Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Kedatangan Tamu



Para anggota di markas utama menatap Erik dengan seksama. Lelaki atletis itu memakai setelan mahal ala bangsawan dengan wajah sangat tampan tapi kenapa Erik datang ke markas mafia?


"Perkenalkan namanya Erik, dia kakakku!" Gwen memperkenalkan Erik pada anggota lainnya.


Kemudian Gwen membawa Erik ke salah satu kamar kosong supaya Erik beristirahat. Erik harus melakukan beberapa latihan sebelum berangkat ke Hongkong.


"Ada beberapa setelan baju di lemari," ucap Gwen sambil menunjuk lemari yang ada di kamar itu. "Tempat ini tidak mewah seperti istanamu tapi aku harap kau bisa betah tinggal di sini untuk sementara!"


Erik memindai kamar yang akan dia tinggali, tempatnya tidak terlalu buruk. Dia hanya butuh kasur yang empuk saja.


"Terima kasih, Gwen," ucap Erik dengan formal.


Gwen yang masih canggung hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Setelah istirahat, bergabunglah ke tempat latihan!" ucap Gwen sebelum dia pergi.


Sementara disisi lain, Trevor memberi perintah pada Maudy untuk memesan cincin yang akan dia berikan pada Gwen nanti.


"Ingat, harus sama persis!" Trevor memberikan secarik kertas hasil design cincin yang dia gambar sendiri.


"Baik, Bos." Maudy tidak berani membuka gambar Trevor di depan bosnya.


"Dan ingat, cincin itu harus sudah jadi sebelum keberangkatan ke Hongkong! Aku ingin melamar Gwen setelah misi selesai!" Trevor memberi peringatan keras.


Maudy terpaksa mengiyakan perintah itu, dia harus buru-buru mendatangi tukang perhiasan berlian dan mengancamnya supaya cincin yang dia pesan nanti bisa jadi tepat waktu.


Maudy bergegas pergi dari markas, dia menuju ke parkiran mobil karena Maudy ingin berkendara sendirian.


Tapi langkah Maudy terhenti saat melihat Erik yang tampak kebingungan seperti mencari sesuatu.


"Kau mencari apa, Tuan Bangsawan?" tanya Maudy kemudian.


"Tempat latihan, ada di mana?" jawab Erik yang kewalahan. Sekarang lelaki itu hanya memakai celana pendek dan kaos ketat yang justru membuat penampilannya menjadi manly.


"Sayang sekali makhluk tampan itu sebentar lagi akan mati," batin Maudy yang terkesima.


*****


Sebelum membuka bajunya, Gwen mengambil sesuatu yang dia simpan dalam nakas. Kemudian, Gwen bergegas ke kamar mandi.


Saat dia membuka pintu tiba-tiba ada tangan kekar yang menahannya.


"Trey!" protes Gwen yang sadar siapa pemilik tangan kekar itu. "Kenapa kau seperti hantu, ada dimana-mana. Dan bagaimana kau bisa masuk ke kamarku tanpa ada suara?"


"Itu teknik yang biasa dipakai mata-mata Gwen," jawab Trevor yang langsung menaruh wajahnya ke leher Gwen dan menghendusnya.


"Ugh!" Gwen melenguh karena geli. Dia tahu Trevor tidak berhenti sampai disitu.


"Kita harus melanjutkan ciuman kita yang tertunda Gwen jadi..." Trevor mengusap bibir Gwen dengan ibu jarinya. "Kau sudah menyukaiku?"


Wajah Gwen merona, gadis itu memalingkan wajahnya karena tidak mau bertatapan dengan mata nakal Trevor.


"Lihat aku Gwen!" Trevor meraih dagu Gwen, dia tidak suka Gwen yang suka memalingkan wajahnya. "Apa yang kau sukai? Aku ingin tahu!"


"Entahlah, tiba-tiba suka begitu saja," jawab Gwen gugup.


"Begitukah? Apa kau tidak suka permainanku? Kau harus memujiku jika aku perkasa saat di atas ranjang!" Trevor menuntut supaya Gwen mengakui kejantanannya.


"Aku hanya melakukannya denganmu Trey jadi..." Gwen tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia sangat malu jika membahas masalah seperti itu.


"Apa?" Trevor mulai menggoda Gwen, bibirnya mulai menjelajahi tubuh Gwen mulai dari leher kemudian turun semakin ke bawah.


Trevor membuka baju Gwen perlahan tapi Gwen menahannya.


"Trey, jangan! Kita tidak bisa melakukannya sementara waktu!" tolak Gwen.


"Kenapa?" tanya Trevor yang wajahnya mulai masam.


"Aku kedatangan tamu!" jawab Gwen dengan menunjukkan tampon yang dia baru saja ambil dari dalam nakas.


Trevor langsung mengusap wajahnya kasar. "Apa tamunya bisa diusir!?"