Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Penjahat yang Taat



Setelah berganti baju, Trevor mengajak Gwen pergi ke salah satu bar mewah yang cukup terkenal. Di sana berkumpulnya anak-anak konglomerat yang suka berfoya-foya.


"Kita akan mencuri dompet dan barang orang-orang di sini?" tanya Gwen saat masuk ke dalam bar tersebut.


Trevor menggelengkan kepalanya. "Kita akan shoping!"


"Shoping?"


Trevor duduk di salah satu meja dan melihat seorang pelayan kemudian mengerlingkan matanya.


"Rupanya matamu memang mata keranjang, Tuan Mafia!" sindir Gwen merasa kesal akan sikap Trevor itu.


"Kau cemburu Gwen?" Trevor justru menggoda gadis itu. Padahal pelayan itu adalah suruhan Trevor yang sudah dia bayar untuk mengambil black card para anak konglomerat yang ada di bar itu.


Biasanya saat akan membayar bill, mereka akan memberikan black card mereka pada pelayan.


"Kau memang maniak, Trey!" kesal Gwen dengan meneguk satu gelas sampanye.


Tak lama pelayan itu mendekat pada Trevor kemudian memberikan sebuah black card.


Trevor buru-buru mengeluarkan tab khusus miliknya untuk bisa mengakses black card itu. Trevor akan berbelanja habis-habisan menggunakan black card curian itu.


"Aku akan membelikanmu baju, sepatu dan juga tas yang mahal, Gwen. Jadi, jangan marah lagi!" ucap Trevor yang matanya fokus ke layar tab nya.


"Aku tidak membutuhkan semua itu!" ketus Gwen yang masih kesal.


"Kau membutuhkan semua itu karena kita malam ini akan menghadiri pesta!"


"Pesta? Sebenarnya apa rencanamu, Trey?"


Setelah selesai, buru-buru Trevor mengajak Gwen untuk meninggalkan bar. Di luar bar Neil, Dozer dan Zack sudah menunggu.


"Berapa yang kalian dapat?" tanya Trevor pada para anak buahnya itu. Tentu saja mereka melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Trevor di tempat terpisah.


"50 juta dollar! Buh..." [700 miliar lebih]


*****


Tangan Maudy terulur menyentuh tangan Erik.



"Kau semakin tampan, Tuan Bangsawan!" puji Maudy.


Seketika wajah Erik merona, lelaki itu salah tingkah. Dia sudah sering mendengar pujian dari Maudy tapi saat gadis itu sudah resmi jadi kekasihnya rasanya Erik jadi malu sendiri.


Erik berdehem. "Ayo kita cepat bergabung dengan yang lain, aku penasaran apa yang sebenarnya para mafia itu rencanakan! Apa kau suka menjadi penjahat, Maudy?"


"Um, karena sudah terbiasa. Aku menyukainya!" sahut Maudy jujur. "Apalagi ada bagian yang aku suka!"


"Apa itu?"


"Saat kita dikejar polisi, itu bagian yang aku sukai!"


Erik langsung berdehem. "Aku harap saat proses pembibitan itu berhasil, jangan ajarkan anak kita tindakan tidak terpuji seperti itu!"


Menyinggung masalah itu membuat Maudy mengingat jika waktu bersama Erik tidak akan lama.


"Ayo, jadikan malam ini kenangan yang indah, Tuan Bangsawan!"


Mereka berdua keluar dari penginapan dan bergabung dengan yang lain yang juga sama-sama tampan dan cantik karena mereka akan menghadiri pesta orang-orang kaya.


"Kita harus membaur bersama mereka, kita punya Erik yang akan memperkuat alibi kita!" ucap Trevor memberi instruksi.


"Mereka semua suka bermain dengan cash bukan?" tanya Neil memastikan.


"Ya, kita butuh banyak kendaraan untuk menampung semua uang itu nanti!" jawab Dozer yang sudah memikirkan semuanya.


Erik hanya bisa memejamkan matanya, seumur hidupnya baru kali ini dia akan melakukan pencurian besar-besaran.


"Sebaiknya kita berdoa dulu supaya misi kita berhasil," usul Erik.


"Tuan Bangsawan, kita akan mencuri jadi tidak perlu berdoa karena doa kita pasti akan tertolak!" sahut Maudy.