
Carra membuka pintu pelan pelan, dan ia mendapati Juan yang sedang duduk di tepi ranjang dengan memijat pangkal hidungnya
Carra ikut duduk disampingnya setelah meletakan tas kerja Juan di sebuah rak khusus
"Kau ingin du buatkan coffee?" Tanya Carra, mencoba mencairkan suasana, ia tidak yakin jika keadaan hati Juan sedang baik baik saja
Bahkan Carra tidak mengerti dengan maksud kemarahan Juan, entahlah dia marah karena apa. Jika marah karena Carra yang terluka, maka itu berlebihan! Toh Carra juga tidak papa
Luka ditangannya masih jauh dengan urat nadi, dia tidak akan langsung mati
"Tidak usah Carra, aku tidak ingin apapun" Sahutnya dengan dingin, kemudian berdiri dan membuka jasnya
Carra juga berdiri, berniat membantu suaminya itu meski agak canggung
Carra membantu Juan membuka jas dan dasi yang di kenakannya. Tatapan keduanya bertemu cukup lama, sampai kemudian Juan menepis pandangannya karena Carra yang seperti menghindar. Jujur itu membuat Juan tidak nyaman
Bahkan Juan masih mencari cara bagaimana agar dia bisa menyentuh Carra tanpa mendapat penolakan, ia sudah tidak tahan terus menerus menolak hasratnya
"Biar aku siapkan air hangat!" Sahut Carra yang memecahkan kecanggungan yang terjadi di antara keduanya
Carra berlalu ke kamar mandi mereka setelah Juan menganggukan kepalanya
Juan hanya menatap kepergian Carra sambil melepas satu persatu kancing kemejanya, entahlah istrinya itu lupa atau bagaimana membukakan kancing kemejanya
******
Tok tokk took
Carra yang sedang merapihkan tempat tidur hanya menoleh pada Juan yang sibuk berkutat dengan laptopnya. Ia hanya acuh tak acuh saja
Carra segera membukakan pintu dan mendapati salah satu pelayan mansion yang berdiri di depan pintu kamar Carra
"Maaf Nona, Nyonya besar menyuruh anda dan Tuan muda untuk segera berkumpul di meja makan" Sahutnya yang kemudian permisi, setelah Carra mengiyakan
Sepertinya makan malam, Carra kembali masuk
"Ibu menyuruh kita untuk makan malam" Sahut Carra karena Juan hanya sibuk saja dengan pekerjaannya
"Aku tidak lapar!" Sahut acuh Juan yang tetap sibuk mengotak atik laptop
"Tadi siang kau juga tidak makan" Protes Carra sambil menutup laptop Juan, terserah jika pun dia akan marah pada Carra
"Ya, tapi aku tidak ingin makan!"
Carra membuang nafasnya dengan kasar kemudian berbaring di samping Juan, Juan menahan tangannya
"Kenapa kau tidak makan?"
"Aku tidak lapar"
"Kau harus makan!"
"Tapi aku tidak ingin makan" Sahut Carra, mengulang apa yang tadi di katakan oleh Juan, lalu ia menarik selimut dan memejamkan matanya
Juan mendengus, kemudian meletakan laptopnya di atas nakas dan menyibakan selimut yang menutupi tubuh Carra
"Carra! Kau harus makan!" Tegasnya
Carra membuka matanya
"Aku mengikuti suamiku!"
