Abram tersenyum setelahnya. Dan sejauh ini, Daren paham, jika selain mengenang masa pahitnya, sebenarnya Abram juga sedang menceritakan hal itu untuknya.
Untuk menasihati dirinya. Tapi, haruskan Daren juga sama dalam mengambil langkah untuk membuat keputusan merelakan. Merelakan Syan?
"Kau tidak akan menyesal sudah membuat Syan bahagia. Bahkan kau sudah berbesar hati dengan membiarkan pertunangan itu terjadi!"
TBC