
Leher Ruby mengeluarkan darah karena tergores pisau dari dokter Regis. Dia masih kesulitan bergerak tapi tak lama suara teriakan terdengar di tempat ritual membuat atensi dokter Regis teralihkan di sana.
Ruby mengambil kesempatan itu, Ruby menyikut perut dokter Regis yang lengah sampai dokter itu mundur ke belakang kemudian Ruby menendangnya.
Saat dokter Regis terhuyung, Ruby dengan cepat meraih pistolnya dan berkata. "Bye... bye!"
Dor!
Dor!
Dua tembakan di kepala membuat dokter Regis ambruk.
Kemudian Ruby segera memberitahu Violet lokasi tempat ritual berada.
Di dalam sana, Isabel berteriak karena gagalnya ritual. Isabel menyalahkan Gwen atas semuanya.
"Dia memang gadis jalaang!" teriak Isabel berlari mendekati Gwen dengan tombak di tangannya.
Isabel ingin menusuk Gwen dengan tombak tapi Erik yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan menghentikan aksi ibunya.
"Hentikan! Gwen tidak bersalah!" Erik menangkap tangan Isabel.
"Erik, ini semua salahnya. Gwen satu-satunya harapan kau bisa hidup!" Isabel masih berusaha menancapkan tombaknya pada dada Gwen.
Erik merasa sedih melihat orang tuanya yang seperti itu. "Gwen tidak meminta untuk dilahirkan sebagai pengganti hidupku dan aku juga tidak mau hidup dengan mempunyai orang tua seperti kalian!"
Erik mengarahkan tombak di tangan Isabel berpindah ke dadanya. "Jadi biar saja aku yang mati karena semua kekacauan ini berawal dariku!"
"Tidak!" Isabel menarik tangannya tapi Erik tetap menahannya.
Marquez yang melihat itu mencoba menghentikan aksi Erik, dia mengambil pedangnya dan mengayunkan pada tombak sampai terbelah jadi dua.
Marquez akan menyucikan Gwen lagi dengan ritual supaya Gwen layak menjadi pengganti untuk Erik.
Sementara Gwen yang sebelumnya tidak mengerti mulai merangkai semua kejadian dan dia sadar jika dia hanyalah anak persembahan.
Tenggorokan Gwen seperti tercekat, dia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Semuanya terasa gelap yang Gwen tahu hanya satu. Trevor adalah satu-satunya tempatnya untuk pulang.
Gwen memiringkan kepalanya menatap pintu tempat ritual itu, dia berharap pintu itu segera terbuka dan Trevor datang untuk menyelamatkan dirinya.
"Trey..." batin Gwen. "Jika kau datang, aku akan mengabdi seumur hidup padamu dan aku akan tergila-gila padamu!"
*****
Mendapat laporan dari Ruby, Violet dan Trevor bergegas mencari lokasi yang dimaksud oleh Ruby. Tempat itu berada di luar istana, di kawasan hutan yang ada di sana.
"Aku akan meminta Dozer, Neil dan Zack kemari!" Trevor memberi kode pada para anak buahnya.
"Aku tidak mempercayai ada orang seperti Marquez. Walaupun kita keluarga mafia tapi keluarga kita tidak akan pernah mengorbankan darah daging sendiri, sebenarnya mereka tidak memuja iblis tapi mereka sendiri lah iblisnya," komentar Violet merasa miris dengan apa yang Gwen alami.
Trevor sependapat dengan ibunya, walaupun dia berdarah dingin dan tak berbelas kasih tapi Trevor tidak akan membunuh tanpa ada alasan pasti orang itu adalah orang yang pantas mati.
"Ruby!" seru Violet saat melihat gadis itu bergabung bersamanya.
Trevor yang melihat luka di leher Ruby segera memeriksanya dan berkata. "Kau bebas Ruby! Setelah ini jalani lah hidup sesuka hatimu! Berbahagia lah!"
Ruby tersenyum melihat perhatian Trevor padanya, gadis yang pandai membaca situasi itu dengan cepat meraih tengkuk Trevor, kakinya berjinjit supaya bisa menjangkau apa yang dia tuju, bibir Trevor.
Ruby mencium sekilas bibir Trevor. "Tanda perpisahan, Bos!"