Merried With You

Merried With You
Hadiah.



Raka dan Sisil telah menuju bandara,mereka sengaja tidak membawa asisten ataupun orang penjaga mereka,hanya mereka berdua yang pergi,Sisil menarik kopernya begitu juga Raka,memasuki bandara dengan ber’iringan.


Saat sudah masuk pesawat bertujuan ke canada,mereka juga melakukan transit 2 kali,karena ke canada memerlukan waktu tempuh selama 33 jam.


Mereka menikmati bulan madu mereka,Raka juga menjaga Sisil dengan ketat,saat Sisil ingin ke toilet,Raka juga menemani Sisil.


Sampai di canada,mereka dijemput oleh orang suruhan Raka yang ada disana,mereka di antar ke hotel mewah yang terkenal dicanada,sampai dihotel,mereka beristirahat.Namun berbeda dengan Sisil,ia membereskan koper-koper mereka dan menusuk rapi semuanya,menggabungkan baju yang tidak baik untuk di lipat.


“Sayang,tolong ambilkan handuk….” Ucap Raka Didalam toilet.


“Ya ampun ni orang ya,kenapa enggak dibawa aja sebelum mandi…”Guman Sisil mengambil handuk dan memberikan kepada Raka,namun ia seakan tidak pernah melihat tubuh Raka,Sisil memberi handuk dengan tubuh yang berlawan arah.


Raka dengan kejahilan nya,ia menarik Sisil masuk Kedalam kamar mandi,Sisil terkejut,ia menutup wajah Raka dengan handuk putih itu.


“Kamu kenapa sih…” tanya Raka merasa aneh.


Sisil yang gugup,ia menjawab omongan Raka.


”e-engg-enggak ada,ini nih handuk kamu,aku keluar dulu…”jawab Sisil dengan terbata-bata,namun Raka tidak memberi celah Sisil untuk keluar.


Raka mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Sisil,lalu mencium Sisil,selebihnya hanya Raka dan Sisil yang tau apa mereka perbuat Didalam toilet tersebut.


***


”Aku ga sabar menunggu kelahiran anak kita…” seru Kala memberi sarapan Vano,dan Vano yang fokus terhadap laptopnya.


“Apa kabar dengan aku sayang,aku sungguh enggak sabar menunggu kehadiran baby ini,apapun jenis kelamin nya,akan aku jadikan dia orang yang paling beruntung didunia ini,sama akan hal dengan kamu beruntung memiliki aku,wkwkwkw….” Ucap Vano terkekeh ketawa.


“Ya,aku beruntung mempunyai kamu…” jawab Kala tersenyum,Vano berpikir Kala akan marah saat ia mengucapkan itu,namun tidak,jawaban Kala membuat ia terpelongo.


“Untung saja aku tidak menolak lamaran kita sewaktu itu,kalau aku tolak,aku bakal kehilangan buliran keuntungan yang besar….” Ucap Kala lagi.


“Haduh,kenapa aku malah salting nih,…” seru Vano tersenyum menciumi Kala dan mengecup bibir Kala.


Kala bangkit dari meja makan,namun Vano menghentikan langkah kala,dan malah meminta Kala untuk duduk kembali karena ada sesuatu yang akan di tunjukan untuk dirinya.


“Duh,jangan aneh-aneh deh,aku mau ke kamar dulu,aku mau bergolek…” bantah Kala,namun Vano memaksa dan mengalihkan pandangan Kala.


“Lah iya ya,kenapa aku enggak ada ngidam apa-apa ya…” jawab Kala,namun bertanya kembali.


“Wanita aneh…” Ujur Vano mencubit pipi Kala karena merasa geram.


Selesai serapan,Vano meneguk minum nya,dan mengenggam tangan Kala untuk keluar,namun sebelum itu,Vano menutup mata Kala dengan tangan nya,dan menuntun Kala untuk Jalan keluar.


“Kamu ya,jarang-jarang banget begini,biasanya enggak pernah,jangan aneh-aneh deh van,ntr gimana kalau aku jatuh,dan anak kita…” protes Kala,namun langsung di potong oleh Vano.


“Duh,cantik kamu diam dulu,aku punya sesuatu untuk kamu,tapi tidak seberapa..” Jawab Vano menuntun Kala sampai keluar halaman rumah.


“Kamu jangan aneh-aneh y,udah belum,…” ucap Kala yang juga penasaran.


“Kamu hitung sampai tiga dulu,aku akan langsung buka…” perintah Vano kepada Kala.


“Ya ampun,nak Papa kamu semakin hari semakin ribet…” seru Kala,tetapi tetap menghitung.


“1…2…3…” seru Kala,dan Vano juga langsung membuka mata Kala.


Kala terkejut melihat Hadia yang ada di depan matanya saat ini,gatau mau senang,sedih,atau marah…


Namun Kala berbalik arah,ia melihat wajah Vano histeris memberi kejutan terhadapn diri nya.


“Kamu mah,kenapa malah beli mobil lagi sih…” ucap Kala melirik ke arah Vano,Vano yang tadi senang,ia merubah mimik wajahnya.


“Lah,this is for you,And for our children…” jawab Vano,meyakini Kala.


“Sayang,tapi ini mahal banget….” Seru Kala memeluk Vano.


“Ya ampun,gpp tau,apapun untuk membuat kamu bahagia,aku akan melakukan itu,dan lagi ini juga mobil impian kamu kan…” seru Vano membalas pelukan Kala yang sudah meneteskan air matanya.


“Kamu mah….” Ujur Kala nangis,dan benar ini juga mobil impian Kala sewaktu kedua orangtuanya masih ada.