
*
Abram memijit pangkal hidungnya begitu ia bangun dari tidur. Mendapati dirinya berbaring dalam sebuah kamar dengan
nuansa serba putih cukup membuatnya heran
Siapa yang membawanya sampai kesini?
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, saat ia mendapati seorang wanita yang tengah berbaring di sampingnya
Oh, tidak
Bahkan Abram juga melihat bercak darah ditempat tidur di seprai putih itu
Abram menggelengkan kepalanya, mencoba mengingat ingat apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya
Kemudian, kilatan kilatan kejadian semalam yang terjadi antara dirinya dengan gadis disampingnya itu mulai memenuhi isi kepalanya
Kembali Abram menggeleng. Menolak kenyataan yang diingatnya dengan jelas
*
*FLA**SHBACK ON*
"Abram!"
"Hey"
"Abram, kau mabuk berat!"
Dengan susah payah Della membopong tubuh Abram untuk ia bawa keluar dari club malam itu. Awalnya Della datang kesana untuk bersenang senang, tapi melihat Abram dalam keadaan yang cukup kacau membuatnya tidak tega jika membiarkan laki laki itu
Dan Abram yang terus meracau cukup membuat Della merasa kacau. Ia terus terusan menyebutkan nama wanita yang setau Della itu adalah nama mantan kekasih Abram. Della berusaha untuk tetap fokus menyetir, tidak ingin memperdulikan racauan Abram yang semakin melantur
Bingung membawa Abram kemana, dengan terpaksa Della membawa Abram ke sebuah kamar hotel
Tidak ada niatan buruk yang akan dilakukan wanita itu selain hanya mengantarkan Abram dan kemudian akan meninggalkan laki laki itu
Della merebahkan tubuh Abram, kemudian menyelimutinya
"Kenapa kau tidak bisa mencintaiku Abram?" Lirih Della sebelum ia meninggalkan Abram di kamar hotel
Della menghela nafas, kemudian mulai melangkah pergi. Tapi tangannya yang tiba tiba saja ditarik oleh Abram membuat gadis itu jatuh dan menubruk tubuh Abram
Wajah keduanya amat berdekatan, bahkan Della mampu merasakan bau alkohol dari deruan nafas yang keluar dari mulut Abram
"Abram"
"Abram"
Suara Della tercekat saat bibir Abram dengan begitu saja menubruk bibirnya. Melumat dan mengabsen habis isi mulut Della
Sampai kemudian
Plakk!
Tamparan dari Della mendarat dengan begitu keras di pipi kiri Abram, membuat laki laki itu sedikit kembali menggelengkan kepalanya karena pusing yang kembali menyerangnya
"Jangan brengsek Abram!" Sahut Della yang kemudian melangkah menjauh dari Abram
Ia memang mencintai Abram, tapi melihat kekacauan yang ada pada diri Abram membuatnya enggan dengam perlakuan lelaki itu
Baru ia menggapai handle pintu untuk keluar, tapi tiba tiba saja Abram memeluknya dari belakang.
"Abram, apa yang kau lakukan?!"
Della yang tidak terima berontak, tapi justru malah membuat Abram semakin dibakar gairah
Tentu saja tenaga Della kalah besar oleh laki laki yang sekarang mulai menyeret Della ke atas tempat tidur itu
Della memang mencintai Abram, tapi ia juga tidak ingin merelakan mahkotanya begitu saja sedangkan Abram sama sekali tidak menaruh hati padanya
Della tidak ingin jika dirinya nanti di buang begitu saja oleh Abram. Bagaimana pun, keadaan Abram sekarang adalah dibawah pengaruh alkohol, ia tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya sekarang
"Abram. Jangan lakukan itu, atau kau akan membuat dirimu menyesal nanti"
"Aku bukan Carramell"
"Aku Adella, Abram. Kumohon hentikan!" Pinta Della
Bahkan Abram sama sekali tidak mendengar rintihan permohonan Della. Sampai akhirnya, kesucian gadis itu benar benar sudah terrenggut dan Della hanya bisa pasrah
Berharap agar esok Abram tidak akan lagi meninggalkannya, meski itu amat mustahil untuk tetjadi
*
Della mengerjapkan matanya saat merasa ada pergerakan disampingnya. Dan saat ia mendapati Abram yang tengah mengancingkan kemejanya, ia sadar pula jika laki laki itu akan pergi meninggalkannya.
Untuk yang kesekian kalinya
"Kau mau kemana?" Tanya Della, tangannya menggapai ujung kemeja Abram yang langsung di tepis oleh laki laki itu
"Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku!" Teriaknya saat Abram tidak menggubrisnya sama sekali
"Untuk apa kau mau melakukannya denganku. Kau sengaja menjebak ku bukan?!"