"Aku akan makan jika suamiku makan" Sahut Carra
"Istri yang cerdas" Decak Juan dengan gelengan kepala yang tidak habis fikir pada Carramell
"Baiklah, ayo kita kebawah" Ajak Juan kemudian dengan sedikit terpaksa. Ia tidak mau istrinya jatuh sakit, tidak makan karena keegoisannya
Carra tersenyum, lalu bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan bersama Juan menuju meja makan yang tepat berada di lantai dasar
Sonya, Max, dan Abram sudah menunggunya di meja makan. Juga ada beberapa pelayan yang berdiri disana, siap siaga barang kali majikannya membutuhkan sesuatu
"Selamat malam semua" Sapa Juan yang kemudian duduk di samping Abram, Carra duduk di sampiang Sonya berhadapan dengan suaminya
"Malam Juan, lama sekali" Komentar Max yang sudah siap dengan makannya
"Ada insiden kecil" Sahut enteng Juan
"Apa itu?" Tanya penasaran Max sambil mengunyah makaanan yang ada di mulutnya
"Tuh" Juan menunjuk dengan dagunya, pada Carra yang sedang menyendokan nasi untuknya
Sontak saja semua pandangan beralih pada Carra
Juan ada ada saja, bagaimana jika mereka berfikiran macam macam? Padahal Carra dan Juan tidak melakukan apapun, kecuali Juan yang tadi memperlambat mereka
"Ohh, yayaa" Sahut Max dengan sedikit kekehan seolah mengerti apa yang di maksud putranya, tapi tidak ingin berlarut larut. Kasihan pada menantunya
Sedangkan Sonya hanya tersenyum
Abram? Ia tetap melanjutkan makannya seolah tidak tertarik dengan apa yang sedang orang orang bicarakan
"Ibu, dimana Syan?" Tanya Carra karena tidak melihat Syan di meja makan, dan ia baru menyadari hal itu
"Ibu sudah membujuknya untuk ikut makan, tapi dia tidak mau" Sahut Sonya dengan raut wajah penuh penyesalan
Carra menatap Juan, sedangkan yang di tatap hanya asyiik makan saja
"Tidak papa nak, ada Rose. Dia pasti bisa membujuk Syan" Sahut Max dengan senyum tulus pada Carra, takut takut menantunya cemas nanti
Tentu saja dia tau apa yang terjadi tadi sore di mansion ini
Carra mengangguk menanggapi ucapan mertuanya, sedangkan Juan nampak masih sama. Hanya acuh tak acuh saja
******
Selesai makan, semuanya kembali ke kamar. Juan menggandeng Carra tapi sebelum keduanya naik ke tangga Carra lebih dulu menghentikan langkah Juan
"Ada apa?" Tanya heran Juan
"Kau ke kamarlah lebih dulu, aku akan menemui Syan sebentar" Sahut Carra dengan tatapan tulus pada Juan seolah meminta izin. Juan mengangguk memberi izin, kemudian melepaskan gandengannya di pinggang Carra
Carra melangkah menuju kamar Syan, sedangkan Juan melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka, kamar Carra dengan Juan
******
"Syan" Sahut Carra sambil mengetuk pintu kamar Syan
Tak lama Rose membukakan pintu
"Boleh Momy masuk?" Tanya Carra sebelum ia benar benar masuk ke dalam kamar Syan
Yah, bahkan Carra sudah menyebutkan dirinya sendiri itu seorang Momy pada Syan
"Rose. Apa dia mau makan?" Tanya Carra begitu ia duduk di samping Syan yang sedang berbaring dengan wajah di tekuk
"Sudah Nona" Sahut patuh Rose
Carra mengangguk, kemudian menatap Syan
"Kenapa kau tidak ikut makan dengan kami, hm" Tanya Carra dengan lembut
"Aku takut pada Dad" Sahutnya, jujur tanpa menatap Carra
"Mengapa takut? Dia baik"
"Mom tau, jika Dad sedang marah padaku. Dia tidak akan mau bicara, dia tidak mau melihatku" Sahut Syan dengan penuh penyesalan
"Benarkah?" Tanya Carra. Ohh ternyata Juan seperti itu pada Syan
Syan mengangguk ragu
"Aku tidak bisa tidur sebelum Dad menemuiku" Syan dengan suaranya yang bergetar, matanya sudah berkaca kaca
"Kau ingin tidur dengan Dad?" Tanya Carra
Syan menggeleng, dengan air mata yang jatuh dipipinya
"Mengapa tidak ingin tidur dengan Dad, kau takut?"
"Aku takut Dad marah padaku"
"Tidak, Dad tidak marah padamu"
"Mom bohong, kalau Dady tidak marah padaku, dia pasti menemuiku dulu sebelum tidur. Dady sering melakukannya" Rengek Syan yang begitu terlihat amat sedih
"Baiklah, mari ikut dengan Momy. Kita tidur bersama dengan Dady" Sahut Carra kemudian berdiri dan mengangkat tangan untuk mengajak Syan
Tapi Syan menggeleng
"Ayolah. Mom berjanji Dad tidak akan memarahimu" Sahut Carra
Perlahan Syan mengangguk, kemudian keduanya keluar dari kamar Syan dan berjalan menuju kamar Juan
"Uncle" Sahut Syan saat berpapasan dengan Abram di ruang tengah
"Hey manis, kau akan kemana?" Tanya Abram sambil mengelus puncak kepala Syan
Matanya sempat bertemu dengan mata indah Carra, tapi ia segera menepiskannya
"Tidur dengan Dad" Sahut Syan dengan bersemangat
Abram manggut manggut
"Uncle, aku duluan" Pamitnya pada Abram yang masih berdiri dengan secangkir coffee di tangannya
*******
Carra pelan pelan membuka pintu, Syan sepertinya masih ragu karena dia hanya berjalan dengan langkah di seret mengikuti Carra. Di dalam kamar nampak Juan yang sedang bermain ponsel, barangkali dia menunggu Carra dan ingin meminta jatahnya yang sudah lama tertunda
Tapi mungkin juga akan kecewa karena ada Syan di antara mereka nanti
"Syan, kau bicara pada Dad" Sahut Carra, kemudian berlalu ke kamar mandi, meninggakan Syan yang masih berdiri di depan Juan. Memberi ruang pada ayah dan anak itu untuk berbicara, meski ragu Syan tetap mengangguk
Juan meletakan ponselnya dan beralih menatap Syan, gadis itu malah tertunduk. Tidak berani menatap mata sang Ayah
"Sorry Dad, sungguh. Aku tidak sengaja melukai tangan Mom, aku tidak sengaja Dad. I am so sorry" Sahutnya dengan isakan
"Kemarilah!" Suruh Juan pada Syan, kebetulan jarak keduanya memang sedikit berjauhan
Syan menurut, ia mendekat pada Juan dan langsung di hadiahi pelukan oleh Juan
"Maafkan Dad juga, Dad sudah keterlaluan padamu. Dad hanya tidak ingin kau dan Mom itu celaka, kau mengerti maksud Dady kan Syan?"
