My Best Match

My Best Match
Second Meeting



Carra membuka buka majalah yang berada di atas tempat tidurnya. Juan baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil


"Juan"


"Ya, sayang?"


"Apa yang kau maksud dengan Syan yang berkencan?"


"Memangnya dia boleh, berhubungan dengan pria lain selain calon tunangannya?" Tanyanya yang kemudian beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Juan. Membantu suaminya menggosok rambutnya yang masih basah


"Kau tau?"


"Apa?"


"Calon menantu kita tadi siang menelponku. Dia bilang, jika dia bertemu dengan Syan"


Carra mengernyit, sekaligus tidak menyangka


"Benarkah?."


"Benar. Bukankah hal itu menakjubkan, kita tidak perlu merencanakan apapun untuk membuat Syan mengenal Araga"


Carra mengangguk anggukan kepalanya, setuju


"Tapi Juan. Bagaimana jika ternyata Syan sudah memiliki kekasih. Dan dia terpaksa menerima perjodohan ini karena ...,"


Carra menjeda kalimatnya. Mengatakan hal demikian justru malah melemparkannya pada masa lalu bertahun tahun silam. Membuatnya merasa tidak enak pada Juan karena mengingatkannya pada perjodohan antara mereka di masa lalu


Meski ia dan Juan berakhir bahagia. Tapi, tidak semua orang akan mengalami hal yang sama dengannya


"Juan, maaf. Maksudku ...,"


"Tidak papa sayang. Aku mengerti"


Juan mengusap bibir sang istri


"Dengar. Syan adalah anak yang patuh, dia sudah mengetahui perjodohan ini sejak lama. Dan dia sudah berjanji untuk tidak berhubungan dengan pria manapun"


"Araga bilang, dia juga terlihat enggan meladeni Araga. Itu artinya, Syan menepati janjinya pada kita. Bukankah Syan anak yang patuh"


"Itu karena dia menurut padamu"


"Itu karena kau, sebagai Momy nya, sudah memberikan pengertian yang baik untuknya"


Carra tersenyum, kemudian berhambur pada pelukan suaminya. Juan tersenyum, dengan tangan yang memeluk Carra dengan erat


"Aku tau jika zaman sekarang, perjodohan bukanlah hal yang tepat untuk Syan"


"Tetapi melihat Araga. Aku percaya jika dia mampu menjaga Syan untuk kita"


"Aku juga berfikir begitu Juan"


**


Pagi ini, sebelum berangkat ke kampus. Syan bingung sendiri mengotak atik laptopnya mencari file yang sudah disiapkannya untuk ia pakai presentasi hari ini, pada mata kuliah kedua


Sudah sejak bangun tidur ia sibuk tetapi belum juga dapat menemukan apa yang dicarinya


"Sebentar. Harus tenang, biar aku ingat ingat!?" Syan nenenangkan dirinya sendiri. Ia tidak boleh panik


"Astaga. Darendra" Syan langsung berdecak dan beranjak dari posisinya. Berjalan ke arah pintu keluar dan berjalan menuju kamar Daren


Ia ingat jika saat itu laptopnya mengalami masalah sehingga ia meminjam laptop sang adik. Dan lupa memindahkan file tersebut pada flash disknya


"Darendra"


Syan masuk begitu saja ke kamaar sang adik. Dan ia tidak mendapati Daren disana, samar samar ia mendengar gemerisik air dari dalam kamar mandi. Anak itu pasti sedang berada di kamar mandi, begitu fikirnya.


Syan tidak perduli, ia mencari laptop pemuda itu dan menemukannya diatas tempat tidur. Duduk begitu saja dan mengotak atik laptop Daren


"Manisnya" Decak Syan saat melihat tampilan layar desktop laptop Daren adalah fotonya dengan Daren saat masih kecil. Padahal beberapa waktu yang lalu, layar desktop pemuda itu adalah foto Daren dengan pacarnya. Tapi dia berkilah, jika bukan dirinya yang memasangnya


"Tidak tau, Meilin tadi siang meminjam laptopku di kampus, dan aku belum sempat memeriksanya"


"Dusta!"


"Sungguh Syan" Daren meyakinkan


"Hey. Santai saja, memangnya apa perduliku. Aku hanya meminjam laptopmu untuk mengerjakan tugas karena laptopku sedang bermasalah"


"Aku tidak perduli dengan layar desktopmu!"


Daren yang sedang berbaring sambil bermain video game disamping Syan yang tengkurap mengerjakan tugas hanya berdecak saja


Syan melihat arloji dipergelangan tangannya. Dia sudah hampir terlambat tetapi belum selesai dengan tugasnya


"Sedang apa?" Tanya Daren yang muncul dari arah kamar mandi


"Sedang memindahkan file" Syan menyahut cuek


Daren berdecak, mengusap wajahnya yang basah dan kemudian mendekat pada Syan yang sedang menunggu sebuah tampilan fanel dilayar laptop hingga penuh


Syan mendongak saat setetes air terjatuh dipunggung tangannya


"Apa yang kau lakukan. Cepat berganti baju dan keluar dari sini!"


