Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Mengatakan Sesuatu



Berita mengenai Gwen dan Peter sudah beredar luas di dunia maya. Carol yang melihat berita itu menjadi emosi, gadis itu melempar ponselnya sampai pecah.


Carol berteriak dan membanting semua barang-barang yang berada di kamarnya sekarang.


"Kenapa ini?" tegur Aland yang baru saja masuk kamar. Ya, mereka memang tinggal satu kamar.


"Aku benci Anna!" teriak Carol sambil meraih wine di atas nakas kemudian meneguknya di botol itu juga.


Aland berjalan santai dan duduk di sofa kamar. "Bukankah kau sudah mendapat fasilitas dan uang setelah menjadi simpananku? Jadi kau butuh apa lagi? Tugasmu sekarang hanya fokus menemukan, Gwen!"


"Aku membangun karirku dari nol, aku tidak mau menyerah hanya karena artis pendatang baru itu. Dia merebut peran utama yang aku impikan dan sekarang dia merebut Peter!" sahut Carol dengan lelehan air mata. Bagaimana pun juga, dia masih menyukai Peter.


"Lihat saja, aku akan memberi perhitungan pada gadis tidak tahu diri itu!"


*****


Trevor yang tidak bisa tidur, menghabiskan waktunya di balkon ruangan Gwen di rawat.


Satu tangannya memegang gelas minuman dan satu tangannya sibuk dengan rokoknya. Sampai dia mendengar suara Gwen merintih lagi.


Trevor segera mematikan rokoknya kemudian mendatangi Gwen.


"Haus!" satu kata yang keluar dari mulut Gwen.


Trevor bergegas mengambil air putih yang tersedia di kamar itu, setelahnya dia mencoba membantu Gwen duduk dan memberi gadis itu minum.


"Sudah," ucap Gwen yang merasa tenggorokannya sudah basah.


Suasana menjadi begitu canggung setelah pertengkaran mereka sebelumnya. Gwen tidak mau membuka suara lagi begitu pun Trevor.


Sampai Trevor melihat Gwen yang meneteskan air matanya kembali. Gadis itu merasa kesakitan di sekujur tubuhnya tapi lebih sakit lagi hatinya karena Trevor yang memperlakukannya dengan semena-mena.


"Trey..." panggil Gwen kemudian.


"Hm," sahut Trevor yang tidak tega. Lelaki itu memeluk Gwen dan menjadikan dada bidangnya tempat sandaran untuk Gwen.


Trevor sebenarnya sangat marah mendengar permintaan Gwen tapi dia menahannya karena dia takut menyakiti gadis itu lagi.


"Trey..." Gwen melepaskan diri dari pelukan Trevor dan menatap lelaki itu. "Jawab aku!"


Trevor terdiam, dia membalas tatapan Gwen. Trevor manautkan tangannya dengan tangan Gwen. Kebetulan jarum infus di tangan Gwen sudah di lepas karena vitamin dari cairan infus itu sudah habis.



"Aku tidak bisa melepasmu, Gwen!" ucap Trevor dengan tegas. "Percayalah padaku!"


"Bagaimana aku bisa percaya padamu setelah apa yang kau lakukan padaku, Trey," batin Gwen. Dia semakin merasa sakit hati tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kabur pun percuma, Trevor pasti akan bisa menemukannya dengan mudah.



Gwen hanya bisa kembali menangis di dada Trevor, mungkin nasibnya memang menjadi alat pemuas untuk lelaki itu. Tapi Gwen bertekad akan mencari orang tua aslinya secara diam-diam.


"Berhentilah menangis, okay. Aku tidak suka gadis cengeng," ucap Trevor berusaha membujuk dengan gayanya.


"Aku menangis karenamu, bodoh!" sahut Gwen kesal.


Trevor tersenyum miring, Gwen sudah kembali seperti sedia kala. Gwen yang suka marah dan memaki-maki dirinya tapi Trevor suka Gwen yang seperti itu.


"Aku pasti gila!" ucap Trevor dalam hatinya.


Kemudian Trevor merubah posisinya, dia menindih Gwen dari atas. Dia menatap wajah cantik Gwen dengan lekat dan tangannya mulai meraba baju atas Gwen dan sedikit membukanya.



"Gwen, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Trevor kemudian.


"Sesuatu apa?" tanya Gwen dengan jantung berdebar. Dia takut Trevor akan menerkamnya lagi.


"Buah dadamu sepertinya agak membesar, Gwen," ungkap Trevor mengeluarkan yang ada di kepalanya.