"Yess"
"Maafkan Dad" Sahutnya sekali lagi lalu mengecup pipi Syan
Carra yang baru keluar dari kamar mandi hanya tersenyum, usahanya untuk membuat Syan tidak bersedih lagi akhirnya berhasil
"Boleh aku tidur disini? Momy sudah memberiku izin" Sahut Syan
Juan hanya meringis karena anaknya itu malah meminta tidur dengan Carra dan Juan
"Tentu saja boleh" Sahut Juan pada akhirnya, karena tidak mungkin juga ia melarang anak itu sedangkan Carra sudah memberikan izin padanya
Syan langsung tersenyum senang dan mengambil posisi di antara Carra dan Juan, setelah mematikan lampu utama Juan juga berbaring di tempat tidur. Posisi Carra dan Juan sama sama miring menghadap pada Syan yang sepertinya belum mengantuk
"Dad, kau sudah tidur?" Tanya Syan dengan suara yang pelan
"Dad, kau bisa membacakan aku dongeng?" Tambahnya
"Syan, Dad tidak bisa membacakan cerita, kau tau bukan?!" Protes Juan
"Kau belum mengantuk Syan?" Tanya Carra yang kali ini angkat bicara
"Belum!"
"Biar Mom membacakan dongeng untukmu" Sahut Carra yang membuat Syan senang. Sepertinya Rose selalu membacakan dongeng pada Syan sebelum tidur
Carra keluar kamar sebentar untuk ke kamar Syan mengambil buku dongeng. Tak lama ia kembali dan menyalakan lampu utama, tapi pemandangan di depan matanya membuat Carra geleng geleng kepala
Akhirnya Carra kembali mematikan lampu karena melihat Syan yang sudah tidur dengan pulas di samping Juan yang juga sudah tidur
Carra merasa belum mengantuk, ia malah tidur dengan posisi miring. Menyangga kepalanya dengan tangan, kemudian mengelus wajah mungil Syan. Carra tidak menyangka, baru dia menikah satu minggu yang lalu dan kini sudah memiliki anak saja. Anak yang cantik dan juga penurut
Pandangan Carra kini beralih pada Juan, perlahan ia mengelus sisi wajah Juan yang nampak damai dengan tidurnya. Hampir tidak pernah Carra menyentuh wajah ataupun tubuh Juan, kecuali jika keduanya sedang tidur dan tanpa sengaja berpelukan. Karena rasanya sering saat bangun tidur posisi keduanya selalu menempel
Perasaan Carra kepada Abram barangkali telah sirna, meskipun Carra masih belum mampu mencintai Juan
Juan orang yang baik, dia bertanggung jawab dan dewasa. Setelah menikah, Carra tidak melihat tampang menyebalkan dari wajah Juan. Yang ada hanyalah Juan yang gila kerja dan sangat menyayangi keluarga, hanya itu yang Carra lihat
Juan yang merasakan ada sentuhan di tangannya lantas membuka matanya dan menahan tangan Carra
Cukup lama mata keduanya saling bertemu dan seolah mengatakan sesuatu
"Ada yang kau inginkan?" Tanya Juan kemudian memecah keheningan yang tadi sempat tercipta, dengan suaranya yang agak serak
"Tidak ada" Sahut Carra dengan tatapan yang kini beralih pada Syan yang tertidur pulas. Tangannya masih di tahan oleh Juan
/*/*/*'
With love : Evayulianti❤