"Hentikan omong kosongmu itu!"
"Jelas jelas kau yang memaksaku untuk melakukannya!" Suara Della mulai tercekat.
Apa yang semalam ditakutkannya benar benar terjadi pagi ini. Dimana Abram malah akan meninggalkannya setelah mendapat kepuasan darinya
Bahkan Abram menuduhnya sengaja melakukan hal gila ini untuk menjebak dirinya, padahal tidak demikian
Abram tersenyum remeh, mencoba menutupi kenyataan jika sesungguhnya dirinyalah orang yang memang memaksa Della untuk melakukan hal semacam itu semalam
"Aku harus pergi!"
Sahut Abram kemudian, kemudian pula ia melangkah menuju pintu keluar
Meninggalkan Della yang tengah terisak di tempat tidur
FLASHBACK OFF
*
"Apa kau tidak akan mengatakan apapun, atau sekedar meminta maaf karena sudah menodai dan menghancurkan hidupku?"
Abram membanting sebuah gelas bekas air minumnya yang telah ia tandaskan, fikirannya kalut. Ucapan terakhir Della terus mengiang ditelinganya sebelum akhirnya ia keluar dari kamar hotel itu tanpa berbicara sepatah kata pun
Rasanya ia tak kuasa mengatakan apapun meski hanya mengucapkan kata maaf. Meski hanya maaf
Abram bukanlah laki laki brengsek, dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia berubah menjadi laki laki paling brengsek di jagat raya
Ia benar benar sudah melukai harga diri Della
Tanggung jawab!
Yah, sepertinya memang hal itu yang harus Abram lakukan, tapi mengingat hatinya yang masih terkunci rapat. Abram ragu melakukannya
Pun ia tidak mencintai Della sedikitpun, atau bahkan mungkin tidak akan pernah
Hatinya masih di huni oleh orang yang telah lama menetap dihatinya. Seandainya saja Abram tidak mengingat dengan jelas bagaimana semalam hal itu terjadi, mungkin dirinya tidak akan sefrustasi sekarang!
Abram segera menekan ikon hijau saat panggilan masuk dari Juan menggetarkan ponselnya yang ada di hadapannya
"Ada apa?" Adalah kata pertama yang keluar dari mulut seorang Abram saat menerima telpon dari Juan
"Hey, ada apa. Kau seperti wanita yang sedang kedatangan tamu bulanan saja!" Canda Juan di ujung sana, yang merasa heran dengan nada bicara Abram
"Katakan ada apa kau menelponku!" Suruhnya tanpa basa basi
"Baiklah. Kenapa kau tidak masuk ke kantor hari ini?" Tanya Juan, yang tiba tiba saja membuat Abram lagi lagi mematung dan mengingat kejadian semalam
"Kau masih disana. Kakak!"
"Jangan memanggilku Kakak!"
"Iya baiklah. Lalu kenapa kau tidak masuk ke kantor hari ini?" Pertanyaan yang sama kembali Juan lontarkan
"Aku hanya tidak enak badan" Dusta Abram
"Sungguh?"
"Iya, memang apa lagi?"
"Baiklah, aku hanya takut terjadi apa apa denganmu"
"Memangnya apa?" Tanya heran Abram. Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan saudaranya itu
"Aku hanya takut kau mati sebelum menikah!"
Terdengar kekehan kecil saat Juan telah mengatakan hal itu, ia sudah berhasil mengolok olok saudara sepupunya
"Sialan kau!" Dan akhirnya kata kata itulah yang keluar dari mulut manis seorang Abram Lucass
Dan setelah panggilan terputus. Fikiran Abram lagi lagi kacau karena memikirkan Della
Wanita yang pernah di jodohkan dengannya dan bahkan semalam ia tiduri
Ahh, lelaki macam apa dirinya yang bahkan meninggalkan Della begitu saja
Menuduh wanita itu jika dia yang sudah menggoda dirinya
Abram memijit pangkal hidungnya. Masalah ini justru lebih memusingkan dan memabukannya daripada alkohol
"Adella Maharani! Mengapa kau membuat ku berada di dalam masalah!"
Rutuk Abram yang lalu mengacak rambutnya. Frustasi
Ia memilih untuk kembali tidur saja, bahkan dirinya belum mengganti pakaiannya sejak datang ke mansion
Dan membayangkan Carra yang pastinya sedang bersenang senang dengan Juan semakin membuat kepalanya ingin pecah!