Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
What happen?



Bukan hanya sampai disitu, si kembar diam-diam masuk ke kandang kuda kemudian melepaskan semua kuda yang ada di kandang.


Kuda-kuda berlarian ke tempat jamuan yang membuat semua yang menghadiri jamuan berlari ketakutan.


"Jullian! Juvel!" teriak Gwen dengan mengacak tangannya di pinggang. "Kalian harus dihukum!"


Gwen meminta maaf pada Erik karena acara jamuan jadi kacau karena ulah si kembar, kemudian Gwen pamit undur diri.


Gwen membawa si kembar ke markas utama untuk menghukum mereka.


"Ada apa, Gwen?" tegur Zack saat Gwen sampai di markas utama.


Zack keheranan melihat Gwen yang datang dengan si kembar yang kedua tangannya terikat.


"Mereka berbuat ulah lagi! Kali ini mereka harus dihukum berat supaya jera!" jelas Gwen menggebu-gebu. Dia masih dikuasai emosi.


Si kembar menatap Zack seakan meminta pertolongan.


"Sorry guys, aku tidak bisa membantu!" Zack beranjak pergi, dia tidak mau ikut campur urusan Gwen dan anak-anaknya.


Gwen membawa si kembar ke penjara bawah tanah, tempat biasanya Trevor memenjarakan tawanannya.


"Mom!" teriak si kembar saat Gwen menjauh.


"Kalian harus merenungi kesalahan kalian!" Gwen harus bersikap tegas karena setelah ini Gwen akan menyekolahkan si kembar kalau mereka terus-terusan berbuat nakal pasti penghuni sekolah akan terganggu. Kenakalan si kembar bukan kenakalan biasa, sebisa mungkin Gwen harus bisa menyembunyikan identitas kedua anaknya.


Si kembar yang sudah dilepas ikatannya hanya bisa menghela nafas mereka bersama. Mereka tidak takut sama sekali karena sudah terbiasa dihukum apalagi kalau ada Trevor justru hukumannya akan lebih parah.


"Aku tidak mau jadi anak nakal lagi, aku ingin seperti Fiona," ungkap Juvel yang tidak mau menerima hukuman lagi.


"Apa aku tidak salah dengar? Jadi anak nakal itu menyenangkan, kita bisa tertawa di atas penderitaan orang lain," sahut Jullian yang sangat labil.


"Aku belajar dari Dozer cara membuka kunci, kita harus cepat keluar dari sini dan mencuri roti di dapur utama," tambah Jullian yang sibuk mengotak-atik gembok yang mengunci sel.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Jullian berhasil membuka gembok. Jullian membuka sel dan meminta Juvel mengikutinya.


"Ayo, Juvel!" ajak Jullian pada adik perempuannya.


Juvel menggeleng, dia tidak mau mengikuti Jullian karena kalau ketahuan Gwen pasti tambah marah.


"Aku di sini saja!" ucapnya.


"Ish, kau sangat membosankan!" Jullian akhirnya keluar sendirian.


Dengan kaki kecilnya, Jullian diam-diam menuju dapur utama. Dia ingin mencuri roti padahal kalau Jullian meminta pasti pengurus dapur akan memberi roti dengan senang hati.


Saat Jullian tiba di dapur utama, bocah itu tidak tahu kalau lantai dapur baru saja di pel yang membuat lantainya licin.


Matanya menelisik tempat roti dan saat menemukan di mana roti yang dia cari, Jullian berlari dan tergelincir.


Jullian terjatuh dengan tangan menjadi tumpuan tubuhnya. Seharusnya jatuh dengan cara seperti itu membuat tangan Jullian sakit atau bahkan patah tapi bocah itu tampak baik-baik saja.


"Bos kecil!" seru pengurus dapur yang melihat Jullian terjatuh. "Bos kecil tidak apa-apa?"


Pengurus dapur itu membantu Jullian untuk berdiri kemudian Jullian menjawab. "Aku tidak apa-apa!"


Tapi lain hal dengan Juvel, gadis cilik itu menangis karena merasa kesakitan pada tangannya bahkan dia merasakan jika tulang engselnya bergeser.


"Huaaa... apa yang terjadi? Aku kan anak baik!" Juvel yang merasa tidak melakukan apa pun jadi bingung sendiri.