Dahi Daren berkerut


"Yang benar saja, Kakak. Ini kamarku, kau yang harus keluar"


Syan hanya diam, sampai kemudian tampilan fanel yang ditunggunya sudah penuh. Lantas ia beranjak setelah melepas flashdisik dilaptop Daren. Kemudian beranjak dengan cuek


Tapi tangannya tak sengaja menggapai sesuatu dan


Langkahnya terhenti, memunggungi Daren


"Daren, bisa kau katakan apa ini?" Tanyanya


Daren yang awalnya memunggungi gadis itu berbalik, dengan tangan yang terlipat didada


"Handuk ku"


"Dan kau?"


"Telanjang"


"Aaaaaa...............,"


**


Syan berdecak sambil merapihkan rambutnya sepanjang keluar dari mansion


Daren sudah menunggunya di mobil sambil sesekali membunyikan klakson, membuat Syan merasa dibuat terburu buru


Dinara yang kebetulan belum mengurus kepindahan sekolahnya tidak ikut ke kampus dengan Syan, ia memilih untuk melanjutkan tidur setelah tadi selesai sarapan


"Sebentar Daren. Kau gila ya, bagaimana jika aku terjatuh dan kakiku keseleo. Bagaimana jika parah dan harus diamputansi, kau mau bertanggung jawab? Huh"


"Kau ini. Cerewet sekali!"


"Cepat atau kita akan terlambat!"


"Iya. Iya. Sabar?"


Syan masuk kedalam mobil. Duduk dikursi penumpang sambil masih menggerutu pada Daren yang mulai menghidupkan mesin mobil


Sepanjang perjalanan, Syan hanya terdiam. Ia terus saja mengalihkan perhatiannya dari Daren, enggan menatap laki laki menyebalkan itu. Sesekali Daren mencuri pandang pada sang kakak


"Syan. Ada apa?"


"Kau masih marah karena kejadian tadi pagi?"


Syan tak menyahut


"Syan. Kau kan tau tadi pagi aku tidak telanjang. Dan kau juga langsung lari dari kamarku"


"Dan seandainya kau melihat aku telanjangpun. Kau akan puas Syan. Aku seksi, asal kau tau"


Syan menoleh, kemudian hanya menggeleng saja


"Kau benar benar sinting Darendra!"


"Jangan mengatai aku sinting. Syan"


"Kalau pun tidak sinting. Kau tidak akan berbicara seperti tadi"


"Berbicara apa memangnya?"


Syan tak menyahut


"Syan?"


"Syan?"


"Tidak. Aku tidak akan menjelaskannya atau aku akan sama sintingnya seperti kau"


Daren hanya tertawa. Sementara Syan memilih untuk tidak perduli


Sesampainya di kampus. Syan memilih lebih dulu berlalu, mengabaikan Daren yang masih berada di dalam mobil


"Permisi permisi"


Syan menembus kerumunan, menabrak orang orang yang menghalangi jalannya. Sesekali ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Lucy dan Zoey sudah tidak bisa di hubungi, artinya kelas sudah dimulai


"Aduh. Alesannya apa ya?" Selain mengejar waktu, Syan juga harus menyiapkan alasan logis agar Dosen kelas pertama tidak memarahinya


Sampai begitu dikoridor kampus, ia tidak sengaja menabrak seseorang sampai terjengkang dan duduk di lantai


"Aww"


Syan mengangkat tangannya, menyatukannya. membersihkan debu yang berada disana. Sebagian para mahasiswa yang masih berada di luar kelas menatap ke arahnya


Terutama pada seseorang yang baru saja ia tabrak


"Bos, tidak papa?"


Laki laki yang dipanggil Bos itu menggeleng. Kemudian cepat berjongkok di hadapan Syan yang menahan sakit di bokongnya. Nampaknya kakinya juga terkilir


"Nona, maaf. Aku tidak sengaja"


Syan menengadah


Mata kedua orang itu saling bertatapan. Syan cepat menepiskannya


"Aku yang harus meminta maaf. Aku terburu buru dan tidak melihatmu. Maaf"


Sementara Erick, Skretaris Pribadi Araga hanya menatap dia orang itu dengan takjub


"Tidak apa apa"


"Apa ada yang sakit, Syan"


"Sepertinya tidak"


"Biar aku bantu"


Araga memegang kedua bahu Syan, membantu gadis itu untuk berdiri. Tapi Syan mengaduh membuatnya refleks merengkuh tubuh gadis itu


"Aww"


"Apa yang sakit?"


"Kaki ku"


"Apa bisa berjalan?"


Syan diam. Araga menghela nafas, ia melihat sekeliling dan mereka sudah menjadi pusat perhatian


Tanpa aba aba, Araga mengangkat tubuh Syan begitu saja. Sekalian sudah menarik perhatian, maka teruskan saja


"Araga" Syan protes yang tidak diperdulikan Araga


"Ruang kesehatan ada dimana?" Tanya Araga pada Erick


Erick terkesiap dan kemudian menunjuk arah sebelah kanan menuju ruang kesehatan


Araga lantas berjalan sesuai arah yang ditunjuk sang Skretaris, membawa Syan dalam dekapannya. Sementara gadis itu hanya membenamkan wajahnya saja pada dada Araga. Ia malu karena mendapt perlakuan manis ini dari Araga dihadapan para mahasiswa


Erick juga mengikuti langkah sang Bos setelah mengambil tas Syan yang tadi ikut terjatuh saat menabrak tubuh Araga


"Ohh. Bos, manisnya" Ia berdecak sebelum melangkah


TBC