
"Untuk sementara pakailah baju yang tertutup supaya menutupi memar di tubuhmu," ucap dokter Marry saat memeriksa Gwen yang akan pulang.
Gwen hanya menganggukkan kepala, sebenarnya dia sangat malu harus dirawat setelah melakukan hubungan intim.
"Mari, Nona," ucap Maudy yang menjemput Gwen untuk pulang ke apartemen.
Sebenarnya Maudy juga tidak tega pada Gwen tapi mau bagaimana lagi, dia sudah sumpah setia pada Trevor.
"Bisakah kita makan es krim dulu sebelum pulang ke apartemen?" tanya Gwen yang ingin suasana hatinya membaik.
Maudy menurut saja tapi dia memberikan topi dan kacamata untuk penyamaran Gwen karena berita kedekatan Gwen dan Peter yang sekarang menjadi tranding topic. Maudy tidak mau justru suasana hati Gwen memburuk nantinya.
*****
Sementara Trevor pergi ke markas utama setelah melihat Gwen yang tertidur setelah percakapan terakhir mereka. Trevor tidak mau hilang kendali dan memakan Gwen disaat kondisi gadis itu masih sakit.
Trevor terus teringat permintaan Gwen yang ingin pergi darinya.
Pyar!
Trevor membanting gelasnya untuk kesekian kalinya.
"Kenapa dia tidak tertarik juga kepadaku? Padahal dia selalu mendesaah disaat aku menyuntiknya," kesal Trevor.
Kemudian matanya teralihkan oleh berita Gwen dan Peter, sebelumnya Neil ingin melapor tapi dia langsung mengusirnya.
"Peter Quill, mau mati ya!" teriaknya.
Didetik itu juga pintu kamar pribadinya diketuk dari luar. Trevor mengerutkan dahinya dalam. Bukankah dia sudah mengusir Neil?
"Masuk!" akhirnya Trevor mempersilahkan masuk.
Saat pintu terbuka, Ruby menyembul masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk mie instan.
Tanpa banyak bicara Trevor mengambil mie instan itu, kalau dipikir-pikir anak buahnya memang kembali memakan makanan cepat saji setelah Gwen tidak ada di sana.
"Apa perlu kita menculik seorang koki supaya menjadi tukang masak di markas?" tanya Trevor meminta pendapat pada Ruby.
"Sepertinya anggota lain merindukan masakan Gwen," tanggap Ruby dengan jengah. Ternyata saat gadis itu tidak ada pun, masih saja jadi bahan perbincangan di markas. Apalagi sekarang Gwen menjadi artis pendatang baru yang akan membintangi sebuah film.
"Masakan Gwen memang jauh lebih enak daripada mommy Violet." Trevor memberikan pendapatnya.
"Apa aku juga bisa mendapatkan kesempatan sama seperti Gwen, Bos?" tanya Ruby tiba-tiba.
Trevor menghentikan suapannya dan menatap Ruby dengan tatapan tajamnya. Tentu saja dia tahu apa yang dimaksud Ruby.
"Kau ingin jadi teman ranjangku?" tanya Trevor tanpa basa-basi.
Sontak Ruby langsung memalingkan wajahnya, dia tahu kalo bosnya memang suka bicara secara gamblang seperti itu.
"Gwen baru saja masuk rumah sakit karena aku tiduri di mobil." Trevor tidak berselera makan lagi. Dia mendorong mangkuk mie instan jauh darinya. "Kau mau bernasib sama dengannya? Mungkin aku bisa memotong kakimu sekalian supaya kau tidak bisa berjalan lagi!"
Ruby menelan ludahnya, dia tahu itu penolakan untuknya. Tanpa berkata apapun lagi, Ruby keluar dari kamar pribadi Trevor.
Ruby menyeka setitik air mata yang akan jatuh dari sudut matanya. "Kenapa harus Gwen yang lemah yang dapat kesempatan!" kesalnya.
Kemudian Ruby meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo?" jawab seseorang yang dihubungi oleh Ruby.
"Aku menerima tawaranmu!" ucap Ruby kemudian.
Terdengar gelak tawa di ujung telepon. "Baiklah, kau bisa lakukan tugasmu mulai sekarang!"