
**
Syan merebahkan kepalanya pada gagang stir, mendengar Carra berbicara diujung sana.
"Kau baik-baik saja, 'kan?"
"Pulanglah, Syan." Carra terdengar begitu cemas dengan keadaannya. Sudah bisa di pastikan jika Carra pasti melihat berita.
Syan tersenyum dengan mata berair.
"Aku akan pulang, setelah aku benar benar tenang Mom. Kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Syan,"
"Momy tidak perlu cemas!"
"Aku mencintaimu, Mom."
Syan memutus sambungan begitu saja. Menonaktifkan ponsel dan memasukannya kedalam tas. Ia masih berada di mobilnya, waktu sudah sangat sore, tapi ia masih enggan pulang meski Carra dan Juan terus menghubunginya.
Ia merasa perlu menenangkan diri, perlu menenangkan hatinya dalam menghadapi masalah ini.
**
Syan hanya mampu menebalkan wajah saat ia datang ke sebuah kafe. Ia sudah tak lagi memperdulikan apapun tanggapan orang-orang.
Ia memang anak angkat Juan, tapi selama ini, ia tidak pernah membanggakan diri sebagai putri dari konglomerat itu. Ia selalu biasa saja tanpa memamerkan apapaun yang ia punya hasil dari pemberian Juan.
Tapi setelah berita ini menyebar, fakta dirinya anak angkat, orang-orang seakan menilai dirinya buruk, keberadaannya malah seakan merusak reputasi keluarga Zhucarlos.
Memang apa salahnya? Apa urusan orang-orang sampai harus mengurusi hidupnya?
Tanpa sadar air mata Syan kembali terjatuh untuk ke sekian kalianya.
Syan meneguk minumannya, menunduk, dan perlahan ia merasa pusing. Lantas ia bangkit, membayar minumannya dan keluar dari kafe.
Berjalan sempoyongan sambil memegangi kepalanya.
"Ke--napa pusing sekali?"
"Panas,"
Syan mulai terhuyung, sampai ia keluar dari kafe dan berdiri didekat mobilnya, terus memegangi kepalanya. Ia merasa semakin pusing.
Sementara disisi lain, Araga cemas mencari keberadaan Syan. Waktu sudah sangat larut malam, dan ia belum menemukan Syan, Juan juga mengatakan jika Syan belum pulang ke mansion.
Erick yang melihat raut cemas diwajah Araga juga cukup merasa khawatir. Pasalnya, sang bos belum pernah terlihat secemas ini. Bahkan menghadapi klien besar saja dia selalu terlihat tenang, tapi kali ini? Benar-benar keadaan yang mengkhawatirkan.
"Bos," panggil Erick saat matanya menangkap sebuah objek. Yang akan dilewatinya.
"Jangan menggangguku!" Protes Araga dengan kesal.
"Itu sepertinya nona Syan!"
Kali ini Araga, terdiam, kemudian mengikuti arah pandang Erick, dan ia melihat gadisnya yang bersandar frustasi pada body mobil. Ia merasa sedikit tenang karena sudah menemukan gadis itu.
Begitu Erick menepikan mobil, dengan cepat Araga segera turun dari mobil dan menghampiri Syan.
"Syan," panggilnya dengan ekspresi yang masih cemas. Syan yang merasa pusing hanya menyipitkan mata, menatap seseorang yang berdiri dihadapannya.
"Araga?"
**
Di kediaman Zhucarlos, Juan dan Carra terlihat begitu cemas menunggu kabar baik dari Araga. Carra terlihat sangat tidak tenang di posisinya, ia terus saja menautkan jari jemarinya.
"Bagaimana Juan?"
"Araga dengan Erick sama sekali belum memberi kabar apapun, Sayang!"
Juan duduk, menggandeng dan menenangkan sang istri yang terlihat amat cemas, ia harus menenangkan Carra meski sejujurnya dirinyapun amat khawatir dengan keberadaan putri mereka. Bahkan anak buah yang dikerahkannya pun tak kunjung memberi kabar baik.
Tak lama Abram muncul dengan Adella dan Dinara.
"Bagaimana, Juan. Apa Syan sudah di temukan?" tanya Abram begitu sampai. Juan menggeleng, ia bangkit dari duduknya membiarkan Carra ditenangkan oleh Adella dan Dinara.
"Tenanglah, Carra. Syan akan baik-baik saja." Adella menenangkan.
"Ku harap begitu!"
"Apa kau sudah melapor pada police?"
"Syan tidak akan setuju, bahkan dia melarang aku untuk mencarinya. Tapi aku juga tidak bisa tenang jika hanya membiarkannya saja."
"Aku takut terjadi sesuatu hal buruk padanya."
Abram terdiam. Ia pun tidak tau harus melakukan hal apa jika begitu ceritanya.
**
"Kumpulkan semua karyawan kafe itu. Selidiki, siapa dari mereka yang memberikan minuman pada, Syan."
"Aku yakin, jika mereka memasukan sesuatu pada minuman Syan." Sahut Araga saat mereka dalam perjalanan membawa Syan pulang.
Erick mengangguk patuh.
Araga membopong tubuh Syan ke kamar apartement pribadinya, Syan menolak pulang ke mansion dan terus meronta mengatakan panas. Araga tidak tau penyebabnya, tapi Syan terlihat sangat tidak nyaman.
Araga mambaringkan tubuh Syan, tapi gadis itu justru malah memeluknya. Enggan melepaskan Araga.
"Panas," keluhnya dengan kaki yang menendang-nendang sprai tempat tidur.
"Panas,"
"Araga, jangan pergi. Kumohon."
Araga membeku, tak lama ia mendengar pintu kamarnya yang ditutup dari luar. Mungkin Erick memilih untuk pergi saja ke lantai bawah saat membaca situasi yang mungkin akan terjadi selanjutnya.
"Syan, apa yang kau lakukan?" tanya Araga yang tak mengerti dengan keadaan Syan.
"Panas, Araga." Tangan Syan meronta untuk membuka kancing kemeja yang dikenakannya, Araga menahan tangan gadis itu.
"Syan,"
Syan tak menggubris, ia meronta menahan panas.
"Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini Syan. Kau sedang tidak sadar," sahut Araga, berusaha mengembalikan kesadaran Syan meski nampaknya obat yang dimasukan kedalam minuman Syan sudah bekerja dengan sangat baik.
"Araga ....," suara gadis itu terdengar begitu lemah dengan mata terpejam.
"Baiklah, kau yang meminta hal ini!"
Araga menyatukan tangan mereka, perlahan mendaratkan bibirnya di atas bibir Syan. Dan ia merasakan kesyahduan pada ciuman mereka. Ini adalah kali pertama ia merasakan bibir manis milik Syan yang belum tercicip siapapun.
"Syan,"
"Aku mencintaimu,"
"Aku mencintaimu." sahut Araga saat melepas ciumannya. Kemudian ia melanjutkannya kembali.
Perlahan Araga melepas jas yang dikenakannya. Melepas satu persatu kancing kemeja formalnya. Dengan bibir yang tak lepas menikmati bibir manis milik Syan.
Dan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, maka terjadilah.
TBC